Perjuangan Blogger Kampung Biar Dapurnya Tetap Ngebul

Perjuangan Blogger Kampung Biar Dapurnya Tetap Ngebul

Punya perjuangan saat ngeblog? Ngeblog itu apa sih? Buat tulisan, tambahin foto, lalu publish. Udah gitu aja? Yah, itu mah aku banget!

Bener sesimple itu? Buat aku ngeblog ya memang bener segitu-gitunya. Tapi bukan berarti tidak ada perjuangan dibaliknya, lho!

Aku tuh bukan gak mau ngeblog kaya blogger lain pake editan foto-foto supaya lebih ciamik dan menarik, pake template yang gaya dan atau susunan tulisan serta fotonya diatur sedemikian rupa, bukan gak mau… Tapi kondisi yang membuatku harus begitu, atau kalau tidak ya tidak bisa publish tulisan sama sekali!

Kenapa?

Alasannya cukup banyak. Pertama ya karena aku yang gaptek. Meski banyak baca tutorial gimana buat blog post yang oke, cara bikin blog tampilannya keren, supaya pembaca blog merasa betah dan nyaman di blog kita, dan masih banyak lagi, tapi aku hanya mentok sampai membaca-bacanya saja, karena pada prakteknya, aku sama sekali tidak bisa.

Aku memang bukan keluaran sekolah yang seperti anak jaman sekarang, yang masih SD sudah tahu tentang IT. Tapi aku teramat bersyukur saat bekerja di luar negeri punya majikan yang baik, memperbolehkan aku meminjam komputernya untuk dipake bareng-bareng. Karena kemampuan otodidak (sebagian diajarkan anak majikan) itu yang saat ini menjadi modal utamaku bisa ngeblog layaknya wanita jaman emansipasi yang serba modern.

Sebagai blogger yang berdomisili di pelosok (padahal masih di Pulau Jawa dan termasuk kabupaten penyangga ibu kota) kondisi itu pun membuatku harus tahan banting dengan segala keadaan alamnya.

Di kampungku Pagelaran, Sukanagara Cianjur Selatan listrik mati sehari lima kali di prime time itu sudah tidak aneh, lho! Bahkan listrik mati lebih dari lima kali juga sering. Saat bertanya ke petugas PLN jawabnya itu terjadi karena ada kerusakan yang diakibatkan kabel listrik tertimpa pohon tumbang, tiang listriknya terseret longsor dari tebing, dan alasan lainnya untuk perbaikan. Ya sudah, sebagai warga kampung yang baik aku cuma bisa sabar dan terima saja. Hati tetap bersyukur, masih untung listriknya gak mati total juga.

Jadi kalau mau publish tulisan, aku ya harus kejar-kejaran sama listrik. Gak kebayang kan gimana ngejarnya? Hehe…

Perjuangan selanjutnya yaitu masalah koneksi internet. Karena aku menggunakan jasa layanan speedy, jadi otomatis baru nyala kalo ada pasokan listrik. Listrik mati, ya berarti koneksi ikut mati juga. Padahal kalo bayar tagihannya gak pernah tuh dapat potongan. Sering mati gak dipake berselancar di dunia maya tapi bayar mah tetep saja full satu bulan. Haiah…kok jadi curhat yah?

Ditambah dengan perjuanganku yang lainnya terkait perangkat alat tempur eh, alat tulis maksudnya yang serba minim. Dengan tidak mengurangi rasa syukur, harus aku bilang kalau modalku menulis ya cuma netbook doang. Netbook jadul dapet hadiah dari ajang kepenulisan tahun 2009. Netbook ini tidak bisa gaya buat editan pake aplikasi kaya di gadget canggih gitu (Tepatnya frase lain sebagai alasan untuk menggambarkan kegaptekanku saja)

Tapi meski jadul, netbook ini sangat laris dan jadi barang rebutan di tengah keluarga kecilku. Setiap hari tiada momen indah tanpa berkesempatan rebutan netbook sama anak dan suami. Netbook hadiah dari lomba ngeblog di blog keroyokan ini jadi barang berharga satu-satunya di rumah kami yang jadi incaran aku, Ayah dan Fahmi. Ya, Ayah butuh netbook buat mengerjakan segala tugas pekerjaannya sementara Fahmi, dia sudah suka melihat tayangan Baby Einstein di layar youtube.

Sementara aku? Ya harus legowo memanfaatkan waktu ngeblog saat mereka tidak menggunakan netbook. Saat Ayah sedang kerja dan Fahmi bobo. Di luar itu, jangan harap bisa melahirkan postingan baru muncul di blog.

Kalo bahan tulisannya sendiri, blog aku masih menjurus seperti buku harian saja. Jadi apa saja keluh kesah hati itu yang ditulis. Tidak spesifik dalam mempublish tulisan, karena aku memang bukan pakar dari satu bidang tertentu juga, kecuali mantan TKW satu dasawarsa kali ya, (hehe… Jadi babu aja bangga) karenanya tulisanku juga random, nano nano punya.

Strategi menulisnya pun aku masih memakai gaya penulis jempol, alias nulis di hp “si dukun” yang super jadul. Kalo nulis langsung di komputer mana cukup waktunya? Ditambah lagi ide menulisnya belum tentu ada pas duduk manis menghadap keyboard mah…

Karena jujur aja aku menemukan ide untuk menulis itu selalu berada di tempat yang tidak dikira. Kadang saat sedang mencuci, jalan ke pasar, antar anak melihat sapi tetangga, atau sedang dalam perjalanan ke kota. Setiap ada ide untuk membuat tulisan, aku langsung mengetikkannya di featur notes hp. Nanti kalau senggang baru aku perluas dan kembangkan.

Apa gak keriting tuh jempol dipakai ngetik terus? Dulu iya. Jempolku pernah penyok, berdarah dan kapalan. Maklum ngetik di keypad hp jadul bukan hp layar sentuh kek jaman sekarang ini. Tapi lama-lama jempolku jadi terbiasa dan kini sudah lebih dari kerasan 😊

Jadi setelah tulisan yang sudah aku otak atik di notes hp ini selesai, saat aku berkesempatan buka komputer dan ada koneksi internet baru hasil otak atik itu aku pindahkan ke notepad komputer dan mengeditnya lagi supaya tampilan pas. Aku tinggal copy, masukkan foto penunjang, udah. Publish.

Ngeblog buatku sebagai ajang melatih diri serta kesabaran saja, sabar untuk konsisten menulis dengan segala keterbatasan di jaman yang sudah serba canggih ini.

Selain itu menulis juga sebagai bentuk peninggalanku kelak satu-satunya. Harta aku tak punya, jadi biar catatanku saja yang bisa kujadikan jejak dimana saat kelak aku tiada. Benar-benar simple, bukan?

Begitulah proses perjuangan aku (yang ngaku-ngaku sebagai) blogger padahal aku hanya orang kampung yang terus berupaya supaya dapurnya tetap ngebul alias blognya bisa terus diupdate, hehe!

Salam semangat ngeblog dan always happy blogging. Trims untuk Indonesian Hijab Blogger atas diselenggarakannya even keren IHB Blog Challenge bulan Mei dengan tema: ”BEHIND THE SCENE OF YOUR BLOG POST” ini. indonesian-hijabblogger.com semoga menjadi inspirasi para blogger. Amin.

Tulisan Perjuangan Blogger Kampung Biar Dapurnya Tetap Ngebul ini diikutkan dalam IHB Blog Post Challenge

wp_ss_20150531_0006[1]

indonesia hijab1

Comments

  1. Luar biasa pengorbanannya, Teh…
    Itu listrik bisa mati berkali-kali ya? Tega amat tuh PLN…
    Tetap berjuang Teh.

    Salam dari saya d Sukabumi,

    • Okti Li says:

      Iya benar Kang… apalagi nih bulan puasa, walah, waktunya buka dan sahur, pasti saja harus sedia lilin dan atau ngadurukan biar terang πŸ™‚

      mending tinggal di Sagaranten atau Gunung Bitung sekalian rasanya teh da Kang πŸ™‚

  2. Asyiiiik, selamat udah menang challenge-nya ya teeeh πŸ™‚

  3. Okti Li says:

    Alhamdulillah… syukran Ya Allah, syukran ya Ukhtyfillah IHB πŸ™‚
    Maaf baru bisa online setelah beberapa hari tidak ada koneksi

Trackbacks

Speak Your Mind

*