Rabu, 10 Juni 2026

Garut Sukabumi Berakhir di Bakso Buver

Ngahuleng ketika membaca tema terakhir yang diberikan Teh Ani dalam kegiatan rutinan ngeblog beberapa bulan lalu.

Udahlah saya terlambat mengerjakannya karena beberapa waktu lalu blognya sedang dimaintenance, ditambah tertinggal banyak dibanding teman-teman satu group yang sudah pada setor. Jadi makin gemeteran kan…

Tugasnya “Tulis pengalaman traveling yang belum sempat dituliskan di blog”

Waduh, kan jadi mikir, selama ini saya pergi kemana saja ya? Apakah ada yang belum pernah saya tulis?

Di era digital seperti sekarang, yang apa-apa serba upload di sosmed rasanya sulit menemukan kegiatan yang belum dipublikasikan. Minimal di sosial media ada aja yang diunggah.

Tapi kalau diceritakan di blog, kan mikirnya paling enggak kisah yang agak berbobot, memiliki kesan atau ada manfaat yang bisa dibagikan. Kalau sekedar bepergian berupa rutinitas sehari-hari macam saya di kampung, seperti ke kebun, ke rumah mertua, ke rumah almarhum ibu, rasanya gak ada yang menarik juga untuk diceritakan. Walau tidak menutup kemungkinan jika memang bagus bisa jadi ajang journaling seperti Catatan Harian Rani R Tyas 

Sejak anak masuk pondok, saya dan suami hampir tidak pernah melakukan traveling. Kegiatan sehari-hari ya begitu-begitu saja. Mungkin saking gak kepikiran pergi kemana, sampai saya jadi lupa? Haha, pikun…

Karena beneran blank, pengen tahu beberapa waktu terakhir ini kemana saja saya pernah bepergian, cara paling mudah adalah dengan melacak rekam jejak digital yang ada di ponsel.

Cara Lacak Rekam Jejak Digital Melalui Ponsel

Ada beberapa metode yang bisa kita gunakan:

1. Menggunakan Linimasa Google Maps (Android)

Karena saya menggunakan ponsel Android, Google Maps secara otomatis merekam riwayat perjalanan saya. Duh, nuhun pisan ya Gel. Kamu teh meni pengertian pisan

Cara supaya saya tahu selama ini saya ngider kemana aja, buka aplikasi Google Maps, lalu ketuk foto profil atau inisial akun kita di sana.

Pilih menu Linimasa Anda (Your Timeline). Pilih tanggal atau bulan tertentu untuk melihat rute perjalanan dan lokasi yang pernah kita singgahi.

Tara…! Akhirnya saya ngeh, kalau saya pernah pergi ke Garut dan pergi ke Sukabumi. Yeay! Ternyata saya pernah traveling lagi setelah sekian puluh purnama terlewati dan berasa hanya diam di rumah kampung saja.




Dua perjalanannya itu bareng suami menggunakan sepeda motor dan menggunakan jalan alternatif alias jalan tikus (bukan kami dan sepeda motor mengecil masuk lubang tikus ya…)

Ke Garut, kami naik motor berangkat dari Cianjur Kota. Terus ke Bandung, ke Cileunyi ke Nagreg sampai Leles Garut. 

Tujuan kami ke Pondok Pesantren Alfutuhat. Di sana suami silaturahmi sekaligus ikut belajar selama sekitar semingguan. Ponpesnya walau menganut sistem salafi tapi sudah modern. Ada penginapan khusus suami istri seperti kami, juga minimarket yang dikelola santri.

Pertama kali belanja kaget kok ini namanya Alfu Mart? Apa salah cetak?

Ternyata emang bener. Alfu Mart diambil dari nama pesantrennya Alfutuhat Mart.

Pulang dari Alfutuhat kami tidak lewat Nagreg lagi, melainkan lewat Cijapati. Terus ke Soreang, Ciwidey hingga ke Rancabali. Jadi kami pulang ke Pagelaran Cianjur lewat lintas tengah selatan. Alhamdulillah perjalanan lancar dan nambah pengalaman.

Waktu ke Sukabumi kami mengendarai kendaraan bermotor juga dari Cianjur kota. Start dari rumah warisan mertua seperti biasa. Tujuan ke pondok pesantren juga yang lokasinya di daerah Gunungpuyuh.

Di ponpes ini suami ikut pasaran. Rencana sepuluh harian kami belajar tapi baru tiga hari suami sakit. Akhirnya kami pulang. Dan jalan yang kami lewati kembali asruk-asrukan melipir ke perkebunan teh mulai dari Gunungpuyuh ke Gegerbitung lanjut ke Takokak, Sukanagara sampai deh di Pagelaran.

Di Gunungpuyuh antara santri putra dan putri terpisah. Saya yang tidak ikut pasaran (tidak seserius santriwati asli, maksudnya) lebih banyak ke memperhatikan pola dan tingkah laku para santriwati.

Kehidupan di kobong (asrama) yang teramat sederhana menjadikan mereka tidak lagi jaga image. Tapi yakin kalau di rumah masing-masing mereka pasti sudah dididik dengan tips parenting modern.

Saking sederhananya kami di kobong saat itu, makan bersama iuran per orang lima ribu rupiah untuk lima hari. Satu kelompok ada sepuluh orang. Jadi untuk beli lauk makan tiga kali sehari selama lima hari ada 50 ribu rupiah. Bayangkan, lauk apa yg bisa bertahan selama lima hari dengan uang 50 ribu untuk 10 orang?

Kalau beras kebetulan ada yang bawa, jadi tidak usah beli. Saya pikir santri-santri ini hemat amat. Yang seperti ini nih seharusnya mendapatkan jatah MBG.

Makan memang sangat sederhana. Tapi ternyata jajannya, wow… luar biasa! Seblak, gorengan, bakso, cilok dan semua pedagang yang lewat maupun jajanan di warung hampir semua mereka borong. Tepok jidat saya jadinya.

Gak heran waktu masak yang bagian piket asal-asalan. Alasan gak bakalan ada yang makan. Lah bagaimana mau makan kalau kebanyakan pada kenyang jajan?

Mungkin hanya sebagian yang bekalnya menipis yang larinya baru ke dapur. Makan seadanya itu.




Saya jadi kasihan ke suami. Dan kepikiran apa penyebab dia sakit juga karena soal makanan ini?

Secara di rumah kan terbiasa makan cukup dan teratur. Walaupun lauknya sederhana tapi kenyang. Lah di pondok ini makan bareng (bisa dibilang rebutan) mana suami tipe pendiam dan pemalu. Bisa saya bayangkan dia mah daripada makan bareng-bareng gitu lebih baik nahan lapar… 




Saya sendiri gak bisa menyediakan atau bantu secara kami kan terpisah. Susah komunikasi juga karena sinyal timbul tenggelam.

Waktu Fahmi anak kami nelepon dari Solok Sumatera Barat saja sampai berkali-kali gagal hingga anak kecewa. Padahal saya udah berusaha mencari sinyal. Mencari tempat yang diperkirakan bisa dengan baik menerima telepon maksudnya.

Tiga hari kemudian karena suami sakit itu tadi kami izin pulang, deh.

Cara selanjutnya mengetahui kemana aja kita pernah bepergian dengan melihat rekam jejak digital yang ada di ponsel untuk pengguna iPhone.

2. Menggunakan Fitur Tempat di iPhone (iOS)

Pengguna perangkat Apple memiliki fitur bawaan untuk melihat riwayat lokasi.

Caranya buka aplikasi Peta (Maps) di iPhone. Ketuk menu Tempat, lalu pilih Pernah Dikunjungi.

Manteman bisa memfilternya berdasarkan tanggal, kategori, atau kota.

3. Cek Riwayat Foto dan Video

Galeri ponsel kita menyimpan metadata lokasi yang akurat berdasarkan Geo-tagging.

Buka aplikasi Google Foto atau Apple Foto. Cari berdasarkan nama kota atau tempat di bilah pencarian. Jika kita pernah mengambil foto di sana, foto tersebut akan muncul lengkap dengan tanggal dan lokasi pastinya. Jadi kita bisa tahu pernah ke mana aja dan itu kapan.

4. Cek Histori Transaksi (Riwayat Pembelian)

Bukti transaksi digital juga bisa menjadi penunjuk yang kuat.

Periksa riwayat pemesanan di aplikasi tiket perjalanan (seperti Traveloka, Tiket.com, atau KAI Access)

Cek mutasi atau riwayat transaksi di aplikasi perbankan (seperti M-Banking) pada tanggal tertentu untuk melihat pembayaran di lokasi tertentu.

---

Nah dengan demikian kita jadi tidak lagi lupa selama ini pernah ke mana aja. Termasuk saya, selain ke Garut dan Sukabumi, yang terbaru berdasarkan foto dan video geo-tagging saya dan suami juga ternyata pernah makan ke Bakso Buver.




Hal yang tidak akan terlupakan disini adalah ketika sedang asyik menikmati bakso dan juice mangga eh listrik mati. Dan karena di bakso itu tidak ada lampu emergency jadinya kami makan sambil gelap-gelapan. Hihi… pakai lampu penerang dari ponsel sih, tapi tetap tidak maksimal. Walaupun begitu makan baksonya tetap lancar dan habis dong.



Read more ...

Kamis, 04 Juni 2026

Cerita Perjalanan Tumbler Kesayangan Anak Dibawa Masuk Pondok

Baru terasa sendiri bagaimana perasaan Mama Haidar bulan Syawal lalu saat mengantarkan anak ke Pondok. Haidar ini teman seperjuangan Fahmi masuk pondok asal DKI Jakarta. Ibunya asli Bandung, jadi saya dan mereka berasa cocok jadi besti di jajaran wali santri. Haha…

Di bandara dengan gayanya yang khas Mama Haidar bercerita kalau keberangkatan ke pondok awal tahun ini melebihi riweuhnya awal masuk pondok tahun lalu. 

Perlu diketahui, kalau pondok pesantren yang jadi tempat putra kami belajar menggunakan penanggalan tahun ajaran Hijriyah. Beda dengan sekolah yang menginduk ke Depdikbud atau Depag, yang kenaikan kelas jatuh pada bulan Juni dan Juli, sekolah tempat anak saya belajar sekarang kenaikan kelasnya pada bulan Syaban. Libur Ramadan dan masuk tahun ajaran baru pada bulan Syawal.

“Dulu baru masuk piring dan tumbler cukup bawa satu. Sekarang naik kelas malah bawa semua serba setengah lusin. Mau jualan apa gimana ini anak. Piring enam buah. Botol minum juga. Sendok garpu mah udah gak kehitung. Belum gayung, ember dan perintilan lainnya…”


Piring setengah lusin dibawa ke pondok


Saya tertawa saja saat itu mendengarnya. Fahmi anak kami juga bawa peralatan makan kesayangan nya dalam koper untuk dibawa dan dipakai di pondok. Tapi tidak sebanyak itu.

Piring enamel satu buah dibeli di Pondok Gorda. Karena kami masuk pondok daftar di Ponorogo sementara mendapatkan penempatan rayon di Solok Sumatera Barat. Jadi persiapan masuk pondok semua dilakukan dari Ponorogo.

Sedangkan tumbler bawa satu, tumbler dengan logo piala dunia tahun 2014 kalau gak salah. Ya, itu tumbler bawa dari rumah. Sesayang itu sama tumblernya, sampai mau dibawa ke pondok untuk pertama kalinya.

“Buat teman Ami jadi berasa makan minum di rumah gitu, Bu” begitu alasannya.

Tapi libur semester pertama pada bulan Rabiul Awwal, tumbler kesayangan berlogo bolanya itu dibawa pulang. Katanya sayang, takut hilang. Secara piring sendok sudah hilang berkali-kali dan membelinya sebagai pengganti. Entah kenapa kalau tumblernya aman. Selamat hingga kembali ke rumah setelah ikut mondok selama kurang lebih satu semester.


Tumbler kesayangan Fahmi


Balik pondok tahun lalu, dari Cianjur kembali bawa piring baru, dan tumbler baru. Kali ini bawa masing-masing dua buah, dengan botol minum yang kekinian dibeli di MR. DIY dengan ukuran lebih kecil. Bukan endorse, tapi emang alat makan di MR. DIY saat itu yang di Cianjur baru buka banyak pilihannya. Disukai anak karena mungkin banyak pilihan. Mulai dari yang polos sampai ada gambar kekinian. Macam karakter yang suka dibuat teman blogger nengtantidoodle.

Fahmi pernah jumpa dengan Mak Neng Tanti waktu saya bawa acara workshop di Abu Marlos Kitchen di Bandung. Saat itu bersama Mbak Astri Damayanti, kami belajar jahit dan Mak Neng memberikan saya alat warna yang cukup banyak.

Fahmi yang saat itu masih balita senang banget menggunakan alat warna pemberian Mak Neng. Saat itu belum ada Canva edisi mobile. Jadi anak belum familiar karena saya aja kalau mau pakai Canva harus buka websitenya. Menggambar langsung di kertas atau media lain seperti diajarkan Mak Neng jadi kegiatan Fahmi yang mengasyikkan.

Mungkin karena itu pilihan anak jadi jatuh pada tumbler yang imut dan ada gambar karakter. Selain alasan lainnya botolnya kecil biar bisa masuk saku dan mudah dibawa ke kelas.

Saat libur kenaikan kelas dua, Syaban kemarin, yang kembali ke rumah lagi-lagi hanya tumbler nya. Itupun talinya udah putus. Sepertinya saking sering dijinjing dan diputer giling (waktu dibawa saat berjalan) kalau piring dan alat makan lain, percis seperti mereka yang sudah pinjam uang tapi susah bayar, hilang ga ada kabarnya.

Dan karena itu akhirnya kena giliran saya yang hunting peralatan makan buat anak dibawa ke pondok masing-masing setengah lusin! Haha…

Kenapa harus sebanyak itu? Itu ukuran sedang setidaknya selama satu semester. Diperkirakan kalau sebulan sekali hilang piring, pas kan jumlahnya? Ntar libur semester pertama baru hunting lagi. Wkwkwkwkwk... 

Bawa atau beli terlalu banyak juga gak mungkin karena kapasitas lemari penyimpan barang anak di rayon juga terbatas. Bisa-bisa anaknya kena hukum kalau lemari overload.

Bukan juga gak bisa beli di pondok, hanya selain harga beda, juga kebanyakan piring yang dijual di koperasi pondok di sana itu hampir samaan. Kesempatan piring ketukar dengan sesama santri jadi sangat besar. Kalau beli sendiri kan lumayan beda. Baik warna maupun modelnya.

Ngalamin juga deh jelang lebaran orang lain itu milih pakaian, kue dan bahan olahan buat hari raya, saya mah milih piring dan tumbler. Seperti mau bakulan alat rumah tangga, saja. Cari yang murah meriah tapi kualitasnya lumayan. Karena kalau cari yang bagus plus mahal, sayang banget karena nanti tidak lama sampai pondok dipastikan bakal hilang lagi.

Entah bagaimana itu anak santri makannya. Karena baik kelas rendah maupun kelas atas wali santrinya di group sering cerita selalu kehilangan. Gak hanya alat makan, tapi juga peralatan mandi, sendal, sepatu dan pakaian.

Piring dan alat makan lainnya sampai sering hilang, apa ikut dimakan juga? Wadidaw! Gak heran Fahmi lebih memilih memulangkan tumbler kesayangan nya ke rumah. Biar aman, sebelum hilang.




Read more ...

Rabu, 03 Juni 2026

Harga Bus Listrik dan Perkembangannya di Indonesia

Perkembangan kendaraan listrik di Indonesia semakin pesat, termasuk pada sektor transportasi publik. Yah, walaupun ke daerah tempat saya tinggal bus memang belum ada. Jangankan kendaraan listrik, angkot aja masih belum lahir.

Tapi sempat baca lupa dimana gitu, kalo salah satu topik yang banyak dicari saat ini adalah harga bus listrik. Kenapa? Banyak perusahaan transportasi dan pemerintah daerah mulai mempertimbangkan penggunaan bus listrik karena dinilai lebih ramah lingkungan dan efisien dalam jangka panjang.


Harga bus listrik


Meski investasi awal kendaraan listrik masih tergolong tinggi dibanding bus konvensional, banyak pihak mulai melihat potensi penghematan biaya operasional yang ditawarkan. Mungkin karena itu juga kali ya, pembahasan mengenai harga bus listrik menjadi penting bagi pelaku industri transportasi maupun masyarakat yang ingin memahami perkembangan teknologi kendaraan listrik di Indonesia.

Informasi mengenai tren dan perkembangan kendaraan listrik dapat dilihat melalui INVI Indonesia Blog yang membahas berbagai aspek terkait bus listrik modern dan potensinya di masa depan.

Faktor yang Mempengaruhi Harga Bus Listrik

Ada beberapa faktor utama yang memengaruhi harga bus listrik di pasar. Salah satunya adalah kapasitas baterai yang digunakan. Semakin besar kapasitas baterai, semakin tinggi pula harga kendaraan karena baterai merupakan komponen paling penting sekaligus paling mahal pada kendaraan listrik.

Selain itu, teknologi yang digunakan pada sistem penggerak dan fitur kendaraan juga turut memengaruhi harga. Bus listrik modern umumnya dilengkapi teknologi keselamatan, sistem manajemen energi, hingga fitur kenyamanan penumpang yang lebih canggih dibanding bus konvensional.

Ukuran dan kapasitas bus juga menjadi faktor penting. Bus listrik berukuran besar untuk kebutuhan transportasi massal tentu memiliki harga yang berbeda dibanding kendaraan listrik berkapasitas lebih kecil.

Di Indonesia, biaya impor komponen dan perkembangan infrastruktur pengisian daya juga ikut memengaruhi harga kendaraan listrik secara keseluruhan. Namun, seiring meningkatnya penggunaan kendaraan listrik, harga diperkirakan akan semakin kompetitif di masa depan.

Keunggulan Bus Listrik Dibanding Bus Konvensional

Meskipun harga bus listrik relatif lebih tinggi pada tahap awal pembelian, kendaraan ini menawarkan banyak keuntungan dalam jangka panjang. Salah satunya adalah efisiensi biaya operasional karena bus listrik tidak membutuhkan bahan bakar solar.


Harga bus listrik


Biaya perawatan kendaraan listrik juga cenderung lebih rendah karena motor listrik memiliki lebih sedikit komponen bergerak dibanding mesin diesel. Hal ini membantu operator transportasi mengurangi biaya servis dan perawatan rutin.

INVI Indonesia menghadirkan solusi kendaraan modern yang mendukung kebutuhan transportasi ramah lingkungan di Indonesia. Teknologi kendaraan listrik yang semakin berkembang membuat performa bus listrik kini mampu bersaing dengan kendaraan konvensional.

Selain efisiensi biaya, bus listrik juga memberikan manfaat besar bagi lingkungan karena tidak menghasilkan emisi gas buang secara langsung. Ini menjadi salah satu alasan banyak kota besar mulai beralih menggunakan armada listrik untuk transportasi publik.

Tren Penggunaan Bus Listrik di Indonesia

Penggunaan bus listrik di Indonesia terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Banyak pemerintah daerah mulai melakukan uji coba hingga pengadaan armada listrik untuk mendukung sistem transportasi publik yang lebih modern dan ramah lingkungan.

Masyarakat juga mulai memberikan perhatian lebih terhadap kendaraan listrik karena dianggap mampu membantu mengurangi polusi udara di perkotaan. Dukungan terhadap energi bersih dan pengembangan infrastruktur pengisian daya menjadi faktor penting dalam percepatan penggunaan kendaraan listrik.

Selain sektor transportasi publik, bus listrik juga mulai digunakan untuk kebutuhan pariwisata, transportasi perusahaan, dan shuttle area industri.


Harga bus listrik


Masa Depan Harga Bus Listrik

Seiring berkembangnya teknologi dan meningkatnya produksi kendaraan listrik, harga bus listrik diperkirakan akan semakin terjangkau. Inovasi baterai dan meningkatnya investasi di industri kendaraan listrik dapat membantu menekan biaya produksi di masa mendatang.

Besar harapan saya melalui informasi dan perkembangan yang dibahas di Halaman Tren Harga Bus Listrik INVI Indonesia itu, masyarakat dan pelaku industri dapat memahami potensi besar kendaraan listrik dalam mendukung masa depan transportasi Indonesia yang lebih efisien dan berkelanjutan.

Kedepannya semoga saja bus keren ini bisa hadir di Cianjur Selatan juga. Eh, jangan dulu bus listrik deh, ojek online aja dulu yang wajib ada mah kali ya...


Read more ...

Kamis, 14 Mei 2026

Kenapa Kita Harus Mempelajari AI?

Gara-gara ada kesempatan mendapatkan benefit dari akun Thread, mau tidak mau akhirnya saya instal dan buat akun di sana. Padahal sebelumnya saya tidak tertarik buat akun itu. Merasa di sosial media X yang dulunya bernama Twitter sama aja. Di sana kan mirip juga dengan pola kerjanya di Thread ini ya…

Karena sudah instal dan bikin akun yang terintegrasi langsung dengan Instagram iseng membuka akun Thread dan tanpa diduga sudah ada 20 orang teman di Instagram langsung follow dan berteman dengan saya di akun baru Thread ini. Saya juga langsung follow balik dong.

Dan karena saran dari teman-teman ini, banyak muncul postingan (mirip ajakan) tentang ide bisnis, belajar bikin poster, bikin animasi, bikin video dan sebagainya yang intinya ajakan belajar tentang design berbasic berdasarkan kecanggihan AI (Artificial Intelegensi/kecerdasan buatan).



Kenapa kita harus mempelajari AI


Karena merasa hal itu bermanfaat, maka saya like dan share ulang. Gak heran dong ya, sebagaimana kerja algoritma di akun sosial media, kalau kita interaksi maka selanjutnya postingan sejenis yang banyak muncul di beranda.

Dari sekian banyak postingan itu, mayoritas ujungnya berbayar. Awalnya aja gratis, difasilitasi, dan diajarkan. Tapi ujungnya tetap kalau hasilnya mau maksimal kudu pakai yang premium alias berbayar. Dan itu affiliate dari si narasumber. Kalo kita beli dari sana, otomatis jadi pemasukan buat mereka juga, kan ya?

Mirip dengan yang dialami suami. Sebagai guru, ia dituntut banyak menguasai berbagai materi pembelajaran kekinian yang menyesuaikan dengan perkembangan jaman. Sebagai tenaga pengajar ia diajak berproses lagi, belajar lagi, apapun untuk memperkuat bekal pembelajaran di 2026 dan selanjutnya. Mau tidak mau ia pun ikut berbagai pelatihan yang diadakan komunitas maupun instansi.

Mirip seperti itu, ujungnya diakhir sesi pelatihan ada tugas yang bisa dikerjakan secara maksimal kalau menggunakan aplikasi yang premium. Nah, bayar lagi kan…

Tapi itu tergantung kitanya juga, sih. Mau beli silakan, enggak juga gak apa-apa. Kalau kreatif, menggunakan aplikasi gratisan berbasic AI juga bisa kok. Apalagi sekarang banyak tutorial yang bisa kita ikuti. Asal rajin dan terus berkreativitas aja.

Di jaman seperti sekarang, siapapun pasti setuju kalau belajar AI itu penting. Bagaimanapun teknologi ini sudah menjadi fondasi inovasi masa depan, membuka peluang karier luas, dan membantu kita memahami serta memanfaatkan data untuk memecahkan masalah kompleks.

Dengan menguasai AI, kita bukan hanya pengguna teknologi, tapi bisa jadi pencipta perubahan. Tentu saja selama bijak menggunakannya.

Kenapa sih kita harus belajar AI?

Banyak hal yang bisa dijadikan alasan. Yang saya rasakan saja, belajar AI itu perlu karena bisa menunjang berbagai hal

- Peluang karier

Perusahaan besar seperti Google, Amazon, dan Microsoft mencari tenaga ahli AI. Skill ini membuatmu lebih kompetitif di pasar kerja.

- Inovasi masa depan

AI jadi dasar teknologi seperti mobil otonom, Internet of Things, robotika, dan sistem kesehatan prediktif. Kalau kita ketinggalan informasi ini, bisa jadi kembali ke jaman batu sendirian

- Pemecahan masalah kompleks

AI bisa menganalisis data besar untuk prediksi iklim, diagnosis medis, atau tren ekonomi

- Penerapan luas

Dari kesehatan, kuliner, pertanian, pendidikan, hingga seni, AI sudah digunakan untuk meningkatkan efisiensi dan hasil.

- Kemampuan analitis

Belajar AI melatih berpikir kritis, logis, dan berbasis data.



Kenapa kita harus mempelajari AI


Manfaat Belajar AI

Jadi jelas ya belajar AI itu banyak manfaatnya. Dalam hal karier bisa membuka peluang kerja di teknologi, kesehatan, keuangan, manufaktur.

Dalam hal inovasi bisa jadi bagian dari pengembangan mobil otonom, IoT, robotika, sistem rekomendasi dan sebagainya.

Dalam bidang kesehatan AI sangat membantu bisa mendiagnosis cepat, prediksi hasil perawatan, penemuan obat baru, dll.

Dalam bidang pertanian bisa memprediksi hasil panen, pemantauan tanah, otomatisasi proses pertanian

Dalam dunia pendidikan jelas selalu didapati pembelajaran adaptif, analisis data akademik, akses materi lebih luas dan masih banyak lainnya.

Resiko dari Artifisial Intelegensi 

Namun meskipun begitu, sebagai hasil karya buatan manusia, dipastikan akan ada risiko dan tantangan dalam penggunaan AI ini. Karena itu kita harus tetap waspada akan beberapa hal:

- Ketergantungan teknologi

Terlalu mengandalkan AI bisa menurunkan kemampuan berpikir kritis.

- Isu privasi

Data pribadi yang diproses AI berpotensi bocor.

- Bias algoritma

Hasil AI bisa tidak adil jika data latih tidak netral.

Karenanya tanamkan dalam diri bahwa belajar AI bukan sekadar ikut tren, tapi investasi masa depan. Dengan AI, kita bisa berkontribusi pada inovasi, meningkatkan daya saing, dan memahami dunia yang semakin berbasis data.

Dengan AI, kita bisa memahami data, menciptakan solusi baru, dan membuka peluang karier yang sebelumnya tidak ada.

Belajar AI bukan hanya soal teknologi, tapi soal mempersiapkan diri menghadapi dunia yang berubah cepat. Dengan AI, kita bisa jadi bagian dari solusi, bukan sekadar penonton.



Kenapa kita harus mempelajari AI


Tahapan Belajar AI

- Pahami dasar-dasar

Mulai dari konsep sederhana: apa itu AI, machine learning, deep learning, dan bagaimana cara kerjanya.

- Belajar Python

Bahasa pemrograman utama untuk AI. Fokus pada library seperti NumPy, Pandas, dan Matplotlib.

- Kuasai matematika dasar

Statistik, aljabar linear, dan kalkulus ringan. Ini penting untuk memahami algoritma AI

- Eksperimen dengan dataset

Gunakan dataset gratis (misalnya dari Kaggle) untuk latihan analisis dan model sederhana.

- Pelajari machine learning

Mulai dari regresi linear, decision tree, hingga algoritma clustering.

- Masuk ke deep learning

Pelajari neural network, CNN (Computer Vision), dan NLP (Natural Language Processing).

- Bangun proyek kecil

Contoh: chatbot sederhana, sistem rekomendasi film, atau klasifikasi gambar.

- Ikut kursus online

Platform seperti Coursera, edX, atau YouTube punya banyak materi gratis.

- Gabung komunitas

Diskusi di forum, ikut hackathon, atau belajar dari proyek open-source.

---

Belajar AI itu seperti membangun rumah: mulai dari fondasi (konsep & matematika), lalu dinding (coding & algoritma), hingga dekorasi (proyek nyata). Dengan langkah bertahap, insyaallah kita bisa berkembang dari pemula jadi praktisi.


Read more ...

Sabtu, 09 Mei 2026

Tumpukan Buku dari Mancanegara ke Pojok Pondok Mengaji


Tak terbayang sebelumnya mengelola perpustakaan mini untuk anak-anak mengaji di kampung. Awalnya beli buku di Singapura, Hongkong dan Taiwan sebagai teman liburan saja. Ternyata sepulangnya ke kampung halaman, setumpuk buku itu bisa jadi hal yang indah sekaligus bermanfaat.


Perpustakaan Mini Al Hidayah


Gak berani nyebutnya sebagai perpustakaan sih, karena jauh panggang dari api. Disebut taman baca anak juga pengelolaan nya gak mengarah ke sana. Asli, hanya ada tumpukan buku bacaan aja. Awalnya.

Alhamdulillah, lama-lama banyak donatur yang menyumbang buku. Seperti Pak Andre Jayaprana, Bunda Elisa Koraag, Teh Triani Retno beserta jajaran donatur yang enggan disebut nama, Mbak Cici Desri, Mbak Bety Kristianto, Teh Irena Puspawardani, Mpo Tati Suherman, Astri Damayanti, dll.

Jadi sekumpulan buku bacaan yang saya bawa dari luar negeri dan beberapa hadiah dari lomba-lomba itu akhirnya ada temannya. Mulai dari berbagai genre bacaan juga dari buku anak remaja sampai dewasa.

Tidak menyangka keberadaan tumpukan buku ini mendukung semangat belajar anak, terutama anak mengaji di tempat kami.


Perpustakaan Mini Al Hidayah


Setelah kedatangan berkardus-kardus buku dari donatur itu, saya pikir kudu ditata dan dijaga. Akhirnya saya coba mengatur sendiri supaya tumpukan buku itu terlihat menarik untuk dibaca. Walaupun lahan dan tempatnya sempit.

Struktur dan Koleksi

- Memilah buku sesuai kebutuhan anak mengaji

Saya pisahkan mulai dari kitab suci Al-Qur’an, Iqro, buku doa harian, kisah nabi, cerita islami bergambar, serta buku motivasi anak, hingga bacaan umum mulai majalah, buku remaja dan novel kekinian hingga rekomendasi wisata.

- Tambah bacaan umum

Keanekaragaman tumpukan buku makin beragam setelah dikirim buku bacaan anak tentang dongeng nusantara, ensiklopedia bergambar, catatan perjalanan, komik edukatif, dan banyak lagi yang membua anak-anak makin tertarik untuk membacanya dan antusias.

Ruang dan Tata Letak

- Sudut sederhana tapi nyaman:

Suami punya dua rak kosong (walaupun sudah rusak) dan setelah diisi untuk menyimpan buku, lumayan juga. Sebelum datang rak baru, gak apa-apa rak kayu ini masih bisa bertahan. Sisanya masuk kardus yang dirapikan. Kalau anak-anak datang tinggal gelar tikar atau karpet untuk duduk bersama.

- Zona tematik:

Karena anak mengaji di tempat kami beragama usia. Mulai Kober, Paud/TK, anak SD, anak SMP hingga anak SMA, maka saya selalu memisahkan rak “buku agama” dan “buku umum” agar anak mudah memilih.


Perpustakaan Mini Al Hidayah


- Dekorasi inspiratif:

Walaupun tidak banyak dan sudah banyak yang memudar, saya pasang poster doa, kutipan motivasi, atau hasil karya anak yang saya sengaja ditempel di dinding.

Aktivitas dan Program

- Jadwal baca bersama:

Sebenarnya ini berjalan sewaktu anak saya, Fahmi masih ada di rumah. Jadi dulu anak-anak mengaji datang lebih awal lalu membaca buku bacaan itu sebelum memulai mengaji. Kalau hari libur sekolah, Fahmi juga sering ngajak anak-anak lainnya supaya main di rumah dan membaca buku ramai-ramai.

- Storytelling:

Untuk anak yang belum bisa membaca saya atauanak santriwati yang besar sebagai relawan membacakan buku seperti kisah nabi atau dongeng islami.

- Lomba ringan:

Akhir pekan, atau kalau ada yang berulang tahun, diramaikan dengan kuis berisi pertanyaan seputar doa, tajwid, atau menulis kaligrafi, dll.


Perpustakaan Mini Al Hidayah


Dukungan dan Keberlanjutan

- Libatkan masyarakat dan blogger

Sejak pulang ke kampung halaman, saya sering posting tentang Pondok Mengaji dan keberadaan kebutuhan buku bacaan ini. Makanya selain masyarakat, orang tua, juga banyak teman-teman blogger yang menyumbang buku, baik baru maupun bekas. Termasuk donasi uang yang membantu hal lainnya seperti penggayaan rak dan operasional lainnya.

- Catat peminjaman sederhana

Ada beberapa anak yang meminjam buku tentang rekomendasi wisata dan secara sederhana saya gunakan buku tulis untuk mencatat daftar siapa saja yang meminjam.

- Bangun rasa memiliki:

Walaupun hanya setumpuk buku di sudut ruangan tapi secara tegas sejak awal saya memberi tanggung jawab pada semua anak untuk menjaga buku dan merapikan rak.

--

Perpustakaan Mini Al Hidayah


Tidak ada yang tidak mungkin, termasuk keberadaan setumpuk buku ini. Walaupun awalnya skala kecil-kecilan tapi semangat membaca tetap harus diperjuangkan. Jangan menunggu koleksi lengkap. Keburu anaknya tergoda gadget dan lainnya.

Saya usahakan bisa fokus pada suasana hangat dan kebersamaan, bukan sekadar jumlah buku.

Keberadaan perpustakaan mini sebagai bagian dari rutinitas mengaji ini, semoga jadi salah satu kegiatan yang menunjang ibadah, sehingga anak-anak merasa lebih semangat mengaji dan mendapatkan wawasan baru dengan bacaan buku.


Perpustakaan Mini Al Hidayah



Read more ...

Minggu, 03 Mei 2026

Memilih Teman di Usia 40-an


Jumpa seseorang secara tiba-tiba yang sempat kenal dan akrab sekitar 30 tahun yang lalu itu surprise banget. Kaget. Berasa mimpi. Beneran ini sobat begadang waktu jaman sekolah?


Mencari teman di usia 40-an


Jadi ceritanya Minggu lalu saya ikut suami yang mewakili sekolahnya membimbing Pramuka penggalang lomba di sekolah lanjutan tingkat atas. Lokasinya jangan ditanya, pokoknya di ujung dunia. Padahal masih satu kecamatan.

Dari rumah ke kota kabupaten cianjur saja, pakai kendaraan sekitar 2 jam. Nah ini dari rumah ke sekolah yang mengadakan acara lomba itu, 2 jam juga! Malah lebih.

Jaraknya sih tak sampai puluhan kilometer. Yang bikin lama itu kondisi jalannya. Rusak parah. Jadi walaupun naik kendaraan, bisa disamakan dengan jalan kaki. Malah lebih repot. Luar biasa pokoknya jalannya itu. Udah naik turun melipir bukit, tanpa aspal melainkan masih tanah merah dan berbatu. Pas berangkat cuaca hujan pula, percis deh seperti mengendarai kendaraan di sungai! Luar biasa ya kabupaten Cianjur ini ternyata di pelosok nya itu masih ada jalan kemiskinan…

Tapi sudah lupakanlah soal itu. Karena saya mau cerita soal ketemu besti yang tidak terduga itu tadi.

Sedang memantau dari jauh peserta didik ikut lomba pionering, eh tiba-tiba lewat seseorang yang kalo dari wajah gak asing lagi. Cuma penampilan udah tua, terlihat dari rambut yang memutih, plus keriput  di wajah gak bisa bohong.

Ketika saya melongo sambil menunjuk padanya, dia juga terlihat terkejut dan nunjuk pula ke saya. Fix, berarti dia juga kenal saya.

Setelah saya tanya memastikan apakah benar dia teman waktu di Sukanagara? Dan dia bilang iya. Tapi maaf katanya kamu siapa, saya lupa lagi. Ya Gusti, segitunya… hihi … padahal saat itu saya termasuk primadona lho, teganya dia melupakan saya. Haha.

“Kok bisa ada di sini? Di ujung dunia?” tanya saya udah gak canggung lagi. Begitu pun dia udah mulai kembali ke setingan jaman dulu, kembali suka bercanda dan jailin saya.

“Kamu lulus aku tuh masih di Sukanagara. Sering main ke rumah tapi kamunya gak ada. Sampai bertahun-tahun. Nasibku kurang baik. Tetap gagal ikut pengangkatan hingga ada seleksi PPPK akhirnya lolos. Tapi yaitu nyangkutnya di ujung dunia ini.” Katanya sambil tertawa-tawa.

Banyak banget yang saat itu ingin kami kenang. Tapi karena suasananya tidak memungkinkan jadinya obrolan kami akhiri.

“Aku gak banyak komunikasi sama teman-teman. Malu lah. Selain itu udah tua juga. Haha … titip salam aja buat semua teman-teman ya…” pesan nya sebelum kami berpisah. Tidak lupa kami sempat selfi bertiga dulu bersama suami.

Sambil memantau jalannya acara lomba Pramuka itu saya jadi kepikiran. Apakah salamnya itu saya sampaikan di group alumni saja? Ntar bagaimana kalo ada yang minta no kontaknya, sementara saya aja gak dikasih. Lagian jujur aja, di group juga saya tidak pernah interaksi. Bukan sombong, tapi ya gimana ya, merasa kalau tidak penting lebih baik saya diam saja.

Bahkan saat ponsel saya eror dan nomor WhatsApp hangus, saya keluar otomatis dari semua group, saya tidak berusaha masuk lagi. Tapi salah satu teman yang jadi kontak saya tiba-tiba mengundang saya lagi. Jadinya saya bergabung lagi walau itu tadi, banyak diamnya.

Okti kunaon ayeuna mah jadi cicingeun?” banyak teman satu frekuensi jaman dulu menyelidiki. Mungkin merasa heran kenapa saya sekarang “membatasi” diri padahal jaman sekolah saya itu orangnya bawel, gak mau diam dan pecicilan.

Bingung mau jawab apa. Tapi mungkin bagi yang sudah berusia 40 ke atas, sedikit banyak sudah kepikiran bagaimana menyikapi pergaulan dan bagaimana harus ambil keputusan saat bergabung dengan sebuah circle?


Mencari teman di usia 40-an


Saya sendiri merasa udah beda jamannya, udah terjadi seleksi alam kenapa bisa pertemanan saya batasi. Walau tidak bisa saya bilang semakin bertambah, malah berkurang, atau stagnan. Karena dalam kehidupan, datang dan pergi itu sudah biasa terjadi.

Memasuki usia 40 sering kali dianggap sebagai “masa puber kedua,” tetapi secara biologis dan psikologis, ini adalah fase transisi besar yang menuntut penyesuaian gaya hidup. Bukan berarti masa muda telah berakhir, justru ini adalah waktu untuk menjadi lebih strategis dengan kesehatan dan kesejahteraan diri.

Mau diakui atau tidak di usia 40-an, tubuh tidak lagi se-fleksibel usia 20-an. Metabolisme mulai melambat, dan massa otot cenderung menurun.

Daripada main-main mending mulai rutin memeriksa tekanan darah, kadar kolesterol, gula darah, dan fungsi jantung. Bagi wanita, mending lakukan pemeriksaan mammogram dan pap smear daripada ketemuan gak jelas sambil makan-makan dan pamer perhiasan, sementara pria mungkin sudah perlu memperhatikan kesehatan prostat daripada ikut lomba memancing toh ujungnya ikan yang dikonsumsi tetap aja hasil beli di pasar.

Karena risiko sarkopenia (penyusutan otot), latihan beban secara rutin sekarang jadi lebih penting daripada sekadar senam di lapangan sambil jalan bareng teman-teman sekadar menjaga kepadatan tulang dan metabolisme.

Berkaca pada penyakit yang diderita almarhumah ibu, saya fokus mengurangi asupan gula dan karbohidrat olahan. Lebih ke meningkatkan serat dan protein berkualitas tinggi untuk mendukung regenerasi sel. Belajar fokus dengan pilihan mengonsumsi itu bukan tidak mau gabung sama teman di acara-acara ngaliwet, arisan dan sebagainya.

Terlebih pada penjagaan kesehatan mental dan emosional, di usia 40-an banyak orang mengalami apa yang disebut “mid-life crisis” masa di mana seseorang mulai merenungkan pencapaian hidup.

Usia 40 biasanya merupakan puncak karier sekaligus puncak tanggung jawab keluarga (mengurus anak remaja sekaligus orang tua yang menua). Meditasi atau hobi yang menenangkan sangatlah penting.

Karena itu daripada wara-wiri gak jelas, walaupun difasilitasi teman yang kaya, saya memilih fokus pada kualitas hubungan daripada kuantitas.

Saya mulai belajar berkata “tidak” pada hal-hal yang menguras energi mental tanpa memberi nilai tambah.

Memilih diam dan tidak mengikuti kegiatan yang diselenggarakan teman-teman kalau sekiranya tidak memberikan manfaat untuk saya.

Saya lebih memilih mengupgrade diri dan gaya hidup dengan jalan sederhana sebisa yang saya lakukan.

Memprioritaskan tidur 7-8 jam per hari karena istirahat itu kunci pemulihan sel otak dan tubuh.

Membangun komunitas yang positif. Karena kesepian di usia tua kelak itu bermula dari pengabaian relasi di usia tengah ini.

Memasuki usia 40 bagi saya bukan tentang menjadi tua, tetapi tentang menjadi “sadar”. Ini adalah waktu terbaik untuk membuang kebiasaan buruk yang dulu dimaafkan oleh tubuh kita saat masih muda.

Memasuki lingkaran pertemanan (circle) yang baru di usia matang memang terasa lebih menantang dibandingkan saat kita masih sekolah atau kuliah.

Di usia menuju setengah abad, saya cenderung lebih selektif dan tidak memiliki banyak waktu untuk basa-basi yang tidak perlu.

Namun, membangun koneksi di usia tua justru sangat krusial untuk menjaga ketajaman kognitif dan kebahagiaan emosional.

Strategi untuk menemukan dan memasuki circle yang tepat saya lakukan berdasarkan seleksi. Mencari teman berdasarkan “Interest”, bukan sekadar “Usia”


Mencari teman di usia 40-an


Pertemanan yang langgeng di usia dewasa biasanya disatukan oleh kegiatan atau visi yang sama, bukan hanya karena seumuran.

Komunitas hobi bisa jadi salah satu alternatif. Suka nonton, gabung dengan komunitas Blogger Film Bandung, misalnya. Suka baca, berteman dengan teman-teman klub buku. Hobi yang sama bisa menciptakan topik pembicaraan instan walau beda usia.

Dengan koneksi internet kita akan lebih mudah mengikuti lokakarya keterampilan baru sebagai tempat berkumpulnya orang-orang yang memiliki semangat tumbuh (growth mindset).

Karena itu di usia tua saya ini, saya tidak butuh 100 teman nongkrong. Saya cukup butuh 3-5 orang yang “berisi” saja. Karena terbaik adalah kualitas di atas kuantitas.

Yang paling penting saya perhatikan adalah nilai-nilai moral dan etika mereka apakah sejalan dengan saya? Circle yang benar adalah yang mendukung kesehatan mental, bukan yang penuh dengan drama atau ajang pamer (toxic). Membawa kita ke arah yang lebih baik bukan sebaliknya malah menjerumuskan.

Saya tidak akan ragu masuk ke lingkaran yang membuat saya merasa bersemangat setelah bertemu mereka, bukan justru merasa lelah secara mental.

Orang dewasa sangat menghargai mereka yang bisa mendengarkan tanpa menghakimi. Ini adalah “tiket” termudah untuk diterima di lingkaran mana pun.

Salah satu hambatan bergaul di usia tua adalah gengsi atau rasa sungkan. Padahal menurut saya justru harus ditanamkan rasa berani untuk menegur duluan.

Senyuman dan sapaan sederhana seperti, ”Saya sering baca artikelnya waktu blogwalking. Ingin sekali berteman dengan blogger rafahlevi. Salam kenal ya?” kalimat seperti itu bisa menjadi pembuka pintu circle yang luar biasa. Tentu saja kalau pertemanan nya disambut. Tidak ditolak.

Terkadang banyak orang yang terlalu menjaga citra karena posisi atau jabatan. Saya lihat sebagian teman-teman saya seperti itu. Makanya hasilnya juga bisa dilihat seperti hampa. Padahal menurut saya pribadi apa susahnya sih tinggal mencoba tampil sebagai diri sendiri yang manusiawi dan apa adanya?

Circle kita sudah benar atau belum itu relatif. Plus dan minusnya mengurangi circle pertemanan juga tergantung dari persepsi pribadi masing-masing. Tapi kalau terlihat isinya tentang bahas ide dan rencana masa depan yang lebih baik, saling mendukung gaya hidup sehat, menghargai batasan (boundaries) masing-masing serta jujur namun tetap sopan saat memberi saran, fix, itu salah satu contoh circle yang bermanfaat dan bernilai positif.

Sebaliknya saya akan segera meninggalkan circle pertemanan yang terlalu banyak bergosip atau membicarakan orang lain. Saling menjatuhkan atau kompetisi yang tidak sehat. Selalu memaksakan kehendak atau meminjam uang secara tidak sehat. Hanya memuji di depan tetapi mencela di belakang. Uh, langsung say goodbye aja kalo gitu.

Gak merasa kaku ketika dimintai titip salam oleh teman lama yang baru jumpa sementara saya sendiri gak berteman banyak dengan teman-teman lama dan justru banyak lingkaran pertemanan yang saya tinggalkan.

Mungkin gara-gara jumpa teman lama kemarin itu sepulang dari acara lomba Pramuka saya kembali melakukan reconnecting. Demi bisa menyampaikan amanah yang dititipkannya. Terkadang circle terbaik adalah teman-teman lama yang sempat terputus kontaknya. Mengirim pesan singkat untuk sekadar bertanya kabar bisa membuka kembali pintu pertemanan yang sudah memiliki pondasi sejarah yang kuat.


Read more ...

Sabtu, 02 Mei 2026

Bestiku Sekaligus Keponakanku Generasi Zoomers

Gak sengaja nguping obrolan suami dengan keponakan sore itu.

“Dit, laptop Amang sigana eror. Kapan pulang? Tolong dilihat…”

Saya bisa nebak, kalau gak Sabtu atau Minggu keesokannya, selanjutnya, pasti suami ngajak ke kota, ketemuan sama kakaknya, sekaligus nemuin Adit, keponakan nya itu. Satu lagi, dipastikan bakalan dibawa itu laptopnya. Karena ketemu sodaranya itu hanya alibi, tujuan utamanya biar dicek masalah laptopnya itu kenapa.

Mungkin itu salah satu keuntungan punya keponakan yang masuk ke golongan generasi Zoomers alias gen z?

Bestiku Sekaligus Keponakanku Generasi Zoomers


Generasi Z itu kelompok orang yang lahir sekitar tahun 1997–2012, (maaf kalau ada perubahan tahun) generasi itu dikenal sebagai generasi pertama yang tumbuh sepenuhnya di era internet, smartphone, dan media sosial.

Mungkin karena itu juga mereka ini sering disebut “digital natives” karena sejak kecil sudah akrab dengan teknologi digital. Beda dengan saya dan suami kelahiran tahun 80an ini, sudah 20 tahun an lewat baru kenal internet dan media sosial.

Tapi walaupun saya masuk ke golongan generasi milenial (yang lahir antara rentang waktu sebelum kelahiran generasi Zoomers itu tadi) justru merasa bangga dan memiliki keanekaragaman pengalaman. Karena masa pada generasi Milenial ini hanya kami yang mengalami transisi dari analog ke digital, sedangkan Gen Z sudah lahir di dunia digital.

Walaupun usia paman dan keponakan ini beda sekitar belasan tahun, tapi karena diasuh sejak kecil akhirnya udah seperti adik kakak saja. Jadi tempat berbagi ide dan curhat. Lebih tepatnya udah seperti best friend aja alias besti.

Tidak mudah sebenarnya ngasuh keponakan yang memiliki karakteristik Gen Z ini. Karena mereka masuk di dunia digital native alias anak-anaknya udah pada melek teknologi, terbiasa dengan smartphone, media sosial, dan informasi instan lainnya.

Mau tidak mau pamannya itu kudu bisa multitasking. Dalam arti kudu bisa mengimbangi mengerjakan banyak hal berbau teknologi sekaligus, seperti berpindah aplikasi dan gadget dengan cepat. Iya kalau enggak gitu ya bakalan ketinggalan sama kemampuan sang keponakan.

Asyiknya punya keponakan yang masuk di golongan generasi Zoomers ini mereka itu rata-rata terbuka terhadap keragaman. Jadi bisa lebih inklusif dan peduli isu sosial. Begitu juga dalam memilih karir, lebih pragmatis dan hati-hati. Mungkin karena pemikiran mereka lebih terbuka kali ya, jadi lebih realistis dalam memilih karier, berusaha menghindari kesulitan generasi sebelumnya.

Kalau jaman suamiku sebagai paman nya kan masih ada dalam kungkungan kepercayaan yang kolot, kalo mau masa depan bagus itu ya jadi PNS, atau abdi negara. Ngono...

Sementara keponakan kami ini tidak lagi percaya dengan iming-iming bahagia bila jadi PNS. Mereka lebih suka ke hal-hal yang kolaboratif atau bahkan gerakan sosial. Bisa dilihat saat memilih jurusan, karena sejak dini keponakan terlihat suka bekerja dalam tim, menghargai kepemimpinan non-hierarkis gak sangka ambil jurusan sepertinya ikut teman-temannya. Bukan mengikuti saran pihak orang tua dan jajarannya.

Tapi salutnya walau di keluarga besar kami mereka para keponakan ini adalah termasuk generasi perintis, tapi mereka beneran bisa beradaptasi.

Walaupun harus ambil sekolah di luar pulau, harus ngekos dan semuanya ngurus sendiri, tapi Alhamdulillah mereka mudah menyesuaikan diri dengan perubahan teknologi dan tren baru di tempat barunya itu.

Meski begitu, tetap ada risiko yang bakalan ditemukan. Seperti karena keseharian bergulat dengan dunia digital, dirasa atau tidak bakalan ada semacam tekanan media sosial, termasuk risiko kecemasan sosial dan paparan layar berlebihan.

Dalam hal karir dan pekerjaan juga sebenarnya dikhawatirkan karena cenderung ke memiliki ketidakpastian karier. Beda dengan pegawai tetap dan mendapatkan tunjangan gitu. Keponakan lebih cenderung ke bisnis dan wirausaha. Tentunya juga banyak menghadapi persaingan global.

Karena mereka para keponakan kami ini punya karakteristik unik sebagai generasi digital, pendekatan yang tepat bisa membuat komunikasi lebih lancar dan kolaborasi lebih produktif salah satunya dengan menggunakan jasa keahlian mereka sehingga mereka beneran merasa dibutuhkan oleh keluarga.

Yang harus dimengerti kalo butuh bantuan para keponakan ini ajakan atau tawaran yang kita ajukan harus fleksibel. Kudu sabar dan paham kalo sistem kerja mereka generasi Z ini lebih suka sistem kerja hybrid semaunya mereka.

“Tenang Mang, yang penting beres. Simpen aja laptopnya di si mamah. Ntar Adit pulang langsung dikerjakan…” begitu jawabannya dengan mudah ketika pada akhir pekan ternyata dia gak pulang-pulang sementara pamannya udah jauh-jauh dari kampung datang dengan harapan supaya lekas jumpa dan laptop yang bermasalah segera didapatkan solusinya.

Begitulah punya keponakan seumuran gen z. Tidak bisa mengekang melainkan beri mereka ruang untuk brainstorming dan partisipasi aktif.

Jadi, kiat bersahabat dengan Gen Z dalam dunia kerja, antara beradaptasi dengan karakter mereka, sama-sama belajar, dan tetap mendidiknya, kalau antara paman dan keponakan ini malah jadi besti, itu karena kuncinya adalah komunikasi yang cepat, transparan, berbasis teknologi, dan penuh makna. Gitu aja.


Read more ...

Jumat, 10 April 2026

Blog: Jaman Lawas vs Jaman Now

Sepuluh tahun lalu, dan sebelumnya dunia blogging masih sangat personal dan intim. blog dipakai sebagai diary digital, tempat curhat, berbagi pengalaman, dan membangun komunitas kecil. Blog lebih menekankan cerita pribadi daripada monetisasi, berbeda dengan tren sekarang yang lebih fokus pada branding dan cuan.

Lain jaman lain juga kebiasaannya ya…



Jika sepuluh tahun lalu blog dipakai sebagai diary online maka sekarang blog digunakan sebagai branding diri atau bisnis.

Dulu banyak blogger menulis layaknya buku harian, membagikan cerita sehari-hari, pengalaman kuliah, pekerjaan, atau bahkan curhat pribadi. Blogspot dan WordPress gratisan jadi rumah utama.

Kini blog sudah lebih modern. Blogger banyak menggunakan top level domain alias domain berbayar supaya tampil lebih baik dan terpercaya.

Monetisasi blog juga jadi tren. Blog berubah dari ruang ekspresi menjadi alat branding, afiliasi, dan bisnis.

Dulu komunitas blogger bisa dibilang ruang lingkupnya kecil tapi hangat.

Blogger saling berkunjung, meninggalkan komentar, dan membangun jaringan pertemanan tanpa harus diminta. Tak heran kalau blogger Cianjur macam saya bisa mengenal Blogger Surabaya dan lainnya. Interaksi terasa lebih personal dibanding media sosial sekarang.

Kalau sekarang kan istilah Blogwalking lebih ke karena tuntutan kebutuhan. Blogger perlu setoran data dan insight kepada klien. Blogwalking jadi utang piutang karena kalau tidak, bisa ditagih dan jika tidak memenuhi keinginan si empunya blogger wajib mengganti komentar. Menjurus ke komentar yang disetting.

Dulu tema dan desain blog sangat sederhana tapi banyak yang memberatkan. Banyak yang masih alay, pasang lagu, gambar berukuran besar dan perintilan lainnya dengan ukuran yang memberatinya sehingga tampilan blog jadi berat saat dibuka.

Template bawaan blogspot atau WordPress sering dipakai banyak modifikasi. Walau tidak sedikit blogger yang tetap fokusnya pada isi tulisan, bukan tampilan.

Kini banyak teori dan ilmunya yang mengemukakan bagaimana cara supaya blog ringan dibuka sehingga tidak bikin bete pembaca ketika menggunakan ponsel sekalipun. Membaca tetap nyaman dan tampilan blog bisa menyesuaikan mengikuti gadget yang dipakai.

Jaman saya mengenal blog tahun 2008 sesungguhnya SEO belum dikenal sama sekali. Yang penting curhat eh nulis, udah gitu aja. Haha…

Gak heran kalau banyak tulisan lebih jujur dan apa adanya, belum terlalu dioptimasi untuk mesin pencari. Popularitas datang dari blogroll dan rekomendasi antar-blogger.

Kalau sekarang kan ilmu SEO udah harus dipakai karena kalau enggak konon blog kita akan sulit masuk tampilan kolom mesin pencari.

Biar semangat tetap ngeblog dulu ada tren “One Week One Post” sekarang juga masih ada sih ya. Walau ada modifikasi di sana sini tapi intinya tetap supaya menyemangati dan terjadwal update menulis blog.

Dulu sesama blogger punya komitmen rutin menulis, bukan untuk trafik, tapi untuk menjaga konsistensi dan ekspresi diri. Sekarang ya tahu sendiri lah, saya aja semangat nulis itu kalau ada cuannya. Kalau nulis yang organik malas banget. Hahaha…

Perbandingan era blogging dulu vs sekarang kalau berdasarkan pengalaman pribadi kadang bikin senyum-senyum sendiri. Meski sekarang satu dasawarsa kemudian bahkan lebih dunia blog sudah lebih modern dan dipenuhi dukungan Artificial Intelligence (AI) alias Kecerdasan Buatan.

Hal itu tentu saja menjadikan adanya semacam tantangan dan perubahan

Seperti sekarang ini keberadaan media sosial banyak mengambil alih. Adanya Facebook, Instagram, dan Twitter (X) membuat orang lebih memilih update singkat di sosmed daripada menulis panjang di blog.

Sebagai blogger yang juga banyak membranding diri sebagai konten kreator, adalah sesuatu yang menantang pastinya untuk menghidupkan kembali semangat personal blogging—menulis dengan jujur, membangun komunitas yang hangat, dan menjadikan blog sebagai ruang ekspresi, bukan sekadar strategi SEO dengan berbagai tips yang keren.

Tapi siapa tahu hal itu justru bisa jadi nilai unik di era konten serba instan sekarang ini?


Read more ...

Minggu, 29 Maret 2026

Blog Hijrah

Hijrah dalam Islam berarti meninggalkan sesuatu menuju yang lebih baik, baik berupa perpindahan fisik maupun perubahan spiritual.

Secara historis, hijrah merujuk pada perpindahan Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah pada tahun 622 M, sementara secara maknawi hijrah juga berarti meninggalkan dosa dan menuju ketaatan.

Pengertian Hijrah

Secara bahasa: Hijrah berasal dari kata Arab hajara (الهجر) yang berarti meninggalkan atau berpindah.

Secara istilah syariat: Hijrah adalah berpindah dari negeri syirik menuju negeri Islam, agar seorang Muslim dapat menampakkan dan menjalankan agamanya dengan bebas.

Secara makna luas: Hijrah tidak hanya perpindahan fisik, tetapi juga mencakup perubahan spiritual, akhlak, dan gaya hidup menuju kebaikan.

Makna Hijrah dalam Kehidupan Sehari-hari

Hijrah dalam kehidupan sehari-hari kita saat ini banyak dipahami sebagai transformasi diri. Peralihan. Seperti:

- Hijrah spiritual: Meninggalkan syirik, dosa, dan maksiat menuju iman, taqwa, dan amal saleh.

- Hijrah akhlak: Berubah dari perilaku buruk (misalnya suka berbohong, iri hati) menuju akhlak mulia dan lebih baik.

- Hijrah sosial: Berpindah dari lingkungan yang merusak menuju komunitas yang mendukung kebaikan.


Blogger hijrah


Bentuk Hijrah Modern

Bentuk hijrah ternyata mengalami perubahan juga, menyesuaikan dengan perkembangan jaman kali ya...

Bentuk hijrah secara fisik lebih menekankan ke perpindahan dari tempat yang menghalangi ibadah ke lingkungan yang lebih islami

Bentuk hijrah secara spiritual ditandai dengan mulai meninggalkan kebiasaan buruk seperti meninggalkan shalat, lalu mulai istiqamah

Bentuk hijrah secara akhlak misalnya dengan mengubah gaya hidup konsumtif menjadi sederhana dan bermanfaat

Ada juga bentuk hijrah dalam dunia digital nih... Yaitu menghindari konten negatif di media sosial, beralih ke konten edukatif dan Islami

Hijrah dari Blog Lama ke Blog Baru

Nah, mungkin saya memiliki kisah hijrah juga nih terkait dengan dunia blog alias rumah kedua saya ini. Mulai dari awal perjalanan hingga nanti saya ingin yang lebih baik juga dong ya.

Setiap tulisan memiliki rumahnya sendiri. Blog lama saya dengan domain sama tehokti.com adalah tempat healing sekaligus mencari cuan. Di sana saya bisa leluasa menata kata, menyalurkan keresahan, dan berbagi cerita. Mulai dari lajang, menikah sampai jadi seorang ibu. Dari saat masih jadi ibu bekerja sampai jadi tulen ibu rumah tangga biasa.

Di sana saya seakan tumbuh, jatuh bangun, dan menemukan suara yang perlahan menjadi ciri khas alias branding. Namun, seiring waktu, saya merasa harus realistis. Bukan ruang di blog lama itu mulai sempit. Tapi ada hal-hal lain yang harus diprioritaskan, termasuk dari segi budget.

Tahu sendiri saat ini dunia blog sedang meredup dan saya hampir kewalahan untuk mengcover semua biaya. Padahal semangat menulis tidak pernah padam. Malahan begitu banyak gaya tulisan dan kisah yang ingin tercurah, tetap ingin ada pembaca yang bisa saya ajak berdialog lebih luas.

Karena itu saya memilih budget yang lebih miring, dengan sedikit perintilannya. Satu lagi, seandainya saya meninggal dunia, dan domain ini tidak diperpanjang, insyaallah domain tld akan kembali ke setingan awal yaitu blog gratisan. Dalam arti tulisan saya tetap ada. Tetap bisa dibaca walaupun bukan dengan nama tehokti.com lagi...

Mengapa Hijrah?

Hijrah bukan berarti saya meninggalkan blog masa lalu, melainkan melanjutkan perjalanan dengan arah yang lebih jelas.

Blog baru ini buat saya adalah simbol:

- Penyegaran identitas – memberi wajah baru pada tulisan agar lebih relevan dengan pembaca masa kini.

- Ruang ekspresi yang lebih luas – memungkinkan eksplorasi tema-tema baru, dari minimalisme hingga spiritualitas.

- Komitmen untuk berkembang – menandai tekad untuk menulis lebih konsisten, lebih mendalam, dan lebih bermanfaat. Doakan ya...

Tantangan dan Harapan

Tentu ada rasa berat meninggalkan jejak lama di wordpress. Tulisan-tulisan di blog sebelumnya adalah bagian dari perjalanan yang berharga. Namun saya percaya, setiap hijrah membawa harapan.

Harapan akan pembaca baru yang menemukan inspirasi dari tulisan-tulisan segar, harapan akan konsistensi dalam menulis, bukan sekadar hobi, melainkan sebuah panggilan jiwa, hingga insyaallah sampai akhir hayat saya blog ini tetap dirawat dan dijaga.

Harapan akan makna – agar setiap kata yang tertulis menjadi cahaya kecil bagi siapa pun yang membacanya.

Blog baru TehOkti.com di blogspot adalah ruang hijrah saya—tempat saya meninggalkan jejak lama dan menata langkah baru. Di sini, setiap tulisan tetap lahir dari niat untuk bertumbuh, berbagi, dan memberi makna.

Saya percaya kata-kata bukan sekadar rangkaian huruf, melainkan jembatan yang menghubungkan hati, pikiran, dan pengalaman beserta dunia luar. Termasuk interaksi dengan sesama blogger baik blogger dalam negeri maupun luar negeri. Termasuk Blogger Banjarmasin.

Semoga blog baru ini bisa tetap hadir untuk menyegarkan identitas dan memperluas cakrawala. Menyuarakan cerita yang inklusif, hangat, dan penuh makna. Terlebih bisa menyalakan semangat agar setiap pembaca menemukan inspirasi dalam keseharian.

Hijrah dari blog lama ke blog baru bukan sekadar perpindahan alamat digital. Ini adalah perjalanan batin, sebuah keputusan untuk terus bertumbuh. Semoga blog baru ini menjadi rumah yang lebih hangat, lebih luas, dan lebih hidup bagi setiap cerita yang lahir dari semua aktivitas saya.



Blogger hijrah


⚠️ Catatan

- Hijrah bukan sekadar tren, melainkan komitmen jangka panjang untuk hidup sesuai syariat.

- Kunci sukses hijrah: Niat ikhlas, istiqamah, mencari lingkungan yang mendukung, serta memperkuat ilmu agama. Karena itu, mohon doanya supaya saya bisa istiqomah dalam membagikan artikel yang bermanfaat. Aamiin.

Read more ...

Kamis, 12 Maret 2026

Lebaran, Kue dan Kenangan

Adakah resep kue atau masakan jadul yang membuat kamu tersentak dengan memori tertentu? Jika menemukan makanan-makanan itu, bagaimana sikapmu? Apakah langsung membeli, terinspirasi membuat sendiri, atau bagaimana?

Lebaran sebentar lagi. Belum ada kue atau penganan apapun yang disiapkan. Mengingat saya sendiri tidak bisa membuatnya. Plus saat jelang lebaran kali ini terasa banget bedanya karena ibu saya sudah tiada.

Biasanya, ada atau tiada uang, jelang lebaran ibu saya selalu nabung supaya bisa bikin kue tradisional yang sederhana. Dan yang pasti disukai anak menantunya. Karena meskipun kue modern dan mewah, tapi kalau tidak disukai anak menantunya, ibu saya pernah bilang untuk apa dibuat kalau tidak dimakan?

Memang sih saya, suami, dan adik saya itu tidak begitu suka dengan kue yang manis. Lebih menyukai camilan yang asin dan gurih. Jadi setelah mengetahui kesukaan anak menantunya itu, biasanya ibu membuat penganan tradisional seperti rengginang, kue kembang goyang, atau kue bawang.

Dan benar saja. Beberapa kali lebaran, saat ibu saya masih sehat, membuat beberapa kilogram kue tradisional itu sendiri. Setelah matang siap makan, dibagikan ke saya, ke adik dan saudara lainnya. Sehingga walaupun saya tidak bisa membuat kue lebaran sendiri, masih ada kue kiriman ibu saya itu. Asli laku keras alias cepat habis.

Kini setelah ibu tiada, asli di meja tidak ada kue sama sekali. Ada adik kirim hantaran, tapi berisi sirup dan kue kaleng. Tidak ada kue tradisional khas lebaran mengingat adik ipar saya juga sibuk kerja, tidak ada waktu untuk membuat kue meskipun dia pandai membuat aneka macam kue seperti ibu dan saudara-saudaranya.

Lebaran, Kue dan Kenangan
Nastar penuh kenangan

Padahal lebaran itu identik dengan berkumpulnya semua anggota keluarga besar disertai aneka makanan, ya. Mulai kue, sampai opor, rendang dan ketupat.

Tidak di kampung tidak di kota, akan ada banyak tersedia kue jadul yang jadi nostalgia saat lebaran seperti nastar, kastengel, putri salju, kue bangkit, lidah kucing, dan lainnya.

Meski banyak varian kue modern bermunculan, kue klasik tetap dicari karena menurut saya sendiri membawa kenangan masa kecil dan kehangatan keluarga.

Kue Lebaran Jadul yang Penuh Nostalgia

1. Nastar

Isinya selai nanas dengan rasa manis-asam yang khas. Identik dengan momen lebaran, karena itu kue ini hampir selalu ada di setiap rumah.

Jika melihat kue nastar saya teringat masa kecil di Bandung, seolah menggali momen review Bandung, nastar itu jadi simbol kehangatan keluarga karena biasanya waktu di Bandung bersama keluarga besar sering membuat kue nastar dalam jumlah cukup banyak.

2. Kastengel

Kue kering berbentuk batang kecil dengan taburan keju ini sangat disukai karena rasanya gurih, berbeda dari kebanyakan kue manis. Jangan heran kalau kastengel jadi favorit tamu yang suka camilan asin.

Lebaran, Kue dan Kenangan
Kastengel banyak disukai tamu

3. Putri Salju

Tidak akan lupa karena sejak kecil sudah mengenali karena keunikannya yang berbentuk bulan sabit, ditaburi gula halus putih seperti salju.

Teksturnya yang lembut dan lumer di mulut sangat disukai anak-anak. Tidak heran kue ini juga membawa nostalgia masa kecil karena tampilannya unik dan sering jadi rebutan bersama sepupu.

Lebaran Kue dan Kenangan
Putri salju

4. Lidah Kucing

Namanya aja lidah kucing tapi jelas jauh berbeda dengan lidah kucing aslinya. Kue tipis panjang dengan tekstur renyah ini punya nama unik saja sehingga membuat anak-anak dulu penasaran.

Kini kue lidah kucing banyak variasi, termasuk dengan campuran gula merah atau cokelat.

Lebaran Kue dan Kenangan

Lebaran, Kue dan Kenangan

Dimana pun berada, termasuk ketika saya berlebaran di luar negeri, jika melihat kue jadul tersebut langsung memunculkan banyak kenangan masa kecil. Termasuk mengingat momen jaman dulu saat belum ada internet dan smartphone, ketika membantu orang tua membuat nastar atau menaburi putri salju.

Kue jadul yang menyimpan banyak kenangan itu jadi simbol kebersamaan. Kue jadul bukan sekadar camilan, tapi bagian dari tradisi keluarga.

Mungkin karena itu kali ya walau banyak bermunculan kue modern, ada brownies kering atau cookies modern, dan makanan enak lainnya, tapi kue klasik ini selalu dicari saat lebaran.

Siapa kira beberapa hari jelang lebaran, ada beberapa orang wali santri anak mengaji di tempat kami datang silaturahmi membawa hantaran.

Banyak sekali yang mereka bawa. Mulai dari beras, nasi beserta lauk pauk menggunakan rantang, aneka macam kue lebaran mulai dari yang manis, asin sampai gurih, sampai keripik dan kue kaleng beserta minumannya.

Alhamdulillah. Rezeki yang tidak disangka datang dari berbagai pintu yang tidak kami duga sebelumnya.

Alhasil walaupun saya tidak bisa membuat kue dan makanan lainnya tapi lebaran kali ini bersyukur sekali sudah bisa mencicipi lebih dari cukup untuk semua itu. Semoga rezeki para wali dan santri mendapatkan ganti yang berlebih melalui tangan Allah SWT. Aamiin.

Read more ...

Sabtu, 07 Maret 2026

Jadi Pemulung Bermartabat di Jerman

Saya punya akun Youtube, tapi jarang main di sana. Apakah terlalu memaksakan diri kalau bilang hanya saya saja yang tidak punya YouTube Channel yang sering dikunjungi?

Tapi bukan berarti saya tidak pernah melihat video-video yang jadi pendorong untuk menjadikannya rekomendasi channel --karena memang isinya bermanfaat dan bisa jadi inspirasi— Saya banyak saved video yang sekiranya bermanfaat dan menginspirasi supaya saat mencari tayangan favorit itu bisa dilakukan segera dengan mudah. Tapi bukan di YouTube.

Akhir-akhir ini saya mainnya sering di tiktok dan sedang merintis, membesarkan akun baru di Instagram pengganti akun-akun yang sudah hangus. Jadi walau tidak punya channel yang direkomendasikan di YouTube, saya punya akun tiktok yang direkomendasikan yang isinya sangat mempengaruhi jalan kehidupan dan pemikiran saya dan juga lingkungan sekitar lainnya.

Saya akan ceritakan satu video saja dari salah satu akun yang saya anggap memiliki keunggulan itu. Apakah ada manfaat langsung yang didapatkan atau tidak setelah menonton video tersebut, itu kembali ke penilaian masing-masing ya…

Adalah akun tiktok Kang Andri yang saat ini sedang tinggal bekerja di Jerman. Mungkin karena basic awalnya saya juga TKW, jadi cerita hidup tentang perantauan WNI di luar negeri itu banyak saya koleksi karena sangat menarik buat saya.

Yang unik dari video Kang Andri ini adalah ketika dia membagikan kisah inspiratif mengenai memulung kaleng bekas di Jerman jadi peluang cuan!

Intinya kalau gak punya uang ga ada makanan, asal mau mulung itu sudah cukup bisa jadi sumber penghasilan!

Jadi ceritanya saat tidak bekerja, dia sengaja keluar rumah untuk memulung kaleng dan botol bekas minuman yang dibuang orang sembarangan. Siapa kira beberapa jam memulung, pulang membawa uang sebesar sekitar 74 ribu rupiah!

Saking niatnya dan memang kegiatan itu dilakukan seringkali sehingga dia juga mempersiapkan tas belanja cukup besar untuk membawa kaleng dan botol bekas minuman nanti yang ditemuinya.

Jadi di Jerman bisa jadi pemulung? Bisa. Dan pemulung di sana bermartabat keren banget. Cuma mulung beberapa biji kaleng dan botol bekas minum aja, itu udah bisa jadi uang beberapa Euro.

Mata uang resmi Jerman saat ini adalah Euro (€). Digunakan secara resmi di Jerman sejak 1 Januari 2002, menggantikan Deutsche Mark (DEM) dengan kode mata uang EUR.

Satu Euro dibagi menjadi 100 sen euro. Pecahan uang kertas Euro terdiri dari €5, €10, €20, €50, €100, €200, dan €500. Sedangkan uang koinnya terdi dari 1sen, 2sen, 5sen, 10sen, 20sen, 50sen, €1, dan €2. Nilai tukar Euro ke Rupiah berdasarkan data Maret 2026, 1 Euro (EUR) bernilai sekitar Rp19.000 – Rp20.000 (fluktuatif).

Kembali ke laptop video Kang Andri yang sedang mulung, disana digambarkan kalau pertama-tama dia menemukan dua kaleng bekas minuman. Langsung diambil dan masuk tas belanja. Tak lama menemukan lagi beberapa kaleng bekas minuman dan botol air mineral. Keduanya diambil karena sama-sama berharga walaupun nilai besaran harganya tidak sama.

Harga jual kaleng atau botol bekas minuman juga dihitung per buah, bukan per kilogram seperti di negara kita. Jadi walaupun cuma dapat mulung satu dua kaleng atau botol saja itu udah bisa menghasilkan uang.

Tempat penjualan atau penukaran kaleng atau botol bekas minum itu juga sudah canggih karena menggunakan mesin yang tersedia di beberapa minimarket atau swalayan setempat. Bukan semacam tukang pengepul seperti di kampung saya yang sering disebut juragan rongsokan ya… jadi beneran anti korupsi calo dan tidak ada permainan harga.

Tidak ada tawar menawar. Semua harga transparan karena disertai kwitansi dan kwitansi itu bisa jadi uang maksudnya bisa ditukar sebagai alat pembayaran saat berbelanja di minimarket.

Singkat cerita Kang Andri udah mengumpulkan beberapa kaleng dan botol. Lalu ia menuju sebuah minimarket yang menyediakan mesin penampungan kaleng dan botol bekas minuman tadi.

Setiap kaleng dan botol yang ditukar harganya berbeda-beda. Cara menukarkan kaleng atau botolnya kita tekan tombol on pada mesin penukaran. Setelah lampu pendeteksi alias sensor berjalan lalu masukan kaleng atau botol bekas ke tempatnya. Alat sensor akan mencatat dan mengeluarkan berapa harga tukar kaleng atau botol bekas minuman itu.

Satu kaleng ditukar dengan harga sekitar 25 sen. Sementara harga botol air mineral atau semacam ice tea gitu sekitar 15 sen. Sekali mulung pagi itu Kang Andri mengumpulkan sekitar 3 Euro 70 Sen (dalam bentuk kwitansi, bukan uang cash ya). Kalau dirupiahkan sekitar 74 ribu rupiah.

Karena Kang Andri membutuhkan telur untuk lauk makan di tempat tinggalnya, maka ia akan membeli telur di minimarket tersebut. Satu pak telur harganya 2 Euro 40 cen dibayar dengan kwitansi hasil dari penukaran kaleng dan botol bekas minuman tadi. Karena satu pak telur harganya sekitar 2 Euro 40 cen maka ada sisa sekitar 1 Euro 30 cen.

Sisa uang itu diberikan kasir sebagaimana kembalian belanja pada umumnya. Jadi hasil usaha mulung pagi itu Kang Andri pulang membawa satu pak telur dan uang 1 Euro 30 cen.

Sebegitu mudahnya ya mencari uang di Jerman?Saya sudah bilang di atas kalau cuma mulung beberapa biji kaleng dan botol bekas minum aja, itu udah bisa jadi uang beberapa Euro. Jadi bayangkan sekali mulung kalau saja mendapatkan 2 Euro berarti udah dapat sekitar 40 ribu rupiah. Di Indonesia, harga satu karung penuh botol bekas hanya dihargai sekitar delapan ribu! Wadidaw, jomplang banget kan ya?

Yang bikin seru adalah komentar para netizen. Sampai ngakak saya bacanya karena banyak komen yang absurd dan konyol.

Ada yang ngajak kita mulung aja di Jerman, ada yang membayangkan seandainya sampah di Indonesia bisa jadi uang dengan menghasilkan seperti itu.

Ada juga yang bilang kalau sampah di Indonesia dihargai sebesar itu masyarakat gak bakalan buang sampah sembarangan lagi dan kemungkinan Indonesia bisa bebas sampah sebagaimana di Jerman sana. Bagaimana pendapatmu?

Read more ...

Garut Sukabumi Berakhir di Bakso Buver

Ngahuleng ketika membaca tema terakhir yang diberikan Teh Ani dalam kegiatan rutinan ngeblog beberapa bulan lalu. Udahlah saya terlambat me...