Ada olahraga yang tidak membutuhkan sepatu seharga jutaan rupiah, tidak perlu menyewa lapangan, tidak membutuhkan pelatih pribadi, bahkan tidak perlu mendaftar sebagai anggota gym. Namanya jalan kaki.
Iya, jalan kaki kan modalnya cuma kaki. Itu pun biasanya sudah tersedia sejak lahir.
Masalahnya, banyak orang justru lebih rajin berjalan kalau sedang mencari sinyal Wi-Fi daripada berjalan demi kesehatan. Beda dengan travel blogger, walau gak ketemu sinyal tapi tetap jalan aja demi bisa mengejar waktu keberangkatan.
Padahal, jalan kaki bisa menjadi aktivitas fisik sederhana yang membantu menjaga kesehatan tubuh. Bahkan menurut World Health Organization (WHO), orang dewasa dianjurkan melakukan setidaknya 150–300 menit aktivitas fisik intensitas sedang setiap minggu. Jalan cepat termasuk salah satu aktivitas yang bisa membantu memenuhi kebutuhan tersebut.
Jadi, kalau selama ini kita mengira olahraga harus sampai ngos-ngosan seperti dikejar debt collector, ternyata tidak selalu begitu, ya beibs...
Jalan kaki bukan sekadar pindah tempat
Kita berjalan setiap hari. Ke dapur berjalan. Ke kamar mandi berjalan. Ke warung berjalan. Kalau dompet ketinggalan di rumah, walau terpaksa ya jalan balik lagi, kan...
Namun, jalan kaki sebagai aktivitas fisik untuk kesehatan berbeda dengan sekadar berjalan kaki beberapa meter. Nah, ini harus kita ketahui nih...
Jalan kaki yang dilakukan dengan tempo cukup cepat dapat membuat jantung berdetak lebih cepat dan pernapasan meningkat. CDC memasukkan brisk walking atau jalan cepat sebagai contoh aktivitas aerobik intensitas sedang.
Sst! Apa itu CDC, bisa diketahui infonya di sumber referensi yang saya cantumkan di akhir artikel ya...
Oke, mari kita jalan lagi ke bahasan selanjutnya. Jadi sederhananya, brisk walking itu kita jalan kaki tapi masih bisa ngobrol, tetapi mulai agak susah kalau disuruh menyanyi.
Kalau jalan sambil masih bisa ngobrol panjang lebar sekaligus menyanyi tiga lagu tanpa mengambil napas, mungkin kecepatannya itu mah masih masuk kategori "jalan-jalan santai menikmati kehidupan". Hehe...
Apa saja manfaat jalan kaki?
Jangan meremehkan aktivitas yang kelihatannya sederhana ini. Jalan kaki secara rutin dapat memberikan berbagai manfaat.
1. Membantu menjaga kesehatan jantung
Aktivitas fisik secara rutin berkaitan dengan penurunan risiko penyakit jantung dan stroke. CDC juga mencatat aktivitas fisik membantu menurunkan risiko penyakit jantung, stroke, tekanan darah tinggi, diabetes tipe 2, dan beberapa penyakit kronis lainnya.
Jadi, jalan kaki bukan cuma membuat sandal cepat aus. Melainkan jalan ninja kalau tubuh kita juga sedang diajak bekerja.
2. Membantu menjaga berat badan
Jalan kaki membutuhkan energi. Jika dilakukan secara rutin dan disertai pola makan yang baik, aktivitas fisik dapat membantu menjaga berat badan dan mencegah kenaikan berat badan yang tidak diinginkan.
Tetapi jangan sampai begini: "Setelah jalan kaki 30 menit, saya berhak mendapatkan reward berupa makan gorengan enam biji..."
Lalu gorengannya berkembang menjadi nasi padang. Kemudian ditutup es teh manis. Kalau begitu, yang berjalan mungkin kaki, tetapi kalori ikut berlari mengejarmu!
3. Bisa membantu kesehatan mental
Olahraga tidak hanya berkaitan dengan otot dan jantung.
Aktivitas fisik juga dapat membantu mengurangi kecemasan dan meningkatkan kualitas tidur. CDC menyebut aktivitas fisik memberikan manfaat langsung, termasuk membantu mengurangi perasaan cemas dan meningkatkan kualitas tidur.
Karena itu, ketika kepala terasa penuh oleh pekerjaan, urusan rumah, tagihan, atau grup WhatsApp keluarga yang tidak pernah sepi, berjalan kaki sebentar bisa menjadi salah satu cara sederhana untuk bergerak sekaligus memberi jeda. Apalagi kalau jalan kakinya di Perkebunan Teh Gunung Mas, atau jalan kaki di kampung Baduy. Aah, itu mah sama aja dengan healing, traveling dan liburan ya...
Kadang walau udah jalan kaki, tapi masalah belum juga selesai. Yah, sing sabar wae, tapi setidaknya kita sudah berjalan menjauh dari meja kerja. Ada ikhtiar ke sana, tinggal perkuat lagi niatnya. Lho, kok jadi seperti tausiah?
4. Membantu menjaga kesehatan tulang dan fungsi tubuh
Aktivitas fisik secara rutin juga berkaitan dengan kesehatan tulang, keseimbangan, koordinasi, serta penurunan risiko jatuh.
Untuk orang yang sudah lanjut usia, aktivitas fisik juga penting untuk mempertahankan kemampuan bergerak dan keseimbangan. WHO memberikan perhatian khusus pada latihan keseimbangan bagi lansia dengan mobilitas yang kurang baik.
Artinya, tubuh usia berapapun memang perlu diajak bergerak. Jangan sampai usia masih muda, tetapi naik tangga dua lantai sudah seperti mendaki Gunung Everest.
Atau seperti tetangga saya, udah kerasa nyeri lutut dan sering keram kaki, baru deh giat ikut jalan kaki setiap akhir pekan. Jangan sampai sakit dulu baru kepikiran oh, iya ya harus olahraga nih. Dan olahraga termurah ya jalan kaki ini (makanya mau memaksakan)
Berapa lama harus jalan kaki?
Nah, ini bagian yang sering membuat orang langsung mengundurkan diri sebelum mulai.
"Harus jalan 150 menit seminggu? Waduh, saya sibuk!"
Tenang...
WHO merekomendasikan orang dewasa melakukan 150–300 menit aktivitas aerobik intensitas sedang itu per minggu. Sementara CDC memberi contoh sederhana: sekitar 30 menit sehari selama 5 hari dalam seminggu. Jadi tidak harus langsung 30 menit gitu ya...
Kalau selama ini jarang bergerak, mulailah secara perlahan. Disarankan memulai secara bertahap dan meningkatkan aktivitas jalan kaki nya itu dari waktu ke waktu.
Misalnya: Minggu pertama: 10–15 menit. Minggu berikutnya: 15–20 menit. Berikutnya: naik perlahan sesuai kemampuan. Yang penting konsisten.
Sebab olahraga terbaik bukan olahraga yang dilakukan sekali dengan semangat membara, lalu setelah itu sepatu olahraga menjadi pajangan selama enam bulan.
Cara jalan kaki yang benar
Jalan kaki memang sederhana, tetapi bukan berarti boleh asal-asalan.
1. Mulai dengan perlahan
Jangan baru keluar rumah langsung berjalan seperti peserta lomba.
Mulailah dengan langkah santai beberapa menit. Setelah tubuh terasa lebih siap, tingkatkan kecepatannya secara bertahap.
2. Pilih kecepatan yang sesuai
Untuk intensitas sedang, jalan kaki sebaiknya membuat napas dan denyut jantung meningkat.
Patokan sederhananya: masih bisa berbicara, tetapi mulai sulit bernyanyi. Gambaran ini digunakan untuk aktivitas intensitas sedang.
Kalau masih bisa karaoke, bisa gibah sambil berjalan tanpa kehilangan napas, mungkin itu mah kecepatannya belum terlalu tinggi.
3. Perhatikan postur tubuh
Saat berjalan, usahakan tubuh tetap tegak dan rileks. Pandangan diarahkan ke depan, bukan terus-menerus ke layar ponsel. Itu penting lho ya!
Jangan sampai niatnya olahraga untuk kesehatan, tetapi malah menabrak tiang karena sibuk membaca komentar di media sosial.
4. Gunakan alas kaki yang nyaman
Sepatu tidak harus mahal. Yang penting nyaman, sesuai ukuran kaki, dan cukup mendukung aktivitas berjalan. Jangan menggunakan sandal yang sudah licin hanya karena "sayang dibuang". Kalau sandal sudah memiliki kemampuan meluncur sendiri, mungkin sudah waktunya pensiun.
5. Pilih tempat yang aman
Jalan kaki bisa dilakukan di sekitar rumah, taman, lapangan, jalan lingkungan, atau tempat lain yang aman.
Untuk masyarakat di pedesaan, jalan kaki bisa dilakukan sambil menikmati suasana pagi, persawahan, kebun, atau jalan kampung—tentu dengan tetap memperhatikan kendaraan, kondisi jalan, cuaca, dan keamanan sekitar.
Tidak perlu mencari tempat yang kelihatan seperti lokasi syuting film, deh! Karena jalan di sekitar rumah pun bisa bermanfaat.
![]() |
| Saat musim dingin, jalan kaki juga jadi cara untuk menghangatkan tubuh |
Jangan lupa pemanasan dan pendinginan
Sebelum berjalan lebih cepat, lakukan gerakan ringan terlebih dahulu agar tubuh tidak langsung dipaksa bekerja keras.
Saat musim dingin, banyak buruh migran yang tiba-tiba jadi rajin olahraga termasuk jalan kaki. Usut punya usut, teman bekerja di Hongkong, Taiwan dan Macau bilang, kalau musim dingin, badan jadi terasa hangat kalau sering melakukan jalan kaki alias bergerak. Hemm... Pantas ya.
Tapi jangan lupa, setelah selesai berjalan kaki sekian lama, turunkan kecepatan secara bertahap dan lakukan peregangan ringan jika nyaman.
Prinsipnya sederhana: jangan dari mode rebahan langsung berubah menjadi atlet nasional. Tubuh juga butuh waktu untuk menyesuaikan.
WHO merekomendasikan orang yang sebelumnya tidak aktif untuk memulai dengan aktivitas dalam jumlah kecil dan meningkatkan durasi, frekuensi, serta intensitas secara bertahap.
Jalan kaki tidak harus mahal
Ini salah satu kelebihan jalan kaki. Tidak perlu membership gym, mesin treadmill, personal trainer, suplemen mahal, atau pakaian olahraga yang membuat kita terlihat seperti atlet Olimpiade.
Yang diperlukan terutama adalah kemauan untuk bergerak dan melakukannya secara rutin.
Bahkan WHO menegaskan bahwa setiap aktivitas fisik tetap dihitung. Aktivitas dapat berasal dari olahraga, perjalanan, pekerjaan, pekerjaan rumah tangga, maupun kegiatan sehari-hari lainnya.
Jadi, berjalan ke warung, memilih naik tangga, atau berjalan kaki menuju tempat yang tidak terlalu jauh juga bisa menjadi bagian dari kebiasaan aktif.
Yang penting bukan siapa paling cepat, tetapi siapa paling konsisten
Ada orang baru membeli sepatu olahraga langsung membuat target 10.000 langkah. Hari pertama semangat. Hari kedua masih semangat. Hari ketiga betis mulai mengirim surat protes. Hari keempat sepatu kembali masuk kardus. Padahal, olahraga tidak harus dimulai dengan target yang luar biasa.
Lebih baik berjalan 15–20 menit secara rutin daripada memaksakan diri berjalan jauh sekali, lalu kapok selama berminggu-minggu.
Sedikit aktivitas lebih baik daripada tidak melakukan aktivitas sama sekali, dan aktivitas mingguan dapat dibagi sesuai kondisi dan jadwal seseorang.
Jalan kaki, olahraga sederhana dengan manfaat besar
Pada akhirnya, jalan kaki memang terlihat biasa. Tidak ada suara mesin. Tidak ada musik keras. Tidak ada instruktur yang berteriak, "AYO! LIMA LAGI!"
Tetapi justru kesederhanaannya itu membuat jalan kaki mudah dimasukkan ke dalam kehidupan sehari-hari. Jadi, kalau hari ini belum sanggup melakukan yang namanya olahraga, jangan langsung menyerah.
Pakai sepatu yang nyaman. Keluar rumah. Mulai berjalan. Pelan tidak masalah. Yang penting bergerak. Sebab kadang menjaga kesehatan tidak harus dimulai dengan sesuatu yang mahal dan rumit. Bisa dimulai dari langkah kecil.
Satu langkah. Dua langkah. Tiga langkah. Dan jangan berhenti hanya karena melihat tukang gorengan. Kalau berhenti, pastikan bukan karena tergoda membeli lima bakwan. 😄
Buat manteman yang memiliki kondisi kesehatan tertentu, nyeri dada, sesak yang tidak biasa, pusing, atau keluhan lain saat beraktivitas, sebaiknya konsultasikan dengan tenaga kesehatan dan sesuaikan aktivitas dengan kondisi tubuh, ya.
Sumber referensi:
- [World Health Organization (WHO) – Physical Activity](https://www.who.int/health-topics/physical-activity?utm_source=chatgpt.com)
- [WHO – Guidelines on Physical Activity and Sedentary Behaviour](https://www.who.int/europe/publications/i/item/9789240014886?utm_source=chatgpt.com)
- [CDC – Adding Physical Activity as an Adult](https://www.cdc.gov/physical-activity-basics/adding-adults/?utm_source=chatgpt.com)
- [CDC – Health Benefits of Physical Activity for Adults](https://www.cdc.gov/physical-activity-basics/health-benefits/adults.html?utm_source=chatgpt.com)

























