Jebakan Blogwalking

Dulu, saya iseng bikin semacam pengamatan terhadap teman-teman blogger yang suka mengunjungi blog saya. Gara-gara banyak yang berkomentar, tapi isinya itu bertanya banyak hal padahal semua yang ditanyakan itu sudah terjawab dalam artikel.

Jadi saya penasaran, ini yang berkomentar sebenarnya sudah membaca artikel saya atau tidak, sih? Atau jangan-jangan hanya klik link pada list , membaca judul, lihat gambar sambil sekrol ke bawah menuju kolom komentar. Setelah ketemu lalu bertanya di sana?

Sent. Gak sampai 30 detik mungkin pengerjaan semua itu sudah selesai. Merasa hutang Blogwalking pun sudah ditunaikan.

Yang bikin saya penasaran, attitude-nya itu. Jika benar apa yang dilakukannya seperti dugaan saya tersebut, apakah ke setiap blog ia berbuat seperti itu?

Diam-diam pengamatan saya lanjutkan. Saya semakin semangat naruh link artikel pada list. Tidak lupa saya mencocokkan waktu.

Tidak tanggung, saya sengaja  meluangkan waktu untuk menunggu kapan teman-teman memberikan komentar, dan membandingkan kapan laporan menyelesaikan blogwalking nya.

Saya hitung selisih dan jeda waktunya, kapan memberi komentar di blog saya, kapan memberi komentar di blog yang ngelist di atas dan di bawah saya. Saya ambil rata-rata berapa lama waktu “perjalanan” dari blog dalam list sebelum saya, lalu berkomentar di blog saya, kemudian berkomentar di blog yang ngelist setelah saya. Segitunya emang saya terbuat. Hehehe…

Saya coba dan praktikkan selama rentang waktu yang saya dapat itu, apakah bisa, atau justru mepet untuk sekadar membaca artikel. Jika tidak memungkinkan, berarti besar kemungkinan memang tidak membaca artikel, melainkan langsung menulis mengisi kolom komentar.

Saat tidak membaca dulu apa isi artikel otomatis tidak bisa membayangkan apa yang dibahas dan hal penting yang didapat dong. Kecuali membaca judul, atau membaca url artikel yang bagi blog berbasic wordpress sama sekali tidak terpotong. Jadi masuk akal kalau menulis komentar berdasarkan judul saja, tanpa disadari yang dikomentari berupa pertanyaan justru jawabannya ada pada artikel.

Hal itu (jika benar) sungguh sangat menggelitik hati saya untuk kembali bisa membuktikan. Tapi yang bikin saya bingung, bagaimana caranya membuktikannya?

Akhirnya saya coba bikin jebakan blogwalking. Saya bikin artikel dengan judul yang menjadi link URL spesifik. Lalu ngasih foto di atas dengan tulisan spesifik juga, hanya antara judul dan tulisan dalam foto ini dibuat jauh berbeda. Jadi misal di judul saya tulis makanan. Lalu pada foto paling atas, saya taruh foto makanan dengan tulisan cireng isi.

Padahal, pada artikel yang saya buat, membahas soal lontong sayur dan sate sebagai makanan khas saat hari raya.

Hem… Saya lempar jebakan itu dengan mengikuti list blogwalking. Lihat umpan yang saya lempar itu apa berhasil memancing blogger curang muncul ke permukaan?

Yes!

Ternyata perangkap yang saya buat, berhasil menjerat beberapa blogger sesuai dugaan!

Dari sekian banyak yang ikut list, beberapa komentar normal, sesuai artikel karena mungkin memang sudah membaca keseluruhan artikel yang saya buat.

Tapi, ada yang berkomentar membicarakan soal cireng isi dalam komentarnya. Haha! Bagaimana tidak lucu, sementara dalam artikel sama sekali itu tak ada bahasannya! Bukankah ia berkomentar sungguh melenceng keluar jalur? Kok bisa ia komentar soal cireng isi sementara dalam artikel ga ada saya membahas itu…

Dugaan sebagai jawabannya ya karena ia hanya melihat judul dan link url yang saya share. Lalu saat ia klik, ia melihat foto makanan dengan tulisan kontra cireng isi. Maka dengan tanpa membaca artikelnya dengan percaya dirinya ia berkomentar soal cireng isi.

Haha, jebakan yang sempurna!

Pengalaman ini sungguh membuat saya jadi jauh lebih berhati-hati lagi dalam mengikuti list blogwalking. Kalau memang repot ga bisa punya waktu buat baca artikelnya, lebih baik jangan memaksakan diri ikut list.

Sebagai mom blogger saya tahu dan merasakan bagaimana sibuknya kita mengatur waktu untuk mengurus rumah tangga, mengurus anak dan urusan parenting lainnya. Apalagi jika ditambah sebagai ibu bekerja alias wanita karir.

Setidaknya kalaupun butuh support blog secara mepet, saat akan berkomentar, baca dulu tentang isi artikelnya sehingga punya topik bahasan yang relevan saat akan memberikan komentar.

Jangan sampai kena jebakan saya lagi, ya …

Yuk saling menyemangati untuk menjadi blogger yang bijak dan bermartabat

12 thoughts on “Jebakan Blogwalking”

  1. Mantap mbak, saya ketawa baca artikel ini, keren jebakannya. Saya sendiri lebih menyukai komentar organik. Blogwalking utamanya buat networking, nambah teman, dan support blogger lain.

    Beberapa kali ikut blogwalking ngalamin hal yang sama kaya mbak. Ada komen-komen yang gak nyambung dengan isi artikel saya. Akhirnya saya mutusin cuma approve komen yang bagus, komen lain terutama yang gak nyambung saya hapus.

    Saya nyadarin juga selain mereka mungkin gak baca artikel utuh, mungkin juga baca tapi bingung mau komen apa. Sering saya alami kalau baca artikel skincare, butuh waktu lama buat saya komen sebaik mungkin.

    Reply
  2. Sejauh ini, ini yang paling jauh dalam hal pengamatan blogwalking. Tapi memang yang begitu nyata adanya teh.
    Pernah kaget, pas baca komen di BW tentang ‘pengalaman buruk di sebuah hotel’, tapi komennya malah ‘terima kasih atas rekomendasinya, saya mau coba’.

    Saya positif thinking saja, mungkin beliau memang pengin nyoba. Apalagi yang komentar begitu adalah blogger yang kalau nulis bisa beribu2 kata, langganan juara lomba, dan seringkali jadi lomba blog. xixi

    Reply
    • Daku acap kali juga mendapatkan komentar hasil BW yang ya begitu hehe…mana uniknya adalah sama seperti Bang Raja rasakan yang sudah kategori “senior” heheh. Alhamdulillah-nya karena moderasi blog cukup senyumin aja tanpa perlu dipublish komennya

      Reply
  3. Hahaha, apakah aku juga?

    Sebisa mungkin aku tetap baca tulisan teman-teman buat berkomentar. Kalau pun gak ngerti, ya ambil sudut pandang lain. Kalau sampai langsung komentar, gak bagus juga buat blog. Waktu kunjungan jadi dikit

    Reply
  4. saya kadang kalau temanya sama gitu nggak baca lagi artikelnya mbak apalagi kalau itu job biasanya isinya hampir mirip jadi langsung komentar aja. cuma kalau artikelnya beda saya berusaha baca sampai selesai juga sih artikelnya biar nggak kena jebakan. hehe

    Reply
  5. Saya tidak ngelist bw saat membaca judul ini, tapi saya baca hingga akhir karena penasaran, bagaimana sih jebakan bw itu?
    Ternyata, apa yg selama ini saya curigai terjawab sudah setelah membaca hasil penelitian Mbak hahaha.
    Namun, saya juga terkadang terperangkap dalam bw terutama saat ada postingan yg sama temanya, sok tahu gitu karena temanya sama atau tulisan job yang sama. Yuk, kita saling bw dengan lebih jujur.

    Reply
  6. Hahaha ide bagus mba…
    Kebangetan banget sih klo yang kasus cireng itu 😀

    Eh tapi, aku juga pernah sih hanya scanning aja pas BW gitu. Terus berkomentar. Eh pas dibaca lagi, ternyata jawabannya ada di situ. Jadi bukan ga baca sih, terlewat aja gitu.

    Reply
  7. sering bgt sya nemuin kasus kejadian kaya gini, komentar BlogWalking bener2 tidak relevan dg isi artikel.. kebanyakan sih pengunjung terpana dg judul yang wah dan menarik, dan pas membaca isinya menurut mereka itu terlalu ribet dan membingungkan..

    gk bisa menyalahkan pengunjung2 blog kita juga sih, krna kita juga apresiasi kunjungan mereka ke blog kita dan menaikkan jumlah viewer harian.. tapi hal2 kaya gini bisa jadi homework buat kita juga supaya bisa menyajikan informasi2 artikel yang unik, menarik dan informatif, dan bikin betah mereka membaca seluruh artikel dan scroll semua artikel2 lainnya..

    terimakasih sudah berbagi ceritanya mbak.. nice work.. unqiue title

    Reply

Leave a Comment

%d bloggers like this: