Camping: Mendidik Anak atau Gaya-gayaan?

Camping: Mendidik Anak atau Gaya-gayaan?

 

Berawal dari carrier yang dipastikan sampai akhir bulan puasa akan nganggur, daripada terongok gitu saja saya sarankan kepada teman kalau mau pakai, pakai saja. Selain beneran tidak dipakai juga kebetulan ada beberapa. Kalau mau pakai bisa yang Eiger si merah banyak saku atau Consina hijau lumut yang kalem membawa jiwa makin adem.

Kebetulan teman yang ditawarin bilang malah sudah dapat ranselnya. Alhamdulillah kalau gitu. Berarti jadi teman perjalanan asruk-asrukkan ini ambil cuti sampai habis liburan lebaran nanti.

Ada teman yang bilang kalau mau camping, pakai tas ransel dia tinggal pinjam saja ke teman yang punya. Kan lumayan sekedar buat gaya-gayaan. Gak malu-maluin buat dibawa jalan.

Gaya-gayaan?

Saya jadi butuh waktu buat merenung. Kata camping, carrier dan gaya-gayaan terus berputar dalam pikiran. Apakah mereka mau menggendong carrier segede kulkas sambil jalan nanjak itu cuma buat gaya-gayaan? Sekali lagi kata gaya-gayaan menari dan berputar-putar di kepala saya.

Mikir sendiri jadinya. Saya, suami, dan anak akhir-akhir ini sering jalan dan (ngakunya) camping. Apakah dengan kegiatan kami ini orang melihat dan berpikirnya apa yang kami lakukan ini sekedar untuk gaya-gayaan?

Saya, disetujui suami mengajak anak untuk camping, sesungguhnya bukan semata-mata buat olahraga atau mengenalkan anak kepada alam. Secara kami tinggal di kampung di gunung, tidak dikenalkan ke alam –apalagi yang jauh-jauh– juga sejak lahir anak sudah merasakan suasana alam.  Hawa pegunungan setiap detik kami hirup. Habitat dan komunitas hutan sering kami jumpai di kebun. Kecuali hewan langka dan hampir punah saja yang bisa kami temui hanya di kebun binatang. Saya ajak anak kukurusukan ke gunung biar anak bisa bersosialisasi. Itu saja. Bukan buat gaya-gayaan.

Fahmi, putra kami yang tahun ini berusia 4 tahun sifatnya pemalu. Dia tidak bisa dengan mudah berada di lingkungan keramaian. Fahmi benci kebisingan. Fahmi menghindar jika ada hal yang  tidak disukainya, termasuk ketemu wajah baru atau orang asing. Perlu waktu beradaptasi yang lama sehingga Fahmi bisa mengenal, mau berbaur dan menerima kondisi.

Keadaan ini sudah sejak dini kami ketahui. Berbagai cara pun kami lakukan, berharap Fahmi bisa belajar bergaul, mengenal dunia luar yang ramai (dan bising) –satu hal yang suatu saat harus ia ketahui, sadari dan terima– serta mengenal orang-orang baru selain orang tua, saudara dan keluarga besar.

Karena bawaannya pemalu, saya sering mikir harus mengasuhnya dengan berbagai cara. Tapi positif. Saat anak tidak suka keramaian, kami coba ajak dia bermain dalam keheningan. Bergembira dalam suasana damai (tidak bising) dan kami kira cocok jika Fahmi berteman dengan alam 🙂

Kami harap Fahmi bisa menemukan dunia baru yang bisa membawanya untuk tumbuh percaya diri. Terus bereksplorasi dalam suasana hening, dan karena itu kami membawanya ke pantai, ke gunung, ke tempat wisata alam yang suasananya nyaman seperti air terjun, atau jalan ke sawah, sungai dan kebun sekitar rumah untuk terus mengasah dan mendidiknya supaya bisa –perlahan– menerima kondisi sekitar. Jadi sungguh saya ajak anak berpetualang di alam bukan buat gaya gayaan… BUKAN.

Kalaupun sejak kecil sudah kami bawa muncak gunung, itu karena kami tidak mau saja dia selalu dititip di neneknya sementara saya dan ayahnya happy menebar racun  menemukan tempat indah dan bersih. Dengan membawa anak ikut serta secara tidak langsung saya juga punya banyak kesempatan untuk mengenalkan alam pada anak saya.

Dan itu tidak selalu harus ke gunung atau lokasi wisata, kok! Karena niatnya memang bukan buat gaya-gayaan, saya bisa mengenalkan alam dan lingkungan sekitar yang dekat rumah. Meski cuma sebentar sambil lewat, tapi yang penting berkualitas. Bisa di halaman, kebun belakang rumah, sungai terdekat, kebun atau saat mengunjungi kampung tempat kakek nenek dan handai taulan tinggal.

Masih perlu banyak waktu memang karena sifat bawaan cukup sulit dirubah dalam waktu relatif singkat. Tapi sedikit banyak saat ini Fahmi yang selalu mengkerut kalau ada orang asing datang kini perlahan mulai berani memandang. Padahal awalnya saya hanya mengenalkannya kepada awan, matahari, rumput, binatang dan apa saja yang kami temui saat menjelajah alam.

Setiap anak punya kondisi yang berbeda dan saya sangat mensyukurinya. Pemalu bukan sebuah sifat yang hina, meski ada sebagian orang tua yang tidak mau menerima dan tidak berusaha mencari jalan keluar atau solusi bagi si anak. Saya malah menikmati setiap detik yang dimiliki bersama Fahmi, untuk terus mengantarkannya kepada dunia yang lebih luas dan lebih bising pastinya. Semoga kedepannya mereka –anak-anak kita– lebih kuat dan semangat.

Setelah ini melihat saya publish foto di medsos terkait berpetualang bersama anak di alam semoga yang mengatakan buat gaya-gayaan atau kekedar pencitraan mulai berkurang. Tapi meski tetap nganggap saya dan keluarga gaya-gayaan juga toh tidak mengapa, karena (mungkin) kami memang gaya. Balita lain jarang yang sudah bisa menaklukkan puncak ketinggian di atas 3000 mdpl ya kan?

Itulah buktinya Fahmi putra kami memang gaya 🙂

Comments

  1. Wah, anak saya yang sulung juga pemalu nih, Mbak. Bisa dipraktekin nih untuk melatihnya agar lebih berani bersosialisasi.
    Makasih sharingnya, Mbak 🙂

  2. Orang tua memang lebih paham apa yg terbaik utk anak. Anak pendiam tak selamanya jd pendiam kok.

  3. masing2 anak memiliki sifat yg berbeda yg harus kita syukuri

  4. Semangat selalu Teh, aku malah salut sama Fahmi sering diajak mengenal alam dengan camping2 gitu.
    Anak jadi mengenal banyak hal dan menurutku baik untuk tumbuh kembangnya.

Speak Your Mind

*