Resolusi: Hutang yang Direncanakan?

Resolusi: Hutang yang Direncanakan?

Lebaran sudah lewat, bulan Juni telah berlalu. Sudah memasuki setengah tahun terakhir aja di tahun 2017 ini. Btw, gimana dengan hutangmu? Sudah lunas atau malah bertambah? Ngaca

Setiap orang pasti ingin yang terbaik. Semua insan gak mungkin tidak punya cita-cita dan harapan. Baik itu jangka pendek maupun jangka panjang. Waktu terus berjalan sementara tidak sedikit manusia yang hanya terkurung dalam bayang dan angan. Banyak keinginan manusia hanya tinggal keinginan. Terlepas dari manusia itu sendiri apakah sudah berusaha atau tidak.

Termasuk saya. Setiap hari, setiap minggu, bulan, tengah tahun dan akhir tahun selalu memiliki harapan dan rencana-rencana baik. Resolusi –khususnya resolusi keluarga– selalu saya buat sebagai penyemangat dalam menjalankan roda kehidupan. Namun dengan jujur harus saya katakan, tidak semua resolusi yang sudah dibuat bisa tercapai. Malah dengan jujur juga harus saya katakan kalau dari sekian banyak resolusi yang saya buat, lebih banyak yang gagalnya. Banyak resolusi yang out of date alias failed. Miris, memang.

Diluar semua hal yang selalu saya syukuri tentunya, terbersit tanya secara diam-diam. Bagaimana dengan kabar resolusi-resolusi yang tidak tercapai itu? Apakah menguap begitu saja bagaikan air di jalan aspal yang karena terus-menerus terpapar sinar matahari lama-lama jadi hilang? Atau menjadi gundukan rencana yang makin lama makin membesar ibarat tambahan liar yang semakin lama dibiarkan akan semakin merambat menjalar kemana-mana?

Dan bagaimana konsekwensi manusia itu sendiri terhadap resolusi yang dibuatnya, apakah cukup do not care dan melupakannya (menganggap biasa dan tetap menjalani hidup selanjutnya) atau berusaha lagi meraih rencana-rencana yang failed itu karena merasa apa yang sudah diniatkan adalah sebuah hutang? (Dan pastinya yang namanya hutang wajib dibayar, bukan?)

Semua kembali kepada diri masing-masing. Karena yakin setiap orang punya pandangan yang berbeda atas rencana yang sudah dibuatnya.

Saya sendiri sebenarnya punya rencana setengah tahun yang cukup banyak. Resolusi tengah tahun dijembreng dalam list demi bisa fokus mancapainya. Namun apa daya, dari sekian banyak resolusi tengah tahun yang saya buat hanya satu dua saja yang berhasil tercapai. Sisanya kembali menjadi HUTANG. Dan saya meyakini saya harus segera MELUNASINYA.

Dengan cara apa? 

Berani berbuat berani bertanggung jawab. Berani buat resolusi (berhutang) maka berani take action pula untuk mencapai targetnya (melunasi).

Jika resolusi itu gagal, seperti resolusi tengah tahun saya yang belum tercapai padahal saat ini sudah bulan Juli, maka kewajiban saya untuk terus mengejarnya, mengupayakan semaksimal mungkin untuk mencapainya meski sudah kadaluarsa (lewat tengah tahun seperti target semula). Jika masih gagal lagi dan gagal lagi, baru tawakal kepadaNya. Karena sekuat apapun manusia berencana, toh tetap semua kembali kepada Tuhan YME yang menentukan nya.

Dengan demikian, hutang resolusi yang tidak terbayar itu insya Allah tidak akan jadi beban, begitu pula saat gagal lagi dan lagi tidak pula membuat saya putus asa apalagi berpikir buruk.

Karena resolusi sesungguhnya dibuat untuk jadi pemicu supaya lebih semangat menjalani hidup. Bukan untuk mendidik manusia menjadi ambisius dan lupa terhadap Sang Maha Pengatur.

Jadi apa nih resolusi tengah tahun saya yang belum tercapai dan sudah tercapai itu? Kasih tahu jangan ya…

Sederhana saja sih… Resolusi tengah tahun keluarga saya yang belum tercapai diantaranya lebih sering berkunjung ke rumah ibu. Satu-satunya orang tua yang masih kami miliki. Entah kenapa susah sekali mencapainya…

Dan resolusi tengah tahun yang sudah berhasil saya capai adalah bekerja di rumah. Alhamdulillah.

Terlepas dari tercapai atau tidak setiap resolusi yang kita buat, yang panting sebagai manusia kita jangan ngoyo dalam menjalani kehidupan. Terus bersemangat dan optimis karena apa yang kita usahakan pasti akan ada hasilnya.

Meski bagi saya resolusi itu seperti hutang, tapi bukan berarti jadi malas beresolusi atau malas berhutang. Justru dengan menyamakan revolusi seperti hutang (bagi saya) akan makin bersemangat untuk mencapai atau melunasinya.

Apa resolusi tengah tahunmu, Kawan?Semoga resolusi tengah tahunnya tercapai ya. Amin.

 

4 thoughts on “Resolusi: Hutang yang Direncanakan?”

  1. wah benar mbak… tidak apa-apa resolusi belum terwujud secara keseluruhan. Yang penting prosesnya itu. Kita tetap bersemangat untuk meraihnya. Allah akan menilai prosesnya. Hasil Allah yang akan menentukan. Ynag jelas semuanya pasti untuk kebaikan kita.

    Reply
  2. Aduh, resolusi tengah tahun ya? Saya tuh resolusi tahunan aja suka nggak punya, Teh. Prinsip mengalir aja kaya air. Apa yang tersaji di hadapan, manfaatkan dan maksimalkan. Tapi ya kayanya butuh dikoreksi cara pandang seperti itu. Saya harus belajar untuk mulai merencanakan apa yang ingin diraih dalam bentuk resolusi, terlepas nantinya tercapai atau gagal.

    Makasih untuk posting ini, Teh.

    Reply
  3. Pas juga nih Teh sebentar lagi akhir tahun, biasanya bakal muncul deh resolusi yang ingin dicapai. Namun begitu, yang penting happy aja buat mewujudkannya, terlalu dipikirin juga jadi ribet sendiri ya hehe

    Reply

Leave a Comment

Verified by ExactMetrics