Pelajar Tawuran dan Pengguna Narkoba, Adakah Belajar Karakter Baik di Sekolah?

 

Pelajar Tawuran dan Pengguna Narkoba, Adakah Belajar Karakter  Baik di Sekolah?

Budi PekertiMencerminkan

Anak sekolah kok pemakai narkoba? Apa tidak diajarkan kalau itu obat terlarang?

Tawuran lagi tawuran lagi, apa gurunya gak ngajarin budi pekerti dan ahlak baik?

Keluhan seorang ibu di dalam angkot saat pulang dari pasar itu membuat respon yang berbeda dari orang yang mendengarnya. Termasuk saya.

Si Ibu seolah menyalahkan pihak sekolah ketika menemukan fakta ada anak usia sekolah yang tertangkap dan positif menggunakan narkoba. Begitu pula saat jalanan macet karena gerombolan para pelajar yang menghalangi jalan, dengan entengnya Si Ibu memberikan vonis (meski berupa kalimat tanya) apakah di sekolahnya para guru tidak mengajarkan tentang budi pekerti?

Mungkin dalam pikir Si Ibu, pelajar harusnya beringkah sopan, berahlak baik, dan tidak melakukan tindakan anarkis. Sebagai pelajar masyarakat mencap identik dengan tingkah laku positif dan jadi tauladan.

Ada benarnya, jika pelajar seharusnya menjadi contoh baik di masyarakat. Sebagai orang terpelajar, tentunya baik dari segi pemikiran, kecerdasan dan tingkah laku harus lebih baik dari mereka yang tidak sekolah.

Namun, jika menemukan adanya karakter buruk pada anak sekolah, tentunya tidak bisa menyalahkan langsung guru dan pihak sekolah sekaligus. Bukan berarti guru tidak mengajarkan budi pekerti. Ingat jika anak sekolah hanya beberapa jam saja berada di ruangan kelas. Selebihnya, artinya waktu yang lebih banyak untuk mereka adalah di rumah dan lingkungannya.

Seharunya, orang tua yang berperan banyak terhadap anak yang patut dipertanyakan pertanggung-jawabannya, selain pihak sekolah. Karakter baik atau buruk pada anak, itu sudah terbentuk sejak kecil. Jadi perlakuan apapun yang didapat anak di rumah, itu yang akan dibawanya hingga saat anak itu sekolah dan kelak ketika dewasa.

Sekolah memang ikut memberikan kontribusi kepada perkembangan jiwa dan pemikiran anak. Hanya sebatas memoles dan menguatkan saja karena pondasi budi pekerti si anak yang sebenarnya sudah terbentuk sejak anak belum menginjakkan kakinya di sekolah.

Kalaupun anak bergaul di sekolah, itu kembali kepada pendirian si anak dan bimbingan serta perhatian orang tua anak. Kasih sayang serta perhatian orang tua yakin bisa membendung karakter buruk yang menyerang anak di pergaulannya. Ditambah dengan bimbingan dan pantauan guru di sekolah, kemungkinan rasa aman bagi anak itu akan semakin besar.

Jadi kembali kepada diri kita, jika anak terlihat bertingkah laku tidak baik, tinggal tanya sejauh mana proteksi yang dilakukan orang tua? Setelah itu baru konsultasi dan berdiskusi dengan pihak sekolah atau pihak ketiga, ada apa dan bagaimana sebaiknya, sehingga jalan anak yang mulai bengkok bisa segera diluruskan.

Pentingnya  belajar budi pekerti di sekolah tidak hanya mencerminkan sikap serta didikan sekolah tersebut, tapi juga memberikan kepercayaan kepada masyarakat bahwa anak yang dididik baik akan menjauhi hal yang tidak baik.

Comments

  1. selain belajar di rumah dan sekolah, anak juga belajar dari pergaulan yah Mba, bisa jadi hal buruk tersebut ia pelajari dari teman-teman “nongkrongnya”

  2. miris sekali mendenangarnya,
    mudah mudahan anak anak remaja sekarang bergaul dengan baik.
    denganmempertebal keimanan

Speak Your Mind

*