Tips Belajar Membaca Al Quran untuk Balita

Tips Belajar Membaca Al Quran untuk Balita

Alhamdulillah, minggu lalu Fahmi sudah tamat membaca buku Iqra jili 1. Sebagai orang tua, pastinya senang sekali melihat anak di bawah 4 tahun sudah bisa baca huruf Hijaiyah. Bersyukur, karena paling tidak ia sudah mempunyai kelebihan dibanding ibunya yang pada masa kecilnya dulu, seusia ia sekarang boro-boro tamat Iqra 1, sepertinya huruf Hijaiyahnya saja belum tahu.

Menggunakan metode baca Iqra satu buku terdiri dari 6 jilid. Saya sempat berpikir, ini Fahmi langsung lanjut Iqra 2 apa bagaimana ya? Anaknya sih pengen belajar halaman berikutnya, tapi saya punya pikiran baca ulang lagi aja Iqra 1. Biar makin lancar dan hafal kayanya kalau terus diulang lagi dan lagi dari awal. Sambil jalan gitu…

Jaman sekarang rasanya tidak komplit kalau belum share di media sosial. Maka tanpa rasa ingin pamer apalagi sombong, saya pun buat status terkait pencapaian Fahmi ini. Tujuannya selain sebagai reminder, juga biar dapat masukan dari teman-teman yang memang ahlinya, atau punya pengalaman terkait mengajarkan balita membaca Al Quran. Ada yang punya pengalaman saat mengajarkan mengaji pada anak balita? Mohon ilmunya dong…

Dan ilmu-ilmu serta kata baik pun langsung bermunculan. Semua saya simpan dan supaya tidak lupa, saya tulis ulang. Tidak lupa sudah saya niatkan mau dishare kembali supaya semakin banyak yang menerima manfaat serta intinya kembali biar saya punya sesuatu yang bisa dilihat kelak, baik oleh saya, dan siapapun.

Jadi dalam mengajarkan anak membaca kitab suci, selain adab, tata cara serta syarat-syarat membaca Al Quran sebagai Muslim itu, masukan dan saran dari beberapa teman yang bisa kita jadikan sebagai tips, diantaranya:

 

Tips Baca Quran Balita

1. Teladan orang tua

Anak akan mudah meniru apa yang dilakukan oleh orang terdekat, yaitu orang tua. Sering-seringlah membaca kitab suci, dengan sendirinya anak akan melihat, tertarik dan mencontoh. Tidak saat anak sudah besar saja, karena sejak dalam kandungan pun, dengan orang tua mengaji atau diperdengarkan murotal, itu akan jadi hal yang tidak akan dilupakan oleh anak. Tidak lucu kan kalau anak disuruh membaca Al Quran sementara orang tuanya sendiri malas mengaji.

2. Ciptakan suasana gembira

Ya, supaya anak semangat belajar, pastikan hal yang penting adalah anak bisa belajar dengan riang. Kalau Iqra 1 sudah lancar tak ada salahnya dilanjut.
Yang utama, menjaga semangat anak untuk mau belajar. Sahabat saya bilang kalau metode, sistem dan waktu itu bisa disesuaikan dengan sikon kita. Andai ada buku belajar membaca Al Quran dengan huruf Hijaiyah berkarakter, pastinya si anak akan senang dan tertarik ya…

3. Waktu yang tepat

Untuk balita sebaiknya belajar membaca setiap kali tidak lebih dari dari 15 menit. Ini supaya anak dalam usia itu tidak bosan dan jenuh. Biar sebentar-sebentar tapi konsisten (sering). Waktu yang berkualitas lebih baik meski sebentar daripada berjam-jam tapi satu hafalan pun tidak ada yang nyangkut di otak anak.

4. Private

Pilihan ini mungkin bisa dilakukan oleh orang tua yang sibuk, dan (maaf) ingin anaknya bisa mengaji namun tidak yakin dengan kemampuan mengajinya sendiri apakah bisa jadi teladan anak, atau tidak? Private bisa jadi alternatif asal kita tahu betul kepada siapa si anak belajar, bagaimana cara belajar dan lain sebagainya. Intinya tetap perhatian kita kepada anak nomor satu.

5. Metode

Semakin pesat perkembangan jaman, semakin canggih juga teknologi. Begitu juga dalam cara belajar membaca Al Quran. saat jaman saya, belajar membaca Al Quran cukup dengan kitab Al Quran “kecil” istilah yang kami sebut untuk buku belajar membaca huruf Hijaiyah. Mulai Alif-alifan sampai tanwin-tanwinan terusss… hingga selesai. Setelah hafal di luar kepala, baru bisa lanjut ke Al Quran Zuz 1, “Wabil akhiroti-eun…” Begitu jawabnya kalau ditanya ngajinya sudah sampai mana…

Kini ternyata mengaji Al Quran banyak metodenya. Jika Fahmi menggunakan metode Iqra (karena itu yang umum di lingkungan kami) ternyata cerita sahabat-sahabat terkait pola didik mengajar anak membaca Al Quran itu ada beberapa macam.

Anak sahabat saya belajar baca Al Quran menggunakan metode Qiro’ati. Katanya dengan metode ini anak akan lebih cepat bisa. Lebih cepat dari metode Iqra. Tapi saya belum tahu pasti seperti apa pola belajarnya.

Di Bandung ada metode agak baru namanya Diniyat. Metode ini mengadopsi kurikulum madrasah di India. Dimana anak-anak usia 10-12 sudah banyak yang hafidz Quran. Yang minat ke agama akan melanjutkan ke madrasah, yang minat ke umum ya jadi dokter, insinyur dan sebagainya namun semua hafiz Quran. Masya Alah.

Tapi buat saya, apapun metodenya yang penting sih tetap telaten mengulang kembali apa yang sudah dipelajari sebagaimana menghafal Quran butuh muroja’ah yang konsisten untuk bisa menjaga hafalan.

Akhir kata barakallah ya Fahmi, juga semua sahabat yang sudah share ilmu serta pengalamannya. Semoga Allah mudahkan Fahmi, dan kita semua bisa membaca dan juga menghafal Quran, inshaAllah. Amin.

Comments

  1. senengnyaaa mampir dimari mbk, soalnya aku jg lg pgn ngajarin baca a quran ke si ken, tp masih blm nemu2 cara yg pas, hiks
    tengkiu bgd loh sharenya ya mbk

  2. senengnyaaa mampir dimari mbk, soalnya aku jg lg pgn ngajarin baca a quran ke si ken, tp masih blm nemu2 cara yg pas, hiks
    tengkiu bgd loh sharenya mbk

  3. senengnyaaa mampir dimari mbk, soalnya aku jg lg pgn ngajarin baca a quran ke si ken, tp masih blm nemu2 cara yg pas, hiks
    tengkiu sharenya mbk

  4. senengnyaaa mampir dimari mbk, soalnya aku jg lg pgn ngajarin baca a quran ke si ken, tp masih blm nemu2 cara yg pas, hiks
    tengkiu sharenyaaaa

  5. aku jg lg pgn ngajarin baca a quran ke si ken, tp masih blm nemu2 cara yg pas, hiks
    tengkiu sharenyaaaa

  6. Barakallah Fahmi..ilmu baru juga nech buat saya..

  7. Msh nunggu baby ngomong dlu…akan d ingat tipsnya mbak.trmkasih

  8. waah senangnya sejak kecil sudah kenal sama al quran. Iya mbak apapum metodenya yang penting bikin si kecil hepi selama belajar, dan yang penting tidak terkesan memaksa
    sehingga anak itu ogah ogahanbelajar ngaji.

    Dulu saya waktu kecil tidak di ajari orang tua secara langsung tapi lebih sering ikut ngaji di langgar atau mushola terdekat. Setelah belajar diluar, baru pembuktian ke orang tua kalau saya udah bisa hahaha.

    Hmmm bagus mbak tulisannya. Saya sendiri blm punya anak, bahkan belum menikah. Tapi kalau ada tips tips parenting akan saya ingat, saya catat. Semoga berguna kedepannya.

    Semoga putra teh okti juga bisa hafiz quran yah nantinya.
    Amiin.

  9. Teh Okti, terima kasih banyak 8nformasinya. Aku belum menemukan guru ngaji privat buat anakku. Di sekolah ada ngaji juga, tapi aku pengen di rumahnya juga. Contohnya memang harus dari orang tua ya mba

  10. Makasih tip-nya Teh. Memang kembali lagi ke teladan orang tua ya. Sering baca Qur’an supaya si anak tertarik ikutan.

  11. Waaah, Barakallah Fahmi udah naik iqro’ 2 *Kiss

    Saya dulu metodenya juga pake iqro’ mbak. Tapi beberapa waktu lalu sempat bahas ini sama teman. Dia dari kecil langsung al- qur’an. Hmmmm…

    Penasaran sama metode lainnya.

  12. waaaaah berguna banget tipsnya teh. makasih udh ngasih tipsnya. walaupun belum punya anak, tapi bisa di coba ke adek nih hehehe

  13. Alhamdulillah… kalau keponakan saya meski masih belum berumur 3 tahun, dia begitu mudah mengingat akan huruf hijaiyah dan semangat saat belajar tersebut. Tapi ya gitu, nggak terlalu lama-lama, kadang kala dia juga belajar melalui buku hijaiyah yang diserta menebali huruf tersebut disertai gambar yang bisa diwarnai. Selain itu, dia amat senang berangkat ngaji kalau bersama kakak perempuannya. Sedangkan dari kakak saya sendiri juga amat support ketika dia belajar huruf hijaiyah tersebut. Yups, memberikan tiruan kepada anak suoaya mereka juga ikut semangat dalam belajar mengaji.
    Sejauh dan sepengetahuan saya, metode qiroati itu sama halnya dengan metode iqro’ juga kok mbak. hheee… juga ada jilid-jild 1 hingga 6, Insyaallah…
    Tpi kalau metode mengaji yang diambil keponakan saya itu adalah Yanbu’a, dengan ikut belajar di kelas Pendidian Alquran Usia Dini (PAUD) yang juga gagasan dai Yanbu’a tersebut.

    Semoga sedikit cerita ini bisa membantu yah, Teh 😀

Speak Your Mind

*