Temani Blogger Menengok Sejarah 5.000 Tahun SM di Gunung Padang, Yuk…?

Apa sih yang bisa dibanggakan dari Kabupaten Cianjur? Setelah dibentuk BNNK (Badan Narkotika Nasional Kabupaten)Cianjur, awal tahun 2014 ini, tentunya informasi seputar narkoba sudah bisa diapdet. Tapi mengapa keberhasilan pembangunan jalan di Cianjur yang sudah sejak puluhan tahun merdeka tidak bisa diapdet yah?

Pemerintah Daerah Kabupaten Cianjur juga sepertinya tidak ada kemauan untuk memajukan Cianjur ini. Hanya mau meraup dananya saja untuk dikantongi secara pribadi. Buktinya dari sekian banyak APBN dan APBD, mana ada perbaikan jalan ke daerah? Mana? Bisanya jual omong kosong serta mempupuk dusta (hutang) janji saja kepada rakyat saat kampanye!

Anehnya, kalau Presiden mau datang, baru jalan dibenerin. Yang berlubang langsung ditambalain. Tapi itu khusus yang mau dilewati presien aja. Jalan lainnya mah boro-boro diurus, ditengok saja kagak. Contohnya saat SBY mau ke Gunung Padang. Pegawai PU dikerahkan, sibuk kejar target jalan berlubang harus mulus, demi bisa membuat ABS (asal bapak SBY senang).

Kemegahan Situs Megalitikum Gunung Padang di Desa Karyamukti Kecamatan Campaka Kabupaten Cianjur beberapa waktu terakhir ini memang mampu menyedot perhatian semua pihak. Tidak hanya masyarakat umum, tapi Presiden SBY pun turun langsung ke lokasi untuk melihat keberadaan situs yang digadang-gadang terbesar di Asia Tenggara itu.

Anehnya, meski termasuk lokasi wisata yang bisa menarik wisatawan domestik maupun luar negeri, Gunung Padang yang berada di wilayah selatan dari pusat kota Cianjur ini jalannya tidak juga diperbaiki. Padahal untuk mencapai ke lokasi tersebut dibutuhkan waktu sekitar 1,5-2 jam menggunakan kendaraan.

Akses jalan menuju ke lokasi ada dua pintu. Bisa lewat Desa Cikancana Kecamatan Gekbrong, ini biasanya dilewati oleh pengunjung yang berasal dari luar Kabupaten Cianjur. Dan dari Ciranca Kecamatan Campaka, ini biasanya dilalui oleh warga yang berasal dari daerah Cianjur Selatan dan sekitarnya.

Kedua pintu yang bisa dilalui ini jalannya sama-sama hancur. Jalan melalui Gekbrong hingga ke Desa Cibokor Kecamatan Cibeber baru-baru ini diperlicin, saat SBY mau datang saja. Apalagi jalan masuk dari Kecamatan Campaka, sepanjang 16 Km itu benar-benar jalannya rusak parah!

Namun jujur saja perjalanan yang membuat badan pegal-pegal plus mabuk kendaraan itu akan hilang begitu memasuki kawasan Stasiun Lampegan. Kita bisa melihat sebuah bangunan terowongan peninggalan zaman Belanda yang masih kokoh berdiri.

Oya, sejak dioperasikannya KA Siliwangi Cianjur-Sukabumi, awal Februari 2014 ini, baik terowongan maupun bangunan Stasiun Lampegan sudah dipermak. Sepanjang perjalanan dari Stasiun Lampegan menuju Gunung Padang, kita akan disuguhi pemandangan mengasyikan karena di kanan-kiri jalan terdapat hamparan permadani hijau perkebunan teh.

Sejak Pemprov Jabar ikut turun tangan ‘mendandani’ kawasan Situs Gunung Padang, banyak perubahan fisik di kawasan tersebut. Contohnya bangunan pintu gerbang yang dibuat mirip bebatuan seperti di film Flinstone. Termasuk pembenahan pusat informasi dan loket masuk, serta menara pantau di puncak Gunung Padang. Itu dilakukan agar Situs Gunung Padang bisa lebih nyaman dikunjungi wisatawan.

Tapi kalau jalan menuju lokasi jelek, tetap saja bagaimana bisa nyaman? Paling tidak pengunjung yang sudah datang akan membawa oleh-oleh kicauan bahwa kondisi jalan ke Gunung Padang jelek, dan secara otomatis ini akan membawa jelek nama Pemerintah daerah kabupaten Cianjur juga. Bupati Cianjur yang menjabat maupun yang sudah lengser apa tidak malu?

Untuk mencapai puncak Situs Gunung Padang, kita harus meniti anak tangga. Jika melalui jalur lama atau biasa disebut masyarakat setempat sebagai Inohong, kita harus meniti sebanyak 380 anak tangga. Sedangkan jika melalui jalur alternatif baru yang dibangun akhir-akhir ini disebut Ontohod, kita harus melewati sebanyak 720 anak tangga. Kedua jalur tersebut sangat melelahkan.

Namun kelelahan itu bisa dipastikan akan hilang ketika kita sampai di puncak. Kita akan melihat hamparan bebatuan yang tersusun di lima teras. Di setiap teras kita bisa melihat berbagai tumpukan batuan andesit berbentuk segi lima.

Bersadasarkan data pusat Arkeologi tahun 2001, situs itu pertama kali ditemukan sekitar tahun 1941 oleh Van der Hoop, seorang peneliti asal Negeri Kincir Angin, Belanda. Namun, seiring berjalannya waktu, situs itu menghilang tertutup semak belukar dan tumpukan tanah baru.

Menurut keterangan Abah Dadi, salah seorang juru pelihara, sejak ditinggal sang penemunya, Situs Gunung Padang hanya sebuah perbukitan. Masyarakat di sekitar daerah itu, hanya memanfaatkan bukit Gunung Padang untuk kebutuhan pertanian.

Sudah jadi rahasia umum banyak pengunjung yang melakukan semedi untuk memeroleh sesuatu yang diinginkannya. Maka, selain menjadi lokasi wisata, gunung padang juga dikenal sebagai tempat pesugihan. Mayoritas, katanya, mereka datang dari luar Cianjur yang sengaja berziarah untuk meminta sesuatu. Walhasil, tak sedikit para pengunjung datang untuk melakukan sejumlah ritual meminta sesuatu hal. Biasanya banyak yang datang pada bulan Maulud.

Saat kita berada tepat di atas bukit, kita akan disuguhi pemandangan yang cukup menakjubkan. Sejumlah batu bisa mengeluarkan suara beberapa alat musik khas Sunda. Batu-batu itu kini diberi nama batu Goong, Bonang, dan Kacapi.

Di samping batu gamelan itu terdapat sebuah susunan batu yang menyerupai tempat tidur dan kursi yang disusun oleh beberapa batu berbentuk persegi. Batu tersebut disebut sebagai batu tempat peristirahatan dan kadang ada pula yang menyebutnya sebagai batu kasur.

Kini, Situs Gunung Padang sudah mendunia. Tidak hanya wisatawan lokal yang berduyun-duyun berkunjung ke Gunung Padang, wisatawan mancanegara pun penasaran ingin melihat keajaiban di situs tersebut. Jadi kapan jalan menuju lokasi termasuk sarana dan prasarana lainnya akan dibenahi?

Speak Your Mind

*