Seblak: Rahasia Usaha Kuliner Tanpa Musim

Seblak: Rahasia Usaha Kuliner Tanpa Musim

Seblak jadi kuliner yang banyak dicari selain bakso di bulan pasca puasa ini. Rasanya yang gurih, rempahnya yang menyengat ditambah pedasnya bikin lidah dan otak bekerja keras menerjemahkan kenikmatan makanan rakyat yang kini sudah naik pangkat.

Seblak yang banyak variatifnya membuat siapa saja mudah berkreasi dan membuat inovasi. Tidak heran jika akhirnya dalam waktu singkat banyak bermunculan seblak dengan aneka rasa. Seblak sayur, seblak ceker, seblak usus, seblak kikil dan masih banyak lagi varianya mendampingi kuliner berbahan dasar kerupuk setengah matang ini.

Termasuk kuliner sajian fast food seblak jadi idola anak muda sampai dewasa. Harganya yang murah meriah –mengalahkan harga bakso yang kian hari kian meroket– terjangkau oleh semua kalangan makin menjadikan makanan asal kota kembang ini banyak dinikmati tua dan muda.

Tidak hanya di perkotaan, pedesaan seperti tempat saya tinggal pun tidak ketinggalan ikut membidani lahirnya pengusaha-pengusaha seblak yang cita rasanya tidak kalah enak dibanding seblak perkotaan.

Seblak Ciseungkeu nih salah satunya. Sejak bulan puasa sudah banyak mendengar informasi tentang seblak ini. Sempat heran saat ada anak-anak mengaji bela-belain naik motor malam-malam setelah tarawih demi bisa membeli seblak yang jarak penjual dengan kampung kami sekitar 3 Km atau sekitar 10 menit berkendara. Makin penasaran ketika beberapa tema mengunggah seblak ini di akun media sosialnya.

Maka jadilah hari ini, awal Juli saya beserta Fahmi dan suami mencari keberadaan seblak yang bikin hati makin penasaran ini. Meski belum tahu dimana posisi penjualnya tapi suami bilang bisa mudah dicari kalau sudah di Ciseungkeu. Namanya juga di kampung, masih mudah cari sesuatu yang lagi hits. Benar saja. Masuk kampung Ciseungkeu tidak lama di sebelah kiri jalan bisa dikenali dengan mudah penjual seblak ini.

Lokasinya sederhana tapi sangat tertata rapi dan bersih. Memanfaatkan teras rumah, si ibu penjual menata dagangannya di meja yang sekaligus bersisian dengan ruang tamu rumahnya. Ada dua kompor gas dengan 4 wajan di atasnya yang sedang memasak seblak pesanan pembeli. Di samping nya ada dua meja dan bangku-bangku yang sebagian sudah diduduki anak-anak ABG yang sedang menunggu pesanannya. Wah memang laku nih seblak. Ada tempat parkir motor di halaman sebelah warung sebkaknya membuat yang bawa sepeda motor bisa tenang menyimpannya.

Melihat daftar menu yang sudah tersedia cukup kekinian memudahkan pembeli yang belum pernah beli sebelumnya seperti kami. Kami pun pesan seblak dengan pilihan masing-masing.

Dari rasa dan tampilan seblak dan minumannya memang cukup enak dan sudah termasuk melebihi standar secara lokasi kami masih di pedesaan. Saking banyaknya pengunjung dan pesanan kami yang mau takeaway seblak (lagi) jadi batal. Kapan-kapan lagi saja pesan lebih awal. Dari pada nunggu entah sampai kapan.

Saya yakin siapa saja bisa membuat seblak. Saya di rumah juga sering kok buat seblak sendiri. Dan ternyata ini adalah sebuah peluang usaha kuliner yang tidak mengenal musim alias diminati sepanjang waktu.

Meski di kampung terdekat sudah ada yang menjual seblak, bukan berarti jalan usaha pintunya sudah tertutup. Karena setiap orang punya kreasi dan ide terpisah. Justru itu kesempatan untuk terus tampil dengan berbagai modifikasi, variasi, dan mungkin special servis lainnya yang belum dilakukan penjual lain.

Ini tantangan. Usaha jaman sekarang tidak harus menunggu keajaiban tapi kita sendiri justru yang harus menjemput kesempatan. Seblak bukan satu-satunya contoh usaha kuliner yang bisa dijalankan tapi dari seblak kita bisa ambil pelajaran kalau peluang usaha itu ternyata masih banyak dan melimpah. Tinggal tanya sendiri mau tidak menjalankannya?

 

 

 

 

Comments

  1. Kalau mau usaha era sekarang, harus berani berinovasi ya, Teh. Di daerah rumah saya juga lagi hits, seblak ini. Harganya 13000 untuk yg spesial. Kakak saya sampai ketagihan, segar dan nyummy, rasanya.

  2. Pertama kali kenal seblak waktu masih domisili bandung, dan ini salah satu jajanan favoritnya suamii 😀

  3. Murah euy, dijakarta yg biasa pakai bakso 10.000 yang komplit 18.000 . Cuma gak nahan antrinya. Sama kaya mba di pasar johar juga penuh pembeli nya. Aku aja mau beli pas abang nya baru buka jam 4.30 Itupun sudah ada tiga orang calon pembeli.

  4. Seblak pedesss jadi ga mau coba. Bahan-bahannya murah lho, ibuku yang suka masak seblak makaroni

  5. Teh Okti gk minat juga jualan seblak? hehe
    Dulu aku gagal paham seblak itu makanannya apa, ternyata bisa divariasikan macam2. Tmnku ada yg suka bikin seblak dan masakannya enak bgt 😀

  6. itu seblak kuah ya….
    ya elah ngeliathya mupeng bangetttt…

  7. Aduh seblaknya bikin mupengggg Mbak.. saya sih biasanya buat sendiri dirumah

  8. Seblak di daerah Jabar memang sudah banyak dan mudah di dapat. Tapi kayaknya masih jarang di daerah lain seperti Jateng, dan lainnya. Kesempatan buat yang domisilinya belum ada seblak bisa dicoba

Speak Your Mind

*