Pertanda Tidak Baik Burung Menakutkan Sirit Uncuing Dekat Rumah

Konon Katanya Pertanda Tidak Baik kalau ada Burung Menakutkan Sirit Uncuing Dekat Rumah

Merinding bulu roma. Pikiran langsung mengarah kalau sekitar rumah akan ada orang yang meninggal dunia. Hiyyy… Segera jeuh-jauh membuang pikiran itu dan menggantinya dengan istigfar, lalu menyerahkan semua kepada Yang Maha Kuasa. Optimis apapun yang terjadi adalah yang terbaik menurut Nya untuk kami, hamba Nya.

Musim hujan sepertinya tidak juga berakhir sepanjang tahun kemarin hingga tahun ini. Hampir setiap hari selalu turun hujan, membuat orang malas keluar rumah, kecuali para petani yang justru bergembira menggarap lahan sawah demi menjemput rezekinya. Pucuk-pucuk daun sangat bersih ketika tersorot sinar metahari pagi. Hampir setiap sore dimandikan air hujan membuat oksigen yang dihasilkan terasa lebih segar dan nyaman.

Namun kenyamanan itu terasa tidak sempurna manakala setiap hujan mereda, selalu terdengar suara burung kedasih, atau di kampung kami disebutnya burung sirit uncuing. Seperti bayangan ketakutan yang sudah saya gambarkan di paragraf pertama, warga kampung akan langsung tertuju kepada hal-hal negatif manakala mendengar suara burung kedasih ini. Apalagi jika si burung hinggap dan “bernyanyi” di dekat rumah. Di sekitar rumah memang terdapat banyak pohon yang cukup tinggi dan berdaun lebat dibanding dengan halaman rumah tetangga. Tidak heran kalau itu burung menakutkan betah  dan senang bernyanyi di halaman rumah kami.

Burung kedasih atau sirit uncuing (Cuculus merulinus) punya beberapa istilah di tempat lain seperti daradasih, untit-untit, srintit, dan emprit gantil memang dianggap burung yang menakutkan. Tidak ada yang mau memeliharanya meski memiliki suara nyaring, dan bawel.

Kenapa burung kedasih dianggap burung pembawa aura negatif? Entahlah kepastian nya. Yang pasti sejak kecil, para sesepuh sering mengatakan jika ada burung sirit uncuing dekat rumah, itu pertanda akan ada orang meninggal dunia. Namanya juga perkataan manusia, kadang ada benarnya, kadang tidak. Yang benar mungkin kebetulan saja, yang tidak kalau saya sih mengembalikan semua kepada Sang Pencipta saja, termasuk hidup dan matinya manusia.

Termasuk beberapa minggu terakhir ini setiap pagi sampai sore suara burung kedasih selalu terdengar nyaring di sekitar rumah. Sempat memperhatikan burung mana yang nyanyiannya nyaring dan mampu membangunkan setiap bulu roma warga kampung itu, namun tidak pernah berhasil. Hanya tampak sosok burung kecil sebesar burung pipit yang menclok di pohon salam dan sebelum fokus burung itu sudah berkelebat dibalik rimbun dedaunan.

Oya nenek saya pernah bilang kalau manuk sirit uncuing itu tidak punya rumah alias sarang. Setiap bertelur burung ini selalu menitipkan telur-telurnya kepada sarang burung lain. Aneh kan ya? Bukannya memelihara telur sendiri, yang ada justru sering merusak telur burung lain. Saat si telur manuk uncuing menetas jadi anak pun, manuk uncuing tidak pernah mengurus atau memberikan anak-anaknya makan. Manuk uncuing tega melepaskan anak-anaknya begitu saja dan biasanya si anak manuk uncuing bergantung hidup pada belas kasih burung lain si pemilik sarang.

Meski saya percaya mitos hanyalah sekedar mitos, tidak ada kaitannya sama ketentuan yang ditetapkan Tuhan YME, tapi aura ketakutan dan bayangan negatif tidak bisa saya hilangkan manakala bunyi burung sirit uncuing ini kerap terdengar di sekitar rumah beberapa minggu ini. Dan saya percaya semua sudah takdir Nya manakala minggu pertama di bulan Maret saya dikabarkan jika keponakan saya di Bogor mengalami musibah.

Kami sangat shock dan sedih teramat dalam manakala putri keponakan saya yang baru berusia 4 tahun meninggal dunia dengan jalan yang sangat memilukan. Berita di tv mengatakan, jika Caca, bocah yang secara garis keturunan masih memiliki ikatan darah dengan saya sebagai  incu tigigir (Caca adalah cicit ibu saya) meninggal diduga karena dianiaya oleh ayah tirinya.

Caca sudah tiada, tapi suara burung sirit uncuing masih terdengar di halaman rumah dengan jellasnya.

 

 

Comments

  1. Kalo di jakarta tepatnya johar baru, burung gagak pertanda kematian. Waallah hualam

  2. Innalilahi wainnaihi radjiun. Teteh Okti, ikut berduka y teh. Kejam sekali pelakunya 🙁

  3. Kembalikan semuanya hanya kepada Allah, Innalilahi wainnaihi radjiun ya teh, semoga keponakannya bisa membantu orangtuanya kelak masuk surga aamin. Semoga keluarga diberi ketabahan.

    Jadi merinding juga teh, aku baru tahu sebutan burung itu dengan nama sirit ucuing.

Speak Your Mind

*