Tikus Penguasa: Ketika Pemangsa dan Racun Kalah…

Tikus Penguasa: Ketika Pemangsa dan Racun Dadah-dadah Kalah…

Sudah jadi hukum alam kalo tikus takut sama kucing garong tapi kenyataannya banyak tikus yang semakin gemuk dan subur andai bisa dikurbankan pasti got dan comberan pada bersih sementara kucing yang harusnya memangsanya malah terkapar kurus kering diantara tumpukan sampah dan lalu lalang manusia.

Setidaknya demikian pemandangan malam yang kami saksikan saat kebetulan suatu malam berada di sekitar Jakarta Timur dan kemudian ke Salemba, lalu ke sekitar Lampu Merah di Ciawi, Bogor.

Fahmi putra saya sampai bergidik ketika melihat seekor tikus berlari di jalan dan besarnya di luar badan tikus pada umumnya, jauh lebih besar dari tikus kampung yang pernah dilihat selama ini.

Hukum alam terkait tikus takut kepada kucing pun sepertinya tidak berlaku lagi karena di sekitar jalan itu kami juga melihat beberapa ekor kucing yang sebagian mengais-ngais sampah di pojokan. Entah karena ukuran tikus lebih besar dari badan kucing sehingga kucing tidak berani memangsa tikus yang seharusnya jadi mangsanya?

Buah bintaro yang katanya bisa mengusir tikus karena memiliki zat yang mengandung racun yang dinamakan senyawa cerberrin itu juga tampaknya tidak mempan. Ini jelas saya lihat di sekitar jalan tempat kami melihat tikus itu berjejer pohon bintaro dengan buahnya yang bulat dan besar-besar.

Buah bintaro yang sering dijumpai sebagai pohon pelindung jalan

 

Padahal kan zat cerberrin yang terkandung dalam buah bintaro sudah sering dipublikasikan berguna sebagai racun tikus karena bisa merusak saraf pusat otak hewan pengerat ini. Tikus yang mempunyai penciuman tajam akan mencium kandungan senyawa cerberrin dan dengan sendirinya tikus akan berbalik arah menghindarinya.

Jadi kita bisa mengusir tikus cukup dengan meletakan buah bintaro di jalan masuk tikus yang diperkirakan akan masuk rumah kita saja. Nah tapi buktinya banyak pohon bintaro yang berbuah tapi di bawahnya tikus kok tetap berkeliaran? Apa buahnya kudu jatuh dan terletak cukup dekat dengan si tikus ya? Entahlah…

Yang pasti setelah melihat tikus super besar di beberapa tempat kemarin itu dalam perjalanan saya jadi teringat sebuah cerita inspiratif yang sesekali saya dongengkan kepada Fahmi. Kisah Baik Tikus Dapur, demikian kira-kira judul ceritanya.

Menceritakan tentang raja tikus yang sedang menyeleksi tikus untuk dijadikan pemimpin. Dikumpulkannya tikus putih, tikus hutan, tikus sawah, dan tikus dapur.

Mereka ditanya kalau punya kesempatan memilih pengawal siapa yang akan dijadikan pengawal?

Tikus putih menjawab hamster. Karena bulu hamster bagus dan ia bisa mengambilnya untuk pakaian terindah bangsa tikus. Tidak peduli itu artinya mengambil bulu hamster yang bukan haknya. Demi kehormatan dan popularitas bangsa, calon pemimpin ini pikirnya bisa mengambil apa saja dari makhuk lain yang berada di bawah kekuasaan.

Sedangkan jawaban tikus hutan adalah ular. Alasan ia memilih ular sebagai pengawal katanya supaya ia bisa memakannya seperti selama ini bangsa ular yang selalu menelan bulat para tikus. Tikus sawah memilih ular sebagai pengikut bukan karena ingin bekerja sama melainkan karena dendam saja.

Jawaban tikus sawah lain lagi. Dia akan menjadikan petani sebagai pengawal. Mengapa? Karena petani bisa menanam padi sehingga bangsa tikus punya persediaan makanan. Namun sebagai balasannya katanya ia akan memberikan petani sebagai pengawal nya itu padi yang sudah dicampuri pestisida supaya merasakan makan enak lalu hidup nya tidak lama. Demikian tikus sawah menyampaikan siasat liciknya. Jelas ia memanfaatkan makhluk lain di bawah kekuasaan dan setelah puas mencampakkan hingga musnah.

Mirip dengan kelakuan makhluk bernama manusia yang suka melakukan kecurangan dan kelicikan. Tapi raja tikus menginginkan seorang pemimpin seharusnya bisa berkata ‘tidak’ terhadap semua jenis praktik kecurangan.

Sebagai pemimpin, harus berani mengambil keputusan yang tidak populer asalkan berakar pada kebenaran yang sejati.

Lain lagi jawaban tikus dapur yang katanya akan menjadikan kucing sebagai pengawalnya. Padahal bukankah kucing justru musuh yang suka mengejar dan memangsanya?

Tikus dapur berpikir kucing mengejar-ngejar dan memangsa tikus karena kucing memang dikodratkan Sang Pencipta demikian. Kucing mungkin tidak mengenal kebaikan dan kasih kepada tikus. Namun jika tikus dapur jadi pemimpin katanya ia akan selalu tersenyum, berbuat baik dan menyayangi kucing. Sebaliknya kucing juga bisa belajar mengasihi dan menyayangi tikus dimanapun berada.

“Mengapa kita harus berbuat baik, sedangkan ia telah menyengsarakan kita?” 

Kalau hanya mengasihi makhluk yang telah berbuat baik kepada kita, sama dengan penjahat yang juga selalu berbuat baik kepada teman-temannya. Dan itu mah biasa. Kalau kita bisa mengasihi mereka yang telah memusuhi kita, barulah itu yang namanya istimewa.

Membalas perbuatan jahat dengan perbuatan baik yang penuh kasih, maka negeri akan damai sejahtera, tanpa perselisihan dan perpecahan. Ah, jika dongeng tentang tikus itu bisa berlaku untuk manusia ya, mungkin di jalanan ibu kota sana seperti yang kami lihat tidak akan ada tikus tikus berdasi yang berkeliaran sepanjang hari.

 

 

Comments

  1. Tikus memang identik simbol rakus dan pencuri.
    Tapi dalam pemerintahan selalu ada “kucing” yg melindungi….
    Ataukah sebenarnya mereka sesama tikus ya…hahahah

  2. Bijak yaa si tikus dapur. Jadi ingat Tom and Jerry. Kalau dulu musuhan, edisi sekarang ini mereka udah kerja sama.

  3. Nama buahnya Bintaro ya? Eh saya baru tahu nih ada buah nama gitu 😀

Speak Your Mind

*