Pangeran Hidayatullah: Raja Kesultanan Banjar yang Dibuang ke Cianjur

Pangeran Hidayatullah: Raja Kesultanan Banjar yang Dibuang ke Cianjur

Tidak banyak yang tahu kalau di Cianjur ada makam seorang sultan (raja) dari Kerajaan Banjar, Kalimantan Selatan. Beliau adalah Pangeran Hidayatullah, yang lahir di Martapura, Kalimantan Selatan tahun 1822 Masehi.

Seorang Raja dari Kalimantan kok dimakamkan di Cianjur, daerah yang masih banyak belum diakui oleh klien kalau daftar job? Gimana jalan ceritanya ya?

Saya dan keluarga juga baru tahu saat akhir bulan Juni lalu secara tidak sengaja, ketika main ke Taman Prawatasari di sekitar Joglo atas.

Adanya makam Pangeran Hidayatullah di depan pintu masuk Taman Prawatasari sebenarnya sudah saya tahu sejak pertama kali menikah dan sering main ke taman yang dulunya masih kumuh dan tidak terurus ini. Hanya meski sudah tahu sejak sekitar 6 tahun lalu, tapi saya lihat makam itu tidak pernah terbuka. Pintu pagar besinya selalu terkunci. Begitu pula pintu bangunan di dalam.

Sehingga saya dan pengunjung lain lewat jalan itu ya hanya lewat saja. Dulu sih saya suka iseng ngintip-mengintip tapi karena selalu sepi dan tertutup maka yang ada cuma tanya dalam hati.

Baru hari Minggu akhir Juni kemarin, sekeluarnya dari Taman Prawatasari saya melihat pintu besi dan gerbang Makam Pangeran Hidayatullah ini terbuka. Kebetulan.

Karena rasa penasaran sudah sampai di puncaknya maka saya ajak anak dan suami langsung masuk ke halaman bangunan utama di makam itu.

Saya permisi sambil tengok sana tengok sini. Maklum pertama kali masuk wilayah makam itu. Melihat berceceran cat bukan darah ya di lantai plus barang-barang lainnya saya yakin makam ini tengah direnovasi. Makanya pintu dibuka untuk umum. Meureun

Ternyata benar saja makam dan semua bangunan yang ada di sekitar itu memang sedang mengalami pemugaran. Paling tidak demikian informasi yang kami dapat dari seorang ibu yang tengah berada di satu ruangan dalam bangunan utama itu.

Cerita ini cerita itu, jadilah kami duduk ngobrol bareng sama si ibu yang bernama Ibu Nurhayati ini. Beliau adalah pegawai Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Cianjur. Khususnya di Direktorat Jenderal Kebudayaan Balai Pelestarian Cagar Budaya Banten yang lingkup kerjanya meliputi wilayah Banten, Jawa Barat, DKI Jakarta dan Lampung. Melalui si ibu ini juga saya dikenalkan dengan Pak Abu Bakar, salah satu buyut dari Pangeran Hidayatullah.

Di Cianjur ini Ibu Nurhayati beserta jajarannya yang bertanggungjawab atas kelangsungan Makam Pahlawan Pangeran Hidayatullah. Pahlawan? Emang Raja ini pahlawan apa?

Ngobrol dengan Bu Nur saya dapat info kalau Pangeran Hidayatullah yang di Cianjur diabadikan sebagai nama jalan ini memiliki gelar Al Sulthan Hidayatullah Alwasikibillah.

Pangeran Hidayatullah adalah putra dari Sulthan Muda Abdurachman dan cucunda dari Sulthan Adam Alwasikibillah. Raja muslim di kerajaan Banjar, Banjarmasin sekarang, Kalimantan Selatan.

Pangeran Hidayatullah disahkan jadi Sultan Banjar berdasarkan surat wasiat Sultan Adam. Yang dibuat tertanggal 12 Safar 1259 Hijriah, bertepatan dengan tahun 1855 Masehi (bukti secara De yure). Sementara itu Pangeran Hidayatullah juga dinobatkan sebagai raja yang bijaksana oleh rakyatnya (bukti secara De Facto)

Pangeran Hidayatullah
Pahlawan Nasional asal Kalimantan Selatan yang dimakamkan di Cianjur Jawa Barat

Perjalanan sang pangeran saat masih jaman penjajahan Belanda ini sangat heroik. Kala itu di daerah yang bernama Banua Lima sedang berkobar perang Banjar dengan dahsyat pada tahun 1859/1862 M.

Didapat informasi sebagaimana tercepat dalam (Buku : “the banjarmasinche kring”) diketahui bahwa perang Banjar adalah perang antara dua kerajaan. Antara Kesultanan Banjar dan Kerajaan Belanda. Sudah bisa kita tebak kalau perang terjadi akibat dari kelicikan, keserakahan dan keangkuhan kolonial Belanda.

Belanda sangat campur tangan terhadap urusan di dalam Kesultanan Banjar. Keinginannya menguasai bangsa pribumi dijalankan dengan cara licik.

Pangeran Hidayatullah yang saat itu tampil sebagai “sosok utama” dan panglima perang kesultanan menyusun strategi perang medan luas dari Mandala bagian selatan hingga utara.

Wilayah peperangan meliputi: Martapura, Banua Lima hingga Tanah Dusun. Secara sporadis dengan menyertakan seluruh potensi dan kekuatan perlawanan rakyat Pangeran Hidayatullah terus memperjuangkan hak serta kekuasaan Kesultanan Banjar.

Puncaknya adalah persyaratan perang “fisabilillah” yang berarti “beramal” di Banua Lima dengan besarnya pengorbanan nyawa rakyat dan abdi kerajaan. Saking besarnya perang ini muncul semboyan perang “Dalas hangit wajah sampai kaputing”. Tapi maaf saya lupa lagi arti istilah itu, hahaha. Pikun.

Kerajaan Belanda pun mengerahkan pasukan gabungan antara marinir infanteri serta armada perang yang tangguh andalan mereka. Pasukannya bergerak hingga ke jantung pertahanan Pangeran Hidayatullah di Banua Lima dan Tanah dusun.

Belanda memberi julukan” hoofdof standeling” kepada Pangeran Hidayatullah yang artinya kepala pemberontak. Belanda yang licik mengadakan sayembara untuk menangkap sang pangeran. Mereka menyediakan hadiah untuk penangkapan Pangeran Hidayatullah baik hidup atau mati.

Setelah gagal dan gagal lagi sampai kurun waktu tiga setengah tahun, Belanda menggunakan taktik yang keji dan sangat tidak terpuji untuk menangkap sang pangeran. Belanda menyandera ibunda, istri serta kakanda Pangeran Hidayatullah untuk memaksakan perundingan di Martapura demi alasan perdamaian.

Dalam perjalanan inilah, Pangeran Hidayatullah disergap dan dilarikan ke Banjarmasin. Kemudian menggunakan kapal “Bali” milik Kerajaan Belanda Pangeran Hidayatullah pada tanggal 3 Maret 1862 beserta keluarga dan beberapa pengikut setianya dibawa ke Batavia atau Jakarta sekarang. Dari Batavia Pangeran Hidayatullah kemudian diasingkan ke Cianjur Jawa Barat.

Pada tanggal 2 november 1904 M Pangeran Hidayatullah wafat dalam ketenangan dan kedamaian. Dimakamkan di Pusaran Bukit Joglo yang sekarang dibangun sebagai komplek pemakaman Pahlawan Pangeran Hidayatullah yang beralamat di Jalan Surya Kencana No. 1 Joglo Cianjur.

Pangeran Hidayatullah sangat disegani di Cianjur. Beliau dikenal dengan julukan “ulama besar berjubah kuning”. Selama hidup dalam buangan ini beliau mengabdikan dirinya dalam ilmu keagamaan.

Meski bergelar pangeran dan berstatus sebagai raja muslim dari Kesultanan Banjar beliau tetap merakyat. Sang pangeran memaknai pengasingannya dengan aktif dakwah dan interaksi islami dengan masyarakat Cianjur.

Ornamen khas hiasan di setiap penjuru komplek makam Pangeran Hidayatullah

Di komplek pemakamannya ada beberapa prasasti peresmian dari pemerintah daerah dan Provinsi Kalimantan Selatan. Dengan kata lain keberadaan beliau diakui semua pihak.

Saat ini Komplek Pemakaman Pahlawan Pangeran Hidayatullah berapa dalam naungan Yayasan Keluarga Besar Pangeran Hidayatullah Cianjur.

Comments

  1. Saya seneng nih baca cerita sejarah kayak gni, sejarah yang tidak semua orang tau. ornamen khas nya itu lucu ya teh, asa jarang liat ornamen gitu

  2. Sejarah yang bagus. Bisa menjadi pelajaran untuk generasi muda.

  3. Saya belum pernah dengar sih tentang Pangeran Hidayahtullah ini. TFS ya mbak

  4. Saya baru tahu tentang sejarah ini te. Hebat ya pangeran Hidayatullah, meski di pengasingan tetap mengabdi di tengah masyarakat, hidupnya benar-benar bermanfaat

  5. Inilah bagusnya ada yang paham dan mengetahui tentang sejarah. Jadi mereka, termasuk juga saya, jadi mengenal sejarah pahlawan Indonesia. TFS Teh Okti.

  6. Saya juga baru tahu. Kebayanh sejauh itu. Diangkut pake apa ya dan berapa lama kalo kayak gitu

  7. Zaman dahulu beberapa pejuang emang sering diasingkan ya saat tertangkap. Tujuannya supaya mematikan semangat juang anak buahnya.
    Alhamduillah makamnya masih terawat ya? Kyknya pengunjung makam sana kemungkinan jg org Banjar Kalimantan kali ya teh, minimal anak cucunya… #sokteu

  8. Wah ini ya makamnya. Aku dulu waktu kecil, waktu sekolah suka mikir, dan gak ngerti sama yang kayak gini. Orang mana, atau tokoh mana, tapi dibuang ke daerah lain. Udah gede baru ngerti. Masih untung ya dibuangnya masih di dalam negeri. Kalo keluar negeri, keturunannya rada susah buat nyari. Tapi pernah baca ada yang begini. Zaman baheula kan Nusantara luas banget.

  9. Wisata sambil belajar sejarah, salah satu cara mencintai Indonesia….

Speak Your Mind

*