Umrah dari hasil ngeblog? Kenapa tidak? 

Umrah dari hasil ngeblog? Kenapa tidak? 

 

Di group ada yang tanya apa resolusi ngeblog tahun depan? Saya hampir jawab: nabung lagi buat ongkos ke tanah suci. Secara bulan ini saya hampir berhasil mengumpulkan ongkos untuk umrah ibu, (besok Senin Ibu insyaallah umrahnya) ya dari hasil ngeblog. Tapi dipikir lagi bisi dianggap berlebihan, ah. Saya batalkan deh balas komentarnya.

Perih rasanya itu ketika saya sendirian, atau bersama suami dan Fahmi bisa travelling ke luar daerah, sementara ibu saya sebagai orang tua kami yang tinggal sebelah hanya sendirian tinggal di rumah. Padahal saya tahu, ibu pun ingin jalan-jalan bersama mantu anak dan cucu, seperti teman-temannya.

Itu saya ketahui ketika ibu sering membicarakan tentang adik ibu dan anaknya (sepupu saya) yang suka bawa ibunya (bibi saya) jalan-jalan kemana pun mereka piknik. Atau ketika ibu ngobrol berdua dengan Fahmi, sering dengar kalimat yang terlontar mama juga mau atuh diajak jalan-jalan (ke neneknya Fahmi manggilnya mama).

Saya pun bukan tidak ingin mengajak ibu. Tapi ya gimana lagi, kondisi yang tidak memungkinkan. Kemana-mana kami naik sepeda motor. Itu pun karena Fahmi masih kecil. Entahlah kalau Fahmi sudah besar, apakah kami masih bisa bepergian?

Sepupu sering bawa keluarganya ikut jalan-jalan, ya karena mereka memiliki kendaraan pribadi. Bawa orang tua atau mertua bahkan adik ipar masih bisa. Sementara saya?

Sudah gitu tahu sendiri, kami bepergian mayoritas ke gunung. Mana bisa ibu ikut? Bukannya happy, yang ada takut bikin ibu sakit. Kalaupun bukan mendaki gunung, paling ya event dari pihak lain atau undangan. Jelas gak bisa bawa orang lain dong. Kalaupun Fahmi sesekali bisa ikut, ya itu kalau ayahnya terpilih ikut juga. Atau panitia mengizinkan saya bawa anak.

Sebagai upaya saya ingin memenuhi keinginan ibu bisa jalan-jalan ini, sejak dua atau tiga tahun lalu, saya menyisihkan fee dari ngeblog dan jadi content writer dengan niat semua untuk biaya ibu. Biaya apa? Ya apa saja yang penting buat ibu bisa jalan-jalan, gitu seperti keinginannya yang disimpan diam-diam.

Semesta sangat mendukung. Saya tidak tahu gimana caranya, hanya rezeki terasa lancar berdatangan. Seratus dua ratus ribu selalu saya kumpulkan. Itu dalam rekening terpisah loh ya. Sehingga tidak tercampur dengan uang lain, seperti donasi dari para donatur untuk pondok mengaji Al Hidayah yang kami kelola di rumah atau uang belanja dari suami. Ini terpisah dalam rekening yang sudah tidak ada ATM nya karena kadaluarsa.

Hingga bulan Agustus lalu, ketika kami meminta izin kepada ibu akan mendaki gunung api tertinggi di Indonesia, Gunung Kerinci di Sumatera, melakukan upacara pengibaran sang saka merah putih di Puncak Indrapura, ibu merestui.

Saat itu saudara ada yang berseloroh, setelah Kerinci apa akan naik Jayawijaya?

Saya dan suami kompak menjawab tidak. Daripada ke Jayawijaya, mending naik haji. Biayanya itu lho, sekali naik Jayawijaya satu orang, bisa untuk umroh ke tanah suci untuk tiga orang.

Eh, tiba-tiba ibu menimpali obrolan, katanya ibu juga mau umroh kalau begitu. Kami semua tertawa. Seolah tidak ada arti apa-apa dari ucapannya. Hanya saya diam-diam memikirkan semua itu. Ibu ingin umrah. Ibu ingin umrah. Ibu bisa umrah sekaligus jalan-jalan bukan?

Tabungan yang hampir terlupakan saya segera periksa. Sekaligus mencari informasi biaya umroh reguler sekarang ini kisaran berapa? Teliti banget saya, takut uang yang tidak seberapa ini malah raib seperti para jemaah umrah yang tertipu jasa pemberangkatan umrah seperti yang heboh diberitakan di tv itu.

Sepulangnya dari Kerinci, kami mampir ke rumah ibu. Saya langsung nembak ibu, “Mama bukannya mau umrah?”

Tanpa saya duga, jawaban ibu langsung keluar dengan semangat nya. “Iya Teh, mama mau umrah. Apa saja biar dijual buat ongkosnya. Mumpung mama mau, mumpung sehat dan kuat.” Katanya yakin.

Saat saya masih kerja di luar negeri memang pernah mau daftarkan ibu ibadah haji. Tapi ibu yang menolak dan ketika saya paksa, eh malah sakit. Sekarang kondisinya beda. Saya pengangguran di desa. Biaya darimana?

Saya menarik nafas. Semoga biayanya cukup. Semoga job terus berdatangan demi bisa nambah nambah biaya jalan-jalan ibu. “Ya mama cari informasi saja dulu dari teman mama yang udah berangkat. Takutnya travelnya bodong atau nipu. Kalau sama yang udah kenal kan masa iya…”

Ibu menyanggupi akan mencari informasi kepada teman-teman di majelis taklim nya. Semangat sekali pokoknya. Ah, iya ibu ingin umrah sekaligus jalan-jalan…

September, ibu bilang sudah menemukan orang yang akan membimbingnya kalau mau ikut umrah. Seorang ustad tetangga kampung. Sebelumnya ada beberapa teman ibu yang pulang umrah melalui ustad tersebut. Ibu bilang ingin umrah di bulan mulud bulan kelahiran Nabi Besar Muhammad SAW pada Rabiul Awwal ini. Saya minta nomor kontak ustad yang dibilang ibu, lalu menghubungi beliau. Bertanya tentang semua, termasuk jasa travel yang memberangkatkan. Sebagai keseriusan kami, saya kasih DP Rp.5juta.

Seharusnya lebih dari itu, tapi waktunya hampir bersamaan dengan suami kecelakaan dan butuh pengobatan, akhirnya uangnya saya simpen dulu buat jaga-jaga. Soalnya tabungan itu ga ada ATM nya. Jadi gak akan mudah kalau mau ambil lagi.

Kegalauan saya bertambah ketika beberapa hari kemudian, rumah di Cianjur kabongkaran. Maling menggasak semua isi rumah, mulai alat elektronik, gadget, pakaian, alat rumah tangga sampai alas kaki dan mainan Fahmi raib digondolnya. Ya Allah… Cobaan atau apa ini? Darimana kami dalam waktu sekejap mengganti semua yang hilang itu?

Entah ini godaan setan, atau kegalauan saya sendiri sebagai manusia yang lemah, akhir September itu setelah suami kecelakaan saya dihinggapi perasaan cemas. Ini kalau tabungan buat biaya ibu umrah, gimana buat pengobatan suami dan biaya kebutuhan untuk mengganti yang hilang?

Ya Allah, saya bener-bener galau. Sampai saya meminta petunjuk dan saya mendapat kemantapan hati. Membahagiakan orang tua selagi ada, jangan takut merugi. Karena Allah saya pun luruskan niat.

Oktober, ibu selalu menelepon dengan semangat bercerita kalau ia setiap Minggu belajar manasik. Entah Minggu keberapa saya lupa, ibu bilang mau ke Cianjur (kota) mau pasporan diantar pak ustad. Saya yang selalu tidak bisa kemana2 hanya bisa terima informasinya saja.

Akhir Oktober, saya diminta untuk melunasi semua biaya umrah. Setelahnya baru ibu medikal dan mendapat perlengkapan umrah. Saya ketar ketir takut uang tidak cukup. Saya periksa ke bank jumlah uang yang ada. Alhamdulillah (tiba-tiba) mencukupi. Dan tidak akan saya lupa September Oktober kemarin itu job ngeblog tanpa saya duga datang bertubi-tubi tidak seperti biasanya. Padahal blog saya ini juga bermasalah, masih belum bisa share url di Facebook dan Instagram karena dianggap spam.

Yang biasanya menawarkan job satu, kemarin sekaligus tiga. Dan itu dari beberapa pihak. Alhamdulillah semuanya dimudahkan. Saya semakin semangat ngeblog. Pun kalau ada lomba blog yang sekiranya bisa saya ikuti, saya berusaha semaksimalnya, meski tentu saja tetap pilih-pilih yang sesuai dengan kemampuan saya.

Visa ibu

Minggu pertama November, tepatnya hari Kamis di rumah, ibu mengadakan pengajian. Sekalian menyelenggarakan acara peringatan maulid nabi Muhammad Saw. Meski sedih tidak bisa menghadiri acara tersebut saya bahagia dan menjerit berdoa semoga keinginan ibu mendapat ridho Nya.

Dua hari lalu, pagi-pagi buta ibu datang ke rumah. Kami kaget. Gak bilang dulu sebelumnya. Ibu pamitan kepada kami. Memberi petuah dan nasihat, seandainya kepergian ibu umrah nanti tidak bisa kembali lagi. Ya, tradisi di tempat kami kalau ada orang mau umrah seolah dianggap seperti orang yang akan meninggal. Memberi semacam wasiat segala rupa. Ah sedih deh jadinya. Tidak lama ibu di rumah kami karena menjelang keberangkatan, ibu banyak menghadiri undangan pengajian, katanya.

Tadi pagi, ibu telepon. Memberitahukan ibu berangkat dari rumah besok hari Minggu pagi setelah solat subuh. Sementara penerbangan ke tanah sucinya sendiri Senin, 18 November 2019. Ibu bersama rombongan jemaah dari daerah lain berkumpul dulu di Jakarta.

Tadi sepulangnya menjemput anak sekolah, suami yang masih dalam tahap pemulihan tangannya, bicara, kalau mau mengantar ibu berangkat saja, katanya. Ia sendiri dipastikan tidak bisa karena kondisinya.

Saya membayangkan sanak saudara dari keluarga besar ibu sudah berkumpul hari ini. Sebagian menginap demi bisa melepas keberangkatan ibu besok pagi.

Saya dan Fahmi hanya bisa terduduk di teras, membicarakan keberangkatan neneknya. Fahmi yang polos bertanya dengan lugu: “Bu, Mama berangkat ke Arab nya kapan? Bawa tenda kaya kita gitu gak?” tanyanya.

Ah, Fahmi, dikira umrah seperti mau mendaki gunung apa, pakai ditanya apa bawa tenda segala…

Comments

  1. Masha Allah terharu. Menginspirasi sekali ceritanya Mbak.Dari ngeblog juga pun bisa memberangkatkan umroh. Semangat dalam kebaikan ya Mbak.

  2. Masyaallah, semog barokah bagi teh okti sekeluarga. Semoga mama lancar ibadah umrahnya, mabrur dan selamat hingga pulang tanpa kekurangan apa pun

  3. Fahmiiii, ya ampuuun ngakak aku pas dia nanya tenda. Mungkin Fahmi pernah lihat yg tayangan Haji, itu kan pada nginep di tenda pas di Padang Arafah, Teh.
    Fahmi cerdas dan baik hati, insyaAllah bisa rame2 segera beribadah di tanah suci, aamiiin aamiiin ya robbal alamiiin

  4. Semoga suamimu lekas sembuh ya teh. Semoga ibu ibadahnya umrohnya lancar dan kembali ke tanah air dengan selamat. Aamiin

  5. MasyaAllah teteh Okti sungguh menginspirasi sekali ya Allah bisa memberangkatkan orangtua umrah dari ngbelog. Ikut senang banget ya Allah. Smoga sehat dan selamat serta diterima ibadah umrahnya ya. Aamiin

    • Amiin. Sekadar berbagi semangat ngeblog Mbak. Semoga tidak ada yang mengira ini riya’ nauzubillah..
      Saya menuliskannya sebagai catatan untuk dilihat anak cucu kelak. Itu saja

  6. Masya Allah terharu banget teh aku bacanya huhu semoga Ibu sehat selalu dan ibadah umrohnya lancar tanpa hambatan apapun.

  7. Ya ampuuun… aku jadi semangat juga. Kadang suka ngerasa “bisa nggak ya?” “mimpinya kegedean deh”. Mungkin selama ini belum diikuti nawaitu. Aku yakin kalau tujuannya baik pasti dijabah sama Allah. Terima kasih buat ceritanya ya mba. Semoga rezekinya lancar terus.

  8. Ya ampun barutau ke Jayawijaya sangat mahal. Salut sekeluarga punya hobi sama. Aku selalu menganggap keinginan ibu itu adalah titah Allah SWT jadi harus diusahakan sungguh2. Dan entah bagaimana caranya, Allah seolah menjaga keinginan ibu. Waktu ibuku pengin umroh dulu, kami baru 1/2 jalan nabung. Tiba2 om melunasi biaya umroh ibuku. Tabungan kami pas untuk mengurus surat2, transport di Indonesia, baju2 & uang saku. Insya Allah, Allah SWT juga menjaga keinginan ibumu. Semoga umroh ibumu berjalan lancar, mabrur & sehat sampai kembali lagi ke rumah. Aamiin.

    • Amin. Iya setelah mantap memberangkatkan ibu, terasa mudah dan ada saja jalan untuk tambahan biayanya. Pengalaman kita ini semoga bermanfaat untuk yang lain ya

  9. Inspiratif banget nih ceritanya Teh Okti. Dan alhamdulillah ya bisa umrah dari hasil ngeblog. Semangat terus ya, Teh Okti. Semoga berkat dan rezeki terus mengalir sehingga impian demi impian bisa terwujud. Terus menulis dan ngeblog ya

  10. Barakallah teeh.. sangat inspiratif. Saya nggak nyangka kalau cerita umrohnya semenarik ini. Semoga lancar rezeki dan sehat selalu sekeluarga teh..

  11. alhamdulillah yah kak. kalau dari hasil ngeblog kita bisa umroh. kita dapat bermanfaat tulisannya dapat juga kita ibadahnya. kan alhamdulillah. jadinya kita juga makin semangat nulis yah kak

  12. Alhamdulillah, barokallaku untuk Teth Okti karena bisa membantu umroh ibu. Membahagiakan sekali karena itu adalah sesuatu yang indah untuk dilakukan dan dikenang. Semoga Allah senantiasa melancarkan jalanmu.
    Segala ujian itu dari Allah pula untuk menguji kadar iman, alhamdulillah Teteh lulus dengan ikhlas untuk memilih sebagai anak yang berbakti.
    Semoga rezeki senantiasa lancar mengalir dan beroleh keberkahan. Semoga pula ibu bisa pulang umroh dengan selamat dan mabrur. Aamiin.

  13. MashaAllah teh.. InshaAllah berkah ya teh.. cerita teh okti ini beneran menyenti saya untuk lebih memperhatikan orangtua khususnya Ibu, walaupun Ibu saya sudah tidak ada, tapi masih ada Ibu mertua.. semoga saya juga bisa mengumrohkan Ibu mertua juga ya teh.. bismillah dengan niat tulus ikhlas InshaAllah akan dimudahkan jalannya ya.. aamiin

    • Amin. Benar Mbak, menurut keterangan tidak ada istilah mertua karena sebenarnya mereka juga orang tua (ibu bapak) kita. Semoga kesampaian juga niatnya. Amin…

  14. ALhamdulillah ibu bisa berangkat ke tanah suci ya, semoga lancar dan semua hajat dikabulkan terutama utk keluarga ya aamiin.
    Cita2ku banget bisa nyisihkan uang utk berangkat ke tanah suci dari menulis mbak.
    Kalau saya utk ortu pengennya ajak jalan ke mana gtu, krn ortu udah pernah ke tanah suci, impian saya pengen ajak ortu dan mertua pelesir bersama.

    • Amiin. Doa terbaik pasti didengar Nya Mbak
      Saya yakin Mbak April lebih mampu dari segi perekonomian keluarga dibandingkan saya.

      Semoga tercapai harapan nya…

  15. Bisa bangeet ya mbaa.. dan aku sukaaa juga baca review yg ada dan sepertinya haji backpacking oke yaa

  16. Barakallah teh okti, ya Allah turut bahagia, niat baik dimudahkan ya bisa memberangkatkan ibu umroh, semoga saya juga bisa nih ikut jejak teh okti, masih nabung, bismillah

  17. Dari penghasilan ngeblog bisa menaikkan umrah ibu. Maa syaa Allaah, semoga saya pun bisa mengikuti jejak Teh Okti. Niat baik pasti akan diijabah Allaah.

  18. Masya Allah. Semoga berkah dan dilancarkan ibadah umrohnya untuk ibu ya, Teh. Insya Allah, bisa naik haji juga. aamiin

  19. Wah sangat inspiratif sekali mbak, memang saat ngeblog harus naik kelas

  20. Alhamdulillah, udah bisa memberangkatkan ibu ke tanah suci.
    cerita ini menginspirasi banget mbaa. aku jadi termotivasi untuk rajin ngeblog juga.
    Semoga bisa umroh atau naik haji dari hasil ngeblog jugaa. Amiiinn..
    ini kayaknya bakal jadi resolusiku nih..
    doakan semoga bisa mengikuti jejak mba nya.. hehe

Speak Your Mind

*