Pembantu Bermutu

Pembantu Bermutu

Dok. Dunia Pembantu Rumah Tangga

Dok. Dunia Pembantu Rumah Tangga

Penumpang mulai menggerutu ketika busway yang ditumpangi sudah sekian lama tidak juga jalan. Aku juga mulai menduga-duga apa gerangan yang menyebabkan kemacetan cukup parah ini?

Ternyata ada aksi demonstrasi yang menyebabkan kelancaran jalan terganggu. Berbagai spanduk dan bendera bertuliskan aksara besar-besar dibawa oleh para aktivis. Mereka menuntut pemerintah untuk segera meratifikasi konvensi ILO C189.

“Kawan-kawan, mari kita galang solidaritas untuk teman-teman PRT dalam negeri. Kita galang solidaritas untuk teman yang melakukan aksi mogok makan dan melakukan perjuangan menuntut pemerintah Jokowi-JK mengesahkan RUU PRT Dan ratifikasi konvensi ILO C189.” Suara aktivis melalui toa jelas terdengar.

Aku menarik nafas, semoga perjuangan kalian berhasil wahai para relawan dan aktivis. Doa kecil dalam hati diam-diam aku kirimkan untuk mereka.

“Kok mau-maunya ya panas-panasan belain para PRT.” Dengus seorang wanita dekat pintu jelas terdengar.

“Sampai mogok makan segala katanya. Emangnya kalau mati itu PRT mau ganti rugi? Hehe…” ujar suara yang lain diakhiri tawa kecil berbau sinis.

Aku melirik mencari sumber suara. Karena busway penuh, maka pandanganku terbatas hanya pada seorang perempuan di sampingku saja. Dia tersenyum padaku. Melalui tatapan matanya aku tahu, dia tidak menyetujui dengan apa yang diucapkan dua wanita tadi.

PRT (Pembantu Rumah Tangga) atau sebutan lainnya babu, jongos, asisten rumah tangga, dan apapun istilahnya bagi profesi ini sepintas mungkin tidak berarti. Pembantu banyak dipandang sebelah mata. Buktinya dua wanita yang berada satu busway denganku di atas. Padahal, tahukah betapa seorang pembantu itu memiliki tangung jawab yang sangat mulia? Dan apakah jadi pembantu itu hina?

Apapun pekerjaannya, resiko itu pasti ada. Tidak di dalam negeri, tidak di luar negeri, pembantu diidentikan dengan pekerjaan perempuan yang rentan akan eksploitasi. Bahkan ada yang harus pulang tinggal nama saat merantau bekerja sebagai pembantu. Itulah kenapa para relawan dan aktivis giat menyuarakan supaya hak para pembantu diundang-undangkan, supaya lebih jelas aturan hukumnya.

Pembantu juga manusia, maka dari itu jika kita berperikemanusiaan hendaknya tidak menyepelekan profesi ini. Pembantu hendaknya diibaratkan anggota keluarga, atau paling tidak sahabat keluarga, karena jika pembantu dihargai pekerjaan serta harga dirinya, niscaya tanggung jawabnya dalam menjalankan semua pekerjaan akan dilakukannya dengan baik.

Meski jadi pembantu itu bukanlah sebuah pilihan, tapi aku sama sekali tidak menyesal telah memilih bekerja menjadi pembantu selama hampir sebelas tahun lamanya. Dengan telah menjadi pembantu, justru aku jadi banyak belajar dan mendapatkan ilmu yang tidak akan pernah aku dapatkan di bangku universitas manapun!

Meski tidak mahir, tapi aku pernah masak masakan chinese food. Meski hanya beberapa tahun saja serumah, tapi aku cukup mengetahui bagaimana kebudayaan orang chinese. Meski tidak fasih, tapi aku sedikit-sedikit bisa mengerti bahasa Inggris dan Mandarin. Meski bukan traveler, tapi gini-gini aku sudah menginjakkan kaki di Santosa Singapura, Dysneland Hong Kong, dan Pencakar Langit 101 di Taipei. Dan tahukah jika semua kesempatan itu aku peroleh ketika aku bekerja sebagai pembantu di ketiga negara tersebut?

Yang lebih penting dan berharga buatku, saat aku berumah tangga dan memiliki anak aku sama sekali tidak canggung meski harus mengerjakan pekerjaan rumah dan mengurus bayi sendirian. Pengalaman saat bekerja dan mengurus anak majikan seakan jadi latihan tersendiri buatku hingga saat aku memiliki rumah dan anak sendiri, aku kembali bisa mempraktekannya secara langsung.

Bangga pernah jadi pembantu? Tentu saja. Karena dengan jadi pembantu aku bisa sedikit memperbaiki perekonomian keluarga. Meski jadi pembantu aku tidak minder kini bisa bergaul dengan wanita-wanita modis nan gaya dan gabung di dalam komunitas-komunitasnya. Malah kalau bisa membanggakan diri, aku yang pernah jadi pembantu lebih “tahan banting” menghadapi kesulitan hidup dibanding mereka orang-orang kota yang terbiasa hidup senang, segala tinggal bilang langsung ada, dan tidak pernah menjumpai kesulitan hidup sesungguhnya itu seperti apa…

Aku tidak berpendidikan, makanya aku hanya “diterima” bekerja sebagai pembantu. Tapi aku mau belajar dan berusaha makanya justru karena pernah punya pengalaman jadi pembantu aku kini di kampung sendiri bisa bekerja dengan leluasa, santai, sesuai dengan passion diri, dan tentu saja, tetap berpenghasilan.

Bekerja sebagai pembantu hampir menghabiskan waktu 24 jam non stop per hari. Jika tidak pandai mengatur waktu mana mungkin bisa mempunyai waktu luang untuk belajar dan bersosialisasi? Begitu juga dengan profesi lain yang hanya memakan waktu 8 jam per hari. Dengan kata lain, semua kembali kepada pribadi masing-masing. Betapa hebatnya bukan jika seorang pembantu tapi bisa menjadi seorang teladan dan inspirasi bagi yang lainnya?

Memang ada pembantu seperti itu?

Anazkia, blogger mana yang tidak mengenalinya? Tahukah jika Mba Anaz juga dulunya pernah satu profesi denganku sebagai pembantu? Tapi tentu saja pembantunya ini lain daripada yang lain. Pembantu yang bisa membagi waktunya disamping mengerjakan pekerjaan rumah, juga bisa ngeblog dan menjalankan komunitas. Konsekwensinya dalam menjalani semua itu ia kini diganjar gelar sebagai Wanita Inspiratif 2015 versi tabloit ternama di tanah air. Berkat prestasinya, profilnya banyak dimuat di beberapa media cetak sebagai kisah inspiratif. Luar biasa, bukan? Belum tentu yang berprofesi lain bisa melakukan semua itu.

Dok. Dunia Pembantu Rumah Tangga

Dok. Dunia Pembantu Rumah Tangga

Serta masih banyak mantan-mantan pembantu lainnya yang tak kalah berprestasi, inspiratif dan menjadi penggerak roda perubahan bagi keluarga serta lingkungan sekitarnya. Kalaupun ada pembantu yang nasibnya kurang beruntung percayalah, itu bukan keinginan serta kehendak mereka. Pasti ada sebab serta akibatnya.

Jadi mulai sekarang, jangan sepelekan profesi seorang pembantu. Hargai pembantu karena ia juga manusia yang punya hati dan perasaan. Jika mau didoakan oleh pembantu, tentunya doa yang baik-baik yang ingin kita terima dari pembantu kita, bukan?

Tulisan Pembantu Bermutu ini diikutkan dalam IHB Blog Post Challenge di sini

indonesia hijab1

Comments

  1. Tulisannya sangat inspiratif mba 🙂
    Smua pekerjaan bagus, yang penting halal apalagi asisten rumah tangga sangat membantu byk keluarga yg membutuhkan… Salut!

  2. Terkadang malah Fenny merasa apa lah arti Fenny tanpa pembantu, suami sibuk. Punya pembantu membantu Fenny punya me time yg bisa menjaga kewarasan Fenny.

  3. Aku juga salut dengan pekerjaan asisten rumah tangga. Dari ngurus anak, nyiapin makanan, bersihin rumah… Semua pekerjaan yang dulunya adalah tugas ibu rumah tangga yang ga ada habisnya. Super sekali! Sayangnya di Indonesia, pembantu sering dianggap rendah. Libur pun nggak ada 🙁 padahal kalo di luar negeri ada jatah libur tiap minggu yah…

Speak Your Mind

*