Nostalgia Jajanan Layar Tancap

Nostalgia Jajanan Layar Tancap

nostalgia

Setiap melihat telur puyuh, ingatan langsung melesat ke tahun sembilan puluhan awal. Setiap ikut saudara nonton layar tancap di balai desa atau tempat orang hajatan, jajanan yang dibeli adalah telur puyuh dan kacang rebus.

Masih terbayang bagaimana senangnya saat aku yang saat itu masih kelas satu SMP, diperbolehkan nenek dan saudara lain untuk ikut nonton layar tancap –satu-satunya hiburan warga kala itu—di balai desa Neglasari.

Seperti mereka pada umumnya, karena nonton layar tancap paling cepat berangkat setelah selesai mengaji bada isya di pondok, maka aku pun mengenakan jaket dan membawa kain sarung.

Saat itu belum ada kendaraan seperti ojek. Dari kampung ke balai desa yang berjarak sekitar dua kilometer kami tempuh dengan jalan kaki. Malam-malam kami beriringan menapaki jalan sawah, pinggir sungai, hingga tembus ke perkampungan tetangga sebelum sampai di jalan raya utama tempat balai desa berada.

mengenang

Di lapangan desa yang luasnya tidak lebih luas dari dua buah lapangan bola volley itu kami berdesak-desakan. Jika hari sudah lewat tengah malam, ketika kendaraan di jalan sudah sangat sepi, penonton layar tancap menggunakan jalan aspal sebagai tempat duduk yang nyaman.

Tidak ada yang hilir mudik kecuali terpaksa, semua terduduk sambil berbalut kain sarung. Semakin larut biasanya film yang ditayangkan semakin ramai. Saat dingin mulai menggigit dan perut mulai minta diisi, maka yang jadi tujuan adalah tukang telur puyuh dan kacang rebusnya.

Biasanya yang membeli satu orang saja, lalu dimakan beramai-ramai sambil mata tetap tertuju kepada layar yang menayangkan film. Saat jeda pergantian rol film, baru penonton bubar untuk urusan masing-masing seperti ke toilet atau jajan jajanan di pinggir jalan sebagai ganjal perut hingga film semua diputar.

Jelang sepertiga dini hari film baru akan selesai. Namun aku tidak pernah sampai selarut itu karena saudara yang membawaku nonton biasanya sampai tengah malam sudah mengajak pulang. Selain tidak baik untuk anak-anak seusiaku tidur larut malam, katanya juga karena jarak dari desa ke kampung cukup jauh, sehingga butuh waktu lama supaya pulang tidak tergesa-gesa.

Kini, sudah tidak ada lagi hiburan rakyat layar tancap. Jangankan di kota yang sudah banyak bermunculan bioskop kelas elite. Di kampung saja layar tancap itu seolah sudah punah –tidak ada bekasnya—tergantikan film yang bisa diputar lewat CD/VCD bahkan siaran televisi.

telur-puyuh

 

Namun semua kenangan masa kecil itu tidak akan ikut musnah. Yang ada aku sangat merindukan dan selalu mengenangnya. Tidak akan pupus saat berjalan di pematang, duduk di tanah lapang di bawah bulan, rebutan kacang rebus dan telur puyuh, semua itu sangat manis dalam kenangan.

Speak Your Mind

*