Sepuluh tahun lalu, dan sebelumnya dunia blogging masih sangat personal dan intim. blog dipakai sebagai diary digital, tempat curhat, berbagi pengalaman, dan membangun komunitas kecil. Blog lebih menekankan cerita pribadi daripada monetisasi, berbeda dengan tren sekarang yang lebih fokus pada branding dan cuan.
Lain jaman lain juga kebiasaannya ya…
Jika sepuluh tahun lalu blog dipakai sebagai diary online maka sekarang blog digunakan sebagai branding diri atau bisnis.
Dulu banyak blogger menulis layaknya buku harian, membagikan cerita sehari-hari, pengalaman kuliah, pekerjaan, atau bahkan curhat pribadi. Blogspot dan WordPress gratisan jadi rumah utama.
Kini blog sudah lebih modern. Blogger banyak menggunakan top level domain alias domain berbayar supaya tampil lebih baik dan terpercaya.
Monetisasi blog juga jadi tren. Blog berubah dari ruang ekspresi menjadi alat branding, afiliasi, dan bisnis.
Dulu komunitas blogger bisa dibilang ruang lingkupnya kecil tapi hangat.
Blogger saling berkunjung, meninggalkan komentar, dan membangun jaringan pertemanan tanpa harus diminta. Tak heran kalau blogger Cianjur macam saya bisa mengenal Blogger Surabaya dan lainnya. Interaksi terasa lebih personal dibanding media sosial sekarang.
Kalau sekarang kan istilah Blogwalking lebih ke karena tuntutan kebutuhan. Blogger perlu setoran data dan insight kepada klien. Blogwalking jadi utang piutang karena kalau tidak, bisa ditagih dan jika tidak memenuhi keinginan si empunya blogger wajib mengganti komentar. Menjurus ke komentar yang disetting.
Dulu tema dan desain blog sangat sederhana tapi banyak yang memberatkan. Banyak yang masih alay, pasang lagu, gambar berukuran besar dan perintilan lainnya dengan ukuran yang memberatinya sehingga tampilan blog jadi berat saat dibuka.
Template bawaan blogspot atau WordPress sering dipakai banyak modifikasi. Walau tidak sedikit blogger yang tetap fokusnya pada isi tulisan, bukan tampilan.
Kini banyak teori dan ilmunya yang mengemukakan bagaimana cara supaya blog ringan dibuka sehingga tidak bikin bete pembaca ketika menggunakan ponsel sekalipun. Membaca tetap nyaman dan tampilan blog bisa menyesuaikan mengikuti gadget yang dipakai.
Jaman saya mengenal blog tahun 2008 sesungguhnya SEO belum dikenal sama sekali. Yang penting curhat eh nulis, udah gitu aja. Haha…
Gak heran kalau banyak tulisan lebih jujur dan apa adanya, belum terlalu dioptimasi untuk mesin pencari. Popularitas datang dari blogroll dan rekomendasi antar-blogger.
Kalau sekarang kan ilmu SEO udah harus dipakai karena kalau enggak konon blog kita akan sulit masuk tampilan kolom mesin pencari.
Biar semangat tetap ngeblog dulu ada tren “One Week One Post” sekarang juga masih ada sih ya. Walau ada modifikasi di sana sini tapi intinya tetap supaya menyemangati dan terjadwal update menulis blog.
Dulu sesama blogger punya komitmen rutin menulis, bukan untuk trafik, tapi untuk menjaga konsistensi dan ekspresi diri. Sekarang ya tahu sendiri lah, saya aja semangat nulis itu kalau ada cuannya. Kalau nulis yang organik malas banget. Hahaha…
Perbandingan era blogging dulu vs sekarang kalau berdasarkan pengalaman pribadi kadang bikin senyum-senyum sendiri. Meski sekarang satu dasawarsa kemudian bahkan lebih dunia blog sudah lebih modern dan dipenuhi dukungan Artificial Intelligence (AI) alias Kecerdasan Buatan.
Hal itu tentu saja menjadikan adanya semacam tantangan dan perubahan
Seperti sekarang ini keberadaan media sosial banyak mengambil alih. Adanya Facebook, Instagram, dan Twitter (X) membuat orang lebih memilih update singkat di sosmed daripada menulis panjang di blog.
Sebagai blogger yang juga banyak membranding diri sebagai konten kreator, adalah sesuatu yang menantang pastinya untuk menghidupkan kembali semangat personal blogging—menulis dengan jujur, membangun komunitas yang hangat, dan menjadikan blog sebagai ruang ekspresi, bukan sekadar strategi SEO dengan berbagai tips yang keren.
Tapi siapa tahu hal itu justru bisa jadi nilai unik di era konten serba instan sekarang ini?
Hijrah dalam Islam berarti meninggalkan sesuatu menuju yang lebih baik, baik berupa perpindahan fisik maupun perubahan spiritual.
Secara historis, hijrah merujuk pada perpindahan Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah pada tahun 622 M, sementara secara maknawi hijrah juga berarti meninggalkan dosa dan menuju ketaatan.
Pengertian Hijrah
Secara bahasa: Hijrah berasal dari kata Arab hajara (الهجر) yang berarti meninggalkan atau berpindah.
Secara istilah syariat: Hijrah adalah berpindah dari negeri syirik menuju negeri Islam, agar seorang Muslim dapat menampakkan dan menjalankan agamanya dengan bebas.
Secara makna luas: Hijrah tidak hanya perpindahan fisik, tetapi juga mencakup perubahan spiritual, akhlak, dan gaya hidup menuju kebaikan.
Makna Hijrah dalam Kehidupan Sehari-hari
Hijrah dalam kehidupan sehari-hari kita saat ini banyak dipahami sebagai transformasi diri. Peralihan. Seperti:
- Hijrah spiritual: Meninggalkan syirik, dosa, dan maksiat menuju iman, taqwa, dan amal saleh.
- Hijrah akhlak: Berubah dari perilaku buruk (misalnya suka berbohong, iri hati) menuju akhlak mulia dan lebih baik.
- Hijrah sosial: Berpindah dari lingkungan yang merusak menuju komunitas yang mendukung kebaikan.
Bentuk Hijrah Modern
Bentuk hijrah ternyata mengalami perubahan juga, menyesuaikan dengan perkembangan jaman kali ya...
Bentuk hijrah secara fisik lebih menekankan ke perpindahan dari tempat yang menghalangi ibadah ke lingkungan yang lebih islami
Bentuk hijrah secara spiritual ditandai dengan mulai meninggalkan kebiasaan buruk seperti meninggalkan shalat, lalu mulai istiqamah
Bentuk hijrah secara akhlak misalnya dengan mengubah gaya hidup konsumtif menjadi sederhana dan bermanfaat
Ada juga bentuk hijrah dalam dunia digital nih... Yaitu menghindari konten negatif di media sosial, beralih ke konten edukatif dan Islami
Hijrah dari Blog Lama ke Blog Baru
Nah, mungkin saya memiliki kisah hijrah juga nih terkait dengan dunia blog alias rumah kedua saya ini. Mulai dari awal perjalanan hingga nanti saya ingin yang lebih baik juga dong ya.
Setiap tulisan memiliki rumahnya sendiri. Blog lama saya dengan domain sama tehokti.com adalah tempat healing sekaligus mencari cuan. Di sana saya bisa leluasa menata kata, menyalurkan keresahan, dan berbagi cerita. Mulai dari lajang, menikah sampai jadi seorang ibu. Dari saat masih jadi ibu bekerja sampai jadi tulen ibu rumah tangga biasa.
Di sana saya seakan tumbuh, jatuh bangun, dan menemukan suara yang perlahan menjadi ciri khas alias branding. Namun, seiring waktu, saya merasa harus realistis. Bukan ruang di blog lama itu mulai sempit. Tapi ada hal-hal lain yang harus diprioritaskan, termasuk dari segi budget.
Tahu sendiri saat ini dunia blog sedang meredup dan saya hampir kewalahan untuk mengcover semua biaya. Padahal semangat menulis tidak pernah padam. Malahan begitu banyak gaya tulisan dan kisah yang ingin tercurah, tetap ingin ada pembaca yang bisa saya ajak berdialog lebih luas.
Karena itu saya memilih budget yang lebih miring, dengan sedikit perintilannya. Satu lagi, seandainya saya meninggal dunia, dan domain ini tidak diperpanjang, insyaallah domain tld akan kembali ke setingan awal yaitu blog gratisan. Dalam arti tulisan saya tetap ada. Tetap bisa dibaca walaupun bukan dengan nama tehokti.com lagi...
Mengapa Hijrah?
Hijrah bukan berarti saya meninggalkan blog masa lalu, melainkan melanjutkan perjalanan dengan arah yang lebih jelas.
Blog baru ini buat saya adalah simbol:
- Penyegaran identitas – memberi wajah baru pada tulisan agar lebih relevan dengan pembaca masa kini.
- Ruang ekspresi yang lebih luas – memungkinkan eksplorasi tema-tema baru, dari minimalisme hingga spiritualitas.
- Komitmen untuk berkembang – menandai tekad untuk menulis lebih konsisten, lebih mendalam, dan lebih bermanfaat. Doakan ya...
Tantangan dan Harapan
Tentu ada rasa berat meninggalkan jejak lama di wordpress. Tulisan-tulisan di blog sebelumnya adalah bagian dari perjalanan yang berharga. Namun saya percaya, setiap hijrah membawa harapan.
Harapan akan pembaca baru yang menemukan inspirasi dari tulisan-tulisan segar, harapan akan konsistensi dalam menulis, bukan sekadar hobi, melainkan sebuah panggilan jiwa, hingga insyaallah sampai akhir hayat saya blog ini tetap dirawat dan dijaga.
Harapan akan makna – agar setiap kata yang tertulis menjadi cahaya kecil bagi siapa pun yang membacanya.
Blog baru TehOkti.com di blogspot adalah ruang hijrah saya—tempat saya meninggalkan jejak lama dan menata langkah baru. Di sini, setiap tulisan tetap lahir dari niat untuk bertumbuh, berbagi, dan memberi makna.
Saya percaya kata-kata bukan sekadar rangkaian huruf, melainkan jembatan yang menghubungkan hati, pikiran, dan pengalaman beserta dunia luar. Termasuk interaksi dengan sesama blogger baik blogger dalam negeri maupun luar negeri. Termasuk Blogger Banjarmasin.
Semoga blog baru ini bisa tetap hadir untuk menyegarkan identitas dan memperluas cakrawala. Menyuarakan cerita yang inklusif, hangat, dan penuh makna. Terlebih bisa menyalakan semangat agar setiap pembaca menemukan inspirasi dalam keseharian.
Hijrah dari blog lama ke blog baru bukan sekadar perpindahan alamat digital. Ini adalah perjalanan batin, sebuah keputusan untuk terus bertumbuh. Semoga blog baru ini menjadi rumah yang lebih hangat, lebih luas, dan lebih hidup bagi setiap cerita yang lahir dari semua aktivitas saya.
⚠️ Catatan
- Hijrah bukan sekadar tren, melainkan komitmen jangka panjang untuk hidup sesuai syariat.
- Kunci sukses hijrah: Niat ikhlas, istiqamah, mencari lingkungan yang mendukung, serta memperkuat ilmu agama. Karena itu, mohon doanya supaya saya bisa istiqomah dalam membagikan artikel yang bermanfaat. Aamiin.
Adakah resep kue atau masakan jadul yang membuat kamu tersentak dengan memori tertentu? Jika menemukan makanan-makanan itu, bagaimana sikapmu? Apakah langsung membeli, terinspirasi membuat sendiri, atau bagaimana?
Lebaran sebentar lagi. Belum ada kue atau penganan apapun yang disiapkan. Mengingat saya sendiri tidak bisa membuatnya. Plus saat jelang lebaran kali ini terasa banget bedanya karena ibu saya sudah tiada.
Biasanya, ada atau tiada uang, jelang lebaran ibu saya selalu nabung supaya bisa bikin kue tradisional yang sederhana. Dan yang pasti disukai anak menantunya. Karena meskipun kue modern dan mewah, tapi kalau tidak disukai anak menantunya, ibu saya pernah bilang untuk apa dibuat kalau tidak dimakan?
Memang sih saya, suami, dan adik saya itu tidak begitu suka dengan kue yang manis. Lebih menyukai camilan yang asin dan gurih. Jadi setelah mengetahui kesukaan anak menantunya itu, biasanya ibu membuat penganan tradisional seperti rengginang, kue kembang goyang, atau kue bawang.
Dan benar saja. Beberapa kali lebaran, saat ibu saya masih sehat, membuat beberapa kilogram kue tradisional itu sendiri. Setelah matang siap makan, dibagikan ke saya, ke adik dan saudara lainnya. Sehingga walaupun saya tidak bisa membuat kue lebaran sendiri, masih ada kue kiriman ibu saya itu. Asli laku keras alias cepat habis.
Kini setelah ibu tiada, asli di meja tidak ada kue sama sekali. Ada adik kirim hantaran, tapi berisi sirup dan kue kaleng. Tidak ada kue tradisional khas lebaran mengingat adik ipar saya juga sibuk kerja, tidak ada waktu untuk membuat kue meskipun dia pandai membuat aneka macam kue seperti ibu dan saudara-saudaranya.
Nastar penuh kenangan
Padahal lebaran itu identik dengan berkumpulnya semua anggota keluarga besar disertai aneka makanan, ya. Mulai kue, sampai opor, rendang dan ketupat.
Tidak di kampung tidak di kota, akan ada banyak tersedia kue jadul yang jadi nostalgia saat lebaran seperti nastar, kastengel, putri salju, kue bangkit, lidah kucing, dan lainnya.
Meski banyak varian kue modern bermunculan, kue klasik tetap dicari karena menurut saya sendiri membawa kenangan masa kecil dan kehangatan keluarga.
Kue Lebaran Jadul yang Penuh Nostalgia
1. Nastar
Isinya selai nanas dengan rasa manis-asam yang khas. Identik dengan momen lebaran, karena itu kue ini hampir selalu ada di setiap rumah.
Jika melihat kue nastar saya teringat masa kecil di Bandung, seolah menggali momen review Bandung, nastar itu jadi simbol kehangatan keluarga karena biasanya waktu di Bandung bersama keluarga besar sering membuat kue nastar dalam jumlah cukup banyak.
2. Kastengel
Kue kering berbentuk batang kecil dengan taburan keju ini sangat disukai karena rasanya gurih, berbeda dari kebanyakan kue manis. Jangan heran kalau kastengel jadi favorit tamu yang suka camilan asin.
Kastengel banyak disukai tamu
3. Putri Salju
Tidak akan lupa karena sejak kecil sudah mengenali karena keunikannya yang berbentuk bulan sabit, ditaburi gula halus putih seperti salju.
Teksturnya yang lembut dan lumer di mulut sangat disukai anak-anak. Tidak heran kue ini juga membawa nostalgia masa kecil karena tampilannya unik dan sering jadi rebutan bersama sepupu.
Putri salju
4. Lidah Kucing
Namanya aja lidah kucing tapi jelas jauh berbeda dengan lidah kucing aslinya. Kue tipis panjang dengan tekstur renyah ini punya nama unik saja sehingga membuat anak-anak dulu penasaran.
Kini kue lidah kucing banyak variasi, termasuk dengan campuran gula merah atau cokelat.
Lebaran, Kue dan Kenangan
Dimana pun berada, termasuk ketika saya berlebaran di luar negeri, jika melihat kue jadul tersebut langsung memunculkan banyak kenangan masa kecil. Termasuk mengingat momen jaman dulu saat belum ada internet dan smartphone, ketika membantu orang tua membuat nastar atau menaburi putri salju.
Kue jadul yang menyimpan banyak kenangan itu jadi simbol kebersamaan. Kue jadul bukan sekadar camilan, tapi bagian dari tradisi keluarga.
Mungkin karena itu kali ya walau banyak bermunculan kue modern, ada brownies kering atau cookies modern, dan makanan enak lainnya, tapi kue klasik ini selalu dicari saat lebaran.
Siapa kira beberapa hari jelang lebaran, ada beberapa orang wali santri anak mengaji di tempat kami datang silaturahmi membawa hantaran.
Banyak sekali yang mereka bawa. Mulai dari beras, nasi beserta lauk pauk menggunakan rantang, aneka macam kue lebaran mulai dari yang manis, asin sampai gurih, sampai keripik dan kue kaleng beserta minumannya.
Alhamdulillah. Rezeki yang tidak disangka datang dari berbagai pintu yang tidak kami duga sebelumnya.
Alhasil walaupun saya tidak bisa membuat kue dan makanan lainnya tapi lebaran kali ini bersyukur sekali sudah bisa mencicipi lebih dari cukup untuk semua itu. Semoga rezeki para wali dan santri mendapatkan ganti yang berlebih melalui tangan Allah SWT. Aamiin.
Saya punya akun Youtube, tapi jarang main di sana. Apakah terlalu memaksakan diri kalau bilang hanya saya saja yang tidak punya YouTube Channel yang sering dikunjungi?
Tapi bukan berarti saya tidak pernah melihat video-video yang jadi pendorong untuk menjadikannya rekomendasi channel --karena memang isinya bermanfaat dan bisa jadi inspirasi— Saya banyak saved video yang sekiranya bermanfaat dan menginspirasi supaya saat mencari tayangan favorit itu bisa dilakukan segera dengan mudah. Tapi bukan di YouTube.
Akhir-akhir ini saya mainnya sering di tiktok dan sedang merintis, membesarkan akun baru di Instagram pengganti akun-akun yang sudah hangus. Jadi walau tidak punya channel yang direkomendasikan di YouTube, saya punya akun tiktok yang direkomendasikan yang isinya sangat mempengaruhi jalan kehidupan dan pemikiran saya dan juga lingkungan sekitar lainnya.
Saya akan ceritakan satu video saja dari salah satu akun yang saya anggap memiliki keunggulan itu. Apakah ada manfaat langsung yang didapatkan atau tidak setelah menonton video tersebut, itu kembali ke penilaian masing-masing ya…
Adalah akun tiktok Kang Andri yang saat ini sedang tinggal bekerja di Jerman. Mungkin karena basic awalnya saya juga TKW, jadi cerita hidup tentang perantauan WNI di luar negeri itu banyak saya koleksi karena sangat menarik buat saya.
Intinya kalau gak punya uang ga ada makanan, asal mau mulung itu sudah cukup bisa jadi sumber penghasilan!
Jadi ceritanya saat tidak bekerja, dia sengaja keluar rumah untuk memulung kaleng dan botol bekas minuman yang dibuang orang sembarangan. Siapa kira beberapa jam memulung, pulang membawa uang sebesar sekitar 74 ribu rupiah!
Saking niatnya dan memang kegiatan itu dilakukan seringkali sehingga dia juga mempersiapkan tas belanja cukup besar untuk membawa kaleng dan botol bekas minuman nanti yang ditemuinya.
Jadi di Jerman bisa jadi pemulung? Bisa. Dan pemulung di sana bermartabat keren banget. Cuma mulung beberapa biji kaleng dan botol bekas minum aja, itu udah bisa jadi uang beberapa Euro.
Mata uang resmi Jerman saat ini adalah Euro (€). Digunakan secara resmi di Jerman sejak 1 Januari 2002, menggantikan Deutsche Mark (DEM) dengan kode mata uang EUR.
Satu Euro dibagi menjadi 100 sen euro. Pecahan uang kertas Euro terdiri dari €5, €10, €20, €50, €100, €200, dan €500. Sedangkan uang koinnya terdi dari 1sen, 2sen, 5sen, 10sen, 20sen, 50sen, €1, dan €2. Nilai tukar Euro ke Rupiah berdasarkan data Maret 2026, 1 Euro (EUR) bernilai sekitar Rp19.000 – Rp20.000 (fluktuatif).
Kembali ke laptop video Kang Andri yang sedang mulung, disana digambarkan kalau pertama-tama dia menemukan dua kaleng bekas minuman. Langsung diambil dan masuk tas belanja. Tak lama menemukan lagi beberapa kaleng bekas minuman dan botol air mineral. Keduanya diambil karena sama-sama berharga walaupun nilai besaran harganya tidak sama.
Harga jual kaleng atau botol bekas minuman juga dihitung per buah, bukan per kilogram seperti di negara kita. Jadi walaupun cuma dapat mulung satu dua kaleng atau botol saja itu udah bisa menghasilkan uang.
Tempat penjualan atau penukaran kaleng atau botol bekas minum itu juga sudah canggih karena menggunakan mesin yang tersedia di beberapa minimarket atau swalayan setempat. Bukan semacam tukang pengepul seperti di kampung saya yang sering disebut juragan rongsokan ya… jadi beneran anti korupsi calo dan tidak ada permainan harga.
Tidak ada tawar menawar. Semua harga transparan karena disertai kwitansi dan kwitansi itu bisa jadi uang maksudnya bisa ditukar sebagai alat pembayaran saat berbelanja di minimarket.
Singkat cerita Kang Andri udah mengumpulkan beberapa kaleng dan botol. Lalu ia menuju sebuah minimarket yang menyediakan mesin penampungan kaleng dan botol bekas minuman tadi.
Setiap kaleng dan botol yang ditukar harganya berbeda-beda. Cara menukarkan kaleng atau botolnya kita tekan tombol on pada mesin penukaran. Setelah lampu pendeteksi alias sensor berjalan lalu masukan kaleng atau botol bekas ke tempatnya. Alat sensor akan mencatat dan mengeluarkan berapa harga tukar kaleng atau botol bekas minuman itu.
Satu kaleng ditukar dengan harga sekitar 25 sen. Sementara harga botol air mineral atau semacam ice tea gitu sekitar 15 sen. Sekali mulung pagi itu Kang Andri mengumpulkan sekitar 3 Euro 70 Sen (dalam bentuk kwitansi, bukan uang cash ya). Kalau dirupiahkan sekitar 74 ribu rupiah.
Karena Kang Andri membutuhkan telur untuk lauk makan di tempat tinggalnya, maka ia akan membeli telur di minimarket tersebut. Satu pak telur harganya 2 Euro 40 cen dibayar dengan kwitansi hasil dari penukaran kaleng dan botol bekas minuman tadi. Karena satu pak telur harganya sekitar 2 Euro 40 cen maka ada sisa sekitar 1 Euro 30 cen.
Sisa uang itu diberikan kasir sebagaimana kembalian belanja pada umumnya. Jadi hasil usaha mulung pagi itu Kang Andri pulang membawa satu pak telur dan uang 1 Euro 30 cen.
Sebegitu mudahnya ya mencari uang di Jerman?Saya sudah bilang di atas kalau cuma mulung beberapa biji kaleng dan botol bekas minum aja, itu udah bisa jadi uang beberapa Euro. Jadi bayangkan sekali mulung kalau saja mendapatkan 2 Euro berarti udah dapat sekitar 40 ribu rupiah. Di Indonesia, harga satu karung penuh botol bekas hanya dihargai sekitar delapan ribu! Wadidaw, jomplang banget kan ya?
Yang bikin seru adalah komentar para netizen. Sampai ngakak saya bacanya karena banyak komen yang absurd dan konyol.
Ada yang ngajak kita mulung aja di Jerman, ada yang membayangkan seandainya sampah di Indonesia bisa jadi uang dengan menghasilkan seperti itu.
Ada juga yang bilang kalau sampah di Indonesia dihargai sebesar itu masyarakat gak bakalan buang sampah sembarangan lagi dan kemungkinan Indonesia bisa bebas sampah sebagaimana di Jerman sana. Bagaimana pendapatmu?
Sebelum memasuki bulan puasa sudah menjadi tradisi di tempat saya tinggal ini untuk membersihkan rumah dan sekelilingnya. Mulai membersihkan sarang laba-laba di atap, mencabut rumput liar yang numpang hidup di sela-sela tembok, sampai mencuci kain gorden semua jendela.
Alhamdulillah, selain rumah yang saya bangun bersama suami di Pagelaran ini, kami juga mendapatkan amanah untuk merawat rumah mama mertua di Karang Tengah Cianjur kota, dan sekarang ditambah rumah peninggalan ibu saya di Sukanagara setelah sekitar dua bulan lalu beliau meninggalkan kami untuk selama-lamanya.
Jadilah memasuki euforia Ramadan saya estafet membersihkan tiga rumah. Capek sih, malah sempat kepikiran mau mengontrakkan rumah peninggalan ibu di Sukanagara setelah berembug dengan adik. Daripada kosong kan ya, mending ada yang menempati dan merawat.
Karena berjauhan, membersihkan rumahnya bergantian. Pertama rumah tempat tinggal kami sehari-hari di Pagelaran. Cukup repot karena banyak printilan punya anak yang sedang mondok. Super lengkap seperti Blog Tulisandin yang memiliki banyak informasi di dalamnya.
Saya tidak bisa sembarangan memilah apalagi membuang barang-barang (yang walau menurut saya sudah tidak akan dipakai lagi) karena semuanya diamanahkan anak. Sebelum berangkat ke pondok anak memang menitipkan semua barang-barangnya.
“Awas jangan sampai ada yang hilang atau mati ya, Bu…” pesannya. Bilang begitu karena yang dititip selain barang-barang berupa mainan sejak jaman ia homeschooling sampai sekolah formal, lulus dan berangkat mondok, ada juga peralatan dan hewan peliharaan seperti lele albino, ikan di akuarium dan di kolam serta kucing kesayangannya yang terus bertambah.
Karena di rumah sendiri ini hampir setiap hari dibersihkan jadi tidak begitu terasa kotor dan memakan waktu banyak untuk membereskannya.
Rumah peninggalan mama mertua yang jadi bagian suami menjadi prioritas kami selanjutnya untuk dibereskan karena kebetulan sepuluh hari sebelum Ramadan anak pulang libur Ramadan dari pondok. Kami yang menjemputnya seperti biasa sebelum berangkat ke ibukota nginap dulu di sana. Nah, saat mampir nginap itulah sekaligus membereskan rumah dan isinya.
Selain mencuci gorden, menyapu dan ngepel seperti biasa saya lakukan dengan satset. Tidak ada barang banyak di rumah ini karena sudah sejak sepuluh tahun lebih rumahnya memang kosong.
Selanjutnya menuju rumah almarhumah ibu saya di Sukanagara. Jarak terdekat dengan tempat tinggal dibandingkan rumah mertua di Cianjur Kota.
Sejak ibu tiada, saya yang ambil alih membersihkan rumah dan isinya. Ada adik yang juga tinggal di Sukanagara tapi dia sibuk karena bekerja dan merasa masih sedih katanya kalau ke rumah ibu kami itu.
Bagaimanapun sebelumnya dia memang yang merawat ibu sehari-hari. Jadi saat ibu tiada, adik dan istrinya masih merasa shock, merasa terbayang-bayang dan keinget terus. Sementara saya karena ikut suami tinggal di kecamatan sebelah malah jarang ketemu. Jadi saat ibu tiada, saya tidak merasa begitu kehilangan.
Beberes di rumah ibu ternyata lebih cepat dibanding di rumah sendiri. Saya baru sadar ternyata di rumah ibu tidak banyak barang dan sebagainya. Yang ada hanya perabotan penting yang setiap hari dipakai.
Tetangga sebelah yang masih kerabat mengatakan kalau selama ini, selama sakit ibu saya sering beberes dan memberikan barang-barang yang sekiranya tidak dipakai di rumah untuk diberikan kepada yang membutuhkan.
“Selain rumah tidak sesak, kalau diberikan kepada yang membutuhkan, kelak saat dihisab kita jadi tidak punya banyak tanggung jawab.” Begitu ibu saya bilang sebagaimana disampaikan kerabat kepada saya.
Saya merasa terharu. Walau dulu saya sering kesal karena baju atau barang saya yang sekiranya sudah tidak terpakai diberikan kepada saudara yang menginginkan. Tapi kini meyakini kalau itu lebih baik daripada disimpan-simpan tapi saya sendiri tidak memakainya.
Dibanding saya, ibu saya itu memang sudah menerapkan pola hidup minimalis sejak lama. Sebuah gaya hidup yang berfokus pada kesederhanaan, dengan tujuan mengurangi hal-hal yang tidak penting agar bisa lebih menghargai apa yang benar-benar bermakna.
Hal itu bisa saya yakini karena melihat ditemukan banyak hal yang telah dilakukan almarhumah ibu saya sebagai ciri utama hidup minimalis.
Ciri Utama Hidup Minimalis
✳️ Mengurangi barang tidak perlu: Fokus hanya pada benda yang benar-benar bermanfaat.
✳️ Memprioritaskan kualitas dan makna: Lebih memilih sedikit barang, tapi berkualitas dan bermakna.
✳️ Kesadaran lingkungan: Mengurangi konsumsi berlebihan yang berujung pada sampah.
✳️ Ketenangan batin: Ruang yang lebih rapi dan sederhana membantu mengurangi stres.
✳️ Fokus pada pengalaman: Lebih menghargai hubungan, kesehatan, dan waktu daripada kepemilikan materi.
Dari kebiasaannya itu, banyak hal positif yang didapatkan yang tidak hanya bermanfaat bagi kesehatan tapi juga untuk manajemen keuangan.
Manfaat Hidup Minimalis
🌀 Kesehatan mental: pikiran jadi lebih entang. Itu bisa mengurangi rasa cemas dan stres.
🌀 Keuangan lebih sehat: karena belanja lebih bijak, tidak boros. Daripada beli barang baru lebih baik memperbaiki selagi masih bisa diperbaiki
🌀 Produktivitas meningkat: Pikiran lebih jernih karena tidak terbebani hal-hal yang tidak penting. Sebagai orang tua, ibu saya memilih fokus untuk mendekatkan diri kepada Nya daripada ngurusin soal dunia dan isinya.
Banyak orang salah kaprah menganggap minimalisme itu hidup serba sedikit dan membosankan. Padahal, sebenarnya ini adalah strategi menata hidup agar lebih ringan, fokus, dan bermakna.
Saya sadari itu ketika beres-beres rumah peninggalan ibu saya yang ternyata tidak kalah cepat selesainya mengingat isinya sangat minimalis dan sudah tertata dengan baik.
Jadi kepikiran soal mau mengontrakkan rumah peninggalan ibu sekaligus rumah masa kecil saya itu. Galau, takutnya dapat orang yang jorok, atau tidak bisa merawat rumah sebagaimana ibu saya menjaganya. Bukannya terawat, yang ada nanti malah rusak. Bagaimana, ya?
Hampir dua belas tahun saya hidup di negara orang dengan majikan non Muslim. Mulai bekerja dari Singapura lalu Hongkong dan berakhir di Taiwan, semuanya menyisakan kenangan bagaimana suka dukanya saya mencuri-curi waktu demi bisa melakukan sahur dengan modal seadanya.
Yang paling tidak bisa terlupakan waktu kerja di Keelung Taiwan. Ketika memasuki bulan puasa saya tidak bisa leluasa masak dan menghidupkan lampu dapur sehingga terang benderang karena ada orang tua majikan yang masih kolot tidak mengizinkan saya melakukan puasa.
Padahal sehari-hari dapur adalah ruangan yang saya kuasai. Tapi sejak kedapatan oleh Ama (Nenek) saat dini hari saya nguprek di dapur untuk mempersiapkan sahur, dan mengetahui kalau saya akan menjalankan puasa, sontak dia marah dan melarang saya masak.
Saya pikir dia marah karena saya mengganggu waktu istirahatnya. Mungkin suara alat masak bikin berisik sehingga bikin Ama terbangun. Ternyata Ama melarang saya sahur, karena ia tidak ingin saya mati sia-sia gara-gara berpuasa! Wadidaw…
“Kamu kerja di sini. Kalau kamu siang hari tidak makan, bisa mati tau gak? Bikin repot saja. Besok saja makannya bareng-bareng. Ayo masuk kamar dan tidur.” Begitu ultimatum Ama.
Cari Ide Bisa Sahur yang Terlarang di Rumah Majikan
Begitulah, di sana kalau orang tua sudah berkuasa, anak cucunya tidak bisa bagaimana. Majikan sebenarnya sudah modern dan berpikiran terbuka. Mereka membebaskan saya untuk melakukan puasa asalkan tidak mengganggu pekerjaan. Hanya orang tuanya yang masih berpikiran sempit seperti itu.
Majikan menyarankan supaya saya pintar-pintar saja mengambil hati nenek, sehingga tidak tahu kalau saya tetap menjalankan puasa.
Awalnya saya sahur dengan makan roti dan air minum yang saya bawa ke kamar. Tapi gak nyaman juga secara saya terbiasa makan nasi dan lauk pauk layaknya di Indonesia.
Di rumah majikan tidak pernah ada nasi sisa semalam karena setiap makan malam semuanya harus dihabiskan. Lagian masaknya juga sedikit karena setiap orang cukup satu mangkuk kecil nasi saja. Beda dengan kebiasaan saya di kampung, makan satu piring penuh nasi itu masih harus nambah. Haha…!
Akhirnya saya bilang ke majikan, izin bawa rice cooker ke kamar. Dengan alat masak praktis ini saya bisa masak nasi sekaligus lauknya.
Tidak disangka proposal saya itu di-approve majikan. Malah dia sengaja beli alat penanak nasi yang baru, khusus untuk disimpan di kamar saya. Tentu saja tanpa sepengetahuan ibunya. Ditambah syarat lain saya harus menjaga kebersihan dan keamanannya.
Alhamdulillah. Sejak itu saya bisa menjalankan sahur dengan tenang walaupun masih secara sembunyi-sembunyi di dalam kamar.
Menu makan sahur apa saja yang bisa saya buat dengan alat terbatas berupa pengukus nasi saja ini?
Saya lebih sering bikin one pot sahur ala-ala. Maksudnya, saya masak nasi dan lauknya sekaligus dalam satu kali masak. Praktis banget pokoknya.
Lauk yang biasa saya masak bersama nasi sekaligus dalam penanak nasi modern ini seperti telur, sosis, ikan, atau sayuran dalam satu wadah.
Telur tidak hanya direbus atau dikukus bersama cangkangnya, melainkan bisa disteam dengan cara telur dikocok dulu, diberi bumbu sesuai selera dan tanak bersama nasi secara bersamaan.
Sebelum punya mangkuk anti panas, saya bungkus telur yang sudah diberi bumbu dalam plastik. Lalu taruh di atas pengukus nasi. Hasilnya setelah matang bentuknya malah seperti sosis. Not bad kan?
Begitu juga dengan ikan atau sayuran. Cukup cuci bersih, simpan dalam wadah stainless steel yang muat dalam panci penanak nasinya, kasih bumbu sesuai selera dan kukus bersama nasi. Jadi nasi matang, lauknya juga siap santap. Intinya jadi hemat waktu dan tenaga.
Beberapa kali Ramadan saya lewati dengan berpuasa secara maksimal cukup berbekal satu alat pengolah nasi ini di dalam kamar. Hingga saya pulang ke tanah air, hanya majikan yang tahu “kecurangan” saya terhadap Ama selama ini.
Tips Membuat Menu Sahur dengan Rice Cooker
Tidak mudah memasak menu untuk sahur dengan tuntutan kelengkapan gizi serta tampilan yang menarik supaya menggugah selera makan di waktu pagi buta.
Apalagi jika memasaknya hanya mengandalkan alat masak dengan segala keterbatasannya pula. Karena itu diperlukan beberapa tips dan trik supaya acara masak-memasak berjalan lancar tanpa diburu waktu imsak dengan hasil yang enak dan matang sempurna.
Beberapa hal dari pengalaman saya selama ini yang perlu diperhatikan:
🩸 Pilih penanak nasi multifungsi. Seperti Rice Cooker Miyako yang bisa digunakan untuk memasak nasi, mengukus, dan lainnya tanpa merusak lapisan anti lengket.
Saat ini banyak direkomendasikan alat pemasak nasi kesayangan Nikita Willy tersebut. Hal itu karena Miyako Nanoal sejak lama sudah terbukti awet dan irit secara harganya sangat ramah di kantong. Selain anti lengket, mudah dibersihkan, juga memiliki garansi panjang dan aman karena sudah SNI.
Masih banyak keunggulan lainnya dari brand Miyako ini yang paling saya sukai sih model fungsi 3-in 1 nya itu. Jadi cukup dengan satu alat penanak nasi, sudah bisa memasak nasi, menghangatkan, mengukus lauknya hingga membuat kue.
🩸 Rencanakan dengan matang saat setelah tarawih untuk sahur nanti mau masak menu apa.
🩸 Gunakan bahan masakan yang cepat matang (seperti tahu, sosis, telur, sayuran potong kecil, dlsb)
🩸 Siapkan bumbu dan lauk atau sayur yang akan dimasak serta peralatan lainnya seperti air, alat makan dan sebagainya sejak sebelum tidur agar saat sahur tinggal klik tombol cook.
🩸 Kombinasikan bahan yang akan dimasak supaya memenuhi nilai gizi yang dibutuhkan tubuh selama berpuasa. Jadi selain memasak nasi sumber karbohidrat, tambah juga ikan atau telur untuk sumber protein, dan sayuran serta buah-buahan supaya kenyang lebih lama.
Tidak lupa konsumsi juga vitamin dan minum air putih lebih banyak dari hari biasa.
Begitulah pengalaman saya melakukan ritual sahur yang sembunyi-sembunyi di rumah majikan karena ada orang tua boss yang tidak mengizinkan saya selaku orang yang bekerja di rumahnya melakukan puasa.
Semoga pengalaman saya ini bermanfaat bagi manteman yang ngekos, atau memiliki keterbatasan lainnya seperti pengalaman saya tapi tetap bersemangat untuk menjalankan kewajiban puasa Ramadan.
Sejak anak berangkat mondok, di rumah tersisa saya dan suami. Saat suami kerja atau ada kegiatan pengajian dan sebagainya, otomatis tinggal saya sendirian sebagai penunggu tempat tinggal.
Senin sampai Selasa, waktu saya sendirian bertambah panjang, mulai pagi sampai jelang magrib karena suami sepulang sekolah langsung mendapatkan pengabdian di pesantren Mazroatul Ulum Citiis.
Jadi sepulang dari sekolah tempat mengajar, suami langsung ke ponpes karena kalau pulang dulu ke rumah malah tambah jauh dan makin kesorean sampai di Madrasah Aliyah nya.
Tuh, jadinya cukup banyak waktu saya sendirian di rumah, bukan? Nah, banyak yang nanya dan atau mengira-ngira ngapain aja nih saya waktu sendirian saja di rumah?
Saya bukan tipe orang yang suka main ke tetangga. Haha… padahal ketika masih lajang, saya tipe yang suka keluyuran. Tidak bisa sebentar saja diam di rumah karena bawaannya bosan.
Tapi setelah berumah tangga apalagi sesudah memiliki anak, saya drastis berubah jadi ibu rumahan saja. Rasanya malas keluyuran lagi. Malas keluar rumah kalau tidak berkepentingan.
Pun jangan salah, ketika di rumah saja, saya juga tidak hanya rebahan atau puas-puasin main gadget aja lah ya... Alhamdulillah, ada saja kegiatan produktif lainnya, selain me time yang sesekali saya lakukan sebagai mood booster atau penghargaan atas pencapaian diri selama ini.
Jika sendirian di rumah, saya mengisi waktu sendirian itu dengan kegiatan yang sekiranya bisa membuat saya terkoneksi dengan diri sendiri sebagai upaya merasa diri ini jadi lebih hidup.
Ada banyak cara untuk menjadikan waktu sendirian di rumah sebagai momen untuk benar-benar “terhubung” dengan diri sendiri. Kuncinya adalah memilih kegiatan yang bukan sekadar mengisi waktu, tapi juga bisa memberi ruang kepada kita untuk refleksi, ekspresi, dan memiliki kehadiran yang penuh.
Kegiatan saya di rumah yang membantu terkoneksi dengan diri:
Menulis
Mau di blog, mau di sosial media, bahkan di kertas bekas ulangan anak didik suami yang selalu dibawa pulang --karena bisa digunakan sebagai kertas buat corat-coret-- mau dimanapun tempat nya saya berusaha meluangkan waktu untuk menulis.
Mencatat apa yang ada di pikiran, perasaan, atau hal-hal kecil yang disyukuri hari itu. Apa saja saya tulis untuk menyalurkan emosi. Gak berharap banyak jadi Mindful Lifestyle Blogger yang sukses sih, hanya setidaknya dengan menulis setelah saya meninggalkan dunia, kelak ada sedikit jejak yang bisa dikenang orang lain.
Membaca
Duduk tenang, fokus pada bahan bacaan, kadang sambil mendengarkan musik instrumental lembut. Semua yang membantu menenangkan pikiran dan menyadari keberadaan diri bisa saya jadikan teman saat membaca.
Memilih buku yang memberi inspirasi atau menenangkan. Membaca perlahan, merenungkan kalimat yang terasa bisa “menghentikan waktu” saya. Begitulah, kalau sudah asyik membaca, kadang sampai lupa waktu dan lainnya.
Memasak dengan penuh kesadaran
Alih-alih satset sekadar menyiapkan makanan, saya sesekali mencoba memperlakukan proses memasak sebagai ritual. Seperti mulai dari memilih bahan yang segar, merasakan tekstur ketika mengolahnya, hingga menikmati aromanya.
Mendekorasi atau merapikan ruang atau halaman
Menata ulang sudut rumah, menambahkan elemen alami seperti kayu, tanaman, batu, atau membuat DIY kecil.
Aktivitas seperti itu sedikit banyak memberi rasa kontrol dan kreativitas bagi saya.
Mendengarkan musik dengan penuh perhatian
Memilih lagu yang benar-benar menyentuh hati, lalu mendengarkan tanpa distraksi. Menyimak lirik, nada, dan merasakan bagaimana tubuh ini bereaksi.
Belajar membuat kue
Tidak perlu berekspektasi untuk dapat hasil sempurna—biarkan tangan dan pikiran bergerak bebas aja. Saya percaya aktivitas kreatif sering membuka pintu ke sisi diri yang jarang muncul. Begitu pula kue yang dibuat, kadang tercipta karena ketidaksengajaan.
Olahraga
Bisa berupa olahraga ala-ala berinstrukturkan tutorial dari internet. Kebanyakan berupa peregangan, atau bahkan menari bebas mengikuti musik.
Tubuh yang bergerak selaras dengan perasaan membuat energi lebih hidup. Seperti itu yang saya rasakan.
Begitulah kegiatan saya di rumah sebagai salah satu cara supaya bisa terkoneksi dengan diri sendiri sebagai upaya untuk lebih merasa lebih hidup dalam menjalani hari. Apapun kegiatannya pastikan lakukan hal berikut supaya hasilnya terasa lebih bermakna:
Tips agar kegiatan sehari-hari terasa lebih hidup
🩸 Lakukan satu kegiatan dengan penuh perhatian, bukan multitasking.
🩸 Matikan distraksi digital (TV, notifikasi ponsel, dan sebagainya) untuk memberi ruang hening.
🩸 Tutup dengan ritual penghargaan kecil: misalnya menyalakan lilin, membuat teh hangat, atau menulis satu kalimat tentang apa yang dirasakan.
🩸 Jangan lakukan semua sekaligus; pilih 2–3 kegiatan tiap hari agar terasa ringan.
🩸 Anggap ini sebagai “ritual pribadi” bukan rutinitas kaku—biarkan fleksibel sesuai mood.
🩸 Jika ada kegiatan yang terasa paling menyentuh, jadikan itu inti dari kegiatan yang dilakukan.
Begitulah, meksipun saya dilihat orang kerap menyendiri, namun sebenarnya di usia saya yang sudah tidak muda ini saya mengerjakan banyak hal yang bikin saya sendiri merasa ketagihan.
Mulai bangun pagi saat meniatkan diri membuka hari, dimulai dengan bangun dengan hening. Maksudnya tidak langsung pegang ponsel, melainkan duduk sebentar, tarik napas dalam, minum air putih.
Setelah sholat subuh, membiasakan diri menuliskan 3 hal syukur di jurnal, termasuk perencanaan family & personal journey apa saja, sekecil apa pun kesyukuran itu tetap saya catat.
Lanjut ke dapur, anggap saja sebagai pergerakan tubuh ringan. Bekerja sekaligus melakukan peregangan. Biar tidak monoton sesekali temani dengan murotal, atau kajian, atau sambil mendengarkan musik lembut.
Saat siang menjelang, ketika suami sudah bekerja, mulailah bersiap untuk menyatu dengan aktivitas. Seperti memasak dengan penuh kesadaran untuk mempersiapkan makan siang sendiri dan makan malam bersama dengan suami.
Tetap santai, menikmati prosesnya, dan ketika harus makan siang sendiri, makan dengan perlahan disertai syukur.
Jika cuaca bersahabat, berkegiatan di halaman selalu jadi pilihan. Menyapu dan merapikan sudut rumah, menyiangi tanaman, dan kegiatan lain.
Waktu sendiri menurut saya adalah waktunya untuk berkreativitas bebas. Apa saja hobinya, puaskan diri dengan melakukannya tanpa menuntut hasil sempurna.
Jika malam menjelang saatnya untuk menutup hari, sempatkan untuk mengisi jurnal malam. Saya biasa menulis satu kalimat tentang apa yang membuat saya merasa “hidup” hari itu. Simple tapi membuat hidup saya yang mungkin tidak berapa lama lagi ini insyaallah lebih bermakna.
Bagaimana dengan kegiatan keseharian mu manteman? Gambaran kegiatan saya saat sendiri tersebut semoga bermanfaat ya …
Guru saya pernah mengatakan lebih baik memiliki seribu sahabat daripada satu musuh. Satu musuh terasa lebih berat daripada seribu teman karena dampak negatif dari permusuhan sering kali lebih kuat, lebih mengganggu, dan lebih membebani pikiran dibandingkan dukungan dari banyak teman.
Pepatah ini menekankan bahwa persahabatan selalu terasa kurang, sementara satu permusuhan saja sudah terlalu banyak untuk ditanggung.
Mengapa satu musuh terasa lebih berat? Sungguh punya musuh seekor itu sangat menguras energi emosional.
Memiliki musuh pasti bakalan menguras energi mental. Muncul rasa kebencian, dendam, atau rasa tidak nyaman yang terus menghantui.
Sementara ketika kita memiliki teman yang ada justru memberi energi positif. Tapi efeknya sering tersebar dan tidak sekuat satu konflik yang menekan.
Memiliki satu musuh saja bisa merusak reputasi atau hubungan sosial yang lebih luas. Permusuhan sering menimbulkan ketidakpercayaan, gosip, atau konflik yang menyebar ke lingkaran lain.
Sebaliknya, seribu teman tidak selalu bisa menutup dampak buruk dari satu musuh yang vokal.
Sahabat Menguatkan Musuh Melemahkan
Secara psikologis, manusia lebih sensitif terhadap ancaman daripada dukungan. Secara psikologi, otak kita lebih fokus pada hal negatif (negativity bias).
Wajar kalau kerasa satu musuh bisa membuat rasa aman terganggu, meski ada banyak teman yang mendukung.
Memiliki seribu teman belum tentu semuanya berkualitas; banyak di antaranya mungkin hanya kenalan.
Tapi ketika memiliki musuh, meski jumlahnya kecil, bisa memberikan beban yang nyata dan langsung terasa.
Karena itu tidak heran banyak sesepuh, para guru yang menekankan pentingnya perdamaian dan kerukunan dalam hubungan antar warga maupun antarindividu.
Dalam budaya Indonesia yang menjunjung tinggi gotong royong dan kebersamaan, memiliki musuh dianggap mengganggu harmoni sosial.
Jadi, satu musuh lebih berat karena efek negatifnya langsung terasa, lebih intens, dan bisa merusak keseimbangan hidup, sementara seribu teman sering kali tidak cukup untuk menutupi luka yang ditimbulkan oleh satu permusuhan.
Banyak teman banyak rezeki
Pepatah ini sering kita dengar dalam kehidupan sehari-hari, dan sebenarnya mengandung makna yang cukup dalam.
Rezeki tidak selalu berarti uang, tapi bisa berupa peluang, ilmu, dukungan moral, atau bahkan kesehatan. Dengan banyak teman, kita membuka lebih banyak pintu untuk berbagai bentuk rezeki.
Manusia adalah makhluk sosial. Semakin luas jaringan pertemanan, semakin besar kemungkinan kita mendapatkan informasi, peluang kerja, atau bantuan saat membutuhkan.
Dalam hal berkolaborasi, teman bisa menjadi partner bisnis, rekan kerja, atau kolaborator dalam proyek kreatif. Dari sinilah rezeki bisa mengalir.
Dengan berteman memunculkan rekomendasi dan peluang. Banyak orang mendapat pekerjaan atau peluang usaha dari rekomendasi teman.
Teman adalah support system. Saat menghadapi kesulitan, teman bisa memberi dukungan emosional yang menjaga semangat kita tetap hidup—ini juga bentuk rezeki.
Seribu Teman Tak Cukup, Satu Musuh Terlalu Banyak
Tapi ingat, kualitas lebih penting daripada kuantitas. Banyak teman tidak otomatis berarti banyak rezeki. Jika hubungan hanya sebatas kenalan tanpa kedekatan, manfaatnya bisa terbatas.
Harus dipahami juga akan risiko pergaulan. Tidak semua teman membawa kebaikan. Ada juga yang bisa menjerumuskan. Jadi, penting memilih lingkungan yang sehat.
Jangan lupa, rezeki itu tetap bergantung pada usaha dan keberkahan. Teman hanyalah salah satu jalan, bukan satu-satunya sumber.
Relevansi Pertemanan Modern
Di era digital, “banyak teman” bisa berarti banyak koneksi di media sosial. Namun, yang benar-benar membawa rezeki adalah hubungan yang tulus dan saling mendukung, bukan sekadar angka followers.
Networking profesional (seperti di LinkedIn, komunitas kreatif, forum dan sebagainya) adalah contoh nyata bagaimana pepatah banyak teman banyak rezeki ini masih relevan.
Pepatah banyak teman banyak rezeki mengajarkan kita untuk membangun hubungan sosial yang sehat dan luas, karena dari sanalah peluang dan keberkahan sering datang.
Namun, jangan lupa bahwa kualitas pertemanan dan usaha pribadi tetap menjadi kunci utama.
Suka Duka Berteman dari Pedesaan
Memiliki teman di pedesaan memang punya warna khas yang sulit ditemukan di tempat lain. Ada kehangatan, kebersamaan, tapi juga tantangan. Beda dengan pertemanan atau pergaulan di kota, ya.
Walau sekarang tinggal di pedesaan, tapi saya pernah juga bergaul, berteman dan interaksi dengan orang-orang kota. Bahkan orang dari luar negeri. Nah dari semua pengalaman itu maka bisa saya katakan pertemanan antara orang di desa dan di kota itu berbeda.
Circle pertemanan saya selain tetangga atau ibu-ibu pengajian di kampung, ada juga circle teman sekolah dan circle teman dunia maya.
Circle Tetangga
Berinteraksi seperlunya mengingat saya jarang keluar rumah. Bertemu dan ngobrol kalau ada acara pengajian, memasak bersama untuk peringatan hari besar keagamaan atau hari besar nasional.
Selebihnya sering ada tetangga yang datang ke rumah karena urusan anak-anak mereka yang mengaji di tempat kami.
Circle Teman Sekolah
Karena saya sekolah di tiga kota kabupaten yang berbeda maka circle nya juga bisa dihimpun berdasarkan lokasi. Circle teman SD di Bandung, circle teman SMP di Tasikmalaya dan circle teman SMU di Cianjur.
Meski berjauhan kami terhubung dalam konektivitas sosial media dan group perpesanan.
Walaupun ada teman sekolah di sekitar tempat tinggal sekarang, kami jarang bertemu atau interaksi karena kesibukan masing-masing.
Circle Teman Dunia Maya
Paling dulu adalah teman dari Facebook. Lalu merambah ke teman Kompasiana (biasanya disebut Kompasianer) lalu teman dari dunia blogger lainnya.
Mereka ini ada yang loyal, amanah, tidak sedikit juga yang manis di depan kecut di belakang.
Ada yang baik banget sampai sekarang udah seperti keluarga saja. Padahal ada yang belum pernah jumpa sama sekali. Ada juga yang biasa aja, hare-hare. Ada perlu ya ngontak, ga ada mahcicing we.
Circle Wali Santri
Seiring berkembangnya teknologi dan perkembangan jaman termasuk pertumbuhan anak, maka semakin kesini nambah nih circle saya dengan adanya sesama wali santri. Mirip dengan circle dunia maya, circle wali santri juga ada yang udah jumpa, ada yang belum sama sekali.
Bedanya jika circle dunia maya yang dibahas saat interaksi itu seputar dunia menulis di blog, konten sosial media, dan seputar job terkait kepenulisan atau review. Kalau circle wali santri interaksi ya fokus ke soal kondisi anak di pondok.
Kebetulan pondok anak tempat mengenyam ilmu ada di luar pulau. Tepatnya di Solok Sumatera Barat. Nah, siapa yang tidak khawatir kan anak merantau sendiri di sana? Untuk mengurangi rasa khawatir itu adanya circle wali santri ini sedikit banyak memperingan kekhawatiran itu.
Ada wali santri yang mudif ke pondok, mereka share foto dan video di group. Menginformasikan berita santri-santri terbaru. Saya yang sepertinya tidak mungkin mudif ke Solok tentu saja senang bisa ikut mengintip kondisi anak semata wayang di sana.
Kalau anak ada masalah, semua wali santri ikut turun tangan. Terutama yang bisa mewakili wali santri lain yang berhalangan hadir.
Saat anak sakit di pondok, wali santri asal Bengkulu, Batam dan Sumatera Barat “menggantikan” kami yang di Jawa mengurus dan merawat mereka semua.
Sebaliknya, ketika anak-anak ikut jambore Pramuka Muslim Sedunia di Cibubur, kami yang di sekitar Banten, DKI dan Jabar ini yang jadi orang tua mereka, yang dekat ini yang menggantikan ayah bunda di luar pulau yang berhalangan hadir menjenguk ke perkemahan di Cibubur.
Intinya circle wali santri ini sangat terasa sekali manfaat dan keberadaannya. Mungkin minimal hingga 7 tahun kedepan, selama anak mondok di PMDG kebersamaan circle wali santri ini akan terus ada.
Dan saya yakin walaupun anak sudah lulus dari pondok silaturahmi circle wali santri ini akan tetap terjalin.
Banyak teman banyak rezeki. Saya sangat mempercayai itu. Rezeki di sini bukan berarti uang atau harta saja. Tapi bisa juga kesehatan, pertolongan yang tidak disangka, dan sebagainya.
Terbukti bersama teman hidup semakin berwarna dan beban terasa lebih ringan.
Suka (Kebahagiaan) bersama teman yang saya rasakan:
🕳️ Kebersamaan tanpa batas:
Teman-teman di kampung biasanya tumbuh bersama sejak kecil, jadi ikatan emosinya kuat. Main layangan, sepak bola di lapangan, atau nongkrong di warung jadi rutinitas penuh tawa.
Bahkan karena saya lahir di jaman sebelum ada listrik masuk desa maka berangkat ngaji pakai obor pun jadi kenangan berharga bersama teman-teman.
Nonton layar tancap, berangkat sekolah naik mobil truk tangki Pertamina, dan masih banyak kenangan bersama teman yang rasanya mustahil bisa dialami lagi oleh anak jaman now.
Semua pengalaman kebersamaan itu sampai berkeluarga dan punya anak cucu semua terkenang begitu jelas.
🕳️ Gotong royong:
Saat ada hajatan, panen, atau acara desa, teman-teman kompak saling bantu. Rasa solidaritas ini bikin hubungan makin erat.
Gak peduli dengan mantan pacar, kalau pas ada acara RT atau desa, jika kebetulan dipertemukan dalam kepengurusan kepanitiaan, tuntutan profesionalisme harus dijunjung.
Jadinya walau bete ketemu wajah mantan, dibuat enjoy aja demi kesuksesan acara sampai selesai. Hahaha…
🕳️ Kesederhanaan yang hangat:
Walau fasilitas terbatas, kebahagiaan terasa lebih tulus. Obrolan ringan saat jalan kaki ketika berangkat dan pulang sekolah atau mengaji bisa jadi momen berharga.
Dulu belum ada internet, komunikasi masih pakai surat-menyurat. Walau harus ngirit uang jajan demi bisa beli perangko, tak apa yang penting bisa tahu kabar teman nun jauh di sana.
🕳️ Rasa aman dan dekat:
Karena semua orang saling kenal, berteman di kampung terasa seperti punya keluarga besar.
Apalagi saya anak atau cucu perempuan pertama dari pihak bapak. Sementara sepupu dan saudara bapak kebanyakan laki-laki. Saat masa puber, beneran merasa terjaga sekali karena dikelilingi wali dan mahram yang perhatian.
Bukan tidak boleh pacaran, tapi saudara yang kebanyakan laki-laki itu menjaga saya supaya tidak mudah didekati orang yang hanya iseng.
Duka (Tantangan) bersama teman yang sampai sekarang suka kepikiran buat saya:
⭕ Konflik kecil:
Kadang muncul perselisihan karena hal sepele, misalnya rebutan lapangan atau beda pendapat saat kerja bakti.
Saya orangnya blak-blakan. Suka bilang suka, sebel bilang sebel. Mungkin banyak teman yang sakit hati karena ucapan saya yang tanpa filter. Tapi namanya anak-anak, tak lama kemudian kami akur lagi.
Kalau sekarang, setelah dewasa jika ada konflik dengan teman, saya memilih diam saja. Kalau salah saya segera minta maaf. Kalau konflik masih tidak reda, saya ikhlaskan saja. Tentu saja tanpa diminta pun saya sudah memaafkan mereka.
⭕ Keterbatasan peluang:
Ada teman yang harus merantau ke kota untuk sekolah atau kerja, sehingga circle pertemanan jadi renggang.
Awalnya merasa tidak rela berpisah, tapi gak bisa menolak karena masing-masing memiliki pilihan dan masa depan. Sedihnya hanya sesaat saja. Berganti kebahagiaan jika sudah dapat kabar keberhasilannya.
⭕ Gosip dan iri hati:
Di pedesaan, lingkungan nya kecil, kabar cepat menyebar. Kadang ada rasa iri atau salah paham yang bikin hubungan renggang. Saya cuek saja. Yang penting saya berusaha tidak gibahin orang. Kalau saya yang digibah anggap saja sedang proses pembersihan dosa.
⭕ Perbedaan jalan hidup:
Seiring waktu, teman-teman ada yang tetap di kampung, ada yang pergi. Perbedaan ini bisa bikin jarak emosional. Pengennya tetap bersama kumpul ngariung. Tapi mana ada orang saudara sendiri saja jodohnya dari luar daerah.
Intinya, berteman di kampung itu seperti menanam padi: ada musim hujan penuh tantangan, ada musim panen penuh kebahagiaan.
Suka dukanya justru membuat ikatan itu lebih bermakna, karena setiap cerita—baik tawa maupun air mata—menjadi bagian dari kenangan bersama.
Manfaat Berteman
Memiliki banyak circle teman bisa membawa banyak manfaat, baik secara pribadi maupun profesional. Manfaat yang saya rasa:
Manfaat Pribadi
🩸 Dukungan emosional beragam:
Setiap circle punya dinamika berbeda, sehingga saya bisa mendapat perspektif dan dukungan yang lebih luas saat menghadapi masalah.
Contohnya saya berteman dengan ahli terapis. Saat saya sakit kaki, saya lihat bagaimana dia memberi terapi kepada pasien. Saya ikuti gerakannya. Alhamdulillah sakit kaki saya ikut mereda.
🩸 Pengalaman hidup lebih kaya:
Teman dari latar belakang berbeda memberi cerita, kebiasaan, dan budaya baru yang memperkaya cara pandang.
Waktu bekerja di luar negeri teman berlibur selain orang Indonesia ada juga dari warga negara China, Philipina, Vietnam, Thailand dan sebagainya. Mereka cara berpikir dan gaya hidupnya beda dengan kebiasaan saya.
Dalam hal itu, yang baiknya saya adopsi, yang kurang cocok saya tinggalkan.
🩸 Mengurangi ketergantungan:
Tidak hanya bergantung pada satu kelompok, sehingga lebih fleksibel dan tidak merasa kehilangan jika satu circle sedang sibuk.
Banyak teman banyak relasi. Mau bepergian ke mana kebetulan ada sesama anggota backpacker di sana. Insyaallah jika membutuhkan bantuan mereka akan dengan senang hati menolong. Begitu juga sebaliknya.
Manfaat Sosial
🩸 Jaringan lebih luas:
saat berteman saya bisa terhubung dengan lebih banyak orang, itu bisa membuka peluang kolaborasi, kerja sama, atau sekadar memperluas relasi.
🩸 Fleksibilitas sosial:
Ada circle untuk berbagai kebutuhan—misalnya circle hobi, circle kerja, circle keluarga—yang membuat saya bisa menyesuaikan diri dengan situasi.
🩸 Mengasah keterampilan sosial:
Berinteraksi dengan banyak circle melatih kemampuan komunikasi, empati, dan adaptasi. Lain lubuk lain ikannya. Setiap pertemanan akan memiliki jalan ceritanya masing-masing.
Manfaat Profesional
🩸 Kesempatan karier:
Banyak circle berarti banyak pintu informasi, rekomendasi, atau peluang kerja.
🩸 Kolaborasi kreatif:
Circle berbeda bisa jadi sumber inspirasi untuk ide-ide baru. Sebagai manusia setengah abad, jika berteman dengan remaja kinyis-kinyis, siapa tahu style saya juga bakalan kebawa berjiwa muda. Cie...
🩸 Reputasi lebih kuat:
Semakin banyak circle yang mengenal kita, semakin besar peluang membangun citra positif. Sepulang jadi TKW, saya aktif di dunia perburuhan, saya sering menjadi paralegal dan memberikan advokasi ke teman-teman buruh yang berasal dari daerah kantong TKI.
Siapa kira, ada beberapa peneliti yang sering interaksi dengan saya terkait permasalahan tenaga kerja ini merekomendasikan saya kepada camat dan kades di kampung, ketika pemerintah saat itu gencar menggagas Desa Migratif.
Tapi dari semua itu, tentu ada tantangan nya juga: bagaimana kita bisa menjaga keseimbangan waktu, energi, dan kualitas hubungan agar tidak sekadar “kenal banyak orang” tanpa kedekatan yang berarti.
Jika itu semua adalah ulasan tentang Circle Pertemanan menurut saya sekarang bagaimana kalau menurutmu manteman? Circle mana yang paling memberi energi positif buatmu—circle kreatif, circle kuliner, atau circle sosial? Atau ada circle lain?
Menggunakan layanan digital Bank BCA tidak hanya memudahkan transaksi sehari-hari, tetapi juga memberikan kesempatan untuk menikmati promo myBCA.
Dengan memanfaatkan penawaran ini, kita selalu nasabah Bank BCA tentu saja berkesempatan dapat memperoleh potongan harga, cashback, atau keuntungan lainnya yang membuat setiap transaksi lebih hemat.
Promo myBCA juga bisa mempengaruhi cara kita mengatur pengeluaran dan memaksimalkan manfaat dari setiap transaksi digital yang dilakukan, sehingga aktivitas finansial menjadi lebih efisien dan terencana.
Memahami Jenis Promo yang Tersedia
Salah satu langkah penting untuk mengoptimalkan penggunaan promo myBCA adalah memahami berbagai jenis penawaran yang tersedia. BCA menghadirkan promo yang beragam untuk mendukung kebutuhan transaksi digital nasabah.
Beberapa jenis promo yang bisa dimanfaatkan antara lain:
🕳️ Cashback langsung pada pembayaran tertentu.
🕳️ Diskon harga untuk produk atau layanan tertentu.
🕳️ Promo bundling yang menggabungkan beberapa transaksi sekaligus.
🕳️ Penawaran spesial pada periode tertentu, seperti hari besar atau promo bulanan.
Dengan memahami jenis promo, kita bisa memilih penawaran yang sesuai dengan kebutuhan transaksi harian, sehingga pengeluaran menjadi lebih hemat dan terkontrol.
Selain itu, pemahaman ini membantu perencanaan keuangan jangka panjang, meningkatkan kesadaran belanja, menghindari impulsif, serta memaksimalkan manfaat promo tanpa mengorbankan kualitas produk atau layanan yang dibutuhkan keluarga sehari-hari secara konsisten.
Cara Mendapatkan Promo dengan Praktis
Setelah memahami jenis promo, langkah berikutnya adalah memanfaatkan penawaran tersebut dengan cara yang praktis.
myBCA menyediakan berbagai fitur yang memudahkan nasabah untuk mengakses promo kapan saja dan di mana saja.
Beberapa cara prakti yang bisa dilakukan antara lain:
⭕ Mengecek menu promo di aplikasi myBCA secara rutin agar tidak melewatkan penawaran terbaru.
⭕ Mengaktifkan notifikasi untuk selalu mendapatkan update promo.
⭕ Memastikan transaksi dilakukan sesuai syarat dan ketentuan promo.
⭕ Menyimpan bukti transaksi digital sebagai referensi penggunaan promo berikutnya.
Langkah-langkah ini mempengaruhi kenyamanan kita dalam bertransaksi dan membantu memastikan bahwa setiap promo dapat digunakan secara maksimal.
Hal ini juga meningkatkan kepercayaan, mengurangi risiko kesalahan, mempercepat proses pembayaran, mendukung pengalaman pengguna yang aman, efisien, konsisten, serta mendorong loyalitas jangka panjang terhadap platform pilihan kita setiap hari rutin.
Keamanan Transaksi saat Memanfaatkan Promo
Selain kemudahan, keamanan menjadi hal penting saat memanfaatkan promo. BCA menempatkan perlindungan data dan transaksi sebagai prioritas utama.
Setiap transaksi yang dilakukan menggunakan promo myBCA dilengkapi autentikasi yang aman dan enkripsi data untuk menjaga kerahasiaan informasi nasabah.
Beberapa fitur keamanan yang mendukung penggunaan promo antara lain:
✳️ Autentikasi melalui PIN atau biometrik saat login dan melakukan transaksi.
✳️ Enkripsi data transaksi untuk melindungi informasi pribadi.
✳️ Pemberitahuan notifikasi untuk setiap transaksi yang dilakukan.
✳️ Pemantauan aktivitas transaksi yang mencurigakan secara real time.
Keamanan yang terjaga pastinya mempengaruhi rasa percaya kita dalam memanfaatkan promo secara rutin, ya gak sih? Kalau saya sih begitu. Sehingga setiap transaksi yang kita lakukan berjalan dengan tenang dan nyaman.
Strategi Mengoptimalkan Penggunaan Promo
Untuk mendapatkan manfaat maksimal, penggunaan promo myBCA perlu dilakukan secara strategis. Dengan perencanaan yang tepat, kita dapat menggunakan promo untuk mengurangi pengeluaran harian atau memaksimalkan keuntungan saat melakukan transaksi digital.
Beberapa strategi yang bisa diterapkan antara lain:
🌀 Mengutamakan penggunaan promo dengan cashback atau diskon terbesar.
🌀 Memanfaatkan promo untuk transaksi rutin seperti tagihan bulanan atau belanja kebutuhan sehari-hari.
🌀 Memantau periode berlaku promo agar tidak terlewatkan.
🌀 Menyusun anggaran dan memilih promo sesuai prioritas kebutuhan.
Dengan strategi yang tepat, setiap transaksi jadi lebih bernilai dan mendukung pengelolaan keuangan digital yang lebih efisien.
Manfaat Lain dari Mengikuti Promo
Selain menghemat biaya, memanfaatkan promo myBCA juga membantu kita merencanakan pengeluaran dengan lebih baik.
Setiap transaksi menjadi lebih terkontrol, sementara keuntungan tambahan dari promo seperti cashback dapat digunakan untuk kebutuhan lain atau transaksi berikutnya.
Beberapa manfaat tambahan dari mengikuti promo myBCA antara lain:
🩸 Mendukung pengelolaan keuangan yang lebih disiplin.
🩸 Menambah nilai dari setiap transaksi digital yang dilakukan.
🩸 Memberikan pengalaman bertransaksi yang lebih menyenangkan dan efisien.
🩸 Mempermudah perencanaan anggaran bulanan atau harian.
Demikianlah manteman... dengan memahami jenis promo, memanfaatkan penawaran secara praktis, menjaga keamanan transaksi, dan menerapkan strategi yang tepat, kita dapat mengoptimalkan penggunaan promo myBCA.
Apalagi nih, biasanya jelang hari raya seperti Imlek maupun Lebaran, banyak promo dan cashback yang ditawarkan. Suka berburu diskon juga gak nih?
Bagi nasabah Bank BCA adanya Promo myBCA bisa mempengaruhi cara kita memanfaatkan layanan digital BCA sehingga setiap transaksi menjadi lebih hemat, aman, dan bernilai lebih.
Setiap memasuki tahun baru, apakah ada target manteman berapa buku yang ingin dibaca? Saya sendiri sih tidak pernah muluk-muluk. Secara setelah tinggal di pedesaan dan jarang keluar kandang (baca: bepergian ke kota) jadi jarang sekali beli buku. Sebagai gantinya, saya banyak membaca buku digital, baik melalui ipusnas maupun beli buku elektronik (ebook).
Saat scroll-scroll melihat judul buku digital biasanya muncul banyak banget judul buku yang menarik. Kalap mata, biasanya saya main ambil langsung pinjam atau ngantri dulu kalau bukunya sedang banyak dibaca.
Kalau sudah begitu sudah bisa dipastikan tidak bisa ditargetkan deh berapa banyak buku yang akan dibaca. Dan masalahnya sering pinjam tapi tak sempat membaca hingga tamat, harus sudah keburu dikembalikan. Mau bagaimana lagi?
Karena itu saya tidak lagi berani menargetkan berapa buku yang harus dibaca dalam rentang waktu tertentu. Termasuk dalam resolusi tahun baru.
Apalagi tahun baru 2026 ini, bagi kami waktunya bertepatan dengan perpulangan anak dari pondok. Lalu beberapa hari kemudian memasuki bulan puasa. Diperkirakan bakalan cukup riweuh...
Biasanya jelang Ramadan dan Lebaran saya suka nyari informasi destinasi wisata keluarga. Sekarang saya justru sibuk nyari buku resep bikin roti. Baik buku resep versi cetak maupun digital, yang pasti apa yang saya cari sekarang bukan soal tips liburan seperti dulu lagi.
Kenapa jadi belok ada keinginan mencari buku resep membuat roti?
Joint usaha roti yang gagal
Awalnya karena kegagalan. Teman suami di sekolahnya ada yang ngajak buka usaha bareng, berdagang roti mini alias roti Unyil. Dijajakan di sekolah, dengan sasaran pasar nya juga anak sekolah. Kerjasamanya, suami kasih modal, teman suami yang menjalankan usaha buat rotinya.
Sudah berjalan sekitar dua mingguan, rotinya memang laku. Dijual seharga dua ribu rupiah cukup laku diminati anak-anak. Di kampung sejenis roti Unyil dengan berbagai rasa dan aneka bentuk masih banyak dilirik konsumen.
Hanya ketika ada anak yang jadi reseller membawa kotak rotinya ke kelas, membuat salah seorang guru marah dan memberikan peringatan. Guru itu pun melarang berjualan roti di sekolah.
Perkataan guru tersebut sampai ke teman suami yang ngajak kerjasama membuat roti. Mungkin karena baper, atau sakit hati atau apalah pastinya gak tahu juga, akhirnya teman suami ini memilih berhenti memproduksi roti lagi. Adapun modal milik suami semuanya dikembalikan.
Begitulah, karena kerjasama batal maka jualan roti pun tidak dilanjutkan. Sayang banget. Padahal dari obrolan dan beberapa pertanyaan yang sudah saya ajukan, diperkirakan prospek jualan roti dengan sasaran pasar anak sekolah itu cukup bagus.
Tanggung keranjingan, saya jadi ketagihan untuk praktek sendiri membuat roti Unyil nya. Tentu saja bukan untuk dijual tapi buat dimakan sendiri saja dulu. Apalagi kalau untuk skala besar dibutuhkan banyak peralatan.
Pas ibu saya 40 harinya meninggal dan saya beres-beres di rumah, ternyata ada oven peninggalan ibu masih baru, begitu juga loyang dan cetakan kue nya. Saya kepikiran ini waktunya pas banget. Pas kepikiran mau belajar buat roti, pas juga ada oven dan peralatan baking warisan dari ibu. Daripada tidak dipakai lebih sayang lagi kan ya.
Belajar melalui buku resep Roti Unyil
Setelah memeriksa semua peralatan membuat roti warisan ibu cukup lengkap, saya pikir tinggal mempelajari cara buat dan takaran adonannya. Bertanya ke teman suami rasanya tidak mungkin. Secara resep rahasia dia mana mau dibagikan ke orang lain. Solusinya, ya belajar sendiri dengan melihat buku resep membuat roti.
Nah, jadilah membaca buku resep membuat roti ini jadi salah satu buku yang masuk list target buku yang harus saya baca tahun ini. Alasannya ya karena saya mau belajar membuat roti itu tadi.
Apa itu roti unyil?
Roti unyil adalah varian roti berukuran mini-biasanya hanya seukuran dua jari-yang bisa langsung habis dalam sekali lahap. Ukurannya kecil, tapi isinya enak. Bikin ketagihan.
Roti ini cepat viral karena bentuknya yang lucu, rasa yang enak, dan pilihan topping yang sangat beragam. Cocok buat semua umur, dari anak-anak sampai orang tua.
Kenapa memilih membuat roti Unyil? Bukan belajar membuat roti lainnya?
Selain saya suka roti Unyil, alasan lainnya karena ukurannya mini gak bikin bosen, varian rasa yang enak dan beragam, tampilan visualnya sangat menggoda, sekaligus harga bahan-bahannya juga terjangkau.
Roti unyil bukan cuma camilan lucu, tapi peluang bisnis yang besar kalau tahu cara mengolahnya jadi produk berkualitas dan menjualnya dengan strategi yang tepat.
Itulah kenapa saya ingin membaca buku resep membuat roti ini hingga selesai, supaya semua ilmunya bisa saya pahami.
Walaupun membaca buku sampai tamat sering kali lebih sulit daripada yang kita bayangkan—bukan karena bukunya jelek, tapi karena rutinitas, distraksi, atau motivasi yang naik-turun.
Tapi ada sedikit tips praktis dan kreatif nih supaya buku yang kita baca bisa dibaca sampai tamat hingga halaman terakhir.
Strategi membaca buku supaya bisa sampai tamat
1. Tentukan Niat dan Tujuan
Tanyakan pada diri sendiri: Mengapa ingin menamatkan buku ini? Untuk hiburan, pengetahuan, atau inspirasi?
Tuliskan tujuan kecil: Misalnya, “Saya ingin memahami sejarah di balik tokoh ini” atau “Saya ingin menikmati cerita sampai akhir.”
2. Buat Jadwal Membaca
Target harian: 10–20 halaman per hari atau satu bab kecil.
Gunakan waktu tetap: Misalnya sebelum tidur atau saat pagi hari.
Manfaatkan momen singkat: Baca saat punya waktu tambahan seperti saat sedang menunggu, di transportasi, atau saat istirahat.
3. Pecah Buku Jadi Bagian Kecil
Tandai bab atau sub-bab sebagai “checkpoint.”
Anggap setiap bagian sebagai mini target, sehingga terasa lebih ringan.
4. Kurangi Distraksi
❤️ Matikan notifikasi ponsel saat membaca.
❤️ Cari tempat nyaman dengan suasana tenang.
❤️ Gunakan penanda buku atau sticky notes untuk mencatat ide tanpa mengganggu alur.
5. Bangun Rasa Tanggung Jawab
Sharing progress: Ceritakan lagi buku yang dibaca di blog, media sosial, atau ke teman.
Book club/komunitas: Lakukan diskusi dengan komunitas pecinta buku. Biasanya jika ada tuntutan atau tekanan dari teman, bisa membuat kita lebih termotivasi untuk segera menamatkan.
Reward diri sendiri: Setelah selesai membaca satu bagian, beri hadiah kecil (misalnya beli camilan favorit) begitu seterusnya hingga bisa menamatkan membaca bukunya.
6. Nikmati Proses, bukan Sekadar Hasil
Jangan terlalu keras pada diri sendiri jika masih lambat dan belum bisa menamatkan buku bacaannya. Biarkan membaca jadi pengalaman menyenangkan, bukan kewajiban kaku. Jadi mau tamat atau tidak, enjoy aja dulu.
Jika buku terasa berat, selingi dengan bacaan ringan agar tetap segar.
Potensi Tantangan dan Cara Mengatasinya
⭕ jika mudah bosan atau sering ngantuk → pilih waktu membaca saat fokus tinggi.
⭕ jika merasa kesulitan memahami teks berat → pecah bacaan jadi bagian kecil, gunakan mind map.
⭕ jika membaca terlalu lambat → latih kecepatan dengan skimming dan kurangi subvokalisasi.
Begitulah. Mau membaca buku fisik atau buku digital, kiat membaca buku tersebut sama-sama bisa diterapkan. Dan bagi saya mencoba menerapkan semua strategi itu hasilnya cukup efektif, lho!