Prospek Bisnis Gamis dan Mukena untuk TKI Purna

Mantan pembantu punya usaha jual beli gamis dan mukena, keren kan? Apalagi diperjualbelikannya ke Singapura, Hongkong, Macau dan Taiwan! Mata uang yang dipakai pun tentu saja menyesuaikan dengan dolar. Sungguh sebuah bisnis yang menggiurkan, bukan?

Bisnis Gamis Mukena

Saat ini pemerintah tengah menyoroti para mantan TKI yang sudah kembali ke Indonesia. Berbagai program diselenggarakan supaya para mantan TKI yang kebanyakan bekerja sebagai pembantu ini bisa berdaya, membuka peluang usaha dan tidak kembali ke luar negeri menjadi TKI. Sebagai mantan TKI hal ini tentu saja menjadi sebuah angin segar untuk saya. Bagaimana cara supaya saya bisa mempunyai usaha sendiri sepulangnya dari merantau?

Pemerintah khususnya BNP2TKI (Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja IndonesiaI) melalui Deputi Bidang Penempatan mengadakan sosialisasi skema kredit usaha rakyat (KUR). Dalam arti mudahnya pemerintah sudah membukakan jalan usaha untuk TKI Purna berupa modal pinjaman melalui kredit usaha. Program ini sedang gencar dilaksanakan serentak di berbagai daerah kantong-kantong pengiriman TKI. Hal ini pun didukung berbagai khalayak, mulai praktisi kalangan pengusaha, instansi terkait pendukung wirausaha dan motivator, serta perbankan.

Para TKI Purna diberikan motivasi wirausaha, praktek produksi dan pemasaran, juga dibekali dengan akses modal, akses pasar dan link stakeholder untuk menampung produk yang dihasilkan. Edukasi kewirausahaan ini diharapkan agar para TKI purna tidak lagi berangkat ke luar negeri, tetapi membangun usaha-usaha baru untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi keluarganya.

Saat beberapa teman khususnya dari derah di Jawa Barat mengikuti program pelatihan ini, kami berdiskusi kira-kira usaha apa yang prospeknya bagus. Ada yang membidik usaha kuliner, usaha peternakan dan usaha jasa travel. Saya sendiri terpikir akan usaha busana muslim atau baju gamis dan perlengkapan ibadah seperti mukena. Karena tidak hanya di tanah air, di negara tempat TKI/TKW bekerja pun seperti Singapura, Hongkong dan Taiwan, saat ini baju gamis serta peralatan ibadah sangat banyak diminati. Permintaan pasarnya pun sangat tinggi.

Padahal, beberapa tahun lalu boro-boro ada pasar atau permintaan jual beli busana muslim dan alat ibadah, membawa mukena dari rumah saja sangat dilarang. Ya, saya tidak akan pernah lupa saat pihak PT (penampungan) melarang kami para calon tenaka kerja (CTKI) membawa mukena. Nanti majikan mengira ada hantu di rumahnya! Begitu alasan mereka.
Larangan itu santer menjadi lagu wajib para petugas penampungan di BLK (Balai Latihan Kerja) milik Perusahaan jasa Tenaga Kerja Indonesia (PJTKI) yang menjaga para CTKI sebelum terbang menuju negara penempatan tempat bekerja.

Meski sejak dari penampungan sudah diinformasikan kalau bekerja ke negara Singapura, Taiwan dan atau Hong Kong (ini jika bekerja sebagai PRT alias pembantu) dilarang membawa mukena, dengan kata lain akan kesulitan untuk menjalankan ibadah sholat lima waktu. Tapi saya tidak bergeming.

Kenapa dilarang membawa mukena atau alat ibadah? Bukankah kebebasan menjalankan ibadah itu adalah hak azasi manusia? Protesku menuai jawaban karena majikan di negara Singapura, Taiwan dan Hong Kong, kebanyakan non muslim dan konon, mereka takut jika di rumahnya ada pembantu yang mengenakan mukena. Jika melihat orang memakai mukena mereka mengira hantu dan tentu saja ketakutan. Dipikirnya pekerjanya yang sedang sholat mengenakan mukena berwarna putih itu adalah hantu.

Jadi masalahnya mukena berwana putih, bukan pelarangan menjalankan ibadah sholat, itu kesimpulanku. Jika mukena berwarna selain putih, apalagi bercorak seperti kain dan baju sehari-hari, tentu akan lain lagi ceritanya.

Saat aku terbang ke Singapura, aku memang tidak membawa mukena. Memaksa untuk bawa pun, percuma. Pegawai di penampungan yang memeriksa isi tas akan segera mengambilnya. Sebagai gantinya, aku membawa beberapa kain dan baju muslim atau gamis. Aman. Semua bisa aku bawa tanpa pertanyaan.

Sesampainya di rumah majikan, meski mereka non muslim, aku tetap meminta izin untuk melakukan ibadah. Bukan hanya solat, tapi juga puasa. Majikan serta keluarganya yang berpendidikan mengerti dan mengetahui tentang Islam dan memperbolehkan aku beribadah. Yang penting tidak mengganggu pekerjaan.

Begitu juga saat aku bekerja di Hong Kong dan Taiwan. Mitos majikan takut dengan mukena sepertinya harus berakhir. Karena di negara maju tersebut, justru banyak dijual perlengkapan baju-baju gamis, jilbab, mukena dan alat solat lainnya. Jadi meski kerja di majikan non muslim, kuncinya hanya satu, komunikasikan dulu dengan majikan.

Sistem larangan membawa mukena serta menceritakan kisah majikan yang ketakutan melihat hantu padahal pekerjanya sedang sholat memakai mukena berwarna putih di Penampungan PJTKI rasanya sangat tidak tepat. Alih-alih menjelaskan bagaimana baiknya berkomunikasi dengan majikan, pihak PJTKI atau agency justru memperkeruh keadaan dengan membuat larangan membawa mukena yang justru merusak akidah dan memusingkan pikiran para CTKI.

Para pekerja pun kebanyakan melahap informasi secara mentah-mentah tanpa bisa mencari solusi. Dalam paradigmanya dilarang membawa mukena itu identik dengan dilarang sholat. Padahal mukena tidak harus berwarna putih, kan? Sholat tidak harus mengenakan mukena. Istilah mukena hanya ada di wilayah Asia, khususnya di Indonesia dan Malaysia. Karena di negara Timur Tengah sana, orang sholat cukup mengenakan baju sehari-hari yang pastinya harus memenuhi syarat, seperti menutup aurat dan bersih dari najis.

Saya tidak membawa mukena saat berangkat bekerja ke Singapura, Hongkong dan Taiwan. Tapi alhamdulillah bisa menjalankan ibadah sholat. Saya malahan sebaliknya justru membeli beberapa buah mukena untuk ibu, serta saudari-saudariku di kampung saat akan kembali ke tanah air.

Dan kini, setelah pulang kampung, mendapat pelatihan dari BNP2TKI tentang wirausaha sepertinya saya justru tertarik untuk usaha jual beli gamis dan mukena ini.(ol)

Tulisan ini diikutsertakan dalam GiveAway Toko Online Ahza D’Toko

logo ahza

Comments

  1. afifah izzati says:

    teh, perkenalkan saya afifah mahasiswa dr jakarta. saya dpt internship ke taiwa selama 1 tahun. dan berniat selama disana mau jualan
    kira-kira bisnis teteh bisa jadi awalan saya kah?
    terima kasih

Speak Your Mind

*