Ulasan Seru Keluarga Petualang (Sebelum) Hiking di Tahura Juanda Bandung (Bagian 1)

Ulasan Seru Keluarga Petualang (Sebelum) Hiking di Tahura Juanda Bandung (Bagian 1)

Hiking di Tahura Juanda Bandung

Bandung Trip yang digalakan Teh Ani Berta Minggu, 3 Januari 2016 ke Dago Pakar Bandung jadi trip pertama kami Keluarga Petualang di tahun baru ini. Antara galau dan hampa, Minggu pagi hari masih menimbang-nimbang ikut… enggak… ikut… enggak…

Melihat Suami yang tampak asal-asalan, seperti tidak niat berangkat hiking meski sehari sebelumnya ia tampak semangat mendengar bakal foto-foto di Tebing Keraton yang tengah fenomenal itu. Melihat Fahmi masih terlelap tidur, keringat menyembul di dahinya yang masih terasa demam. Galau. Bimbang. Bingung. Kembali menghitung kancing ikut… enggak… ikut… enggak…

Jam setengah tujuh Fahmi baru bangun. Dengan berbagai jurus rayu bujukan akhirnya bangun dan semangat mau ikut jalan-jalan ke Bandung. Meski tetap tidak bicara, suami tampak bersiap pula. Tanpa banyak menunggu aku pun langsung menyiapkan apa yang penting dan harus dibawa. Karena kami berangkat menggunakan sepeda motor maka yang tidak boleh lupa adalah jas hujan, raincover, serta perlengkapan Fahmi yang masih batita. Oya, karena di Dago Pakar tempat kami hiking nanti bakal ada air terjun, maka aku membawa baju ganti pula, incase disana bakal seru-seruan basah-basahan.

Yang ditunjuk Huruf Sunda, tapi yang diucapkannya "e bi ci di i ef ji..." #nyanyi...

Yang ditunjuk Huruf Sunda, tapi yang diucapkannya “e bi ci di i ef ji…” #nyanyi…

Berjalan diantara hijaunya dedaunan, menghirup udara yang masih bersih, memang tidak terlalu mengejutkan bagi kami. Secara sehari-hari di kampung kondisinya hampir sama. Mungkin karena itu Fahmi tampak tidak capek meski jalan berkilo-kilo meter.

Berjalan diantara hijaunya dedaunan, menghirup udara yang masih bersih, memang tidak terlalu mengejutkan bagi kami. Secara sehari-hari di kampung kondisinya hampir sama. Mungkin karena itu Fahmi tampak tidak capek meski jalan berkilo-kilo meter.

Jam tujuh, tanpa sarapan lebih dulu kami berangkat ke Bandung. Fahmi masih agak rewel dan apa-apa harus dibujuk habis-habisan. Kami baru berhenti di seitar Sukaluyu untuk mengisi bensin. Tiba di Jembatan Perbatasan Kab. Cianjur dan Kab. Bandung Barat sekitar setengah depalan. Di lapangan dekat jembatan masih ada orang yang senam. Pelapak pasar kaget pun banyak menggelar dagangan. Kami mampir sebentar dan memilih sarapan bubur sambil menonton orang yang lalu lalang di acara Car Free Day-nya.

Setelah sekelompok orang yang senam itu bubar kami pun siap kembali berangkat. Fahmi mulai rewel lagi. Nangis dan tidak memberikanku kesempatan memakai helm, memakai sendal yang sebelumnya dicopot karena kami beli bubur makannya duduk lesehan.

Akhirnya kami setuju Fahmi naik sepeda motor dengan tidak pakai jaket dan tidak menggunakan helm. Ya, untuk sementara pastinya. Ini salah satu trik kami membujuk Fahmi jika ia sedang rewel. Dan benar saja, Fahmi tidak menangis lagi. Mulai anteng melihat ke jalan sambil terus berceloteh.

Saat memasuki Cipatat yang jalanannya macet karena ada perbaikan gorong-gorong dan jembatannya, Fahmi minta berdiri di atas motor melihat antrian panjang yang mengular. Kami pun membuat kesepakatan, kalau mau berdiri harus mengenakan jaket dan helm karena jika tidak, maka polisi akan menangkapnya! Dengan mudahnya Fahmi mengenakan jaket dan helmnya.

Memasuki kawasan Pasteur macet cukup melelahkan. Panas dan bikin Fahmi mulai tidak betah. Memasuki perempatan ke jalan Ir. H. Juanda kebetulan jalan yang ditutup karena digunakan ajang Car Free Day baru saja dibuka. Langsung saja kami melewatinya menuju Dago Pakar tempat kami akan berpetualang.

Suasana hijau dan tenang, sangat cocok untuk menenangkan diri dari hiruk pikuknya suasana kota dan rutinitis kerja.

Suasana hijau dan tenang, sangat cocok untuk menenangkan diri dari hiruk pikuknya suasana kota dan rutinitis kerja.

Melihat postingan Mba Widya akan hijaunya pinus di Tahura (Taman Hutan Raya) menyatakan kalau rombongannya sudah memasuki kawasan objek wisata yang jadi favorit di ibu kota provinsi Jawa Barat ini. Maka selepas memarkirkan sepeda motor di kantoran, kami langsung masuk ke kawasan Tahura.

Jika ingin berjumpa udara bersih dan hijaunya pandangan mata, maka inilah tempat yang cocok untuk Anda...

Jika ingin berjumpa udara bersih dan hijaunya pandangan mata, maka inilah tempat yang cocok untuk Anda…

Bingung mau kemana dulu, saya hubungi Teh Ani untuk menentukan keberadaannya. Ternyata kami justru sudah berada jauh di dalam, sementara Teh Ani dan beberapa teman blogger justru masih berada di dekat pintu masuk sambil menikmati cuaca dan pemandangan nan begitu hijau. Tujuan mereka mau menungguku, tapi apa daya ternyata aku yang ditunggu justru sudah berada jauh di dalam, hihi… kok bisa ya aku dan keluarga kecilku lewat tidak diketahui mereka?

Sesuai kesepakatan, maka kami akan jumpa di Goa Jepang. Eh, ternyata saya dan suami justru tidak bisa mencegah Fahmi yang sangat lincah dan tidak mau diam. Kami malah tidak bisa masuk ke Goa Jepang karena Fahmi justru terus ingin berjalan dan berjalan. Melihat arena permainan anak yang tersedia membuat Fahmi tidak mau melewatkannya untuk mencoba.

Arena permainan anak cukup banyak. Membuat buah hati betah dan tidak bosan

Arena permainan anak cukup banyak. Membuat buah hati betah dan tidak bosan

Andai lorong Goa Belanda bukan sebagai jalan pintas untuk menuju Curug Omas Maribaya, mungkin kami tidak akan memasukinya juga. Terakhir kali menginjakkan kaki di kawasan ini saat masih sekolah dasar dan itu hampir 30 tahun yang lalu. Tentu saja sudah banyak perubaahan. Khususnya pepohonan sudah semakin besar dan tinggi. Itu membuat saya ingin mendekat dan berlama-lama berada diantaranya.

Tetapi daripada muter dan bikin capek, apalagi membawa batita, kami memilih masuk Goa Belanda untuk mempersingkat waktu. Kami kira Fahmi akan ketakutan, tetapi tidak! Fahmi justru malah ingin turun dan berjalan sendiri. Justru kami yang kelabakan, gimana kalau Fahmi lepas dari pegangan dan susah ditemukan? Mana gelap… Saat melihat besi yang sejajar di pijakan, jika tidak kami cegah Fahmi ingin menelusuri sendiri jalan rel kereta api itu.

Fahmi baru mau duduk istirahat saat di dekat lokasi penangkaran rusa ada warung tenda yang belum ada pembelinya. Membeli jajanan kecil yang sangat merakyat ibarat mendapat suguhan mewah saat berpesta. Harga masih terjangkau sebanding dengan lokasi dan keindahan alam yang ditawarkannya.

Tidak disangka saat kami beristiahat di warung tenda itu, kami berjumpa rombongan Teh Ani Berta beserta Sekar, Mbak Sari, Teh Langit, Teh Nchie Hani beserta gadisnya dan Widya. Keseruan pun makin heboh. Meski sesekali kami berpisah kembali karena kami kembali harus “mengejar” Fahmi.

Saat anak lain ketakutan memasuki tempat yang gelap, Fahmi malah ingin jalan sendiri! Kami yang kewalahan, takut Fahmi hilang! hehe...

Saat anak lain ketakutan memasuki tempat yang gelap, Fahmi malah ingin jalan sendiri! Kami yang kewalahan, takut Fahmi hilang! hehe…

P1280364

P1280374

P1280146

Capek dan pegal mulai hilang manakala mencapai jembatan. Itu tandanya sekitar 300 meter ke depan sudah sampai di lokasi Curug Omas Maribaya. Dan ketika kami sampai… Kami langsng bengong. Terkejut sekaligus merasa tidak biasa.

P1280288

Sungguh tidak pernah kami bayangkan sebelumnya jika air terjun yang kami tuju itu ternyata tidak bisa kami “sentuh”. Alih-alih mandi berbasah-basahan bermain air di dalamnya, yang ada air terjun itu dipagar, tidak bisa diakses oleh pengunjung dan yang membuat begidik lagi di gumpalan air yang membuih di bawah banyak sekali sampah botol plastik! Hiii… jadi jijik kan kalo kotor begitu melihatnya…

Horeee! Sampai... Ekspresi Fahmi saat ia tahu sudah sampai di pelataran Curug Omas Maribaya setelah sekitar 7 KM berjalan

Horeee! Sampai…
Ekspresi Fahmi saat ia tahu sudah sampai di pelataran Curug Omas Maribaya setelah sekitar 7 KM berjalan

Harapan kami mandi di bawah air terjun seperti biasanya seperti di Curug Cibeureum Cibodas, Citambur Pasirkuda, Cikondang Campaka yang kesemuanya berada di Kabupaten Cianjur itu musnah sudah. Kekecewaan kami yang sudah jalan jauh-jauh menuju Curug Omas Maribaya sedikit terobati oleh banyaknya monyet-monyet liar yang jinak terhadap pengunjung.

Posisi air terjun ada di bawah jembatan ini!

Posisi air terjun ada di bawah jembatan ini!

Pun suasana pemandangan istirahat yang sangat kalem, alami dan masih hijau sedikit memanjakan rasa capek dan lelah. Harga makanan yang dijual oleh kios makanan di sekitar curug pun masih relatif terjangkau.

Buih air di bawah itu bercampur sampah dan botol-botol minuman, saudarah-saudarah...

Buih air di bawah itu bercampur sampah dan botol-botol minuman, saudarah-saudarah…

Wahana bermain anak sedikit mengobati rasa bosan Fahmi yang tidak mau diam. Meski beberapa sudah banyak yang rusak, paling tidak ada sebuah perosotan yang masih bisa dipergunakan. Selebihnya, Fahmi lebih memilih main bergulingan di lantai tanah yang berlapis rumput hijau.

P1280266

P1280273

Di lokasi Curug Omas Maribaya ini tersedia pula mushola dan kamar mandi umum. Saat menyentuh air yang terus mengalir itu, wuiiih! dingin banget! Tak terkirakan dech segernya saat air gunung bersentuhan dengan kulit wajah. Nyess! adem pisan…

Pupus sudah harapan bisa mandi dan berbasah-basahan...

Pupus sudah harapan bisa mandi dan berbasah-basahan…

Salah satu pemilik kios di sekitar Curug Omas Maribaya mengatakan jika ia dan penjual lainnya secara khusus datang berjualan pada hari sabtu dan minggu saja. Kalau hari biasa pengunjung sedikit dan bahkan bisa dibilang sepi.

P1280230P1280240

Berhubung cuaca seperti mau hujan, aku dan keluarga kecil petualang bersiap untuk kembali ke Dago. Beda dengan saat tadi datang, ketika pulang para penjual yang berjejer di warung-warung tenda sudah pada tidak ada. Mereka telah pulang dengan membereskan lapak mereka hingga bersih dan rapi. Alhasil saat pulang sambil jalan terasa sepi sekali.

Buat pengunjung yang merasa capek, bisa menggunakan kendaraan umum ojek untuk mempercepat waktu. Hasil dari obrolanku bersama seorang tukang ojek setempat sih, harga dari Dago ke Curug Omas Maribaya itu berkisar sekitar 20-30 ribu sekali jalan.

Makanan cepat saji plus es jeruk dan es campur masih ramah di kantong :)

Makanan cepat saji plus es jeruk dan es campur masih ramah di kantong 🙂

Ada juga jasa tukang sewa motor. Yang ini dihitungnya per satu jam. Setia satu jam sewa, berkisar antara 60-80 ribu. Wow! termasuk mahal bagi saya. Secara di kampung, harga sewa motor sehari-semalam saja hanya sekitaran 50-70 ribu saja.

Informasi ini semoga saja bermanfaat bagi yang membutuhkan. JIka ada apdet informasi silahkan sampaikan di kolom komentar. revisi dan perbaikan pasti akan selalu saya lakukan.

Terimakasih. Bandug trip bersama kawan-kawan blogger ini memang sangat berkesan dan menyenangkan…

monyet liar di Curug Omas Maribaya yang jinak

monyet liar di Curug Omas Maribaya yang jinak

Speak Your Mind

*