Jumpa seseorang secara tiba-tiba yang sempat kenal dan akrab sekitar 30 tahun yang lalu itu surprise banget. Kaget. Berasa mimpi. Beneran ini sobat begadang waktu jaman sekolah?
Jadi ceritanya Minggu lalu saya ikut suami yang mewakili sekolahnya membimbing Pramuka penggalang lomba di sekolah lanjutan tingkat atas. Lokasinya jangan ditanya, pokoknya di ujung dunia. Padahal masih satu kecamatan.
Dari rumah ke kota kabupaten cianjur saja, pakai kendaraan sekitar 2 jam. Nah ini dari rumah ke sekolah yang mengadakan acara lomba itu, 2 jam juga! Malah lebih.
Jaraknya sih tak sampai puluhan kilometer. Yang bikin lama itu kondisi jalannya. Rusak parah. Jadi walaupun naik kendaraan, bisa disamakan dengan jalan kaki. Malah lebih repot. Luar biasa pokoknya jalannya itu. Udah naik turun melipir bukit, tanpa aspal melainkan masih tanah merah dan berbatu. Pas berangkat cuaca hujan pula, percis deh seperti mengendarai kendaraan di sungai! Luar biasa ya kabupaten Cianjur ini ternyata di pelosok nya itu masih ada jalan kemiskinan…
Tapi sudah lupakanlah soal itu. Karena saya mau cerita soal ketemu besti yang tidak terduga itu tadi.
Sedang memantau dari jauh peserta didik ikut lomba pionering, eh tiba-tiba lewat seseorang yang kalo dari wajah gak asing lagi. Cuma penampilan udah tua, terlihat dari rambut yang memutih, plus keriput di wajah gak bisa bohong.
Ketika saya melongo sambil menunjuk padanya, dia juga terlihat terkejut dan nunjuk pula ke saya. Fix, berarti dia juga kenal saya.
Setelah saya tanya memastikan apakah benar dia teman waktu di Sukanagara? Dan dia bilang iya. Tapi maaf katanya kamu siapa, saya lupa lagi. Ya Gusti, segitunya… hihi … padahal saat itu saya termasuk primadona lho, teganya dia melupakan saya. Haha.
“Kok bisa ada di sini? Di ujung dunia?” tanya saya udah gak canggung lagi. Begitu pun dia udah mulai kembali ke setingan jaman dulu, kembali suka bercanda dan jailin saya.
“Kamu lulus aku tuh masih di Sukanagara. Sering main ke rumah tapi kamunya gak ada. Sampai bertahun-tahun. Nasibku kurang baik. Tetap gagal ikut pengangkatan hingga ada seleksi PPPK akhirnya lolos. Tapi yaitu nyangkutnya di ujung dunia ini.” Katanya sambil tertawa-tawa.
Banyak banget yang saat itu ingin kami kenang. Tapi karena suasananya tidak memungkinkan jadinya obrolan kami akhiri.
“Aku gak banyak komunikasi sama teman-teman. Malu lah. Selain itu udah tua juga. Haha … titip salam aja buat semua teman-teman ya…” pesan nya sebelum kami berpisah. Tidak lupa kami sempat selfi bertiga dulu bersama suami.
Sambil memantau jalannya acara lomba Pramuka itu saya jadi kepikiran. Apakah salamnya itu saya sampaikan di group alumni saja? Ntar bagaimana kalo ada yang minta no kontaknya, sementara saya aja gak dikasih. Lagian jujur aja, di group juga saya tidak pernah interaksi. Bukan sombong, tapi ya gimana ya, merasa kalau tidak penting lebih baik saya diam saja.
Bahkan saat ponsel saya eror dan nomor WhatsApp hangus, saya keluar otomatis dari semua group, saya tidak berusaha masuk lagi. Tapi salah satu teman yang jadi kontak saya tiba-tiba mengundang saya lagi. Jadinya saya bergabung lagi walau itu tadi, banyak diamnya.
“Okti kunaon ayeuna mah jadi cicingeun?” banyak teman satu frekuensi jaman dulu menyelidiki. Mungkin merasa heran kenapa saya sekarang “membatasi” diri padahal jaman sekolah saya itu orangnya bawel, gak mau diam dan pecicilan.
Bingung mau jawab apa. Tapi mungkin bagi yang sudah berusia 40 ke atas, sedikit banyak sudah kepikiran bagaimana menyikapi pergaulan dan bagaimana harus ambil keputusan saat bergabung dengan sebuah circle?
Saya sendiri merasa udah beda jamannya, udah terjadi seleksi alam kenapa bisa pertemanan saya batasi. Walau tidak bisa saya bilang semakin bertambah, malah berkurang, atau stagnan. Karena dalam kehidupan, datang dan pergi itu sudah biasa terjadi.
Memasuki usia 40 sering kali dianggap sebagai “masa puber kedua,” tetapi secara biologis dan psikologis, ini adalah fase transisi besar yang menuntut penyesuaian gaya hidup. Bukan berarti masa muda telah berakhir, justru ini adalah waktu untuk menjadi lebih strategis dengan kesehatan dan kesejahteraan diri.
Mau diakui atau tidak di usia 40-an, tubuh tidak lagi se-fleksibel usia 20-an. Metabolisme mulai melambat, dan massa otot cenderung menurun.
Daripada main-main mending mulai rutin memeriksa tekanan darah, kadar kolesterol, gula darah, dan fungsi jantung. Bagi wanita, mending lakukan pemeriksaan mammogram dan pap smear daripada ketemuan gak jelas sambil makan-makan dan pamer perhiasan, sementara pria mungkin sudah perlu memperhatikan kesehatan prostat daripada ikut lomba memancing toh ujungnya ikan yang dikonsumsi tetap aja hasil beli di pasar.
Karena risiko sarkopenia (penyusutan otot), latihan beban secara rutin sekarang jadi lebih penting daripada sekadar senam di lapangan sambil jalan bareng teman-teman sekadar menjaga kepadatan tulang dan metabolisme.
Berkaca pada penyakit yang diderita almarhumah ibu, saya fokus mengurangi asupan gula dan karbohidrat olahan. Lebih ke meningkatkan serat dan protein berkualitas tinggi untuk mendukung regenerasi sel. Belajar fokus dengan pilihan mengonsumsi itu bukan tidak mau gabung sama teman di acara-acara ngaliwet, arisan dan sebagainya.
Terlebih pada penjagaan kesehatan mental dan emosional, di usia 40-an banyak orang mengalami apa yang disebut “mid-life crisis” masa di mana seseorang mulai merenungkan pencapaian hidup.
Usia 40 biasanya merupakan puncak karier sekaligus puncak tanggung jawab keluarga (mengurus anak remaja sekaligus orang tua yang menua). Meditasi atau hobi yang menenangkan sangatlah penting.
Karena itu daripada wara-wiri gak jelas, walaupun difasilitasi teman yang kaya, saya memilih fokus pada kualitas hubungan daripada kuantitas.
Saya mulai belajar berkata “tidak” pada hal-hal yang menguras energi mental tanpa memberi nilai tambah.
Memilih diam dan tidak mengikuti kegiatan yang diselenggarakan teman-teman kalau sekiranya tidak memberikan manfaat untuk saya.
Saya lebih memilih mengupgrade diri dan gaya hidup dengan jalan sederhana sebisa yang saya lakukan.
Memprioritaskan tidur 7-8 jam per hari karena istirahat itu kunci pemulihan sel otak dan tubuh.
Membangun komunitas yang positif. Karena kesepian di usia tua kelak itu bermula dari pengabaian relasi di usia tengah ini.
Memasuki usia 40 bagi saya bukan tentang menjadi tua, tetapi tentang menjadi “sadar”. Ini adalah waktu terbaik untuk membuang kebiasaan buruk yang dulu dimaafkan oleh tubuh kita saat masih muda.
Memasuki lingkaran pertemanan (circle) yang baru di usia matang memang terasa lebih menantang dibandingkan saat kita masih sekolah atau kuliah.
Di usia menuju setengah abad, saya cenderung lebih selektif dan tidak memiliki banyak waktu untuk basa-basi yang tidak perlu.
Namun, membangun koneksi di usia tua justru sangat krusial untuk menjaga ketajaman kognitif dan kebahagiaan emosional.
Strategi untuk menemukan dan memasuki circle yang tepat saya lakukan berdasarkan seleksi. Mencari teman berdasarkan “Interest”, bukan sekadar “Usia”
Pertemanan yang langgeng di usia dewasa biasanya disatukan oleh kegiatan atau visi yang sama, bukan hanya karena seumuran.
Komunitas hobi bisa jadi salah satu alternatif. Suka nonton, gabung dengan komunitas Blogger Film Bandung, misalnya. Suka baca, berteman dengan teman-teman klub buku. Hobi yang sama bisa menciptakan topik pembicaraan instan walau beda usia.
Dengan koneksi internet kita akan lebih mudah mengikuti lokakarya keterampilan baru sebagai tempat berkumpulnya orang-orang yang memiliki semangat tumbuh (growth mindset).
Karena itu di usia tua saya ini, saya tidak butuh 100 teman nongkrong. Saya cukup butuh 3-5 orang yang “berisi” saja. Karena terbaik adalah kualitas di atas kuantitas.
Yang paling penting saya perhatikan adalah nilai-nilai moral dan etika mereka apakah sejalan dengan saya? Circle yang benar adalah yang mendukung kesehatan mental, bukan yang penuh dengan drama atau ajang pamer (toxic). Membawa kita ke arah yang lebih baik bukan sebaliknya malah menjerumuskan.
Saya tidak akan ragu masuk ke lingkaran yang membuat saya merasa bersemangat setelah bertemu mereka, bukan justru merasa lelah secara mental.
Orang dewasa sangat menghargai mereka yang bisa mendengarkan tanpa menghakimi. Ini adalah “tiket” termudah untuk diterima di lingkaran mana pun.
Salah satu hambatan bergaul di usia tua adalah gengsi atau rasa sungkan. Padahal menurut saya justru harus ditanamkan rasa berani untuk menegur duluan.
Senyuman dan sapaan sederhana seperti, ”Saya sering baca artikelnya waktu blogwalking. Ingin sekali berteman dengan blogger rafahlevi. Salam kenal ya?” kalimat seperti itu bisa menjadi pembuka pintu circle yang luar biasa. Tentu saja kalau pertemanan nya disambut. Tidak ditolak.
Terkadang banyak orang yang terlalu menjaga citra karena posisi atau jabatan. Saya lihat sebagian teman-teman saya seperti itu. Makanya hasilnya juga bisa dilihat seperti hampa. Padahal menurut saya pribadi apa susahnya sih tinggal mencoba tampil sebagai diri sendiri yang manusiawi dan apa adanya?
Circle kita sudah benar atau belum itu relatif. Plus dan minusnya mengurangi circle pertemanan juga tergantung dari persepsi pribadi masing-masing. Tapi kalau terlihat isinya tentang bahas ide dan rencana masa depan yang lebih baik, saling mendukung gaya hidup sehat, menghargai batasan (boundaries) masing-masing serta jujur namun tetap sopan saat memberi saran, fix, itu salah satu contoh circle yang bermanfaat dan bernilai positif.
Sebaliknya saya akan segera meninggalkan circle pertemanan yang terlalu banyak bergosip atau membicarakan orang lain. Saling menjatuhkan atau kompetisi yang tidak sehat. Selalu memaksakan kehendak atau meminjam uang secara tidak sehat. Hanya memuji di depan tetapi mencela di belakang. Uh, langsung say goodbye aja kalo gitu.
Gak merasa kaku ketika dimintai titip salam oleh teman lama yang baru jumpa sementara saya sendiri gak berteman banyak dengan teman-teman lama dan justru banyak lingkaran pertemanan yang saya tinggalkan.
Mungkin gara-gara jumpa teman lama kemarin itu sepulang dari acara lomba Pramuka saya kembali melakukan reconnecting. Demi bisa menyampaikan amanah yang dititipkannya. Terkadang circle terbaik adalah teman-teman lama yang sempat terputus kontaknya. Mengirim pesan singkat untuk sekadar bertanya kabar bisa membuka kembali pintu pertemanan yang sudah memiliki pondasi sejarah yang kuat.

















