Pilkada Serentak: Yang Unik dan Nyeleneh di TPS-ku

Pilkada Serentak: Yang Unik dan Nyeleneh di TPS-ku

Pilkada

Rabu 9 Desember 2015 dilaksanakan pemilihan kepala daerah (Pilkada) secara serentak. Rakyat menyambut dengan suka cita pesta pemilihan umum yang bersifat LUBER alias langsung umum bebas dan rahasia ini. Meski tidak bisa disembunyikan masih ada sebagian warga yang acuh dan memilih diam.

Pilkada serentak ini juga bertepatan dengan Hari Anti Korupsi Nasional. Berharap dengan jatuhnya pilihan rakyat kepada calon kepala daerah secara simbolis menjadi momentum para pemilih dan yang dipilih supaya dengan tegas bisa menghilangkan kebiasaan yang sudah mengakar terkait Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN).

Namun kenyataannya, masih sangat jauh! Tidak meminjam telinga tidak pula meminjam mata, ini saya saksikan sendiri jika praktek KKN itu justru terjadi berkaitan erat dengan proses pemilu itu sendiri. Ini yang saya anggap unik dan nyeleneh.

Mau nyoblos nomor sekian, nanti diganti dengan semangkok bakso, lho!?

Mau nyoblos nomor sekian, nanti diganti dengan semangkok bakso, lho!?

Potongan Tidak Transparan

Suami kebetulan dipercaya sebagai salah satu petugas di Tempat Pemungutan Suara (TPS). Sabtu lalu mendapatkan undangan dari Panitia Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kecamatan. Sekembalinya dari pertemuan tersebut, saya seperti biasa bertanya acara itu ngapain saja.
Suami menjawab seperti biasa sekedar pertemuan untuk memantapkan jalannya Pilkada nanti. Jika ada pertanyaan dari petugas terpilih dari tiap daerah dipersilahkan dan petugas tingkat kecamatan menjawab serta menjelaskannya.

Satu hal lagi pertemuan itu juga membagikan honorarium untuk semua petugas yang sudah terpilih. Yang mengherankan, meski dana untuk lokasi (sewa alat dlsb) sudah dianggarkan sekian, tetapi honor yang seharusnya utuh diterima petugas (seperti suami saya) ternyata sudah dipotong terlebih dahulu sekitar 6%. Katanya untuk pajak.

Saat suami menyodorkan kartu NPWP (jika benar itu potongan untuk pajak) tidak direspon. Katanya tidak perlu nomor NPWP. Lah, lalu pajak itu dibayarkan kemana? Cerita punya cerita, desas desus katanya potongan itu untuk konsumsi petugas. Lho, bukannya untuk konsumsi juga sudah dianggarkan dananya?

Baru saja mau memilih kepala daerah yang diharapkan bisa amanah, prosesnya saja malah sudah didahului oleh ketidakjujuran dan ketidaktransparanan. Bagi sebagian orang di kampung mungkin tidak berani bertanya, apalagi menelusuri “pajak” potongan dari honorarium petugas itu larinya kemana kalau bukan ke kas negara.

Hak Suara Ditukar Semangkuk Bakso!

Boleh percaya atau tertawa. Setelah melakukan pencoblosan, secara berantai dari mulut ke mulut antar warga kampung saling menginformasikan kalau yang sudah mencoblos nomor urut sekian, silahkan datang ke kios bakso Pak Anu, disana akan diberi bakso gratis!

Namanya bakso, gratis pula, bagi warga kampung tentu sangat menarik. Entah benar atau tidak sudah mencoblos nomor sekian, yang pasti banyak warga yang benar datang ke kios bakso Pak Anu dan di sana dicatat namanya. Lalu dibagi bakso satu porsi per orang.

Apakah itu sama saja dengan menjual belikan hak suara dengan nominal satu mangkok bakso yang harganya rata-rata Rp. 10 ribu saja? Terlepas dari benar atau tidaknya warga mencoblos nomor sekian, tapi jika datang ke kedai bakso Pak Anu, lalau dicatatkan namanya, dan berhak mendapat jatah bakso satu porsi apakah itu sudah menggambarkan kalau azas RAHASIA dari LUBER itu sendiri sudah luntur?

Usut punya usut, yang membayarkan bakso kepada Pak Anu sebanyak warga yang mencoblos nomor urut sekian itu adalah salah seorang anggota dewan perwakilan daerah (DPD) yang partainya mendukung pasangan calon bupati nomor urut tertentu tersebut.

***

Dua kejadian tersebut di atas yang saya anggap uniuk dan nyeleneh. Unik karena kok ya bisa di jaman yang diharuskan merevolusi mental, lah nyatanya mental orang-orangnya itu sendiri sudah bebal. Mental karet alias tidak bisa dirubah ke arah lebih baik. Nyeleneh karena kok ya tidak malu secara terang-terangan mengemis atau membeli suara (hak pilih) kepada warga dengan harga semangkok bakso saja!

Comments

  1. waaah, Pilkada rame yah dengan isu – isu begituan mbak.
    Aku belom pernah nyoblosss 🙁 kecuali nyoblos waktu pemilihan ketua bem.
    Nasib mahasiswa rantau .
    Semoga yang nanti kepilih bisa menjalankan amanat rakyat yah :).

    • Halo Mba Raisa 😛 eh, Mba Astari…
      makasih sudah mampir dimari
      Benar, Mba… di kampung masih banyak lho hal aneh lainnya
      ini yang saya ceritakan yang saya saksikan langsung kemarin saja 😉

  2. kalau aku malah ada serangan fajar, amplop dibagikan sewaktu pemilihan kades, ampun deh

  3. Ketawa aahh~ hihhihii.. Tapi memang benar adanya masih ada yang belum luber, mungkin gak penuh penuh kali hehehe.. Ya aku sih suka sama bakso, mungkin boleh juga traktiran nya *loh* #ehh..

  4. Memang masih banyak keunikan macam itu mbak. Apalagi di daerah atau kampung-kampung. Dan gak ada yg berani lapor ya. Aneh.

    • Masalahnya takut Mba Anne. saya aja nulis ini gak berani share link di wall FB, hehe… soalnya banyak tetangga termasuk pengurus dan tim sukses para calon kepala daerah yang jadi teman saya di Fb. Mereka baca takut ada yang tersinggung dan marah 😉 hehe…

Speak Your Mind

*