Seperti biasa, ngedraft kapan, publikasi kapan. Ini ngedraft tulisan sejak awal September, niat hati mau ngulas seputar radio, teringat Hari Radio Nasional yang diperingati setiap tanggal 11 September, yang juga bertepatan dengan hari lahir Radio Republik Indonesia (RRI). Apa daya tulisannya baru rampung sekarang. Haha! Maafkeun!
Radio Tak Pernah Mati, Cuma Ganti Gaya: Dari Penyiar Modal Suara sampai Live TikTok!
Pernah nggak, sedang asyik makan gorengan, lalu tiba-tiba terdengar suara penyiar radio yang begitu semangat sampai-sampai kamu merasa sedang diajak ngobrol secara pribadi?
“Selamat pagi, Sobat Radio! Semoga hari ini rezekinya lancar, cintanya nggak kandas, dan cicilannya segera lunas!”
Kita yang mendengar langsung tersenyum. Saya sendiri pasti langsung jawab "Aamiin...!"
Padahal, si penyiar entah berada di mana (kalau gak tau nama radionya) sedang duduk di studio ber-AC atau kipas anginnya berputar sambil mengeluarkan suara krek-krek-krek seperti jangkrik masuk angin.
Begitulah radio. Meski tidak selalu menampilkan wajah, suaranya bisa menemani siapa saja. Dari tukang sayur yang sedang menata dagangan, sopir angkot yang mengejar setoran, sampai ibu-ibu yang sedang memasak sambil mengawasi anaknya agar tidak menjadikan ruang tamu sebagai arena balap mobil-mobilan.
Namun, zaman terus berubah. Dulu, radio cukup bermodalkan mikrofon, pemancar, dan suara penyiar yang renyah. Sekarang? Mikrofon masih ada, tetapi kamera ikut nimbrung. Penyiar bukan cuma harus pandai bicara, melainkan juga harus pandai berdandan . Eh salah, maksudnya harus siap siap tampil di layar.
Ya! Selamat datang di era radio TikTok. Era dimana ketika suara yang biasanya hanya terdengar, sekarang bisa dilihat, dikomentari, bahkan diminta joget oleh penonton!
1. Dulu, Penyiar Radio Itu Misterius. Sekarang, Salah Kedip Bisa Masuk FYP!
Bayangkan kehidupan pendengar radio zaman dahulu.
Pagi-pagi, ayah menyalakan radio. Ibu memasak di dapur. Anak-anak bersiap sekolah. Dari radio terdengar suara penyiar yang ceria, diselingi lagu-lagu favorit dan berbagai informasi mulai lalu lintas, harga sayur mayur di pasar, sampai berita kehilangan.
Penyiar terasa seperti sahabat dekat. Kita hafal suaranya, hafal gaya bercandanya, tetapi belum tentu tahu seperti apa wajahnya.
Bisa jadi suaranya semerdu penyanyi, tetapi rambutnya sedang berdiri seperti antena televisi. Bisa juga suaranya berwibawa bak pejabat negara, padahal saat siaran ia memakai kolor doang, dan sandal jepit kesayangan.
Pendengar tidak tahu. Yang penting suaranya enak didengar!
Nah, di era radio TikTok, rahasia itu mulai terbongkar.
Penyiar yang biasanya hanya terdengar kini harus berhadapan dengan kamera. Saat berbicara, ia harus menjaga intonasi, ekspresi wajah, posisi duduk, dan sesekali memeriksa apakah rambutnya masih berada di tempat yang semestinya.
Dulu, salah menyebut nama pendengar mungkin hanya bikin malu di studio. Sekarang, salah ucap sedikit bisa dipotong menjadi video pendek, diberi tulisan lucu, lalu beredar ke mana-mana.
Dunia penyiaran memang berubah. Dari yang penting suara terdengar, menjadi suara terdengar, wajah terlihat, dan tingkah laku jangan sampai bikin admin ikut istigfar.
2. Mikrofon Tetap Sakti, tetapi Sekarang Ada Pasukan Komentar
Dahulu, komunikasi penyiar dengan pendengar biasanya dilakukan melalui "atensi" alias surat atau kartu pendengar, telepon, SMS, atau pesan singkat. Penyiar membacakan salam dan permintaan lagu, lalu pendengar menunggu dengan harap-harap cemas. Kadang dibaca langsung kadang nunggu hari berikutnya kalau atensi sedang membludak.
“Lagu ini dari Rina untuk Dedi, yang katanya sedang kangen.”
Waduh! Kalau Dedi ternyata sudah punya pacar baru, urusannya bisa lebih panjang daripada durasi lagu, tuh!
Sekarang, TikTok Live membuat interaksi terasa lebih langsung. Pendengar bisa masuk ke ruang siaran, menulis komentar, mengirim emoji, atau menyapa penyiar secara real time.
Penyiar pun harus pandai membagi perhatian. Mulut berbicara, mata membaca komentar, tangan mengatur peralatan, sementara otak berusaha mengingat lagu berikutnya.
Contohnya begini:
Penyiar: “Selamat malam, semuanya! Apa kabar?”
Penonton: “Bang, putar lagu galau!”
Penonton lain: “Kak, putar lagu dangdut!”
Penonton berikutnya: “Kak, aku mau curhat. Pacarku direbut teman sendiri!”
Penyiar: “Baik, kita putar lagu dulu. Untuk masalah pacar, kita bahas setelah iklan. Kalau temanmu ikut merebut mikrofon, itu baru masalah teknis!”
Inilah salah satu daya tarik radio TikTok. Pendengar bukan cuma duduk manis menerima siaran, tetapi bisa ikut meramaikan suasana.
Tentu saja, penyiar juga perlu pintar mengatur obrolan agar tidak berubah menjadi rapat warga yang semua orang ingin bicara bersamaan.
3. Radio TikTok, Bukti Bahwa Radio Bisa Ikut Nongkrong di Dunia Digital
Ada yang mengira radio sudah ketinggalan zaman karena sekarang orang bisa mendengarkan musik melalui aplikasi, menonton video pendek, atau menikmati podcast.
Padahal, radio tidak harus melawan teknologi. Radio justru bisa memanfaatkannya.
Siaran yang sebelumnya hanya bisa didengarkan melalui frekuensi radio kini dapat diperluas melalui streaming internet, aplikasi, media sosial, dan siaran langsung.
Radio Republik Indonesia (RRI), misalnya, mengembangkan aplikasi RRI Digital yang menyediakan streaming radio, podcast, video, hingga fitur interaksi. Dalam laporan yang disampaikan pada Februari 2025, aplikasi tersebut tercatat memiliki sekitar 580.500 pengguna dan 3,2 juta kunjungan streaming hingga Januari 2025.
RRI juga memanfaatkan TikTok dan platform media sosial lainnya untuk menjangkau masyarakat, termasuk generasi muda.
Artinya, radio tidak harus ditinggalkan hanya karena orang lebih sering memegang ponsel daripada memutar tombol radio.
Saya nonstop 24 jam menyetel tembang Sunda, wayang golek, atau bobodoran melalui Radio Sunda (radiona urang Sunda sadunya) yang entah keberadaan studionya dimana karena saya mantau melalui aplikasi streaming menggunakan tablet anak--yang nganggur karena anaknya di pondok.
Begitu juga kalau malam takbiran, saya hangatkan suasana rumah dan tempat mengaji para santri dengan lantunan takbir nonstop melalui streaming pula. Berhenti kalau listrik mati atau internet nya mati saja.
Beda lagi kalau pendengar berkumpul di TikTok, penyiar bisa menyapa mereka di sana. Kalau pendengar lebih suka streaming, radio bisa hadir melalui aplikasi.
Ibarat pedagang bakso, dulu pembeli harus datang ke gerobak. Sekarang, baso bisa dipesan lewat aplikasi. Kuahnya tetap baso, hanya cara menemui pembelinya yang berubah.
Begitu pula radio. Jiwanya tetap sama, tetapi pintu masuknya semakin banyak.
4. Angka-Angka yang Membuktikan Radio Masih Punya Cerita
Radio TikTok bukan sekadar ide iseng agar penyiar bisa eksis di media sosial. Ada penelitian yang mulai mengamati bagaimana siaran radio memanfaatkan platform ini.
Salah satunya adalah penelitian tentang siaran TikTok Live Radio Publik Kota Denpasar (RPKD) FM yang diterbitkan dalam RELASI: Jurnal Penelitian Komunikasi pada Mei 2026.
Penelitian tersebut mengamati 66 sesi siaran selama Januari–Maret 2026. Hasilnya menunjukkan bahwa salah satu sesi pada Februari berhasil menjangkau 1.900 penonton dan memperoleh 30 pengikut baru. Penelitian itu juga mencatat bahwa performa siaran berbeda-beda, bergantung pada program, waktu tayang, durasi, dan interaksi dengan penonton.
Tentu, angka tersebut tidak berarti setiap radio yang siaran di TikTok otomatis akan kebanjiran penonton.
Bisa saja siaran pertama hanya ditonton lima orang. Tiga orang menonton karena penasaran, satu orang nyasar, dan satu lagi ternyata ponselnya tertinggal dalam keadaan TikTok terbuka.
Tidak apa-apa. Semua yang besar juga pernah memulai dari kecil.
Yang penting, penyiar terus belajar membuat acara menarik, menyapa penonton, dan menghadirkan konten yang punya manfaat.
Sebab, jumlah penonton memang penting, tetapi membuat orang betah dan ingin kembali juga tidak kalah penting.
5. Menjadi Penyiar Zaman Now: Suara Bagus Saja Belum Cukup!
Kalau dulu penyiar radio identik dengan suara merdu dan kemampuan merangkai kata, sekarang keterampilannya bisa lebih beragam.
Penyiar radio TikTok perlu menguasai beberapa hal berikut:
Pertama, pintar berbicara. Tidak harus menggunakan bahasa yang terlalu formal. Sapaan sederhana, cerita lucu, dan obrolan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari justru bisa membuat suasana terasa akrab.
Kedua, pandai membaca suasana. Kalau penonton sedang ramai bercanda, penyiar bisa ikut mencairkan suasana. Kalau ada informasi penting, waktunya kembali serius. Jangan sampai sedang membahas banjir malah sibuk membahas mantan.
Ketiga, berani tampil di depan kamera. Tidak perlu langsung bergaya seperti artis televisi. Duduk nyaman, berbicara dengan jelas, dan menunjukkan ekspresi yang wajar sudah menjadi awal yang baik.
Keempat, memahami teknologi. Mikrofon, kamera, pencahayaan, koneksi internet, dan pengaturan suara harus diperhatikan. Jangan sampai suara penyiar terdengar seperti robot yang baru bangun tidur.
Kelima, tetap menjaga etika. Walaupun suasananya santai, penyiar harus berhati-hati saat menyampaikan informasi. Jangan menyebarkan kabar yang belum jelas, membuka rahasia pendengar, atau menjadikan orang lain bahan candaan yang menyakitkan.
Sebab, lucu itu menyenangkan. Namun, lucu tanpa batas bisa membuat orang lain kehilangan kenyamanan.
6. Tantangan Terbesar: Penonton Bisa Kabur Sebelum Lagu Selesai
Inilah bedanya siaran radio biasa dengan siaran di platform digital.
Ketika mendengarkan radio di perjalanan, orang mungkin tetap mendengarkan meskipun penyiar sedang berbicara panjang. Tangan mereka sibuk menyetir, sementara telinga tetap menyimak.
Di TikTok, situasinya berbeda. Penonton tinggal menggeser layar.
Penyiar baru berkata, “Halo, teman-teman, hari ini kita akan membahas sesuatu yang sangat menarik dan—”
Geser!
Penonton sudah pindah ke video kucing yang sedang memakai helm.
Maka, pembukaan siaran harus menarik. Jangan terlalu lama berbasa-basi. Buat penonton penasaran, ajak mereka berinteraksi, dan berikan alasan untuk bertahan.
Misalnya:
“Pernah nggak, kamu pura-pura sibuk supaya tidak dimintai tolong? Malam ini kita bahas seni menghindari pekerjaan tambahan tanpa kehilangan teman!”
Nah, ini baru pembukaan yang mengundang rasa ingin tahu. Bisa jadi penonton bertahan karena merasa sedang dibicarakan.
Namun, penyiar juga harus ingat bahwa mengejar penonton bukan berarti harus membuat sensasi setiap saat. Konten yang informatif, menghibur, dan konsisten tetap punya tempat.
7. Radio Masa Depan: Bisa Didengar, Bisa Ditonton, Bisa Diajak Curhat
Masa depan radio mungkin tidak lagi terbatas pada suara yang keluar dari kotak kecil di ruang keluarga.
Radio bisa menjadi teman perjalanan melalui streaming, teman bekerja lewat aplikasi, atau teman begadang melalui TikTok Live.
Bahkan, radio lokal bisa memperkenalkan potensi daerahnya kepada orang-orang yang tinggal jauh dari wilayah tersebut. Informasi pasar, kegiatan masyarakat, musik lokal, cerita budaya, sampai kabar komunitas bisa dikemas menjadi siaran yang menarik.
Bayangkan seorang penyiar di Cianjur sedang membahas kuliner khas daerah. Pendengar dari Bandung ikut berkomentar. Seseorang dari Jakarta bertanya cara menuju lokasi. Penonton dari luar negeri malah penasaran dengan bahasa Sunda yang digunakan penyiar.
Studio kecil, tetapi percakapannya bisa melintasi batas kota, lintas dunia. Entah kalau ke ruang angkasa ya?
Tentu saja, teknologi tetap membutuhkan manusia yang kreatif. Kamera canggih tidak otomatis membuat acara menarik. Mikrofon mahal juga tidak menjamin lelucon penyiar akan membuat orang tertawa.
Kadang, satu cerita sederhana tentang kehidupan sehari-hari justru lebih membekas daripada peralatan studio yang harganya membuat dompet mendadak ingin mengundurkan diri.
Selama Ada yang Mau Bercerita, Radio Punya Alasan untuk Mengudara
Radio sudah melewati banyak perubahan zaman. Dari radio tabung, radio transistor, siaran FM, streaming internet, hingga siaran langsung di TikTok.
Bentuknya berubah. Cara orang menikmatinya berubah. Bahkan, penyiar yang dahulu bisa siaran sambil memakai kaus oblong kini harus memikirkan pencahayaan dan posisi kamera.
Namun, ada satu hal yang tidak berubah: keinginan manusia untuk mendengar cerita, menikmati musik, mendapatkan informasi, dan merasa ditemani.
Radio TikTok menjadi salah satu cara baru untuk menjaga kedekatan itu. Penyiar bisa menyapa pendengar secara langsung, pendengar bisa ikut meramaikan acara, dan obrolan sederhana bisa menjadi hiburan bagi banyak orang.
Jadi, apakah radio akan kalah oleh TikTok?
Belum tentu. Bisa jadi, justru radio yang sedang belajar menggunakan TikTok untuk memperluas suaranya.
Karena pada akhirnya, radio bukan cuma soal alat pemancar atau aplikasi yang digunakan. Radio adalah tentang suara manusia yang mampu membuat manusia lain merasa dekat, meskipun tidak sedang duduk bersebelahan.
Dan untuk para penyiar, tetap semangat, ya!
Kalau hari ini penonton masih sedikit, jangan langsung sedih. Teruslah berkarya. Siapa tahu besok jumlah penonton bertambah.
Kalau belum viral, bukan berarti gagal. Mungkin algoritmanya sedang sibuk menonton video kucing oyen yang lagi ngamen.
Tetap mengudara, tetap menghibur, dan jangan lupa: suara boleh merdu, penampilan boleh kece, tetapi yang paling penting adalah membuat pendengar betah sampai lupa kalau mi instannya sudah kelembekan!
Referensi
RRI — Penguatan Multiplatform Menjadi Kunci Eksistensi RRI . Informasi tentang pengembangan RRI Digital dan penggunaan media sosial.
RELASI: Jurnal Penelitian Komunikasi — Analisis Kinerja Siaran TikTok Live RPKD FM pada Kuartal I 2026 . Penelitian tentang 66 sesi siaran TikTok Live RPKD FM.
Jurnal Pustaka Komunikasi — Future of Radio Broadcasting and Audience Behavior in Streaming and Apps . Penelitian tentang perilaku pendengar radio digital di Indonesia.





















