Tak Perlu Memarahi Anak Masa Kecilmu Belum Tentu Lebih Baik

Tak Perlu Memarahi Anak Masa Kecilmu Belum Tentu Lebih Baik

Tak Perlu

Semua orang pernah mengalami masa kecil. Ada yang menjadi kenangan indah, kenangan lucu, sampai kenangan malu-maluin. Dan tahukah katanya apa yang kita lakukan saat kecil, akan kita alami juga pada saat kita tua atau sudah menjadi orang tua. Benarkah?

Anak pertama kami Fahmi, cukup lancar dalam menghafal angka, huruf, dan istilah lainnya dari apa yang dilihatnya. Tapi dibalik kelebihannya itu ada kekurangan yang selalu harus kami semangati supaya bisa ia tinggalkan, yaitu sedikit susah bergaul dengan orang baru. Jika tengah asyik bercerita, dan tiba-tiba ada orang asing yang memuji atau bertanya kepadanya, Fahmi langsung mingkem dan ngumpet dibalik badan emaknya ini. Selalu, selalu begitu…

Tidak heran, dulu, saat ayahnya Fahmi seusia Fahmi kata para sepuh dan saudara tua sifat dan perilaku ayah Fahmi pun demikian. Pemalu, lebih baik ngumpet dan tidak keluar-keluar sampai orang asingnya pergi daripada harus menjumpainya, salam dan atau menyapa. Oalah… turunan rupanya?

Setiap maghrib sampai isya tiba, selalu saja ada ulah anak mengaji di rumah yang buat aku kesel dan jengkel. Dibiarkan salah, ditegur juga bukannya menurut, malah makin parah kelakuannya. Mau dimarahin lah masa iya, anak orang pan itu teh. Pokoknya bikin hilang kesabaran saja. Baru akhir-akhir ini bisa menghadapi semua ulah anak-anak mengaji dengan lebih sabar dan dibawa asyik-asyik saja, setelah menyadari kalau aku sendiri dulu saat sebesar mereka juga melakukan hal yang kurang lebih sama. Bahkan lebih ngaco!

Saat orang khusyu sholat, iseng aku suka menalikan ujung mukena teman satu dengan teman lainnya yang berdekatan. Mereka tidak sadar dan baru saling tarik menarik saat yang satu rukuk, yang satu berdiri, yang satu sujud, yang satu baru rukuk. Dan ujungnya bruk! salah satunya tersungkur, diikuti satunya lagi. Pecahlah tawa anak-anak yang melihat. Aku yang punya dosa cuek saja, seolah tanpa beban. Tak terpikirkan gimana kesalnya Bu Ustadzah saat itu. Terasanya sekarang, saat sesekali aku membantu suami mendampingi anak-anak mengaji.

Meski aku perempuan anak paling besar, tapi teman bermainku kebanyakan anak laki-laki. Eh, bukan teman bermain, ding tapi lebih tepatnya teman berantem. Tapi ya kaya kucing dan anjing itu, sebentar bertengkar, sebentar kemudian akur. Tapi dendam itu ada. Pulang tarawih Ramadhan, karena tarawihku tidak selalu full sampai 23 rakaat lebih banyak membuat jahil kepada anak-anak lain, khususnya anak laki-laki yang kadang bikin aku keki dan dendam itu tadi. Sendal mereka yang sudah aku hafal aku tukar posisi sebelah-sebelah dan aku ikat dengan benang layangan yang kalau malam hari tidak terlihat. Bubar shalat, saat mereka berebut keluar dan mencari sendal satu sama lainnya, benang layangan itu menjerat mereka. Menyebabkan satu atau dua orang teman hilang keseimbangan dan akhirnya jatuh rebah depan pintu. Puas? Aku sendiri kadang sudah ngibrit duluan ke rumah. Tak pernah aku dengar suara ribut mereka karena sebelum tarawih usai aku sendiri sudah berada di rumah.

Melalui anak-anak mengaji di rumah ini pelajaran tentang hidup dan kehidupan, termasuk memahami segala aktivitas anak aku dapatkan. Tidak perlu memarahi anak karena masa kecilku tak lebih baik dari mereka...

Melalui anak-anak mengaji di rumah ini pelajaran tentang hidup dan kehidupan, termasuk memahami segala aktivitas anak aku dapatkan. Tidak perlu memarahi anak karena masa kecilku tak lebih baik dari mereka…

Keributan dan kekacauan itu kini aku rasakan, saat anak-anak bubar mengaji dari rumah. Rumah panggung kami yang hampir rubuh ini bergoyang dan menimbulkan suara bak bik buk ribut manakala anak-anak laki-laki berlarian menuju pintu. Suara teriakan anak kembali memekakan telinga manakala satu anak menjahili temannya dengan menyepak sendal agak jauh dari tempat si empunya menyimpan semula. Keributan itu kadang mengundang tetangga dekat keluar rumah dan bertanya, “Anak-anak itu kenapa? Kenapa dibiarkan saja ribut di luaran?”

Saya kali ini tidak terpancing. Cukup tersenyum saja dan membayangkan masa kecil saya. “Gak apa-apa Bu. mereka masih dalam batas wajar kok. Hanya kenakalan anak-anak biasa…” Jawabku. Sementara hatiku melesat jauh ke jaman aku kecil dulu. Kenangan masa kecil yang tidak akan pernah terlupa. Hai, aku malah lebih nakal dari itu…

Speak Your Mind

*