Teladan [Bukan] Genk Motor di Jalan

Teladan [Bukan] Genk Motor di Jalan

Teladan [bukan]

Mendengat suara klakson serta deru mesin yang kencang dari setiap kendaraan yang berlawanan arah dengan kami membuat kami semakin hati-hati di jalan.

Tiba-tiba kedua alisku mengernyit. “Apa itu? Seperti selimut ya?” Tanyaku pada suami yang terus mengendarai sepeda motor.

“Iya.” Jawabnya pendek. Matanya tetap fokus ke depan. Jalan antara Sukanagara dan Pagelaran memang parah jeleknya. Selain banyak tikungan serta turun naik, jalannya berlubang-lubang dan tidak rata. Sedikit saja pecah konsentrasi, bisa-bisa roda sepeda motor tergelincir masuk kubangan tengah jalan.

“Iya benar selimut bayi. Warna pink, jangan-jangan bayinya perempuan.” Lanjutku setelah melewati sehelai ongokan kain di tengah jalan aspal saat hendak pulang ke Pagelaran.

Aku merapatkan selimut yang membungkus Fahmi dalam dekapan. Takut jatuh seperti selimut bayi itu. Kaos kaki serta sepatu Fahmi pun aku raba. Memastikan tidak akan jatuh di jalan.

Suami masih pelan mengendarai motor karena jalan semakin jelek dan berlubang. Tiba-tiba aku mendengar ada klakson yang dibunyikan agak panjang dan suara sepeda motor agak cepat seperti hendak menyalip kami di sisi kanan.

“Hati-hati, Yah!” Bisikku mulai cemas. Terbayang kejadian-kejadian yang dilakukan beberapa genk motor yang diberitakan di TV.

Benar saja. Sepeda motor yang aku lihat dikendarai oleh dua orang laki-laki itu semakin mendekati sepeda motor kami. Aku semakin takut dan curiga. Mendekap Fahmi lebih erat sambil berdoa sebisanya.

“Teteh, ini punya Teteh terjatuh…” Kata si pengendara sepeda motor itu tiba-tiba.

Aku langsung menoleh, kaget. Dua orang pengendara motor itu membuka kaca helmnya, menampakkan wajahnya yang masih muda. Mengamati dari penampilan serta tas punggung yang dibawanya, aku pikir mereka adalah para mahasiswa.

“Ini selimut bayi Teteh?” Ulangnya sambil menyodorkan selimut bayi warna pink yang aku lihat di jalan tadi.

“Oh! Maaf, bukan… ” Kataku sambil tersenyum.

“Hah? Gimana nih?” Ucap temannya yang membawa motor. Kecepatannya mulai diperlambat.

Suamiku pun memperlambat jalan, sambil menoleh kepada dua pemuda itu. “Terimakasih, maaf itu bukan punya kami.”

“Simpan lagi aja ya? Siapa tahu nanti yang punyanya ada yang nyusul.” Tanya pemuda yang dibonceng kepada temannya.

“Iya, cepat simpan lagi aja.”

Pemuda itu meletakkan selimut bayi di jalan aspal yang cukup kering. Bersih. Lalu dengan kecepatan tinggi mereka melanjutkan perjalanan. Mendahului kami.
Aku dan suami hanya melongo. merenung akan kejadian yang begitu cepat terjadi itu.

“Kepedulian mereka patut kita teladani,” gumam suamiku.

“Iya.” Balasku.

Disaat para pemuda lain acuh tak acuh terhadap sekitar, bahkan ada yang bisanya hanya aksi ugal-ugalan serta pamer ketangkasan, ternyata masih ada pemuda baik yang rela menolong serta peduli terhadap orang lain saat dalam perjalanan.

Dua pemuda itu bela-belain menyusul kami membawakan selimut bayi yang terjatuh. Sayang, selimut itu bukan punya bayi kami.

“Jarang lho ada anak muda di jalanan yang masih sempat peduli seperti itu,” kataku sambil mempererat dekapan, berharap kelak anakku bisa mencontoh kebaikan sikap dua pemuda tersebut.

Comments

  1. Fine way of describing, and pleasant article to take information on the topic of my presentation subject, which i am going
    to convey in academy.

  2. Ini bener banget mba! Jarang pengendara motor yg kayak gini sekarang… Seringnya nemuin yg ugal2an trus kalau ditegor karena salah, eeeh malah dia yg lebih galak daripada aku 🙁 Semoga pengendara motor yg baik lbh banyak lagi.. amiin

Speak Your Mind

*