Tips Batita Makan Habis

Tips Batita Makan Habis

TIPS Batita Makan Habis

Sejak pindah rumah, menempati rumah orang lain untuk sementara sampai rumah kami selesai dibangun, waktu makan Fahmi, banyak terganggu. Selain Fahmi sering mondar-mandir ikut sana ikut sini sehingga waktunya berada di rumah tidak bisa dipastikan, juga karena selama kami pindah ini, Mama (neneknya) berada tinggal bersama kami. Ada neneknya ini, Fahmi menjadi lebih manja dan berasa punya seseorang yang bisa membantunya.

Saat rewel, bila minta ini itu biasanya saya tidak terlalu memperhatikan permintaannya itu. Kini, oleh neneknya apa pun permintaan Fahmi bisa dipastikan semua dipenuhi. Termasuk jajan di warung sekitar tempat tinggal. Mungkin karena jajan yang tidak teratur itu membuat pola makan Fahmi jadi berubah. Perut balita kan kecil ya? Kebayang meski jajan cuma seribu perak, nafsu makannya pasti bergeser.

Kadang karena dituruti jajan dan jajan, seharian tidak bisa makan, meski sudah dibujuk dan dilakukan berbagai cara. Soal makanan sih, Fahmi tidak terlalu susah, malah kesukaannya yang mudah-mudah saja, seperti telur, sayuran hijau yang disukainya seperti buncis, labu, sayuran lain seperti wortel, dan protein dari tempe, tahu atau cemilan seperti kentang.

Pernah baca di portal online katanya anak itu suka makanan berbahan dasar yang enak dan gurih seperti daging ayam. Sepertinya hal itu tidak berlaku untuk Fahmi. Justru Fahmi mah tidak suka daging, daging apa pun itu, kecuali diolah dulu seperti sosis. Jika masak sayur soup, atau apapun yang bercampur daging (baik ayam, sapi) Fahmi tetap tidak mau memakannya. Alasannya? selalu menempel di gigi, hahaha…

Jadi kalau membuat goreng ayam yang dilumuri tepung bumbu ala-ala iklan di tv itu, tetap Fahmi tidak akan memakan dagingnya, kecuali gorengan tepung bubunya itu.

Baru beberapa sore ini Fahmi bisa makan habis nasi beserta lauk yang disukainya. Awalnya saya pikir biasa, tapi karena sudah beberapa kali selalu habis, dan menurut saya ini sebuah pencapaian yang luar biasa, maka saya merasa perlu “mencatatkannya”.

1. Pola Makan Terjaga2. Cemilan Sehat Tepat Waktu3.

 

Jadi, anak dipastikan bisa makan sampai habis (kenyang maksimal) sesuai dengan porsinya jika:

1.Pola makan anak terjaga.

Nah, awalnya ini yang membuat Fahmi “terlantar”. Pola makannya yang tidak saya pantau, tidak tentu mau jam berapa ia makan, akhirnya kebiasaan makannya jadi beda dengan jam makan mak bapaknya. Tapi jika secara konsisten kita terus memantau dan menjaganya, insya Allah anak juga akan terbiasa.

Sibuk? Pastinya jika emak bapaknya pegawai kantoran soal kasih makan anak jadi tanggungan orang lain ya? Coba dech mulai pentingkan dulu ngurus hal yang sepertinya sepele ini. Yah, walau gak bisa setiap hari, sesekali atuhlah sempatkan. Rasakan coba sensasi kepuasannya…2

2. Cemilan sehat tepat waktu.

Cemilan yang dibuat di rumah sudah pasti bisa dilihat kebersihan serta kandungan nilai gizinya. Tapi coba cemilan dari luar? Meski tidak semua jajanan di warung tidak sehat, tapi alangkah baiknya jika kita hanya memberi cemilan kepada anak yang pasti menyehatkan.

Dan yang penting perhatikan waktu memberikannya. Jangan sampai kita menyiapkan menu makan, anak ngemil tahu isi atau sosis saus kecap. Wah, sudah pasti anak tidak akan mau makan dong. Selain kekenyangan, cemilan juga pastinya menjadi hal yang lebih menarik daripada nasi dan lauk pauknya di meja makan.

3. Makanan Kesukaan.

Sudah tahu anak tidak suka pedas, eh disodorin sambal? apa yang terjadi sudah bisa ditebak kan ya? Hehe… itu  hanya perumpamaan saja. Memang ada batita yang sudah suka sambal?

Jadi meski terkesan itu-itu saja, sajikan saja makanan kesukaan anak. Mumpung anak mau, apa salahnya? Tapi tentu saja makanannya yang menyehatkan. Yang penting anak tidak mencari pelarian, dalam arti tidak ada makanan kesukaannya, akhirnya dia malas makan dan jajan. Yah, usaha kita gak akan ada hasilnya atuh ya…

Orang tua dituntut untuk bisa berkreasi dan mengeksplor kira-kira jenis makanan yang disukai anak ini supaya tidak bosan bisa diolah menjadi apa saja? Tanya anak tentang makanan kesukaannya dan beri terus pengertian terkait informasi makanan yang dipilihnya itu sehingga secara tidak langsung bisa menerapkan manfaat dan kegunaan makanan bergizi untuk kesehatan serta pertumbuhannya.

4. Komunikasi.

Tanya kapan anak mau makan. Biasanya suka menjawab asal nanti… gak mau makan, dll. Sabar saja, coba bujuk terus. Oh, lima menit lagi ya? Ibu ambilkan dulu ya, sambil kakak beresin dulu mainannya, kan mainannya juga perlu makan dulu, coba tanya itu robotnya…

Terus dech bujuk, sampai anak merasa bangga akan kemampuannya dan dia bersedia. Jika tetap belum menemukan kesepkatan, saya suka membandingkan (dengan menyebut) nama temannya. Hay, Rico sudah makan itu, ibunya membolehkan Rico min bola lagi, loh…

Hasilnya? “Ami juga mau main bola, nanti sudah makan ya, Bu?”

Yess!!

 

5. Apresiasi.

Beri pujian kepada anak jika ia benar-benar menjalankan hal yang tidak biasa, yang mengarah kepada hal kebaikan. Dengan apresiasi ini, si anak akan merasa dihargai. Kita yang bisa menemptkan pujian seperti apa dan kapan waktunya, supaya anak tidak dididik menjadi anak yang gila pujian, kelak.

 

Okay, itu saja sih.

Namanya juga balita, makan atau tidak, bagaimana cara makan dan lain sebagainya tentunya orang tua tidak harus mengharapkan “kesempurnaan” darinya. Yang terpenting adalah tanamkan saja kebiasaan baik sejak dini dimulai dari kebiasaan orang dewasa terdekat. Karena ibarat pepatah bisa karena biasa, seiring perkembangan kedewasaan anak, ia juga akan terus belajar dan memaksimalkan diri dalam fase pertumbuhannya.

 

Comments

  1. Terima kasih informasinya… paling buat cucu nanti kalau saya hahaha….Anaknya sdh mulai gede soale 🙂

  2. ma kasih ulasannya mba, saya suka

  3. anakku jg ga mau makan daging mbak.. alasan dia sih krn dikunyahnya lama ga alus2 -__- .. walopun udh aku potong kecil2 ttp aja dilepeh.. untungnya ikan ama sayur masih mau.. cuma jd super picky bgt nih anak 🙁 . Tapi untungnya babysitternya dia telaten sih nyuapin makan sampe jadi habis walo butuh waktu lama 😀

    • tetehokti says:

      Mungkin kalau sudah besar bisa pilih daging masak apa supaya suka, ya. Selain daging ayam kriuk-kriuk itu 😉

  4. Putri saya sudah 9 tahun makan nya pilih banget sampai badan nya kurus. Ikan gak mau, Ayam hanya mau dadanya saja..Sayur pilih-pilih #jadicurhat

    • tetehokti says:

      Kalau bisa biar makan kesukaannya aja dulu, makan daging ayam biarkan, yg penting kembalikan dulu kesehatan/ berat badannya. Mungkin kebiasaan di rumah juga jadi faktornya.
      Di kampung kebanyakan anak tidak pilih2 makanan, karena memang tidak banyak pilihan. Hari2 cuma lalap zambel ikan asin. Mau makan syukur, ga mau ya kelaparan. Beda dg anak kota, yg memang banyak makanan enak, jd anak terbiasa milih…

  5. Komunikasi itu yang harus diperhatikan. Harus memperbanyak ngoceh dan cerita. Biar mulut sang anak mau terbuka.

  6. wah ini bisa dipakek kalo udah puna anak nanti, hehehehhe. makasih informasinya

  7. sama kayak anakku mbak… tidak terlalu suka daging, baik daging ayam atau sapi… tapi kalau diolah jadi sosis atau bakso dia suka

  8. Nanti kalau saya udah punya istri dan anak, saya akan kasi tau deh ke istri hal yang seperti ini. Hehehe…

  9. Boro2 ngurus anak mba, calon ibunya aja belum terdeteksi ini hihihi.
    Oh iya salam kenal ya mba admin senang mampir disini 🙂

Speak Your Mind

*