Pernikahan di Mata Tenaga Kerja Wanita

Pernikahan di Mata Tenaga Kerja Wanita

Banyak Tenaga Kerja Wanita (TKW) yang telat menikah. Banyak yang pernikahannya berantakan gara-gara merantau. Banyak yang diselingkuhi, banyak yang dikhianati dan banyak yang jadi malas untuk menikah dan memilih betah jadi TKW saja.

Saya termasuk perempuan yang telat menikah. Usia 33 baru melepas masa lajang. Padahal, teman-teman sebaya saya sudah pada memiliki anak, dua sampai empat. Bahkan ada yang sudah menjanda, dan sudah menikah lagi!

Mungkinkah keinginan menikah itu bisa diibaratkan seperti datangnya hidayah dari Allah SWT? Saya sendiri tidak tahu persis. Hanya pribadi masing-masing saja yang mengetahui kenapa bisa menikah cepat atau lambat. Apa pula masalahnya? Kembali kepada diri masing-masing. Ada yang karena memang belum bertemu jodoh, masih ingin berkarir, merasa belum mapan dalam masalah ekonomi, dan alasan lainnya.

Kembali kepada diri saya, kenapa saya telat menikah? Karena saya terikat kontrak kerja. Saya bekerja merantau di negara orang bertahun-tahun lamanya demi bisa memperbaiki perekonomian keluarga di kampung. Dan yang mengalami hal demikian bukan hanya saya saja, melainkan masih banyak perempuan yang memiliki nasib sama seperti saya. Mereka teman-teman para pahlawan devisa yang tersebar jutaan jiwa jumlahnya di berbagai negara penempatan.

Apakah tidak ada keinginan untuk berumah tangga, menyempurnakan separuh agama? Ada, keinginan itu bagi seorang manusia yang normal pasti ada. Termasuk bagi para tenaga kerja wanita seperti saya.

Tahukah jika sebenarnya saya menangis dalam tawa manakala ada orang yang bertanya kenapa belum juga menikah? Tajukah jika batin ini menjerit ketika adik di kampung meminta izin untuk melangkahiku karena akan lebih dahulu menikah?

Doa, ihtiar serta usaha tentu saja saya lakukan. Bimbingan para utadz dari Cordofa (Corps Dai Dompet Dhuafa) yang sampai di negara penempatan tempat Tenaga Kerja Indonesia bekerja sangat membantu dan menguatkan. Memperkuat niat serta membimbing saya selama menjalani masa sisa kontrak kerja.

Diskusi serta obrolan yang tidak akan saya lupa, saat mereka bertanya apa yang saya cari selama hampir belasan tahun jauh dari rumah dan keluarga? Apakah saya bahagia dengan keberadaan saya sekarang (saat bekerja di majikan)?

Tentu saja saya jawab kalau saya bekerja mencari uang untuk modal nanti di kampung. Demikian pula saya jawab bahagia jauh dari rumah meski kadang kangen keluarga, tetapi dengan kecanggihan teknologi semua kangen jadi sedikit terobati.

Menikah

Sedikitpun belum saya ketahui jika kebahagiaan sesungguhnya adalah keseimbangan jasmani serta rohani. Kebahagia lahir dan batin itu sesungguhnya dirindukan semua orang dan ternyata untuk mencapainya hanya perlu memperhatikan 4 hal saja.

Hal pertama saya akan bahagia lahir dan batin jika saya mempunyai suami yang soleh. Selama saya masih melajang, walaupun materi yang saya dapat di atas rata-rata upah buruh di dalam negeri, namun tidak dapat dipungkiri jika saya masih berada dalam kepura-puraan bahagia. Benarkah?

Mempunyai suami yang soleh tentu dambaan setiap muslimah. Demikian juga lelaki soleh akan mendambakan muslimah yang salihah. Jika saya mengharap pendamping yang soleh, apa dia yang soleh itu mau didampingi saya yang “begini adanya?” jauh dari kata salihah? Sementara bekerja di majikan non muslim, meski mereka sangat menghormati dan bertoleransi tinggi, tetap saja diri ini jauh dari kata taat. Lalu jalan keluarnya bagaimana?

“Perbaiki ahlak serta kelakuan diri sebaik dan semaksimal mungkin. Sesoleh apa calon suami yang diharapkan, maka sejauh itu pula diri serta ahlak sendiri yang harus diperbaiki,” demikian wejangan ustadz dari Cordofa yang tidak akan pernah terlupa.

Secara tidak langsung wejangan itu saya artikan sebagai saran kepada saya untuk menyelesaikan kontrak kerja dan pulang kampung. Memperbaiki diri akan terasa maksimal jika berada di rumah sendiri dengan kondisi lingkungan yang mendukung.

Hal kedua supaya kebahagiaan lahir dan batin dapat diraih adalah dengan mempunyai anak yang soleh dan atau solehah. Buah hati akan jadi pelengkap kebahagiaan rumah tangga. Tapi tidak cukup asal punya anak saja. Banyak anak yang jauh dari orangtua justru kurang perhatian serta kasih sayang. Dampaknya bukan kebahagiaan lahir batin yang dirasa, namun kejengkelan yang menimbulkan rasa benci dan efek buruk lainnya.

Hal ketiga yang menjadikan kebahagiaan lahir batin akan menyambangi adalah dengan mempunyai tempat tinggal yang layak. Saya sudah memiliki itu meski sederhana. Lalu tinggal menunggu apa lagi?

Hal keempat yang bisa membuat saya bahagia di dunia lahir dan batin adalah jika mempunyai jalan nafkah yang diridhoi dekat dari keluarga. Sumber rezeki di kampung halaman. Jelas menjadi TKI di rantau memang bukan jalan nafkah yang langgeng. Suatu saat pasti akan pulang kampung juga. Tetapi sampai kapan merasa cukup memiliki bekal sementara keinginan manusia itu tidak ada batasnya?

Kajian demi kajian, dipikir dibolak balik. Merenungkan apa saja yang sudah saya dapat, dan apa saja keinginan saya kedepannya. Akhirnya saya pasrah mengambil sebuah keputusan dan menyerahkan kembali semuanya kelak kepada Yang Maha Kuasa.

Diiringi doa yang terus dipanjatkan, ahlak serta perbaikan diri yang terus ditingkatkan keistiqomahannya, akhirnya membuahkan sebuah jawaban yang disertai kesadaran: Saya harus pulang!

Dan kini, kebahagiaan lahir batin itu alhamdulillah sudah saya dapatkan. Bagaimana tidak bahagia jika tanpa harus pacaran, saya bertemu jodoh yang tidak lain adalah kakak kelas saat sekolah dulu. Bagaimana tidak bahagia jika kini keluarga kecil kami dilengkapi dengan celoteh buah hati yang sangat menggemaskan dan sudah belajar jadi santri.

Kebahagiaan saya rasanya lengkap sudah ketika hasil kerja keras bersama, akhirnya suami mendapatkan pekerjaan yang layak dan saya masih bisa membantu perekonomian keluarga tanpa harus banyak keluar rumah meninggalkan suami dan anak. Maha Besar Allah, kebahagiaan serta berkah dari menikah itu sungguh tiada tara.

Saya tegaskan tidak ada yang sempurna jika kita terus memilih dan mencari yang lebih untuk jadi pasangan hidup. Tidak akan pernah dapat jika terus mencari yang sempurna. Jika kesempatan untuk menikah sudah ada, segeralah berserah diri kepada Sang Pencipta. Jemput kebahagiaan itu dan arungi suka serta dukanya.

Saya tahu pasti keberadaan serta kondisi saya jauh lebih tidak baik dibanding kondisi dan keberadaan teman-teman. Jangan minder, jangan merasa tidak pede apalagi berada dalam kegalauan berkepanjangan. Segera akhiri itu semua.

Lihatlah saya, tidak ada kata terlambat untuk mengarungi bahtera rumah tangga. Tidak ada aturan perempuan desa yang tidak sekolah seperti saya tidak bisa bahagia. Meski berasal dari keluarga miskin, tidak berpendidikan dan bekerja menaruhkan diri dengan menjadi TKW ke luar negeri tapi setelah menikah ternyata saya bisa bahagia. Alhamdulillah…

Lebih bahagianya lagi, manakala keputusan untuk mengakhiri kontrak kerja, pulang dan segera berumah tangga juga dilakukan oleh beberapa teman sesama tenaga kerja dulu. Berkat doa serta usaha yang didampingi ketawakalan, alhamdulillah teman-teman itu kini juga sudah menemukan kebahagiaan lahir batinnya setelah menikah dan hidup tentram sederhana di kampung.

Teh Nengsih sudah menetap di Subang beserta Abah dan Dede Hasbi-nya. Mba Bayu berbahagia bersama suami dan gadis ciliknya di Yogyakarta. Mbak Ivon yang baru saja menggelar acara GA ulang tahun Aiman yang ke-2 kini menetap di Malang bersama Mas Ihwan tercinta. Demikian juga Mba Yeyen, Mba Ida, Mba Siti, Teh Tika, Heni dan Ummu serta beberapa teman lain yang dulunya “betah” bekerja di rantau kini sudah menemukan kebahagiaan lahir serta batinnya dengan jalan melalui sebuah pernikahan.

Kini, setiap silaturahmi baik secara langsung maupun hanya lewat dunia maya hati semakin mantap untuk terus mengajak dan berbagi kisah khususnya kepada saudara-saudara yang masih merantau di negeri orang untuk segera merenungkan bahwa menjadi TKI itu ada batasnya, sementara yang abadi adalah kebahagiaan yang dibangun berlandaskan sakinah, mawadah dan warrahmah.

Jadi kenapa masih bimbang dan galau? Mantapkan saja niat dan ucapkan bismillah untuk melangkah melakukan sunnah Rasulnya  Insya Allah kebahagiaan yang sempurna akan segera diraih, sebagaimana kebahagiaan yang sudah saya dapat beserta teman-teman yang sudah saya sebutkan.

wp_ss_20150314_0001[1]

“Tulisan ini diikutsertakan dalam Giveaway 3rd Anniversary The Sultonation”

banner giveaway

Comments

  1. Bagus mbak. Membuka mata saya bahwa banyak perempuan pekerja di negeri orang yang ternyata juga ingin menikah tapi banyak kendala. Selalu salut dg yg bs bekerja jauh dr keluarga. Alhamdulillah skrg sudah plg ya …Salam kenal mbak:)

  2. inspiratif sekali mb…btw aku juga ikutan nih GAnyah, sukses yaa

  3. Terimakasih sudah berbagi cerita Mbak 🙂 Inspiratif

  4. Edi Padmono says:

    Pernikahan itu memang unik tapi tidak bisa dipungkiri, kebanyakan adalah alasan dunia yang membuat orang menunda-nunda pernikahan

Speak Your Mind

*