Terimakasih untuk Penghardik dan Penjewer Anakku

Terimakasih untuk Penghardik dan Penjewer Anakku Seiring suara adzan isya di mesjid samping rumah, suara tangisan Fahmi, anakku yang baru berumur 29 bulan pada Ramadhan 1436 H ini tak juga berhenti. Ia terus memanggil-manggil ayahnya, yang sudah lebih dahulu berangkat ke mesjid untuk menunaikan shalat isya dan tarawih. “Ikut ayah… Ibu, Ami mau ikut ayah…” katanya terbata-bata diantara isak tangisnya. Tangannya sebelah menunjuk ke arah pintu. “Iya nanti ya, Sayang. “ Ucapku hanya sekedar menenangkan. Kuusap-usap rambutnya yang basah karena {Read More}

%d bloggers like this: