Sekilas Potret Kabupaten Cianjur bagian Selatan
Sejak jalan lintas selatan diperbaiki, akses menuju pantai dan lokasi wisata lainnya di Cianjur Selatan jadi lebih mudah. Tidak heran kemudian bermunculan spot bagus yang diupload wisatawan dan jadi terkenal karena viral.
Dulu menuju Cianjur dari Kabupaten Bandung cukup menyeramkan karena jalannya rusak, lewat hutan dan perkebunan yang sepi sehingga ditengarai rawan kecelakaan dan kriminal.
Kini apalagi setelah Bapak Aing KDM Gubernur Jabar touring melintas jalur lintas selatan itu terekspos lah jalan mulus, terang dengan lampu yang estetik, para pelancong pun makin gencar bepergian.
Momennya berdekatan dengan pembersihan jalur puncak, sehingga banyak pedagang dan penikmat suasana kebun teh yang beralih pindah ke Cianjur bagian kidul ini.
Salah satu jalan dan daerah yang viral di Cianjur Selatan itu adalah jalan menuju kecamatan Naringgul.
Kecamatan Naringgul di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, viral karena dua hal utama baru-baru ini. Pertama kondisi sekolah yang memprihatinkan dan kedua destinasi jalan wisata yang unik.
Kondisi Memprihatinkan di Naringgul
Sekolah setingkat SMP viral di media sosial setelah sebuah video memperlihatkan kondisi tiga ruang kelas SMP Swasta SCBP di Naringgul yang masih beralas tanah.
Lokasi sekolah ini berada di Kampung Tarisi, Desa Malati, Kecamatan Naringgul.
Kondisi sekolah tergambar hanya memiliki tiga ruangan kelas untuk belajar. Lantainya masih berupa tanah dan banyak bagian bangunan yang rusak serta berlubang. Hal itu yang memicu perhatian warganet terhadap fasilitas pendidikan di pelosok Cianjur
Keindahan Wisata Celah Sempit Jalan Genteng Naringgul
Selain kisah sekolah, wisata Celah Sempit Jalan Genteng juga ramai diburu pengendara dan wisatawan.
Daya tarik celah ini menawarkan panorama perbukitan hijau dengan udara sejuk pegunungan.
Keunikan jalur jalan yang diapit tebing sempit menjadi daya tarik tersendiri bagi pecinta jalan santai maupun pengendara motor.
Selain dua hal itu, Naringgul juga punya sisi dunia lain yang memperlihatkan bagaimana masyarakat di sana masih begitu kuat memegang tradisi Sunda yang masih kokoh ditengah gempuran kemodernan.
Kampung Adat Miduana Cianjur
Adalah Kampung Adat Miduana yang juga berada di Naringgul, tempat yang menarik untuk bisa mengenal lebih dekat kehidupan masyarakat Sunda dan kearifan lokal yang masih bertahan di tengah perkembangan zaman.
Kampung ini berada di Desa Balegede, Kecamatan Naringgul, Kabupaten Cianjur, bagian Selatan. Pemerintah Kabupaten Cianjur telah menetapkan Miduana sebagai kampung adat sejak tahun 1999. Sampai sekarang, masyarakatnya masih mempertahankan berbagai aturan adat, tradisi, kesenian, serta pola kehidupan yang diwariskan oleh leluhur.
Salah satu hal yang membuat Kampung Adat Miduana menarik adalah keberadaan berbagai tradisi seperti Kuramasan, Mandi Kahuripan, Dongdonan Salapan Wali Puhun, Lanjaran Tatali Paranti, dan Opatlasan Mulud.
Namun, di tengah modernisasi dan perubahan gaya hidup, tradisi tersebut menghadapi tantangan dalam hal pewarisan kepada generasi berikutnya.
Di Mana Letak Kampung Adat Miduana?
Kampung Adat Miduana berada di Desa Balegede, Kecamatan Naringgul, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.
Letaknya berada di kawasan Cianjur Selatan yang dikelilingi perbukitan dan lingkungan alam yang masih relatif asri. Kondisi geografis tersebut ikut memengaruhi kehidupan masyarakatnya.
Rumah-rumah tradisional juga masih dapat ditemukan di kawasan tersebut. Salah satu cirinya adalah rumah panggung dengan penggunaan ijuk dari pohon enau atau kawung sebagai bahan atap.
Kampung ini terdiri dari 21 rumah yang dihuni oleh 21 keluarga. Rumah di kampung ini juga masih sangat tradisional berupa rumah panggung dengan dinding berupa bilik bambu.
Uniknya lagi, semua rumah berbentuk sama dan memiliki kesamaan bentuk serta ciri khas. Dimana bagian pintu harus menghadap ke arah selatan.
Setiap rumah juga terdapat gowah, nama tempat untuk menyimpan padi serta parukuyan sebutan untuk tempat menyimpan beras.
Gowah dan parukuyan itu harus dilalui jika warga kampung adat hendak ke jamban untuk sekadar mandi ataupun buang air.
Jangan tanya kenapa… Tradisinya memang begitu, tidak boleh ke jamban atau toilet tanpa melalui gowah dulu. Sampai sekarang tradisi atau budaya itu masih dijaga. Makanya warga Miduana kalau mau buat jamban selalu di arah yang nantinya akan melewati gowah.
Masyarakat Miduana sejak dahulu memiliki hubungan yang erat dengan alam. Sebagian masyarakat masih bekerja sebagai petani dan penyadap aren. Kehidupan yang sederhana dan dekat dengan alam menjadi salah satu ciri masyarakat kampung ini.
Sejarah Singkat Kampung Adat Miduana
Sejarah Miduana tidak dapat dipisahkan dari cerita tentang leluhur masyarakat setempat.
Menurut catatan sejarah dan penuturan yang dihimpun sejumlah penelitian, kawasan ini berkaitan dengan tokoh leluhur bernama Eyang Jagat Sadana, yang dipercaya membuka wilayah yang kemudian menjadi Kampung atau Dusun Miduana.
Sebelumnya, Jagat Nata dan Jagat Niti disebut sebagai tokoh yang membuka wilayah Balegede. Nama Balegede sendiri dikaitkan dengan tempat perjumpaan besar atau pasamoan. Dari keturunan Jagat Niti kemudian lahir Jagat Sadana yang membuka kawasan Miduana.
Cerita mengenai asal-usul tersebut sampai sekarang menjadi bagian dari ingatan dan identitas masyarakat Miduana.
Karena sebagian sejarahnya diwariskan melalui cerita dan tuturan, keberadaan para sesepuh atau kokolot adat sangat penting dalam menjaga pengetahuan tersebut.
Kuramasan, Tradisi Menyambut Bulan Ramadan
Salah satu tradisi Kampung Adat Miduana yang cukup dikenal masyarakat luas adalah Kuramasan.
Kuramasan dilakukan menjelang bulan Ramadan. Secara sederhana, tradisi ini berupa kegiatan membersihkan atau menyucikan diri dengan mandi atau keramas.
Masyarakat biasanya menuju aliran Sungai Cipandak untuk melaksanakan tradisi tersebut. Kegiatan ini dapat dilakukan secara bersama-sama dan menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk berkumpul serta mempererat hubungan sosial.
Namun, makna Kuramasan sebenarnya lebih dalam daripada sekadar mandi sebelum Ramadan.
Penelitian yang diterbitkan UIN Sunan Gunung Djati Bandung pada 2026 menjelaskan bahwa Kuramasan berkaitan dengan pembersihan diri secara lahir dan batin, penghormatan terhadap warisan leluhur, sekaligus memperkuat hubungan sosial masyarakat.
Dengan kata lain, Kuramasan mengandung pesan sederhana: Sebelum memasuki bulan suci, manusia diajak membersihkan diri sekaligus memperbaiki hubungan dengan sesama.
Tradisi ini masih dilaksanakan hingga sekarang. Jadi, kurang tepat jika dikatakan Kuramasan sudah punah. Justru yang perlu dijaga adalah agar makna dan nilai di balik tradisi tersebut tetap dipahami oleh generasi muda.
Dongdonan Salapan Wali Puhun, Warisan yang Tidak Sekadar Cerita
Tradisi lain yang sangat menarik adalah Dongdonan Salapan Wali Puhun.
Bagi masyarakat umum, istilah ini mungkin terdengar asing. Padahal, penelitian akademik yang diterbitkan dalam Jurnal Pustaka Universitas Udayana pada Februari 2026 menunjukkan bahwa tradisi tersebut masih hidup di Kampung Adat Miduana.
Penelitian itu dilakukan melalui wawancara dengan tokoh adat, observasi, dan dokumentasi. Hasilnya menunjukkan bahwa Dongdonan Salapan Wali Puhun bukan hanya cerita tentang leluhur.
Tradisi lisan tersebut mengandung ajaran etika, nilai sosial, spiritualitas, dan pengetahuan tentang hubungan manusia dengan alam.
Di dalamnya terdapat berbagai praktik dan pengetahuan adat yang diwariskan secara turun-temurun.
Karena bentuknya banyak disampaikan secara lisan, keberadaan sesepuh adat memiliki peran penting. Dan disinilah tantangannya.
Jika generasi muda tidak lagi tertarik mendengarkan, mempelajari, atau meneruskan cerita tersebut, pengetahuan yang selama ini disimpan dalam ingatan para sesepuh bisa semakin sulit diwariskan.
Mandi Kahuripan dan Tradisi Kehidupan Masyarakat
Selain Kuramasan, masyarakat Miduana juga mengenal Mandi Kahuripan.
Tradisi ini termasuk dalam rangkaian kebiasaan adat yang masih tercatat sebagai bagian dari kehidupan masyarakat Miduana. Penelitian mengenai tradisi Miduana juga menyebut Mandi Kahuripan sebagai salah satu kegiatan yang memiliki fungsi sosial, termasuk memperkuat kebersamaan masyarakat.
Tradisi semacam ini menunjukkan bahwa masyarakat dahulu tidak hanya memandang kegiatan bersama sebagai rutinitas. Melainkan ada nilai kebersamaan yang ingin dipertahankan.
Masyarakat berkumpul, saling berinteraksi, dan menjaga hubungan sosial melalui kegiatan yang diwariskan oleh orang-orang terdahulu.
Lanjaran Tatali Paranti, Aturan yang Menjadi Pedoman Hidup
Masyarakat adat tidak hanya mempunyai upacara atau ritual. Mereka juga mempunyai aturan kehidupan yang diwariskan dari generasi sebelumnya.
Salah satunya adalah Lanjaran Tatali Paranti, yang berkaitan dengan aturan dan kebiasaan adat masyarakat Miduana.
Jangan heran kalau di Miduana jika akan ke kamar mandi, harus melewati leuit (tempat menyimpan beras) dan parukuyan
Dalam kehidupan masyarakat adat, aturan seperti ini menjadi semacam pedoman agar kehidupan bersama tetap berjalan sesuai nilai yang diyakini.
Penelitian tentang Miduana menunjukkan bahwa masyarakat masih memegang berbagai aturan adat dan pamali. Pamali dapat dipahami secara sederhana sebagai larangan atau pantangan yang tidak boleh dilanggar menurut adat.
Bagi masyarakat modern, beberapa aturan tersebut mungkin terlihat sederhana atau bahkan asing.
Namun, jika dipahami lebih dalam, sebagian aturan adat tersebut memiliki fungsi sosial dan lingkungan.
Opatlasan Mulud
Ada pula tradisi Opatlasan Mulud yang termasuk dalam tradisi masyarakat Kampung Adat Miduana.
Tradisi ini berkaitan dengan peringatan bulan Mulud atau Rabiul Awal dalam kalender Islam.
Keberadaan tradisi ini menunjukkan adanya perpaduan antara nilai keagamaan dengan kebudayaan lokal Sunda yang berkembang di masyarakat.
Menariknya, berbagai tradisi di Miduana tidak berdiri sendiri. Ada hubungan antara agama, adat, kehidupan sosial, sejarah leluhur, dan lingkungan.
Hal inilah yang membuat budaya Kampung Adat Miduana memiliki karakter tersendiri.
Bukan Hanya Tradisi, Miduana Juga Memiliki Kesenian Buhun
Kampung Adat Miduana juga memiliki sejumlah kesenian tradisional.
Beberapa di antaranya adalah Wayang Gejlig, Nayuban, Lais, wayang golek, calung, rengkong, reog, tarawangsa, dan patun buhun.
Kesenian tersebut bukan hanya hiburan.
Pada masyarakat tradisional, kesenian sering menjadi media untuk menyampaikan cerita, nasihat, nilai kehidupan, dan pengetahuan kepada masyarakat.
Salah satunya adalah Wayang Gejlig yang dalam kajian tentang Miduana disebut memiliki fungsi edukasi moral.
Sayangnya, kesenian tradisional menghadapi tantangan yang hampir sama di banyak daerah: perubahan selera masyarakat dan semakin banyaknya pilihan hiburan modern.
Mengapa Tradisi Miduana Mulai Tergerus?
Penting untuk diluruskan bahwa tradisi di Miduana belum hilang.
Bahkan penelitian terbaru tahun 2026 menunjukkan bahwa Dongdonan Salapan Wali Puhun masih menjadi tradisi yang hidup dan digunakan dalam kehidupan masyarakat. Kuramasan juga masih dilaksanakan menjelang Ramadan.
Namun, bukan berarti tradisi tersebut tidak menghadapi ancaman.
Perubahan zaman membuat cara masyarakat belajar dan berinteraksi berubah.
Anak-anak muda sekarang lebih banyak mendapatkan informasi dari sekolah, internet, media sosial, televisi, dan berbagai sumber digital.
Sementara itu, banyak pengetahuan adat diwariskan melalui cerita lisan dari orang tua, sesepuh, atau tokoh adat.
Jika proses pewarisan tersebut tidak berjalan dengan baik, bukan tidak mungkin suatu saat generasi muda hanya mengetahui nama tradisinya tanpa memahami maknanya.
Itulah bentuk perubahan budaya yang perlu diperhatikan.
Jangan Menyalahkan Generasi Muda
Melestarikan budaya tidak berarti anak muda harus kembali hidup seperti masyarakat zaman dahulu.
Justru budaya perlu diperkenalkan menggunakan cara yang sesuai dengan zaman sekarang.
Misalnya, cerita tentang Kampung Adat Miduana bisa dibuat menjadi video pendek.
Sejarah leluhur dapat didokumentasikan.
Cerita dari sesepuh dapat direkam dalam bentuk audio atau video.
Kesenian tradisional bisa diperkenalkan melalui media sosial.
Bahkan anak-anak muda dapat membuat konten sederhana seperti:
“5 Hal Unik di Kampung Adat Miduana yang Tidak Banyak Orang Tahu.”
Cara seperti ini dapat membuat budaya lokal lebih dekat dengan generasi muda.
Apa yang Bisa Dilakukan Agar Tradisi Miduana Tetap Hidup?
Ada beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan.
1. Dokumentasikan cerita para sesepuh
Orang-orang tua merupakan sumber pengetahuan yang sangat berharga. Cerita mereka sebaiknya direkam dan didokumentasikan sebelum hilang bersama generasinya.
2. Kenalkan budaya di sekolah
Sekolah khususnya di Cianjur dapat menjadi tempat untuk mengenalkan budaya lokal. Tidak harus melalui pelajaran yang berat.
Bisa melalui tugas membuat video, wawancara tokoh adat, kunjungan budaya, atau pertunjukan seni.
3. Gunakan media sosial
Tradisi tidak harus selalu ditampilkan dalam acara resmi.
Instagram, TikTok, YouTube, dan media sosial lainnya bisa menjadi tempat memperkenalkan budaya Cianjur kepada masyarakat yang lebih luas.
4. Berikan ruang kepada anak muda
Anak muda sebaiknya tidak hanya menjadi penonton. Mereka bisa dilibatkan sebagai pembuat dokumentasi, pengelola media sosial, fotografer, videografer, maupun pelaku seni.
Dengan begitu, pelestarian budaya tidak terasa sebagai sesuatu yang kuno.
5. Jangan hanya mempertahankan bentuk, tetapi pahami maknanya
Ini yang paling penting. Melestarikan budaya bukan sekadar memakai pakaian adat atau mengadakan pertunjukan. Yang lebih penting adalah memahami nilai yang ada di balik tradisi tersebut.
Ada lagi ide atau cara lainnya? Boleh sampaikan di komentar ya... ( Nuhun pisan... )
Kampung Adat Miduana dan Pelajaran untuk Kita
Kampung Adat Miduana memberikan sebuah pelajaran penting. Bahwa modernisasi tidak selalu harus membuat manusia meninggalkan akar budayanya.
Masyarakat dapat menggunakan teknologi modern sambil tetap menjaga nilai-nilai leluhur.
Tradisi Kuramasan mengajarkan pentingnya membersihkan diri dan mempererat hubungan sosial.
Dongdonan Salapan Wali Puhun menyimpan pengetahuan tentang etika, kehidupan sosial, spiritualitas, dan hubungan manusia dengan alam.
Sementara kesenian tradisional menjadi media untuk menyampaikan cerita dan nilai kehidupan. Semua itu merupakan bagian dari identitas masyarakat Cianjur.
Setoran Artikel #ISBBudaya
Kampung Adat Miduana Cianjur bukan sekadar kampung tua yang masih memiliki rumah tradisional. Di dalamnya terdapat cerita tentang leluhur, aturan adat, kesenian, tradisi keagamaan, kehidupan agraris, dan hubungan manusia dengan alam.
Sebagian tradisi masih dilakukan hingga sekarang. Namun, tantangan terbesar ke depan adalah bagaimana pengetahuan tersebut dapat terus diwariskan kepada generasi muda. Saya menuliskan ini sebagai informasi untuk manteman semuanya.
Sebab budaya bisa saja masih terlihat secara fisik, tetapi perlahan kehilangan maknanya jika tidak lagi dipahami. Karena itu, menjaga Kampung Adat Miduana bukan hanya tugas pemerintah atau tokoh adat. Masyarakat, sekolah, orang tua, dan generasi muda juga memiliki peran yang sama pentingnya. Termasuk kita para blogger dan warga negara Indonesia.
Tidak harus dimulai dengan sesuatu yang besar.
Sebagai orang Cianjur, dengan mengenal sejarah kampung sendiri, bertanya kepada orang tua tentang tradisi, mempelajari kesenian lokal, atau membuat satu video tentang budaya Cianjur ini pun sudah menjadi langkah kecil untuk menjaga warisan leluhur, bukan?
Jangan sampai generasi berikutnya hanya mengenal Miduana dari cerita.
Selama masih ada orang yang mau belajar, menceritakan, dan meneruskannya, insyaallah tradisi itu masih memiliki kesempatan untuk tetap hidup.

































