Tan Ping: Sarapan Beda Merasa Belum Sarapan

Sarapan sudah menjadi menu wajib bagi orang Indonesia. Khususnya bagi warga di perkampungan, yang hendak melakukan pekerjaan kasar/berat, sarapan sudah menjadi modal utama untuk membuat pondasi kekuatan sumber tenaga.

Nasi goreng, sudah menjadi menu yang tidak asing lagi bagi sebagian orang Indonesia. Meski di pedesaan, sarapan itu tidak beda dengan makan besar seperti halnya makan siang dan atau sore. Menu nasi yang terhidang dengan lauk pauk yang komplit (meski di pedesaan tak jarang cukup dengan satu jenis lauk saja) sudah menjadi kebiasaan yang lazim.

Beda dengan kebiasaan di perkotaan, sarapan sangat beragam macam dan jenisnya. Ada sarapan mie rebus, roti bakar, mie putih kwetiaw, sandwich, omelet, dan bentuk lainnya disertai minuman yang beraneka ragam pula.

Merasa ingin sedikit beda, aku mencoba membuat menu sarapan lain di rumah kali ini. Teringat saat bekerja di negeri Formosa, makanan favoritku adalah “tan ping” maka sejurus itu pula aku ingin mencoba membuatnya.

Kebetulan, saat ke pasar jumat kemarin, ada jualan kulit lumpia yang bisa digunakan sebagai kulit tan ping. Tentu saja aku membelinya, termasuk bawang daun, sebagai campuran serta penghias yang mempercantik nantinya.

oya, tan ping itu, bahasa lidah dari istilah Mandarin untuk semacam dadar telur yang dibungkus oleh kulit lumpia. Setelah matang, disajikannya dengan diiris dan makannya bisa dicocol dengan saus kecap asin, ataau sambal tomat. Tergantung selera.

Pagi ini aku berhasil membuatnya, meski tentu saja masih jauh dari kata sempurna. Tampilan saja hanya mirip sekilas, apalagi rasanya, hehe… Tapi paling tidak, aku sudah mencoba resep yang aku lihat dari penjual tan ping saat aku iseng bertanya ketika membelinya dulu.

Not bad, suami juga mengatakan lumayan enak dan unik dengan tan ping yang aku buat. Suami sepertinya baru kali ini mencicipi istilah tan ping, kalau martabak telur, dadar telur dan semacam godeblag (istilah di Sunda untuk mendadar telur yang adonan telurnya dicampur terigu) sudah sering.

Tapi yang membuat aku mesem-mesem menahan tawa, suamiku tetap merasa belum sarapan meski sudah makan tanping beberapa buah. Tentu saja, sebelum makan nasi, apapun yang dimakannya, terasa saja lapar di perutnya dan merasa tetap belum sarapan. Akhirnya, dia sarapan makan tanping (lagi-lagi) dimakan bareng nasi!

Nah, ini baru sarapan… begitu kilahnya. Oalah….

IMG_20141010_110312

IMG_20141010_110337

IMG_20141010_110437

IMG_20141010_110511

IMG_20141010_111059

IMG_20141010_170601

IMG_20141010_170607

Comments

  1. Dadar telur rupannya juga cukup populer di negara China ya sist? 🙂

    • ya, bahan makanan hampir sama, cuma cara menyajikan serta penyajian yang membedakan, Mas 🙂 dan yang pasti, nama serta panggilannya yang beda 🙂

Speak Your Mind

*