Ya! Ternyata Kami Pelaksana Pertama Gagasan Ridwan Kamil Program Magrib Mengaji

Ya! Ternyata Kami Pelaksana Pertama Gagasan Ridwan Kamil Program Magrib Mengaji

happy st. patrick's day!

Sudah tahu dua gagasan dari Kang Emil, sapaan akrab walikota Bandung Ridwan Kamil dalam rangka mengantisipasi faham radikalisme dan narkoba di negara Indonesia ini? Jika belum, dua gagasan itu adalah Interaksi Keluarga/Warga dan Program Magrib Mengaji.

Interaksi keluarga atau warga ialah sejenis laporan seberapa aktif keluarga/warga dalam kegiatan/aktivitas masyarakat. Laporan ini nanti akan berupa Raport Indeks Kemasyarakatan. Seperti seberapa aktif warga hadir dalam rapat RT/RW, pada setiap kegiatan kerja bakti/gotong royong apakah datang atau tidak. Kalau rajin warga akan dapat rapor biru. Kalau tidak, warga tersebut akan kena rapor merah dan dapat tindak lanjut. Begitu penjelasan Kang Emil di Sasana Budaya Ganesha, Bandung tadi siang 18 Maret 2016.

Sedangkan program Magrib Mengaji adalah kegiatan anak-anak mengaji sehingga setelah magrib tidak ada lagi anak-anak yang berkeliaran. Untuk merealisasikan program ini, Kang Emil tidak tanggung-tanggung menyediakan sebanyak 2000 guru mengaji sukarelawan. Diharapkan pesan anti narkoba, etika, keagamaan dan sejenisnya disampaikan harian pada saat pengajian ini.

Nah, menyikapi gagasan kedua ini, kebetulan kami (saya dan suami) sudah melaksanakan program ini jauh sebelum Kang Emil mengeluarkan gagasannya. Meski kami tinggal di pelosok Cianjur, bukan warga kota Bandung, tentu saja sangat mendukung program yang memang sangat masuk logika ini. Meski bukan ustadz/ustadzah, kami punya anak didik mengaji, berasal dari anak-anak sekitar (tetangga) di kampung yang jumlahnya sekitar 25 orang.

Setiap malam, kami melaksanakan sholat magrib bersama, mengaji dan yang menjadi gurunya adalah suami, dan lanjut sholat isya berjamaah. Tidak langsung bubar, karena setelah sholat kami memberikan test (sejenis pertanyaan) atau ulasan mengenai apa yang sudah duterangkan kepada anak sehingga kami bisa menilai sejauh mana anak memahami ilmu dan pengetahuan yang sudah diberikan. Anak yang berhasil menjawab pertanyaan, ialah berhak pulang lebih dahulu.

Anak mengaji di rumah. Karena sempit sementara anak banyak, maka antara ikhwan dan akhwat seolah tidak berjarak. Ini yang jadi pikiran kami saat ini...

Anak mengaji di rumah. Karena sempit sementara anak banyak, maka antara ikhwan dan akhwat seolah tidak berjarak. Ini yang jadi pikiran kami saat ini…

Selama ini kami menjalankan semuanya serba sendiri. Memang ini kami anggap sebagai ibadah yang hanya mengharap ridho Allah SWT saja. Saat anak-anak mengaji berjumlah tak lebih dari sepuluh, kami masih bisa dengan tenang mendidik mereka ilmu dasar agama. Ya, istilah kasarnya tamba barudak ulin teu puguh… (lebih baik daripada anak-anak main tidak karuan saat magrib).

Semakin hari tetangga banyak yang datang menitipkan putra-putri mereka untuk mengaji di rumah kami. Tentu saja kami tetap menerima dengan syarat apa yang dapat kami berikan hanyalah sebatas kemampuan kami. Meski sederhana dan dimulai dari hal-hal yang kecil, terbukti anak pesantren yang cukup besar dan punya nama saja ada yang pindah mengajinya ke rumah kami.

Kini, setelah anak bertambah banyak, ternyata kami tidak bisa lagi tenang. Bukan kami tidak mampu lagi mendidik mereka. Kami senang setiap ada peringatan hari besar Islam (PHBI) anak didik kami yang kami beri nama Pengajian Al Hidayah ini selalu menampilkan kebolehan dari setiap santri. Meski sedikit, tetapi setiap anak sudah biasa tampil di panggung membawakan hafalan yang sudah kami persiapkan.
Yang kami pikirkan adalah rumah kami yang kecil ini tidak lagi bisa menampung jumlah anak sebanyak itu.

Sungguh kami malu. Terkadang suami menjerit meminta jalan bagaimana caranya supaya mendapat jalan keluar. Ya Allah, apa yang harus kami lakukan supaya anak-anak dapat mengaji dengan baik, dan kami bisa memenuhi semua keperluannya. Ibadah ini tentu lebih afdol dan khusyu jika sarana serta prasarananya bisa menenangkan anak didik.

Saat solat berjamaah, shaf tidak lurus karena sempit. Saat duduk antara dua sujud saja sering antara satu anak dan anak lainnya bertindihan... Ini pula yang jadi pikiran kami, mencari solusi supaya mereka bisa mengaji dan beribadah dengan baik dan khusyu...

Saat solat berjamaah, shaf tidak lurus karena sempit. Saat duduk antara dua sujud saja sering antara satu anak dan anak lainnya bertindihan… Ini pula yang jadi pikiran kami, mencari solusi supaya mereka bisa mengaji dan beribadah dengan baik dan khusyu…

Sebentar lagi memasuki Bulan Rajab. Di kampung kami biasa melakukan peringatan dengan pengajian. Mengundang kiayi ternama dari luar kampung dan memeriahkannya dengan semaksimal mungkin. Kami pun sudah merancang persiapan. Suami sudah mulai memikirkan naskah-naskah pidato yang akan dihafalkan anak-anak dan pada saatnya ditampilkan di atas panggung. Sementara itu, persiapan supaya membuat anak semakin semangat pun kami lakukan. Kami mengumpulkan uang sedikit demi sedikit dan nanti dibelikan makanan ringan serta minuman yang akan dibagikan pada anak-anak pada hari H.

Hanya itu. Baru sebatas itu yang kami mampu lakukan. Bukan tidak ingin berbuat lebih, tetapi kemampuan kami hanya sebatas itu. Mungkin setelah gagasan melalui Program Magrib Mengaji yang digagas Kang Emil, siapa tahu direspon positif oleh pemerintah pusat, sehingga kedepannya jalan kami mendidik anak-anak sekitar rumah untuk mengaji ini lebih terbuka.

Sempat mendapat saran dari teman, supaya kami membuat proposal sehingga kami bisa mendapatkan bantuan. Tapi kami belum berpikir sejauh itu. Karena jika hanya mendidik mengaji, meramaikan acara PHBI, menyemangati anak-anak alakadarnya kami selama ini pun masih mampu. Meski sederhana, tetapi toh tetap berjalan.

Hanya makanan ringan jajanan anak seperti ini yang bisa kami bagikan kepada anak-anak setelah mereka tampil di Pangung.

Hanya makanan ringan jajanan anak seperti ini yang bisa kami bagikan kepada anak-anak setelah mereka tampil di Pangung.

Yang kami pikirkan saat program yang digagas Kang Emil nanti benar-benar diterapkan, semoga ada keajaiban dari-Nya sehingga rumah kami yang panggung dan sempit ini tetap bisa menampung anak-anak mengaji. Semoga. Mohon doa serta restunya.

Comments

  1. Keren programnya. semoga makin banyak pemimpin kyk gini 🙂

  2. Semoga setiap upaya berbua berkah
    untuk Teh Okti sekeluarga
    amiiinn

  3. Subhanallah, semoga berkah ya Mak. Semoga jg dipermudah untk memperluas lahan supaya makin banyak anak yg mau mengaji di sana. InsyaAllah segera ada jalan, aamiin

  4. salam sukses

  5. Dua gagasan yang keren apalagi yang tentang magrib mengaji. Semoga berjalan dengan lancar. Aamiin.

  6. semoga dilancarkan jalannya gan..
    urusan akhirat lebih utama 🙂

Speak Your Mind

*