Hidup Sehat itu Sebenarnya Seperti Apa? Jangan-jangan Badan Sehat, tapi Hati Masih “Masuk Angin”
Seseibu yang duduk saat pengajian di samping saya bangga mengatakan, “Ibu mah sekarang udah menjalankan hidup sehat." Saya tersenyum menanggapinya. Alhamdulillah...
Mungkin beliau sarapan sehat berupa oatmeal. Minum air putih. Jalan kaki setiap pagi. Makan sayur tidak pernah absen. Konsumsi gorengan mulai dikurangi. Asap rokok suaminya juga mungkin sudah ditinggalkan.
Tapi kok saya sering lihat beliau juga di keseharian nya suka ngeluh, kadang terdengar bertanya-tanya katanya “Kenapa hidup saya begini-begini saja?”
Apakah hidup keseharian seseibu itu seperti saya? Buka media sosial. Lihat update status tetangga yang beli mobil. Kabar dari teman sekolah yang sudah punya rumah di kota. Muncul juga bisikan dari besti, yang mengatakan kalau mantan sudah menikah lagi ((lagi))... Gak disangka, teman satu bangku yang dulu nilainya pas-pasan sekarang sudah punya usaha sendiri, hidupnya terlihat sukses.
Akhirnya hati berdebar. Bukan karena olahraga. Tapi karena iri. Hihi...
Hal itu bisa jadi kan pengalaman nyata saya, keluarga kita, atau mungkin pengalaman manteman juga. Gak tahu sih kalau pengalaman seseibu itu bagaimana...
Di sinilah kita perlu bertanya: apakah hidup sehat itu hanya berarti tubuh tidak sakit? Tapi waktu selesai pengajian, saat hendak berdiri, seseibu tadi meringis memegang lutut, tandanya beliau terpapar demam nyeri lutut yang sedang buming juga kah? Eh, lutut juga bisa demam ya?
Ternyata tidak sesederhana itu, ya... Apalagi saya sempat baca menurut World Health Organization, kesehatan bukan sekadar tidak adanya penyakit. Kesehatan mencakup kesejahteraan fisik, mental, dan sosial.
Kamis ini sepulang dari kamisan di masjid Al Zafar makin memantapkan keyakinan saya juga karena ustadz Iwan alias paksu menerangkan kalau salah satu cara menyembuhkan penyakit hati seperti iri hati, dengki, hasad dan sebagainya dapat dilakukan melalui pendekatan spiritual, pemikiran, dan amalan nyata.
Jadi kalau badan sehat tetapi setiap hari stres, tidur berantakan, hubungan dengan orang lain kacau, hidup penuh kecemasan, dan setiap membuka rekening langsung ingin pingsan… mungkin saatnya kita perlu mengevaluasi definisi “sehat” kita ini sebenarnya bagaimana...
Sehat bukan cuma soal timbangan
Salah satu kesalahpahaman tentang hidup sehat adalah menganggap tubuh sehat harus selalu identik dengan tubuh ideal.
Ada teman saya kerjaannya update mengenai timbangan. Mau jarumnya geser ke kiri atau ke kanan, selalu dipampangkan. Berat badannya turun sedikit langsung merasa berhasil. Sebaliknya kalau BB bertambah segera bikin resolusi baru, padahal resolusi tahun lalu aja aslinya seperti tidak terjamah.
Kalimat “Wah, saya sudah sehat.” sepertinya perlu dipahami lagi...
Benarkah? Tapi kalau sepanjang hari kok marah-marah mulu? Tidurnya juga cuma empat jam. Makan sayur sambil memikirkan cicilan dan khawatir deb colector datang. Olahraga memang dijalankan, tapi sambil membenci seluruh dunia... Alamak...
Ini bukan berarti olahraga dan menjaga berat badan tidak penting. Justru aktivitas fisik memang bagian penting dari kesehatan.
Sebagimana informasi dari Kementerian Kesehatan yang mencatat bahwa 37,4% penduduk Indonesia berusia di atas 10 tahun kurang melakukan aktivitas fisik, berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia 2023. WHO menganjurkan orang dewasa melakukan aktivitas fisik intensitas sedang sekitar 150–300 menit per minggu.
Tetapi hidup sehat bukan lomba siapa yang setiap hari update Strava, siapa yang paling banyak menghitung langkah.
Kalau jalan kaki sudah 10.000 langkah tetapi setelah itu marah-marah karena sandal hilang, mungkin yang perlu dilatih bukan hanya kaki. Hatinya juga perlu pemanasan.
Makan sehat, tapi jangan sampai hidup terasa seperti hukuman
Makanan jelas berpengaruh terhadap kesehatan. WHO menjelaskan bahwa pola makan sehat bisa bantu melindungi tubuh kita dari berbagai bentuk malnutrisi serta penyakit tidak menular seperti diabetes, penyakit jantung, stroke, dan beberapa jenis kanker. Prinsip dasarnya adalah cukup, seimbang, beragam, dan tidak berlebihan.
Artinya, hidup sehat bukan berarti setiap melihat gorengan kita harus langsung membaca istighfar tiga kali. Bukan pula berarti nasi harus dimusuhi. Apalagi kalau kita hidup di Indonesia. Nasi sudah seperti anggota keluarga. Pagi dicari. Siang dirindukan. Malam ditunggu. Bukan gitu?
Karena yang penting adalah keseimbangan dan kebiasaan secara keseluruhan.
Sayur, buah, protein, makanan pokok, air putih, serta membatasi makanan yang tinggi gula, garam, lemak tidak sehat, dan makanan ultra-proses adalah bagian dari pola makan yang lebih sehat.
Kementerian Kesehatan juga memasukkan aktivitas fisik, konsumsi buah dan sayur, tidak merokok, pemeriksaan kesehatan berkala, kebersihan lingkungan, serta sanitasi sebagai bagian dari Gerakan Masyarakat Hidup Sehat.
Jadi jangan sampai kita bangga makan salad setiap hari, tetapi ketika melihat orang makan bakso langsung berkata itu tidak sehat. Eh gak lama kemudian minta dibuatkan juga satu mangkuk. Hehe, itu namanya bukan gagal hidup sehat. Tapi namanya juga manusia... (Tempat salah dan dosa maksudnya, termasuk kalah dari godaan bakso yang katanya tidak sehat itu tadi)
Tidur juga termasuk ibadah kepada kesehatan
Ada kebiasaan yang sering dianggap remeh: tidur. Kita rela membeli vitamin mahal, membeli sepatu olahraga harga wah, membeli botol minum yang harganya bisa buat beli kerupuk satu gudang.
Tetapi tidur? “Ah, nanti saja. Tanggung nih masih ada episode terakhir, sayang kalau gak kelar.”
Padahal tidur berhubungan dengan kesehatan dan kesejahteraan emosional. Para ahli merekomendasikan orang dewasa usia 18–60 tahun mendapatkan setidaknya 7 jam tidur per malam.
Tubuh bukan mesin yang bisa dipaksa bekerja 24 jam.
Bahkan mesin saja ada tombol “off”. Manusia sering merasa lebih hebat. Cuma tidur tiga jam, dengan alasan saya kuat. Walaupun besoknya bangun seperti HP yang baterai nya tinggal 2 persen.
Ditanya kenapa mukanya begitu, jawabnya tidak apa-apa. Padahal wajah sudah mengirim sinyal surat pengunduran diri.
Kalau kasihan terhadap diri sendiri, yuk coba mulai ubah kebiasaan kurang tidur menjadi tidur yang cukup.
Kesehatan yang lebih sulit: kesehatan pikiran
Inilah bagian yang sering kita lupakan. Kita rajin menjaga tubuh, tetapi lupa menjaga isi hati dan kepala.
Setiap hari memikirkan perkataan orang. Takut dinilai. Takut gagal. Takut kalah. Takut tidak punya uang. Takut masa depan. Takut melihat pencapaian orang lain. Bahkan kadang-kadang kita tidak sedang mengalami masalah besar. Tetapi kepala kita sudah mengadakan rapat darurat.
Jam dua pagi masih juga memikirkan hal yang seharusnya tidak dipikirkan. Isi kepala pesertanya lengkap.
Ketua rapat: pikiran sendiri.
Sekretaris: kekhawatiran.
Notulis: trauma masa lalu.
Dan tidak ada satu pun yang membawa konsumsi. :D
Hidup sehat seharusnya juga memberi ruang untuk mengelola stres, beristirahat, berbicara dengan orang yang dipercaya, melakukan aktivitas yang menyenangkan, dan mencari bantuan profesional ketika masalah psikologis sudah mengganggu kehidupan sehari-hari.
Tidak semua masalah harus diselesaikan sendirian
Meminta bantuan bukan tanda lemah. Kadang-kadang justru tanda bahwa kita cukup sayang kepada diri sendiri. Lalu bagaimana dengan hati yang tidak tenang? Nah, ini yang menarik.
Seseorang bisa saja sehat secara fisik tetapi belum merasa sehat secara batin.
Misalnya: Tidak punya penyakit serius, tetapi hidup penuh rasa bersalah. Punya tubuh yang cukup bugar, tetapi tidak bisa menerima dirinya sendiri. Makan sudah dijaga, tetapi setiap hari membandingkan kehidupan dengan orang lain. Sudah olahraga, tetapi masih membawa kemarahan bertahun-tahun. Di sinilah makna hidup sehat perlu diperluas.
Sehat juga berarti belajar berdamai dengan kenyataan bahwa hidup kita tidak harus sempurna.
Kita boleh punya kekurangan. Boleh gagal. Boleh belum punya rumah. Boleh belum punya kendaraan. Boleh belum sukses. Boleh punya masa lalu yang tidak ingin diceritakan kepada semua orang. Boleh pernah membuat keputusan buruk. Boleh merasa malu. Boleh menangis. Dan bahkan boleh mengatakan: “Saya sedang tidak baik-baik saja.”
Itu bukan kegagalan. Itu adalah kejujuran. Hal-hal yang biasanya malu untuk diumbar tapi ternyata akhirnya kita berani untuk mengakuinya.
Ternyata ada bagian dari hidup kita yang jarang masuk Instagram. Orang biasanya mengunggah makanan sehat, jarang mengunggah ketika sedang menangis di kamar mandi. Iya kan?
Tak terhitung orang yang mengunggah olahraga, tapi tidak mengunggah ketika sedang kehilangan semangat.
Banyak orang tua mengunggah keberhasilan anak. Tapi mana yang mengunggah ketika merasa gagal menjadi orang tua?
Daily life mengunggah keluarga bahagia. Tidak mengunggah ketika sedang bertengkar, kan?
Mengunggah rumah yang rapi, tidak mengunggah gudang yang isinya seperti lokasi penggalian arkeologi. Padahal semua itu bagian dari kehidupan kita, manusia.
Bahkan perkara tubuh yang dianggap memalukan pun sebenarnya merupakan bagian normal dari kehidupan.
Seperti kentut, bau badan, jerawat, permasalahan keringat, rambut rontok, perut buncit, kulit yang mulai keriput, bekas luka, kesulitan saat buang air besar, menopause, disfungsi seksual, masalah kesuburan, dan berbagai perubahan tubuh lainnya.
Tidak semuanya menyenangkan untuk dibicarakan. Tetapi rasa malu tidak boleh membuat seseorang mengabaikan kesehatan.
Kalau ada keluhan tubuh yang menetap, mengganggu, terasa tidak normal, atau menimbulkan kekhawatiran, justru sebaiknya segera bicarakan dengan tenaga kesehatan.
Tubuh kita bukan barang pajangan. Tubuh adalah rumah yang kita tempati seumur hidup.
Kadang rumah itu bocor, catnya mengelupas, toiletnya mampet. Dan itu bukan alasan untuk membenci rumah sendiri.
Bukankah kita akan segera memperbaikinya? Karena memang harus diperbaiki, dirawat. Kalau perlu minta bantuan tukang atau ahli.
Sehat juga berarti menerima tubuh yang sedang berubah
Kita sering menginginkan tubuh seperti ketika masih muda. Padahal waktu tidak punya tombol rewind.
Rambut berubah. Kulit berubah. Metabolisme berubah. Kemampuan fisik berubah. Mata mulai minta bantuan kacamata. Lutut mulai punya pendapat sendiri ketika naik tangga. Bangun dari duduk mulai mengeluarkan suara, percis gerakan serentak buibu pengajian di kamisan tadi sore itu tadi, pas bangun pada bersuara “Eh… aduh…”
Padahal dulu suara itu tidak ada. Sekarang saya sendiri mengalami kalau setiap mau berdiri seperti membuka konser. Ramai dengan beragam aksi.
Penuaan bukan penyakit
Lutut boleh berbunyi cekat cekot, tapi yang penting adalah menjaga fungsi tubuh sebaik mungkin dan memeriksakan kondisi kesehatan ketika diperlukan.
Kementerian Kesehatan juga menganjurkan pemeriksaan kesehatan berkala, termasuk pemantauan tekanan darah, gula darah, dan indeks massa tubuh, sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan dan mendeteksi masalah lebih dini.
Jadi jangan menunggu tubuh mengirimkan surat resmi “Yang terhormat pemilik badan, kami sudah tidak sanggup.” tapi segera periksa sebelum terlambat.
Hidup sehat bukan hidup tanpa masalah
Ini mungkin bagian terpenting. Hidup sehat bukan berarti hidup tanpa masalah. Orang sehat tetap bisa kehilangan pekerjaan. Tetap bisa patah hati. Tetap bisa kecewa. Orang sehat juga tetap bisa sakit, bisa mengalami kegagalan, bisa sedih, dan bisa merasa takut.
Bedanya, kita berusaha mempunyai tubuh, pikiran, hubungan sosial, dan kebiasaan yang cukup sehat untuk menghadapi berbagai keadaan tersebut.
Kita makan dengan lebih baik. Bergerak lebih banyak. Tidur cukup. Menjaga kebersihan. Menghindari rokok dan asapnya. Melakukan pemeriksaan kesehatan. Mengelola stres. Menjaga hubungan dengan orang lain. Dan yang tidak kalah penting belajar berdamai dengan diri sendiri.
Jadi, seperti apa sebenarnya hidup sehat?
Mungkin hidup sehat sesederhana ini: Bangun pagi dan tubuh masih mampu diajak bergerak. Makan tanpa terus-menerus merasa bersalah. Bisa tidur dengan cukup. Punya waktu untuk tertawa. Mampu mengatakan “tidak” ketika memang perlu. Berani mengatakan “saya butuh bantuan”. Tidak terus-menerus membandingkan diri dengan orang lain, dan menerima kekurangan tubuh tanpa berhenti merawatnya.
Hidup sehat bisa meminta maaf, bisa memaafkan. Tidak malu memeriksakan bagian tubuh yang dianggap tabu. Punya orang yang bisa diajak bicara. Dan ketika kehidupan sedang berantakan, kita tidak langsung menganggap diri sendiri sebagai manusia gagal. Sebab sehat bukan berarti selalu bahagia.
Sehat berarti kita punya kemampuan untuk merawat diri ketika bahagia, menjaga diri ketika sedih, mencari pertolongan ketika kewalahan, dan tetap menghargai diri sendiri ketika hidup tidak berjalan sesuai rencana.
Kementerian Kesehatan sendiri menempatkan GERMAS sebagai upaya membudayakan perilaku sehat untuk meningkatkan kualitas hidup, bukan sekadar menghindari penyakit.
Jadi, kalau hari ini kita belum bisa makan sempurna, belum kuat olahraga berat, masih sering cemas, atau masih belajar menerima diri sendiri, tidak perlu langsung menyerah.
Mulai sedikit demi sedikit saja. Mulai sering jalan kaki. Kurangi rokok dan hindari asapnya. Perbanyak makanan bergizi. Tidur lebih teratur. Cek kesehatan dengan rutin. Bicara dengan orang yang dipercaya. Dan kalau ada bagian dari tubuh atau kehidupan yang selama ini membuat malu, jangan membencinya, melainkan rawat pahami dan jika perlu, periksakan.
Karena pada akhirnya, hidup sehat bukan kompetisi untuk menjadi manusia paling sempurna. Hidup sehat adalah perjalanan untuk bisa tinggal dengan nyaman di dalam tubuh dan kehidupan kita sendiri.
Dan kalau sesekali kentut setelah makan kacang-kacangan? Eh masa kacang, ubi kali ya...? Apalagi ubi Cilembu itu... Yaaa, itu juga bagian dari kehidupan. Yang penting jangan menyalahkan tetangga. Itu bukan pola hidup sehat. Itu pola hidup tidak bertanggung jawab. 😄 Yang makan ubi siapa, yang kentut siapa, masa nyalahin tetangga?




















