Kenapa Harus Waspada Pilih Motif dan Warna Pakaian?

Kenapa Harus Waspada Pilih Motif dan Warna Pakaian?

forever-fragrance

Dasar jamannya sudah serba terbalik, tidak hanya baju dalam yang ngetren dipakai di luar, tapi celana dalam pun dipakai diluar, seperti superman, dong? Nah iya, seperti itu. Konon itu baru kekinian…

Sekarang harus ekstra hati-hati pilih motif atau warna dari bahan pakaian yang akan kita kenakan. Memangnya kenapa? Takut ada orang lain yang pakai baju yang sama terus dibilang kembaran? Iya itu kalau cuma dua orang. Kalau kebetulan ada sepuluh orang pakai baju yang sama? Bisa dibilang kesebelasan tuh! Bukannya dapat piring cantik?

Ya kalau bajunya produk pabrikan, diproduksi secara masal dan dijual disebar ke berbagai tempat oleh distributor, wajar kalau menemukan satu dua orang memakai pakaian yang sama baik model atau bahan dan warna. Kalau baju seragam ya masih oke lah ya. Coba kalau baju ke undangan, baju ke acara agak formal, tahu ada orang lain pakai baju yang sama kaya kita kayanya gimana gitu ya. Malu dan rikuh pastinya. Bukan kembar, bukan pasangan, bukan teman kerja satu instansi, gak juga janjian tapi kok bajunya samaan, hehehe…

Jaman sekarang, lucunya –dan karena ini kita harus waspada– baju yang kita pakai bukan hanya sama dengan pakaian yang dipakai orang lain, tapi sama dengan properti orang lain! aksudnya?

Pernah dengar cerita/baca meme/lihat iklan seorang perempuan yang sudah dandan syantiek, lengkap dengan make up dan stylish yang super keren, tapi tampak bete dan duduk merajuk di sudut ketika berkunjung ke rumah orang lain. Apa pasal? Ternyata dia malu dan tidak menyngka, kalau baju pilihan yang dikenakannya saat itu, warna dan motifnya sama percis dengan kain yang dibuat sofa oleh si pemilik rumah!

Hahaha, kebayang kan bagaimana si perempuan itu bete dan malunya? Mengetahui pakaian yang dianggapnya bagus, mahal, beda dari orang lain dan diperkirakan tak akan ada yang memiliki kecuali dirinya, ternyata di rumah orang lain, justru kain itu dibuat untuk lapisan kursi yang gunanya buat diduduki.

Masih ada juga kisah mirip dengan kejadian itu yang menimpa teman kita. Saat menghadiri acara yang berada di luar kota, teman kita ini sudah dandan cantik dan selalu selfie untuk aplod di sosial media. Jepret sana jepret sini termasuk saat dalam kendaraan. Tidak sadar, warna pakaian yang dikenakannya itu ternyata mirip percis sama kain gorden bis yang ditumpanginya. Beruntung teman kita ini tetap pede saja dan tidak mempermasalahkan kesamaan yang cukup mengganggu pandangan ini.

Saya sendiri hampir mengalami nasib serupa dengan dua kejadian di atas. Tapi untung belum terjadi sesungguhnya.

Jadi ceritanya di group whatsap teman ada yang upload foto-foto berbagai jenis jilbab dan pashmina aneka warna. Saya tertarik dengan yang warna cokelat, motifnya kaya batik gitu, warna hitam tapi tidak begitu jelas.

Saya sudah pesan satu. Tapi karena koneksi yang suka eror, listrik mati berkali-kali membuat komunikasi saya dan teman si penjual jilbab itu agak terputus-putus. Akhirnya tertimpa pesan dan obrolan lainnya sampai lupa dengan sendirinya akan jilbab pesanan saya itu. Sampai saya baru ingat lagi ketika saya sedang menghadiri sebuah acara di luar kota.

Saya kaget dan merasa bersyukur tidak jadi beli jilbab dengan warna dan motifnya yang pernah saya pilih di roup whatsap. Tahu kenapa? Jika saya beli, tidak menutup kemungkinan jilbab baru itu akan saya pakai ke luar kota saat acara ini, secara cokelat memang warna kesukaan dan warnanya serasi dengan beberapa potong pakaian yang saya punya. Dan kalau benar saya pakaai jilbab itu ke tempat acara yang saya ikuti, alamaaak, gak tahu gimana nanti malu yang harus saya tanggung.

Memang kenapa? Iya, soalnya warna serta motif jilbab yang saya suka dan sudah pesan itu, di hotel tempat acara yang saya ikuti diselenggarakan, kain itu dibuat sebagai taplak meja prasmanan!

Bersyukur saya tidak jadi beli. Kalau sudah terlanjur beli, bisa-bisa saya foto selfie kembaran sama taplak meja dong?

Sejak itu, saya berusaha untuk hati-hati memilih warna dan motif pakaian. Takut saat pakai di tempat umum, eh, samaan sama orang lain, atau justru parahnya samaan denganbarang-barang hiasan lainnya. Bisa-bisa nanti saya yang dikira minjem dari mereka, hahaha!

Comments

  1. Iya saya ikut membayangkan kalau di acara resmi atau undangan tiba-tiba bertemu teman atau orang lain yang bajunya persis sama, rasanya gimana gitu ya Teh. Yang jelas kalau bajunya populer dan banyak yang ngomongin jangan dibeli yah 🙂

  2. Alhamdulillh belum pernah kejadian kaya gitu..secara jarang beli ol klo baju tapi klo kerudung wah kudu ati ati yaaa takut juga heheheh

  3. Aku pernah teh, masak bajuku warna ijo toska, persis kayak selimut dan warna kursinya kereta api. Duh aku dihina-dina sekantor deh pas pergi outing itu, katanya aku menyatu dengan ‘alam’ :)) KZL ..

  4. Ekwkek.. aku malah muslim keluarga ku kemarin, mirip seragram anak tk… hihih

  5. Hehe benar mba kalo samaan sama yg lain plng cuma slng senyum tp klo saman sm corak sofa… pingin kabur..^^

  6. Kejadian juga, rok saya motifnya sama kaya taplak meja di rumah tante. Maklum, belinya kain mentahan trus jait sendiri. Maksud hati…pengen beda. Apa daya ternyata…hehehe. sampe sekarang rok itu ga pernah saya pake

  7. Wahduh, sekarang motif apapun bisa dibuat perlengapan pakai an ya. Huhuuu…serem apalagi pashmina samaan dengan taplak meja

  8. Wkwkwk. Iya, mbak. Foto si mbak yang pake baju motif sama dengan sofa sempet jadi viral. Waktu itu, saya juga mikir, ini perasaannya gimana … :v

    Tapi boleh jadi itu konspirasi, taunya dia emang jualan sofa wkwk. Atau lagi belajar jurus kamuflase.

  9. wah berarti motif bunga2 yg gaya bohemian itu berabe juga kl tau2 dibeli, dipakai dgn bahagia tau2…jreeeng… sama persis dgn gorden di tempat yg dikunjungi

  10. Hahhaaa…
    Gemes ceritanya. Tapi, ini mungkin karena harga kain di pasaran memang murah juga kali ya, Teh.
    Soalnya, aku suka git beli kain di pasar, bahannya enakeun harganya terjangkau, buat dibikin baju biasanya. Tapi aku suka motifnya buat dibikin gorden hehee…

    Mana tau kali ada orang yang beli bahan itu juga buat dijadiin jilbab atau baju kemudian silaturahmi ke rumahku. Aduuuh… 😀

  11. terima kasih infonya mba

Speak Your Mind

*