Setiap Hari Earth Hour: Tiada Hari Tanpa Listrik Mati

Setiap Hari Earth Hour: Tiada Hari Tanpa Listrik Mati

wwf-earth-hour-2016-

Itu bukan kalimat slogan atau peribahasa, melainkan gambaran kondisi di rumah kami khususnya, dan wilayah Pagelaran, Cianjur Selatan, tempat kami tinggal pada umumnya. Ya, tempat kami listrik mati bisa terjadi setiap hari, jam berapapun, tidak harus menunggu momen Earth Hour yang jangkanya sudah dipastikan hanya 1 jam.

Kami, terbiasa hidup dengan listrik byar pet alias nyala mati nyala mati. Terbiasa karena terpaksa, bukan pasrah menerima begitu saja. Seandainya kami punya kuasa dan kekuatan, tentu saja akan mengupayakan bagaimana caranya supaya listrik stabil dan segala aktivitas bisa berjalan sesuai rencana.

Tentu tidak ingin mengalami seperti yang kami alami: makan nasi setengah matang, karena nasi di ricecooker belum matang sempurna, lalu listrik mati tanpa ada pemberitahuan. Ini bukan terjadi sekali dua kali, tapi hampir setiap hari. Karena saya tidak bisa masak nasi ala nenek yang masih manual di atas kompor, maka masak nasi pun harus disiasati. Segera masak nasi selagi listrik menyala meski jam makan masih lama. Karena listrik mati di tempat kami waktunya tidak bisa dipastikan seperti jangka Earth Hour yang hanya satu jam. Pernah listrik di tempat kami mati, dan semua alat elektronik, lampu charge sampai telepon genggam semua habis batre karena listrik mati selama hampir tiga hari!

Banyak alat elektronik kami rusak dan merugi karena listrik yang tidak stabil dan mati mendadak dalam kondisi alat elektronik sedang merjalan (on). Banyak pekerjaan terbengkalai gara-gara listrik sering mati, padahal membayar listrik dan membayar Speddy tetap dihitungnya per bulan meski jika diakumulasikan jauh di bawah itu pemakaian kami karena terpotong listriknya yang mati. Setiap hari kami mengalami listrik mati. Tidak peduli sedang mengetik, tidak mengenal apakah kami sedang shalat atau mengaji, pun saat kami menggunakan alat bertenaga listrik untuk mengejar target apapun itu. Listrik tetap mati dan kami hanya bisa menyimpan kekesalan.

May the luck of the Irish be with you.

Jika Earth Hour menghimbau mematikan lampu dan alat elektronik yang tidak diperlukan selama beberapa saat, maka earth hour versi kami adalah segala sesuatu yang hidup karena aliran tenaga listrik, semua mati. Jangankan alat elektronik di rumah, seperti lampu tidur, televisi dan atau alat lain yang menggunakan listrik. Fasilitas umum seperti ATM di toserba depan SPBU Pagelaran saja ikut mati dan tidak bisa digunakan. Walau ada mesin diesel (genset) tetapi karena jaringan listrik mati, otomatis saluran telekomunikasi Speedy yang masuk di kampung kami ikut mati.

Maka saat heboh di kota besar khususnya di Yogyakarta digalakan program WWF berupa Earth Hour, pada Sabtu, 19 Maret 2016, Pukul 20.30-21.30 maka kami warga Pagelaran di Cianjur Selatan hanya bisa tertawa nyengir. Karena buat kami, program seperti itu (pemadaman alat listrik) sudah tidak asing dan teramat sering kami rasakan. Tidak mesti disuruh, listrik mati di tempat kami justru seringnya datang tanpa diundang! 😉

Tetapi bagaimanapun, program ini tentu saja kami dukung. Yang terpenting kan pengertian warga akan budaya menghemat tenaga listrik dan mencintai bumi yang makin hari makin rusak karena ulah penghuninya. Iklim yang sudah tidak menentu sangat merepotkan dan merugikan manusia itu sendiri, bukan? Jadi sejak dini kepada kita, kepada generasi muda dibawah kita, program penghematan ini memang sudah seharusnya dikenalkan dan dilaksanakan.

Satu jam mematikan listrik dalam latihan untuk mengubah pola hidup dalam mengkonsumsi energi, namun bisa dipraktekkan kapan saja dan dimana saja selagi kita bisa. Karena jika kedasaran itu sudah muncul maka apapun bisa dilakukan tanpa keterpaksaan.

Comments

  1. ya ampun Mak, setiap hari mati listrik? Repot banget itu pasti ya.. Belom lagi peralatan elektronik bisa cepet rusak ya kalo mati nyala gitu.. Udah komplain ke PLNnya Mak?

    • Iya, kami kondisinya memang begitu Mak 🙂
      ke PLN sudah, malah kantor PLN Pagelaran nya depan rumah kami 🙂

  2. fanny fristhika nila says:

    sama mbak… itu yg bikin aku ga peduli ama earth hour.. lah wong dulu di aceh dan medan, sampe skr masyarakat di sana masih aja tiap hari pemadaman bergilir… aku inget bgt rasanya gmn… udh kyk idup di jaman batu deh -__-. pindah ke jakarta, baru listrik ga prnh padam..tapi selalu kasian kalo dgr temen2, dan keluarga yg di medan yg masih ngeluhin hal sama… mau ngamuk ama PLN nya? capek ya bok ;p.. mereka kyk robot tuli,, emg pernah didengerin ;p… ??

    • Iya Mbak Fanny. Kadang kasian juga sama petugas PLN di Kantor PLN Kecamatan ini, wong dia juga sebenarnya kan ga tahu apa2 🙂 Listrik padam bukan dia penyebabnya tapi warga demonya ke dia…

  3. hemat lsitrik muali dari diri sendiri. listrik yang tak terpakai lebih baik dimatikan, begitu juga alat elektronik. Kadang kiat masih boros dg listrik

  4. masyarakat kota yg lstriknya jarang mati, musti peduli dan hemat energi
    banyak saudara sebangsa yang blm maksimal menikmati listrik

  5. Ya ampun, repot bener ya Teh kalau tiap hari mati begitu. Terbayang kalau terjadi di tempat saya sementara saya tinggal di apartment lantai 12. Bisa batal pulang ke rumah. Ini sedang saya biasakan ke Dudu anak saya, kalau siang lampu harus mati semua, kita pakai cahaya matahari aja. Kalau mau tidur juga lampu dimatikan biar tidak nyala semalaman.

    • Repot yang menjadi pelajaran Mbak Ruth 🙂
      Salut sudah mengajarkan hal kecil tapi banyak manfaat kepada Dudu, meski kondisi Mbak dan keluarga baik serta nyaman 🙂

  6. jam segitu saya sudah otomatis earth hour mbak, soalnya udah tidur dan lampu mati kabeh deh

  7. kok bisa gitu mbak? pemadaman bergilir kah?
    di tempat saya dulu pernah gitu tapi sekarang udah nggak.

    • Kata PLN nya sih kalau listrik mati berarti ada gangguan, baik dari gardu atau dari jalan, seperti ada pohon tumbang atau longsor yang mengganggu kabel listrik…

Speak Your Mind

*