Pencapaian Meloncat dari Mading

Pencapaian Meloncat dari Mading

PENCAPAIAN

Jadi penulis, novelis, cerpenis dan jadi jurnalis, hingga sekarang jadi blogger semua itu berawal dari Majalah dinding (mading). Papan lusuh yang menempel di depan kantor tata usaha sekolah SMP N 1 Salawu itu sangat besar jasanya mengantarkan hidup saya saat ini menjadi lebih baik.

Tidak semua orang punya keberanian untuk tampil ke muka publik. Ada banyak orang yang ngumpet saat disuruh tampil di depan umum, namun beringas dan aktif saat menuangkan segala ide serta gagasannya melalui tulisan. Itulah saya, salah satunya.

Saat sekolah dasar di Binong Bandung, perasaan belum ada mading pada jaman itu. Saya yang sudah senang menulis mencurahkan semuanya melalui buku diary. Tulisan tangan saya itu sampai kini masih saya simpan dan menjadi tugu peringatan untuk pengabadian semangat dalam berkarya.

Baru ketika masuk SMP di Salawu, Tasikmalaya perkenalan dengan mading dimulai. Pulang sekolah rela mampir dulu ke kantor tata usaha untuk ikut mengetikkan beberapa puisi yang saya buat, untuk segera bisa ditempel di mading. Meski saya yakin betul, yang baca ya cuma saya dan petugas yang menempelkan brosur informasi terkait kegiatan pendidikan. Mading saat itu belum dikoordinir dengan baik. Tapi dengan berlatih membuat tulisan untuk ditempel di mading, saya berkesempatan mengirim tulisan lain ke harin lokal dan dimuat! Honor sebesar Rp.7.500 adalah pencapaian tertinggi saya saat itu.

Pindah sekolah tingkat atas ke Cianjur, di sini mading sudah dikelola OSIS cukup baik. Meski tidak rutin karena berbagai kegiatan lainnya, namun saya tetap menulis dan keinginan belajar menulis itu semakin besar. Terkendala mesin tik yang tak terjangkau, kembali saya rela bermalam di ruang tata usaha bersama anak-anak pengurus OSIS yang kost dekat sekolah demi bisa merampungkan sebuah naskah. Entah ada yang baca atau tidak, yang penting saya terus berkarya.

Merantau ke Singapura, kemampuan menulis terus saya asah. Dengan kondisi yang serba terbatas saya terus menulis dan menulis. Menulis surat kepada teman-teman, menulis surat kepada harian di tanah air, dan mengikuti lomba menulis surat yang diadakan oleh Key FM, radio swasta di Batam yang siarannya tertangkap sampai di Hougang, Singapura tempat saya bekerja. Alhamdulillah, juara satu saya raih dengan hadiah sebesar Rp. 750 ribu. Uang yang besarnya hampir satu bulan gaji saya saat itu hangus tidak bisa saya ambil karena majkan tidak memberikan pasport untuk saya copy sebagai bukti saat saya mengambil hadiah lomba itu. Majikan takut saya kabur kalau saya pegang pasport.

Kemampuan menulis terus saya asah dan seolah mendapat kesempatan besar saat saya bekerja di Hong Kong. Banyaknya kesempatan untuk mengakses internet, libur yang pasti dan teratur, serta fasilitas yang disediakan pemerintah Hong Kong seperti Perpustakaan Nasional yang berada di Causeway Bay, depan Victoria Park tempat kami berlibur seolah memanjakan saya untuk terus giat belajar dan belajar. Libur saya isi dengan membaca dan menulis di perpustakaan tersebut. Banyaknya koran lokal berbahasa Indonesia menantang saya untuk bisa menembusnya. Kegagalan tidak membuat saya jera, malah semakin tertantang dan menekatkan diri kalau saya harus terus banyak belajar.

Ikut pendidikan jarak jauh sekolah wartawan secara online menjadi jembatan saya untuk terus bisa upgrade diri. Mewawancarai Bapak Muhaimin, tokoh agama terkenal di Hongkong menjadi jalan saya pada akhirnya bisa menembus media. Sejak itu tulisan saya seperti dibukakan pintunya. Artikel dan cerpen yang dimuat di media menjadi kebanggaan dan modal saya untuk melangkah ke jalan berikutnya.

Tidak ada niat menjadi wartawan yang sekarang saya menyebutnya dengan istilah jurnalis, tetapi ternyata kesempatan itu ada dan menghampiri. Saat bekerja di Taiwan, melihat artikel-artikel yang saya kirim, redaktur sebuah tabloit hasil karya anak bangsa yang terbit dan beredar di Taiwan mengajak saya untuk menjadi kontributornya. Kesempatan ini saya terima, sebagai ajang pembelajaran dan cara belajar saya untuk bisa terus maksimal.

Di Taiwan ada lomba menulis khusus bagi TKA (Tenaga Kerja Asing) yang pesertanya khusus para pekerja diluar warga negara Taiwan. Alhamdulillah dua kali berturut-turut berhasil menyabet juara dan karya ikut dibukukan oleh Kementrian Tenaga Kerja Taiwan. Semua itu membawa kepercayaan majikan kepada saya sehingga saya bisa membeli komputer pribadi dan mempermudah akses saya untuk terus mengembangkan keinginan saya dalam dunia tulis menulis.

Saat facebook buming, saya menjadi bagian facebooker yang aktif ikut lomba kepenulisan serta member group kepenulisan yang sedang marak. Hasilnya menjuarai beberapa lomba dan puluhan buku antologi menjadi kenangan terindah sampai saat ini. Novel pertama saya pun, KINANTI berhasil saya terbitkan meski secara indie.

Akses yang semakin mudah untuk berinteraksi dengan dunia tulis menulis membawa saya masuk ke dunia blog dan jurnalis. Saat habis kontrak kerja di Taiwan, pulang ke tanah air saya diangkat jadi karyawan tetap tabloit nomor satu di Taiwan. Sebuah pencapaian yang tidak pernah saya impikan sebelumnya. Semua ini berawal dari keberanian saya untuk mengisi mading jaman baheula. Mading yang teramat berjasa telah membukakan jalan saya dalam dunia tulis menulis untuk terus mencari jati diri. Jika saat ini keren itu menulis di blog, maka pada saat itu menulis keren itu ya di mading.

Aih, maaf kalau tulisan mading ini jadi kaya biografi ya, hihi!

Comments

  1. baca ini, aku jadi ikt termotivasi mbak :).. Selama ini nulis di blog cuma untuk sharing ttg traveling dan kuliner aja. Belum ada niat untuk cari duit dari blog, ato serius di sini. Dulu pas masih sekolah, aku juga ga tertarik2 banget ama mading.. Bacanya suka, apalagi kalo ada yg ngepost ttg cerpen :).. Tapi bikin madingnya aku rada males , kecuali kalo memang udah jdwalku untuk bikin, ya mau ga mau pasti posting di mading :D.

    Intinya memang harus sering nulis, kirim, ditolak, nulis lagi, sampe tulisan kita bisa diterima ya mbak.. :).

  2. Wah teh sayang banget hadiahe hangus ya huhu
    Padahal lumayan itu
    Tetep semangt
    N teruslah menulis

  3. sangat menginspirasi mba, semoga saya juag bisa 😀

Speak Your Mind

*