Gerakan Penyambung Hidup

Mereka yang seharusnya menikmati masa tua…

Sudah tiga kali setiap sore, selama hampir seminggu ini saya berada di lingkungan pesantren tempat Fahmi dan ayahnya belajar amtsilati, ada seorang kakek yang memungut barang-barang yang bisa didaur ulang atau dijual kembali, dari tempat sampah kobong (tempat tinggal) para santri.

Padahal kondisi si kakek sudah cukup renta. Untuk berjalan saja ia harus dibantu menggunakan tongkat. Belum jika ia membawa karung berisi barang yang berhasil dikumpulkannya. Kasihan melihatnya. Apakah si kakek masih memiliki keluarga?

Hari Minggu cuaca sangat cerah. Saya menunggu Fahmi dan ayahnya yang sedang pasaran kitab, duduk di depan masjid. Menyaksikan ulah santri yang bermain dan guyon. Semua khas santri pondok pesantren salafiyah. Bikin betah dan kadang tertawa melihatnya.

Tiba-tiba dari ujung masjid terlihat sosok si kakek menggusur karung yang berisi barang yang bisa dijual, hasil yang ia peroleh dikumpulkannya sore itu. Kasihan banget melihatnya. Berjalan tertatih, kakinya menginjak paving blok tanpa alas kaki. Karung dengan susah payah ditarik oleh tangan kanan. Tangan kiri memegang tongkat dan menjaga keseimbangan badannya.

Saya bingung apa yang harus dilakukan?

“Mana rerencanganna¹?” tanya si kakek dengan ramah. Gurat wajah yang begitu sepuh sangat terlihat.

“Aya di lebet, Pak.²” Jawab saya tak kalah hormat.

Ia meminta izin lewat, saya hanya bisa mengangguk menatapnya. Saya ingin membantu tapi bagaimana caranya?

Salah satu pengurus pondok mengatakan, kalau si kakek memang sudah biasa ngambil (mulung) sampah yang bisa dijual dari pondok. Banyak santri yang mau membantu tapi selalu ditolak. Karena itu meski tampak kerepotan namun santri segan untuk membantu. Karena dipastikan si kakek akan menolak.

Saya melihat bekal untuk anak dan suami yang sedari tadi dibawa. Segera saya mengambilnya dan berlari memburu si kakek yang belum begitu jauh. Sepertinya ia hendak menyeberang makanya cukup lama berhenti.

“Aki, tadi kami botram³ nunggu Aki ga datang-datang. Ini bagian Aki. Nanti Aki makan di rumah saja ya…”

Si kakek nampak terkejut dan menatap lama. Saya segera ambil tangannya lalu pegangan tas keresek diselipkannya dijari-jarinya.

Segera mengucapkan salam dan saya berlari kembali ke halaman depan masjid.

Saat pasaran selesai sebelum magrib seperti biasa kami makan bersama. Istirahat hanya sebentar karena nanti bada isya pasaran dimulai lagi. Ketika mau buang sampah bekas makanan saya bilang supaya pisahkan botol plastik dan kertas daur ulangnya.

“Buat apa ih?” tanya Fahmi.

Saya bilang pokoknya kumpulkan saja. Besok sore kalau ada si kakek datang, tinggal berikan. Dia pasti tidak akan menolak. Mungkin dengan begitu setidaknya meringankan usaha si kakek dalam mengumpulkan barang bekas yang bisa ia jual lagi.

Bisa saja saya, para santri atau pihak pondok memberikan uang sumbangan buat si kakek karena kasihan. Tapi ternyata itu bukan jalan keluarnya. Selain si kakek menolak dengan alasan ia melakukan itu hanya supaya ada kegiatan dan bisa bantu memilah sampah kobong, pun selama ia sehat dan mampu memulung sampah tetap ia lakukan.

Sedikit meringankan bebannya mungkin dengan cara memilah sampah yang bisa didaur ulang dan memberikannya sehingga si kakek tidak kesulitan membongkar tempat sampah mencari botol bekas dan lainnya.

Tidak semua orang yang terlihat miskin kehidupannya fakir. Adakalanya kita segan mau bantu karena takut dikira cuma mengasihani atau alih-alih malah dikira merendahkan.

Banyak di sekitar kita orang-orang yang kita anggap profesinya memprihatinkan padahal mereka melakukan itu atas dasar kesenangan.

Seperti saat makan ketupat legendaris di depan alun-alun Cianjur, ada seorang nenek menjajakan dagangannya. Sekian lama tidak ada yang beli. Kasihan memang, padahal tidak juga. Ia berdagang katanya memang sejak muda. Jadi saat ini jika ia berpangku tangan saja, justru merasa tidak nyaman.

Begitu juga di Pasar tradisional Pagelaran tempat saya tinggal, di sana setiap Selasa dan Jumat banyak nenek yang sudah sepuh tapi tetap berjualan dengan ceria. Mulai lalapan, olahan tradisional dan jualan hasil kebun lainnya. Saya dan beberapa ibu-ibu yang sefrekuensi selalu mendahulukan beli ke meraka sebagai upaya bantuan yang kami berikan.

Dengan membeli dagangannya semoga tidak dianggap mengasihani atau menurunkan martabatnya. Secara kalau memberi justru ia atau keluarganya bisa tersinggung. Apalagi ada anak dan cucu dari mereka itu adalah teman saya baik saat sekolah maupun tetangga di daerah dengan profesinya yang cukup terpandang.

Seperti saat pandemi, banyak teman blogger yang tidak punya pekerjaan dan alih profesi jadi pedagang. Trik membantu mereka ialah dengan membeli dagangannya. Yah, meskipun tidak selalu tapi setidaknya kita sudah ikut memajukan usahanya. Tidak pelit pula untuk ikut promosi sesuai kondisi baik di sosial media maupun dari mulut ke mulut. Dengan memajukan usahanya semoga tidak membuat mereka merasa dikasihani atau direndahkan.

 

¹ “Mana temannya?”

² “Ada di dalam, Pak”

³ Makan bersama

 

19 thoughts on “Gerakan Penyambung Hidup”

  1. Kalau si kakek nggak mau dibantu memang jalan satu-satunya membantu adalah ngumpulin plastik botol bekas dan dikasih ke kakek ya Mbak Okti. Dengan begitu sedikit meringankan bebannya.

    Salut dengan mereka mereka yang masih mau berusaha dalam keteerbatasan.

    Reply
  2. Kalau si kakek nggak mau dibantu memang jalan satu-satunya membantu adalah ngumpulin plastik botol bekas dan dikasih ke kakek ya Mbak Okti. Dengan begitu sedikit meringankan bebannya.

    Salut dengan mereka mereka yang masih mau berusaha dalam keteerbatasan.Saluut…

    Reply
  3. masyaAllah yaa…
    kadang kita gak sampai hati deh klo lihat yang sudah sepuh masih kerja begini’
    tapi memang banyak yang memang mentalnya mau tetap kerja dan malah pusing klo gak ngapa2ain, ibu sya juga udah sepuh klo dilarang berkativitas dulu suka gak mau…
    akhirnya dibolehin asal gak berat2

    Reply
  4. Benar Teh, kadang kita pengin bantu, orang seperti si Kakek ini merasa dia baik-baik saja, sedang bekerja menyambung hidup dan bukan meminta-minta.
    Ada juga kakek-kakek dulu garap lahan kosong di samping perumahan saya. Karena lahan diurug, pindahlah berkebun ke tempat lain. Dia sesekali masih ke rumah bawa pisang, kacang panjang, timun suri, dll hasil kebunnya dan dikasih aja gitu ga bilang berapa harganya. Saya berikan sejumlah uang dan sembako sebagai gantinya. Saya bilang kalau rutin ke rumah aja ga usah bawa apa-apa, tapi dia ga mau, karena memang pengin jual hasil kebun bukan minta-minta.

    Reply
  5. masyaAllah..
    aku salut sama bapak ibu yang sudah senja usianya tetapi masih berusaha untuk mendapatkan rejeki yang halal. kalo dipikir harusnya mereka istirahat dan santai di rumah aja
    betul banget mbak, untuk bantu kita larisin dagangan mereka

    Reply
  6. Ya ampun Teteh, aku baca tulisan Teteh jadi terenyuh. Semoga Aku dan Nini yang Teteh dan keluarga bantu tadi diberi kesehatan dan selalu dalam lindungan Allah ya. Amin
    Teteh sekeluarga juga semoga selalu dilimpahkan berkah dan rejekinya. Amin amin amin

    Reply
  7. Salut sama si Kakek ini, dalam usia yang tak lagi muda, berjalan pun nampak susah, tapi tetap menolak kala ada yang ingin membantu. terus saya bandingin dengan para pemuda yang sering ngamen di kampung saya, di kasih recehan 500 rupiah jumlahnya 2, eh di buang sambil ngomel-ngomel

    Reply
  8. Mereka yang masih berusaha untuk tetap berjuang di masa pandemi ini yang harus kita apresiasi juga. Terima kasih sudah berbagi inspirasi melalui tulisan ini ya teteh

    Reply
  9. MashaAllah~
    AKupun mengumpulkan botol plastik, teh..
    Tujuannya tentu akan aku berikan ke pemulung yang seharinya kebayang hanya dapat berapa yaa.. Karena ringan gitu..

    Semoga Allah mudahkan rejeki bagi yang berusaha dengan ikhlas dan bersungguh-sungguh.

    Reply
  10. Jadi ingat waktu dulu ada yang begini, sama ada bapak gamau dikasihani, akhirnya kami bantu dengan membeli barang dan mengumpulkan plastik bekas juga teh. Malah kalau akhir pekan, diminta bersih-bersih halaman. Bapaknya senang dikasih pekerjaan

    Reply
  11. Jadi ingat waktu dulu ada yang begini, sama ada bapak gamau dikasihani, akhirnya kami bantu dengan membeli barang dan mengumpulkan plastik bekas juga teh. Malah kalau akhir pekan, diminta bersih-bersih halaman. Bapaknya senang dikasih pekerjaan gitu teh.

    Reply
  12. Jadi ingett di Singapore banyak sudah tua bekerja sebagai pelayan resto yang mengambil piring kotor. Di Jepang juga sama banyak yg sudah tuaa tapi beraktifitas karena dengan aktifitas mereka tidak gampang pikun dan sakit sakitan.

    Reply
  13. Kalau mau beli rengginang ikan asin boleh ke aku mak *eh promo. Ini juga pikiranku mba. Makanya kenapa milih deket sama bapak biar bisa ngeliat masa tuanya :”) Gpp seadanya yg pasti masa tua dia istirahat

    Reply
  14. Saya senang dengan orang yang punya kelegaan hati berbuat baik meski kadang dinilai ga bagus juga sama orang yang ga suka. Cuma saya selalu dikasih tahu suami supaya kalau beli ambil barangnya karena mereka bukan pengemis

    Reply
  15. Yang biasanya di lakukan kadang membeli dagangannya dan bayar lebih. Tapi kadang ada yang kekeuh nyuruh kita ambil banyak hahaha. Jadi kadang-kadang yang dikasihkan bisa kita sedekahkan ke orang lain juga. Intinya, terus membuat dan menyambung lingkaran kebaikan 🙂

    Reply

Leave a Reply to Meykke Santoso Cancel reply

%d bloggers like this: