Ulasan Seru Keluarga Petualang Terjebak Badai di Tebing Keraton (Bagian 2)

Ulasan Seru Keluarga Petualang Terjebak Badai di Tebing Keraton (Bagian 2)

Hiking di Tahura Juanda Bandung (1)

Ibarat sudah sampai di Kota Suci Mekkah, masa tidak lanjut ke Madinah? Sudah puas muter-muter di Tahura Ir.H.Juanda (Dago Pakar) masa tidak main ke Tebing Keraton yang sangat fenomenal itu?

P1280433

Waktu memang sudah sore. Jam empat kami keluar dari parkiran Dago Pakar. Kami sudah berpisah dengan rombongan bloggers. Tidak bisa menghubungi mereka pula karena hp saya eror dan habis batrei pula. Ada hp suami yang jadul tapi masih kuat, tidak menyimpan nomor-nomor mereka. Ya sudahlah, kami pikir bisa kontak lagi nanti.

Tanjakan menuju Tebing Keraton masih berbatu dan beraspal tanah

Tanjakan menuju Tebing Keraton masih berbatu dan beraspal tanah

Cuss… Kami langsung ke Tebing Keraton yang jaraknya tinggal 5 Km dari Dago Pakar. Cuaca sore sudah tampak gelap. Hawanya sangat dingin. Fahmi sudah mulai mengenakan jaket dan helm menembus kabut mengikuti jalan yang menanjak.

sepeda motor butut kami tidak bisa melewati tanjakan ini.

sepeda motor butut kami tidak bisa melewati tanjakan ini.

Semakin atas, jalan semakin ditutupi kabut pekat. Kemulusan aspal cor mulai hilang berganti aspal mengelupas yang batunya sudah berserakan. Sisi kiri kanan banyak perkebunan sayuran milik warga. Kentang dan cabai mendominasi. Sebagian masih dalam garapan. Belum ditanami apa-apa setelah dipanen si empunya.

Memasuki perkampungan warga tengah mempersiapkan pengecoran jalan. Pegawai berseragam warna oranye hilir mudik berbaur dengan masyarakat yang menonton. Suara sepeda motor tukang ojek dan pengunjung meraung-raung menancap gas hendak menaklukan tanjakan yang cukup tegak dengan kontur jalan berbatu-batu. Antri.

Fahmi pun harus turun supaya selamat dari kendaraan yang tidak sanggup menanjak

Fahmi pun harus turun supaya selamat dari kendaraan yang tidak sanggup menanjak

Kami melewatinya dan sempat menunjukkan sebuah setum besar kepada Fahmi. Sudah bisa ditebak Fahmi girang dan berceloteh seputar setum yang sudah dilihatnya meski sekilas.

Habis melewati perkampungan itu, ada belokan ke kiri yang cukup tajam langsung dihadapkan dengan tanjakan yang curam berbatu-batu. Celaka! Sepeda motor kami tidak sanggup menaklukkannya. Aku dan Fahmi turun demi cari selamat. Berjalan sekitar sepuluh meter sampai suami bisa mengendalikan lagi motornya. Sayang aku tidak sempat merekamnya. Hanya foto sekilas dari kamera yang aku tenteng.

Sampai di gerbang Tebing Keraton, langsung disambut para “satpam” yang mengatur supaya pemotor dan parkiran menjadi teratur. Cuaca sudah tampak mendung dan mereka menyarankan kami bergegas masuk.

P1280409

Membeli karcis seharga sepuluh ribu per orang. Lagi-lagi Fahmi masuk dengan gratis alias tanpa dikenakan tiket. Lupa juga mau tanya kisaran umur berapa anak yang diharuskan membeli tiket.

Sesampainya di dalam, sekitar berjalan seratus meteran kami sudah langsung berada di lokasi yang menjadi tujuan para selfier seluruh dunia maya. Beberapa anak muda tengah bergaya menggunakan latar pemandangan nun jauh disana yang putih tertutup kabut sebagai latar.

ini pemandangan saat kami baru tiba di lokasi. Awan putih sudah menutupi sebagian besar panorama

ini pemandangan saat kami baru tiba di lokasi. Awan putih sudah menutupi sebagian besar panorama

Tidak ada yang aneh memang di Tebing Keraton ini selain pemandangan yang membentang luas di depan mata. Berada di puncak bukit yang menjorok ke luar memang bisa dengan leluasa dapat melihat pemandangan yang menghampar di bawah sana.

Menuju menara pandang

Menuju menara pandang

Awan putih tetap menghalangi pandangan meski sudah naik ke menara pandang

Awan putih tetap menghalangi pandangan meski sudah naik ke menara pandang

Sayang karena kami datang kesorean, ditambah mendung tandanya hujan mau turun sehingga pemandangan yang harusnya indah dan menghijau itu hanya tampak memutih saja. Kelap-kelip lampu di kejauhan sana yang diharapkan bisa menambah keindahan pemandangan juga tak tampak sama sekali. Ya sudahlah… bukan waktu yang tepat mungkin untuk kami datang ke Tebing Keraton ini.

P1280420P1280423

Masukan bagus buat kawan-kawan, kalau mau ke Tebing Keraton, pastikan masih pagi dengan cuaca cerah. Siapkan juga topi, payung dan atau jas hujan untuk jaga-jaga. Jika tidak, maka jangan nyesel kalau kehilangan momen bagus kaya kami…

Setelah berfoto apa adanya, naik ke menara pandang sebentar dan melihat kilatan petir menyambar di kejauhan beberapa kali kami pun memutuskan untuk pulang sesegera mungkin.

P1280425

Benar saja apa yang kami khawatirkan benar-benar terjadi. Turun dari jalan yang sebelumnya aku lewati dengan jalan kaki karena sepeda motor yang dibawa suami tidak kuat menaikinya hujan mulai berjatuhan. Titiknya sangat besar dan keras. Pletak pletuk bunyinya ketika menimpa helm yang kami kenakan. Mencari tempat berteduh sesegera mungkin untuk mengenakan jas hujan dapatnya di ujung kampung yang jalannya baru akan dicor.

P1280428

Sebuah warung di pinggir jalan menjadi tempat berteduh kami. Fahmi benar-benar ketakutan saat aku lepaskan dari pelukan untuk membantu mengenakan jas hujannya. Angin berhenbus sangat kencang datang dari arah belakang kami. Ternyata belakang warung itu juga sebuah dataran rendah yang terdiri dari kebun warga. Pantas angin berhembus kencang karena warung tempat kami berteduh berada di puncak bukit.

Petir menggelegar terus menerus menghujani kami yang ketar-ketir ketakutan. Jalanan sangat sepi. Ojek dan pengunjung lain pasti memilih diam berteduh daripada memaksa berhujan-hujanan di tengah badai. Suasana benar-benar sangat mencekam dan menakutkan!

P1280432

Suami menyarankan segera berangkat menembus hujan badai. Siapa tahu di bawah sana hujan reda dan bisa beristirahat dengan tenang. Aku setuju saja. Sambil mendekap erat Fahmi yang sudah seperti asronot cilik karena tubuhnya dibalut jaket, jas hujan serta helm kami berangkat menembus badai.

Sepanjang jalan menurun itu tak henti-hentinya meminta suami untuk berhati-hati. Fahmi juga tidak berhenti membacakan sholawat serta beberapa surat pendek Al-Quran. Sampai di Dago hujan masih terus mengguyur meski tidak selebat saat di Tebing Keraton.

P1280447

Sungguh sebuah pengalaman yang sangat mencekam, melakukan perjalanan kilat di tengah terjangan hujan badai bersama batita. Alhamdulillah syukur kami panjatkan kami bisa kembali pulang dengan selamat, tak kurang suatu apa. Hape yang eror karena tertekan dan terbentur-bentur pada saat kami bergegas pulang itu seakan tak seberapa nilainya dibanding keselamatan kami.

P1280440

Semoga dari apa yang kami alami, bisa diambil jikmah serta pelajaran bagi kawan-kawan yang hendak melakukan perjalanan seru ke Tebing Keraton.

P1280442

Speak Your Mind

*