Simalakama: Tetangga Usil Muka Dua Bagaimana Menghadapinya?

Simalakama: Tetangga Usil Muka Dua Bagaimana Menghadapinya?

Tetangga Usil Muka Dua

Setiap orang pasti hidup bertetangga. Namun bagaimana kita bersikap jika tetangga terdekat kita justru suka usil dan bersifat muka dua?

Tulisan ini tidak mengarah kepada siapapun. Tapi tentu saja setiap orang pernah punya masalah dengan tetangga. Semoga dengan adanya ulasan ini sedikit banyak bisa menghadirkan solusi. Baik dari pembelajaran pengalaman sendiri maupun bercermin dari apa yang sudah dialami orang lain.

Tulisan ini spontan dibuat setelah menyaksikan sendiri tetangga yang bergelar (maaf) Hajah, dengan leluasanya menggunakan golok menebang pohon sirsak yang jelas milik kami, bukan miliknya! Ibu tetangga itu niat banget menebangi pepohonan di halaman kami karena terlihat dia membawa kursi yang dipergunakan untuk naik, membawa golok yang dipakai untuk menebas ranting.

Pertama melihat saya hanya terdiam sambil istigfar. Merasa tidak percaya, ibu sesepuh di pengajian kampung, yang jika bertemu selalu ramah dan bahkan anak-anaknya sangat menghormati kami, pun kini cucu-cucunya belajar mengaji setiap magrib sampai isya di rumah kami dengan wajah tanpa perasaan bersalah seenaknya menebangi pepohonan milik kami!

Apa salah pepohonan itu? Disaat pemerintah menggalakan menanam seribu pohon, ini ada tanaman pohon sirsak satu biji saja sudah usil pakai di tebangi segala. Bukan hanya pohon sirsak, pohon salam dan pisan yang berjejer di dekat situ ternyata masih ditebas-tebasnya pula. Padahal, posisi pohon salam itu lebih rendah dari pagar tembok yang jadi pembatas tanah kami.

Astagfirullah. Harus bagaimana kami menyikapi tetangga yang berani seperti itu? Ya, terlalu berani malah karena jelas pohon-pohon itu ada kami sebagai pemiliknya, tetapi ibu tetangga itu sama sekali tidak bilang lebih dulu untuk meminta izin sepatah katapun! Padahal, jika bertutur kata ibu tetangga itu sangat baik dan lembut. Sungguh tidak percaya jika tidak melihat dengan mata kepala sendiri ini.

Sampah pepohonan yang ditebasnya pun dibiarkan berserakan di halaman kami. Apa maksudnya coba? Apakah itu sejenis sindiran kalau dedaunan dari pohon kami yang jatuh ke halamannya sangat merugikan dan mengotorinya? Lalu kenapa jika kami menyapukan halamannya, karena kami sadar diri dedaunan yang jatuh berasal dari pohon sirsak, salam dan pisang itu mungkin mengotori halaman rumahnya ibu tetangga itu suka menolak?

Sungguh tidak habis pikir. Ini mah perlu diskusi untuk mendapatkan solusi.

Speak Your Mind

*