Sekejap Menciptakan Semur Kuning Bunga Pisang

Minggu kemarin gak bepergian seperti biasa. Padahal rencana mau menghadiri pernikahan saudara di kota kembang. Berhubung di Pagelaran Cianjur dua hari itu berturut-turut turun hujan, akhirnya kami memilih di rumah saja.

Pagi-pagi sekali ayah Fahmi udah bersih-bersih. Menyapu halaman yang memang lebat ditumbunhi aneka pepohonan. Padahal udara terasa sangat dingin sekali, lho!

Setelah Fahmi bangun, dan selesai alakadarnya membuat cemilan pagi berupa goreng uli dan air teh tawar, aku ajak Fahmi mengikuti ayahnya yang masih di halaman. Meski semalam turun hujan, tetapi dedaunan yang luruh di halaman bisa kami bakar sampai habis.

Saat mengitari halaman samping yang berbatasan dengan rumah tetangga, aku menemukan pohon pisang bangka yang buahnya sudah mulai menguning. Takut itu pisang keburu dimakan tupai atau kelelawar yang memang banyak di kebun kami, pohon pisang itu pun segera ditebang.

Bunga pohon pisangnya atau di tempat kami biasa disebut jantung pisang aku lihat masih berukuran besar. Teringat saat ikut acara Bushcraft di Ranca Upas Bandung bersama Indonesian Mountain pada pelajaran BBZ kalau jantung pisang bisa dijadikan bahan makanan.

Aha, kenapa juga tidak dicoba memasak jantung pisan ini? Pikirku. Meski belum tahu mau dimasak apa, aku menyimpan jantung pisang itu bersama pisang yang masih mentahnya.

Nah, tadi pagi, setelah Fahmi mandi dan anteng bersama mainan mobil-mobilannya di teras, aku kepikiran mau memasak jangungnya. Padahal aku sama sekali tidak tahu itu jantung mau dimasak apa. Juga tidak sempat ngintip ke Google mencari siapa tahu ada resep masak jantung yang mudah. Aku hanya ingat saat di Ranca Upas, kalau para senior mereka terlebih dulu merebus jantung pisang untuk menghilangkan getah dan membuat jantung jadi empuk.

Siap, akhirnya aku menyiapkan panci dengan air secukupnya dan merebus jantung itu sampai empuk. Tiba-tiba saja terlintas untuk membuat bumbu opor. Ya, warna jantung yang agak kehitam-hitaman karena getahnya sepertinya akan terlihat cantik jika dipoles oleh warna kuning dari bumbu kunyit.

Diikuti Fahmi aku melipir ke kebun untuk mencongkel beberapa rimpang kunyit. Meski kemarau dan daunnya sudah kering mati, rimpang kunyit masih bertahan berada di dalam tanah. Dan jika kelak hujan turun lagi, tunas-tunas baru kunyit siap tumbuh lagi dengan suburnya. Tidak lupa aku juga memetik beberapa lembar daun salam.

Bumbu lain yang aku sembarang ambil adalah satu siung bawang merah, satu siung bawang putih, ketumbar secukupnya, garam dan penyedap rasa. Semuanya diulek sampai lembut dan ditumis sampai harum.

Bumbu sudah terasa matang dan cukup rasa, baru jantung pisang yang sudah empuk tadi aku masukkan. Dengan api kecil, aku diamkan beberapa saat supaya bumbu meresap ke dalam jantung pisangnya. Kira-kira sudah matang, beberapa saat sebelum diangkat, aku masukkan irisan tomat sebagai hiasan saja. Supaya warnanya agak cerah, gitu.

Dan… menu masakan kreasi modal nekatku ini siap disantap. Aku sendiri menamainya SEMUR KUNING BUNGA PISANG. Namanya agak lain, biar terdengar keren sedikit, hihi…

Senang saat ayah Fahmi pulang kerja langsung santap makan siang dengan menu nasi putih plus semur kuning bunga pisang. Enak katanya, dan besok hari selasa, hari pasar di kecamatan kami, ayah Fahmi suruh aku cari jantung pisang, buat dimasak semur kuning lagi. Wadduh! Ketagihan rupanya, hihi…

ini dia proses memasak jantung pisang ala aku banget :)

ini dia proses memasak jantung pisang ala aku banget 🙂

meski tampak sederhana, namun rasanya luar biasa lho! gurih dan sedap...

meski tampak sederhana, namun rasanya luar biasa lho! gurih dan sedap…

Comments

  1. Wah, keren banget tulisan nya.. Membaca dari atas seperti baca sinopsis novel lho mba.. Keren.. Btw aku juga suka jantung pisang, tapi di suwir suwir kecil hehehe..

    http://beautyasti1.blogspot.com

  2. Waaah itu rasa jantung pisang gimana mba? seumur umur belum pernah makan hihihi.

Speak Your Mind

*