Persiapan praktis saat sahur kepepet waktu

 

Hari ke tiga sahur kemarin, saya hampir kesiangan bangun. Semalam memang badan meriang dan sakit kepala. Minum obat dan dipijat sebentar oleh Fahmi langsung tidur. Eh rupanya alarm bunyi jam tiga dinihari juga tidak terdengar.

Bangun-bangun jam empat itupun dibangunkan oleh suami. Langsung ke dapur sambil masih keliyengan.

Melihat sekeliling, mikir ini mau apa. Nasi masih ada dan hangat. Melihat meja makan, tumisan masih ada. Oh berarti tinggal menghangatkan sayur di panci. Segera saya menyalakan kompor. Untuk makan sahur saya dan suami, dalam keadaan kepepet seperti udah lebih dari cukup. Tapi bagaimana untuk Fahmi putra kami?

Saya mengeluarkan nugget kesukaannya. Sosis dan telur juga saya siapkan. Sambil membangunkan Fahmi, bertanya ia mau makan dengan lauk apa? Sementara ibu ini kesiangan. Udah jam empat lewat sepuluh. Waktu makan hanya sekitar dua puluh menit saja. Saya panjang lebar menjelaskan.

Iya buat saya dan suami waktu dua puluh menit lebih dari cukup untuk makan sahur. Lagian memang terbiasa makan sahur selalu diakhirkan meski bangun tetap jam tigaan. Tapi bagi Fahmi, kadang ia suka rewel. Maklum masih anak-anak. Kalau disuruh dadakan tanpa dikasih pengertian suka balik menyangkal.

Seperti dugaan saya, ia minta digorengkan nugget saja. Sementara sosis dan telor ia malah ga mau. Minumnya ia tidak pernah bermasalah selain ada susu di lemari pendingin juga ada air putih dalam botol miliknya.

Alhamdulillah sahur bisa kami lakukan dengan tertib dan tidak penuh drama meski saya kesiangan dengan kondisi sedikit tidak sehat.

Bulan puasa itu (apalagi yang masih ada anak kecil) kudu siap antisipasi jika ada hal tidak kita duga kejadian seperti yang saya alami. Memang sejak siang hari semuanya udah dipersiapkan. Menu untuk berbuka apa, menu untuk sahur yang mana. Tapi kita tidak bisa memprediksi apa yang akan terjadi setelah ini.

Berbagai persiapan pun saya lakukan. Termasuk mempersiapkan beberapa olahan siap saji untuk mempermudah makan sahur yang biasanya banyak malas dibandingkan makan saat berbuka. Dan karena ada anak kecil saya akan memprioritaskan makanan atau minuman kesukaan anak lebih dahulu.

Antisipasi sahur dalam waktu kepepet, jauh hari sebaiknya apa saja yang dipersiapkan?

Frozen food.

Seperti nugget itu tadi, karena ia suka dan cara masaknya cukup cepat, makan sahur bisa dilalui dengan lancar meski dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Tergantung kesukaan anak, kadang nyetok nugget saja, kalau ada rezeki sekalian nyimpen sosis, seafood, bakso, sayuran siap masak seperti pipil jagung, buncis kacang polong dan lainnya.

 

Telur

Tidak hanya digoreng telur mata sapi tapi bisa juga didadar, baik dengan bahan lain maupun dadar telur saja; dijadikan bahan campuran masakan lain seperti mie; atau direbus cukup sekitar sepuluh menit.

 

Mie instan.

Meski tidak sering tapi saya tetap menyimpan beberapa bungkus mie instan baik yang kuah maupun yang kering. Yang rasa pedas, dan yang tidak. Persiapan jika menginginkan bisa dengan mudah mengeksekusinya. Bahan campuran lainnya sudah tersedia, seperti sayuran hijau, bakso, telur atau olahan seafood yang diusahakan juga selalu tersedia.

 

Minuman berenergi.

Ini sejenis sereal, susu atau teh, (karena kami tidak minum kopi) meski minum saya dan suami dominan air teh saat makan, tapi sesekali minuman berenergi seperti itu cukup menambah daya tahan juga.

 

Garam

Wkwkwkwkkk… Ini serius meski tentu saja tidak termasuk hal yang diwajibkan. Dan saya yakin semua rumah menyediakan garam. Entah kalau anak kost.

Tapi bagi saya dan keluarga makan dengan “didampingi” garam itu sudah jadi kebiasaan. Mau diicip atau tidak, garam harus ada. Jadi bukan sebagai bumbu masakan saja ya, melainkan diicip sedikit dicocol pakai jari atau ditaburkan sedikit atas nasi. Panjang kalau mau tahu sejarahnya makan harus ada garam “mentahan” ini, hahaha…

Intinya sih bukan seberapa mewah makanannya, seberapa banyak menu yang disajikan (karena kapasitas lambung manusia masing-masing tidak jauh beda) tapi lebih ke bagaimana kita bersyukur atas semua yang kita punya. Kita masih bisa makan sahur meski waktunya kepepet sekalipun. Sementara di luar sana, banyak yang mau makan sahur, waktu masih panjang tapi memang tidak ada (tidak punya) makanan yang bisa dimakan…

6 thoughts on “Persiapan praktis saat sahur kepepet waktu”

  1. Telur,makanan frozen, mie instan, ini memang praktis banget dan masaknya cepat ya saat mau sahur.Btw untuk telor aku sudah lama tidak makan kuningnya, high colesterol, he…he…he…udah umur rada dikurangi teh Okti. Selamat menjalankan ibadah puasa

    Reply
  2. Bener banget teh, nungget, telur, dan mie instan tuh andalan banget apalagi yang punya anak kecil di rumah. Auto bebas ribet urusan makan sahur

    Reply
  3. uyah jeung cengek say, enak pisan geura

    Alhamdulilah, mungkin faktor usia, saya sekarang susah tidur, kalaupun tidur cuma sedikit

    sehingga gak pernah telat sahur, tapi itupun sering hanya minum air putih

    begitulah say, selalu ada plus minusnya

    Reply
  4. Betul banget Teh Okti. Kalau saya membiasakan diri masak nasi sebelum tidur dan menyiapkan lauk di wajan untuk tinggal dipanaskan. Jadi meskipun telat bangun, setidaknya tinggal ngangetin. Tapi yang namanya frozen food, telor, mie instan, garam tuh wajib banget nyetok. Kalau minuman, di keluarga saya, biasanya air putih atau teh hangat aja.

    Reply
  5. Wkwk.. Baru tau kalau keluarga mbak makan kudu ada garam. Unik yaa.. Jadi pengen tau sejarahnya. Hehee

    Eh, memang beberapa makanan yang disebutkan di atas itu makanan yang praktis banget buat persiapan sahur. Tapi apalah dayaku ini yang keluarga maunya santan berkuah terus. Wkwk

    Reply
  6. Wkwk.. Baru tau kalau keluarga tek okti makan kudu ada garam. Unik yaa.. Jadi pengen tau sejarahnya. Hehee

    Eh, memang beberapa makanan yang disebutkan di atas itu makanan yang praktis banget buat persiapan sahur. Tapi apalah dayaku ini yang keluarga maunya santan berkuah terus. Wkwk

    Reply

Leave a Comment

%d bloggers like this: