Pengunduran Diri: Membuang Kesempatan Menambah Jam Terbang Menulis?

Sebuah surat elektronik berisi pernyataan pengunduran diriku dari beasiswa Sekolah Menulis baru saja terkirimkan. Kok bisa-bisanya aku membuang kesempatan yang terbilang langka ini?

Beberapa hari lalu di group Sekolah Menulis Online “Writing Revolution” milik Joni Lis Effendi aku membaca sebuah informasi kesempatan mengikuti seleksi beasiswa sekolah menulis lingkungan 2015. Namanya Beasiswa Laskar Pena Hijau. Yang mengadakan acara ini Ibu Naning, yang punya acara Lomba Cerpen Rohto itu loh…

Merasa penasaran dan tertarik, aku pun mengirimkan email sebagai tanda kepesertaan ikut seleksi. Tanggal 12 Agustus kalau tidak salah batas akhir pengiriman email sebagai pendaftaran seleksi itu.

Lupa, jujur saja aku lupa dengan even ini. Dan mungkin karena pikirku aku tidak akan terpilih sebagai penerima beasiswa. Jadi sama sekali tidak kepikiran untuk aktif mencari informasi terbarunya.

Baru pada hari Sabtu 22 Agustus yang lalu, malam harinya aku membaca email dari panitia Beasiswa Laskar Penulis Hijau yang terkirim sejak hari Kamis, 20 Agustus. Di email tersebut dinyatakan kalau aku terpilih sebagai salah satu dari 20 orang peserta beasiswa lainnya.

Yah, aku telat membaca email itu karena kamis jumat dan sabtu itu aku berada di kampung (Pagelaran Kab. Cianjur) dan di sana koneksi internet speedy kami memang byar pet, seiring dengan listrik yang sehari lima kali matinya. Jengkel pokoknya.

Yang lebih nyesek lagi, di email pemberitahuan itu kalau disebutkan jika beasiswa pelatihan menulis diadakan selama enam kali, dan Sabtu 22 Agustus itu adalah hari pertama pelatihan! Berarti aku sudah teringgal dong? Apalagi di lampiran dinyatakan kalau peserta maksimal dua kali tidak mengikuti pelatihan, maka langsung kepesertaan beasiswa akan dicabut.

Pelatihan menulis itu sendiri dilaksanakan di Sekolah Alam, daerah Cikeas, Bogor. Peserta harus tepat waktu, terlambat 30 menit sudah mendapat diskualifikasi. Pokoknya sepertinya aturannya ketat juga. Kalau sakit atau ada halangan lain tidak bisa mengikuti pelatihan selama rentang waktu enam kali hari sabtu secara berturut-turut itu harus menyertakan surat keterangan.

Hem… membaca ketentuan demi ketentuan itu aku hanya bisa menghela nafas. Berat juga, secara aku tinggal di pelosok Cianjur. Jarak ke Jakarta Kampung Rambutan sekitar 7 jam dari kampungku. Lalu jam berapa aku dari rumah jika jam delapan harus sudah berada di Sekolah Alam?

Aku sempat ragu. Tapi membaca lagi kelebihan yang bisa aku dapat jika aku menjadi bagian Beasiswa Laskar Penulis Hijau ini aku akan menjadi

Beasiswa

maka semangatku ingin ikut pelatihan ini kembali sangat menggebu.

Maka aku pun mengirimkan email balasan. Mengatakan kalau karena kondisi koneksi internet yang buruk aku terlambat membaca email pemberitahuan dan otomatis aku sudah tertinggal satu kali pertemuan. Jika masih diperbolehkan, aku akan mengikuti pertemuan-pertemuan selanjutnya yang tersisa.

Beberapa hari kemudian email ada balasan. Katanya aku boleh mengiktui pertemuan sabtu ini, 29 Agustus dan pertemuan selanjutnya sampai habis di akhir bulan September. Pikiranku tenang. Tinggal mikirin bagaimana berangkat dari kampung, bagaimana menitipkan Fahmi dan mnyiapkan semuanya sebelum meninggalkan anak dan suami. PR terbesarku ini sesungguhnya. Waktu pelatihan hanya sekitar 3 jam saja, namun karena jarak dari kampungku ke kota yang sangat jauh ini membuat aku bisa meninggalkan keluarga selama tiga hari dua malam!

Kok bisa? Ya, karena kalau sabtu aku harus di Cikeas jam delapan pagi, itu berarti jumat aku harus sudah berangkat ke Sukanagara, menitipkan Fahmi di neneknya. Baru sabtu dini hari sekitar jam tiga aku berangkat ke kota Cianjur. jam setengah enam lanjut perjalanan ke Kampung Rambutan,Jam delapan sampai di Rambutan. Naik lagi angkot 121 ke arah Cibubur Cileungsi menuju Sekolah Alam. Entah jam berapa sampai di Sekolah Alam karena dari angkot 121 itu harus naik ojek lagi.

Pulangnya, anggap aja jam satu. Kembali ke Terminal Kampung Rambutan, kembali ke Cianjur, lalu ke kampung ibuku untuk menjemput Fahmi sebelum aku bawa ke rumah di Pagelaran. waduh,,, baru membeyangkannya saja aku kok sudah capek di jalan ya? Keraguan mulai menghantuiku. Aku bakalan mampu tidak ya selama lima kali hari sabtu melakukan seperti itu?

Itu estimasi waktu tidak termasuk kejebak macet. Ya Ampuuun! Padahal aku baru sadar kalau sabtu kan di Puncak diberlakukan sistem tutup buka jalur. Duh! ya kalau aku tidak terkena macet, kalau kena macet, bisa berantakan semua estimasi waktu itu. Dan parahnya kalau aku terlambat, bukankah akan kena diskualifikasi? Hem… keraguan ikut pelatihan Laskar Pena Hijau ini mulai goyah.

Ya Allah… aku tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan mendapatkan ilmu dan pemahaman baru ini. Tapi kalau harus mengorbankan keluarga, waktu yang cukup panjang juga, dan itu belum menjamin aku akan tepat waktu, aku juga tidak mungkin mengorbankan semua itu.

Pertemuan selama tiga jam, dikali enam kali jadi sekitar 18 jam saja andai dipadatkan menjadi dua hari satu malam. Maksudku, pelatihan selama 18 jam itu jangan dilakukan setiap hari Sabtu, tapi padatkan menjadi dua hari satu malam. kapan saja dan walau harus menginap aku pikir itu lebih baik daripada harus bolak-balik setiap sabtu dengan kondisi yang tidak memungkinkan untukku yang tinggal di pelosok Cianjur ini.

Masalah ongkos juga. Walau beasiswa ini gratis, tapi kalau lima kali aku harus bolak-balik ke Sekolah Alam, itu sama saja dengan aku harus punya cadangan budget sebesar Rp.150.000 x 5 = Rp.750 ribu!

(Rincian dari:
Pagelaran-Cianjur Rp.30ribu.
Cianjur-Kp. Rambutan Rp.25ribu
Angkot 121 Rp.5ribu
Ojek Rp.10ribu
Jumlah Rp.70ribu
PP: 140ribu)

Waduh! Ternyata berat juga ya. Dan setelah berdiskusi dengan suami. Akhirnya aku mantap untuk mengundurkan diri dari kepesertaan beasiswa Laskar Pena Hijau ini.

Maka sebuah email pengunduran diri pun baru saja resmi aku kirimkan. Semoga masih ada kesempatan lain. Semoga masih ada jalan lain untukku untuk bisa terus menambah ilmu dan wawasan. Semoga…

Comments

  1. Keputusan yang agung, Teteh.

  2. semangat ya untuk ikutan lagi
    dihari nanti
    semagat ya.

Speak Your Mind

*