Pesantren Disusupi Narkoba? Pesantren Seperti Apa?

Pesantren Disusupi Narkoba? Pesantren Seperti Apa?

PESANTREN DISUSUPI NARKOBA-

Pantas Presiden RI Bapak Jokowi mendeklarasikan jika bangsa Indonesia ini sedang darurat narkoba. Bukan hanya hasil temuan pihak berwajib sekian kilogram barang-barang haram selundupan yang masuk ke wilayah Indonesia, namun yang lebih menghenyakkan publik adalah adanya kabar tentang anak santri (murid di pesantren) yang kedapatan mengkonsumsi narkoba.

Kepala bidang hubungan masyarakat BNN, Pal Slamet Pribadi menjelaskan jika di Jawa Timur ada dugaan di sebuah pesantren ada santrinya yang menggunakan narkoba. Karena masih dalam tahap penyelidikan akan informasi itu, maka Pak Slamet tidak bisa menginformasikan akan pesantren dan daerah mana yang dimaksud. Ada kemungkinan budaya baru dimana pengguna narkotika (yang mungkin memang bukan seorang santri) tetapi tinggal dan menggunakan narkoba dekat dengan lingkungan pesantren.

Menyikapi kondisi yang baru dugaan ini, H. Mochsen, selaku Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kemenag sangat menyayangkan. Karena menurutnya, belum tentu apakah santri atau bukan yang mengkonsumsi narkoba itu tapi nama pesantren sudah terlebih dahulu ternoda. Padahal sudah jelas pesantren itu sendiri sangat memerangi narkoba yang baik oleh negara dan agama sangat dilarang. Justru bahkan pesantren jadi tempat rehabilitasi yang banyak membantu para pengguna yang kecanduan supaya bisa sembuh dan tidak lagi ketergantungan.

Ya, masih ingat sejak sekolah dasar sampai saat ini kalau Pesantren Suryalaya di Tasikmalaya adalah salah satu pesantren yang menerima para pecandu untuk direhabilitasi dengan cara yang dimiliki pesantren itu sendiri. Ada juga pesantren Hikmah Syahadah yang berad di Jagakarsa, Tangerang. Pesantren yang berdiri sejak 1998 ini juga menerima para pecandu untuk direhabilitasi.

Lalu jika saat ini dihebohkan dengan adanya dugaan santri sebuah pesantren mengkonsumsi narkoba, dan itu belum pasti kebenarannya apakah benar santri pondok pesantren terkait atau hanya orang lain yang mengkonsumsi di dekat wilayah pesantren, apakah wajar jika timbul pertanyaan pesantren seperti apakah itu? Karena seolah sudah jadi ketentuan, jika dalam pesantren ada seorang santri yang “bermasalah” maka jalan yang diambil adalah mengeluarkan yang bermasalah itu sebelum permasalahannya menular kepada yang lainnya.

Menghadapi kabar seperti ini saya sendiri justru timbul kekhawatiran, mengingat di rumah kami punya anak-anak mengaji. Meski kami tidak memondokkan mereka karena mengaji hanya satu dua jam saja dari magrib hingga selesai isya, namun melihat perkembangan jaman, ditambah pergaulan anak-anak jaman sekarang yang memang cukup mengkhawatirkan membuat tanggung jawab ini seakan semakin besar.

Santri di rumah yang harus diperhatikan bukan hanya setoran hafalan serta tazwidnya saja, tetapi juga ahlak kesehariannya

Santri di rumah yang harus diperhatikan bukan hanya setoran hafalan serta tazwidnya saja, tetapi juga ahlak kesehariannya

Teringat kembali beberapa kata yang diucapkan Ustadz Bahtiar Nasir akan pandangannya terhadap fenomena ini. Bahwa anak akan mencontoh apa yang dilakukan keluarga dekat, lingkungan dan kebiasaan-kebiasaannya. Maka dari itu sejak dini selalu perhatikan dan perbaiki pola makan, pola kegiatan anggota keluarga, dan pola pendidikan anak. Dari tiga point itu saja, bila setiap orang tua bisa memantau dan menjalankannya dengan baik, insya Allah anak tidak akan melenceng dari jalan yang sebenar-benarnya.

Tanamkan pola hidup dan sistem kehidupan di pesantren di dalam rumah kita. Rasakan perbedaannya, rasakan hasilnya, semoga tidak ada lagi generasi muda yang membuat terhenyak semua yang mendengar saat dikabarkan ternyata orang yang dielu-elukan tak lebih dari pengguna narkoba (dan aktivitas terlarang lainnya).

Semoga santri kami dan seluruh santridi permukaan bumi terhindar dari jeratan narkoba. Amin...

Semoga santri kami dan seluruh santridi permukaan bumi terhindar dari jeratan narkoba. Amin…

Sudah dengar berita terbaru yang tidak kalah mengejutkan? Ya, adalah tangkap tangan Badan Narkotika Nasional (BNN) pada Minggu Malam kemarin di sebuah rumah bupati. Positif jika bupati terkait yang dinobatkan sebagai bupati termuda di Indonesia itu mengkonsumsi narkoba dilihat dari tes urine yang dilakukan oleh pihak BNN.

Bayangkan, bagaimana Presiden tidak menyatakan berperang kepada narkoba dan pengguna atau bandarnya, jika sekelas bupati saja yang notabene sebagai pejabat dan sesepuh rakyat satu kabupaten terbukti berhasil tangkap tangan tengah mengkonsumsi narkoba yang jelas-jelas dinyatakan sebagai barang haram?

Jangan sampai anak dan turunan kita terimbas demikian, mari kita perbaiki pola pikir, pola makan, pola hidup dan pola pendidikan supaya anak dan keluarga kita bisa terhindar dari godaan besar namanya narkoba.

Speak Your Mind

*