Kemerdekaan Pekerja Migran

Teringat waktu saya masih kerja sebagai pekerja migran (BMI) alias TKW di Hongkong, tanggal 17 Agustus kala itu jatuh pada hari Rabu. Tapi karena di negara Jackie Chan itu bukan tanggal merah, jadi ya tidak ada libur.

Merdeka! Merdeka!

Teriakan kecil para TKW di taman bawah flat pagi itu menandakan kalau Rabu ini hari special. Saat itu tahun 2000-an belum marak smartphone seperti sekarang. Baru ada ponsel yang bisa telepon dan SMS saja.

Tapi beberapa teman yang bisa libur dan datang ke KJRI di Causeway Bay sukses menceritakan bagaimana di kantor perwakilan negara Indonesia itu diadakan upacara HUT RI dengan cukup khidmat dan meriah dihias ornamen merah putih.

Belum lagi bisa makan prasmanan sepuasnya dengan sajian makanan khas tanah air. Kami yang kerja di bagian pelosok nya Hong Kong hanya bisa membayangkan dan memaknai kemerdekaan Indonesia seadanya. Bahkan hanya dalam angan dan bayangan.

Victoria Park Causeway Bay, surganya TKW Hongkong
Kemerdekaan Pekerja Migran
Lomba joged balon
Kemerdekaan Pekerja Migran
Lomba balap karung BMI Hong Kong di Taman Rumput Victoria Park. Foto: Aiyu Nara Saputro

Pada hari kemerdekaan RI itu saya tetap ngosek WC. Pun menyelesaikan pekerjaan membabu lainnya dengan penuh idealis. Salah satu bentuk rasa syukur saya yang mendapatkan majikan lumayan baik, adalah dengan menyelesaikan semua pekerjaan sebaik mungkin.

Saat buang sampah, teman-teman di bawah flat nanya, udah ketemu anak baru yang katanya disiksa Ama-nya? Saya menggeleng. Anak baru yang mana ya?

“Gantinya Asih yang diinterminit…”

Hah? Asih diinterminit? Kapan? Jadi nenek lampir itu beneran memulangkan Asih? Terus ngambil lagi anak Indo?

Seminggu kemarin saya memang tinggal di Lau Fau San, ngurus Akong yang jatuh dan kakinya bengkak jadi ga bisa jalan. Baru semalam pulang ke Tuen Mun ini. Dan tentu saja sangat terkejut mendapatkan kabar Asih di-PHK.

Semoga kamu mendapatkan majikan yang lebih baik, Sih. Tidak terasa mata saya jadi berkaca-kaca.

Asih, anak asal Indramayu Jawa Barat bekerja ke Hongkong belum ada pengalaman. Karena non ex itu, ia mendapatkan gaji underpay (di bawah UMR/kontrak kerja) dan tidak mendapatkan hak libur.

Majikannya tinggal di Causeway Bay, di Tuen Mun ini dia merawat nenek lampir, orang tua majikannya. Nenek lampir sebutan kami untuk nenek yang dijaga Asih, saking bencinya kami sama sikap dan perilakunya yang tidak berperikemanusiaan itu.

Nenek lampir itu terang-terangan menyuruh Asih kerja rodi, tanpa memberikan makan minum yang setimpal. Kalau di taman, ia sering memarahi Asih seolah Asih bukan manusia. Meski bicara dalam bahasa Hokien, kami sedikit mengerti kalau nenek itu menganggap Asih pekerja dari Indonesia yang waktunya di Hongkong ini ya untuk kerja, kerja dan kerja! Tuh lampir ngeyel anaknya bayar orang ya buat kerja. Jadi kumat darah tinggi nya alias ngomel mulu kalau lihat Asih, pekerja nya diem meski barang sebentar.

Tak memiliki perasaan kalau Asih perlu istirahat, perlu makan minum yang cukup supaya memiliki tenaga.

Saya dan teman-teman di flat yang sama sering sembunyi-sembunyi memberikan makanan atau minuman buat Asih.

Saya dan teman-teman yang dikoordinir Mba Diah patungan membeli baju musim dingin untuknya karena gak tega melihat Asih membiru kedinginan.

Sementara nenek lampir itu tidak memperdulikannya. Malah sering memarahi Asih yang katanya kerja lambat, bodoh, dan cacian lainnya yang membuat kita sungguh sedih mendengarnya.

Memasuki musim panas, kini Asih sudah tidak ada. Entah dipulangkan ke Indonesia, atau ke agency. Dan teman-teman bilang sudah ada gantinya Asih yang juga anak dari Indonesia.

Beberapa hari kemudian, saat saya jemput anak di bawah flat, ketemu anak baru (bisa dilihat dari penampilan dan gayanya, khususnya rambutnya yang biasanya masih berpotongan pendek seperti gaya rambut laki-laki).

Seperti linglung, si Mba yang dari perawakannya terlihat usianya jauh di bawah saya, sorot matanya sayu dengan mata panda terlihat jelas di sekitar wajah.

“Mba namanya siapa? Kerja di rumah mana?”

Tanya saya sambil celingak-celinguk, takut benar itu gantinya Asih, dan nenek lampirnya ada di bawah. Kalau benar, itu anak bisa kena marah jika kedapatan ngobrol dengan sesama TKW.

Dulu Asih sering dimarahi nenek lampirnya saat ketahuan bicara dengan kami saat ketemu di taman.

“A-aku Reni. Aku kerja di #707” katanya pelan.

Benar. Itu rumah yang ditempati mak lampir. Jadi Reni fix gantinya Asih yang dibicarakan teman-teman beberapa hari lalu.

“Saya Alisa. Tetanggamu di #0712. Kalau ada apa-apa jangan sungkan bilang ya. Nenekmu lampir kan? Kamu jangan takut. Kamu harus sukses. Kalau lampir ngomel, anggap saja radio rusak, ya. Kalau kamu butuh apa, ke #0712 aja. Majikanku alhamdulillah baik.”

“I-iya Mba Alisa. Terimakasih.” Katanya masih dengan suara pelan. Jelas ia masih takut.

Kemerdekaan Pekerja Migran
Aktivitas para pekerja migran Indonesia saat libur kerja

Beberapa hari kemudian ketika ngajak anak majikan turun bermain di playground, saya lihat Reni mengikuti nenek lampir turun.

Saya perhatikan dari jauh, Reni mendapatkan perlakuan tak beda dari Asih. Entah masih baru, atau Reni beda dari Asih, meski neneknya itu cerewet dan nunjuk-nunjuk tapi Reni terlihat kalem.

Sungguh pemandangan yang mengandung bawang, disaat hari kemerdekaan diperingati di bulan ini, tapi gaya penjajahan masih jelas terasa kami dapatkan.

Ketika bola anakku menggelinding ke dekat mereka, saya mengambilnya sambil bertanya, Apakah Reni ada libur? Dia hanya menggeleng.

“Padahal aku pembalut habis Mba…” katanya tercekat.

Sudah saya duga. Nenek lampir itu mana mau mengerti kebutuhan pekerjanya. Sambil melengos menggendong anak saya bilang nanti akan saya kasih saat waktu buang sampah.

Saat anak yang saya jaga tidur siang, segera saya siapkan pembalut, kopi, mie instan, dan camilan lain yang belum tentu saya habiskan hingga libur minggu depan.

Tak lupa saya menulis surat untuk Reni. Surat berisi kalimat penyemangat supaya Reni bertahan dengan nenek lampirnya itu.

Reni harus berani melawan kalau Mak lampir semena-mena. Reni harus sukses meski gaji dibawah standar dan tanpa libur. Reni gak boleh kembali kena interminit seperti Asih dan TKW-TKW sebelumnya. Reni jangan mau dijajah!

Keenakan banget itu lampir main interminit pekerja. Tanpa mereka tahu bagaimana TKW dibuat kerja paksa selama masa potongan gaji. Kerja keras sementara gaji diperas.

Tujuh bulan masa potongan gaji lalu saat habis potongan masa kontrak diputus. Dikembalikan ke agency, lalu nyari majikan lagi, dan kembali memasuki masa potongan gaji.

Sungguh seperti kerja bakti demi menyuburkan agency dan memerah para TKW hingga ke tulang dan sum-sumnya.

Saat buang sampah satu keresek penuh berisi apa yang saya ingin kasih ke Reni langsung saya berikan. Tak lupa saya masukkan buletin informasi ketenagakerjaan berisi alamat, no hp pengaduan dan berita ketenagakerjaan lainnya yang harus Reni ketahui.

Sekalian saya sampaikan ke Mba Diah yang kerja satu flat dengan kami di lantai lima mengenai kondisi Reni. Mba Diah asal Lumajang yang sudah bekerja lebih dari 10 tahun di satu majikan itu bisa dibilang senior kami di flat ini.

Ia sering membantu sesama TKW. Seperti selama ini ia yang mengkoordinir bantuan untuk Asih.

Kemerdekaan Pekerja Migran
Mba Diah ikut memeriahkan HUT RI dengan mengikuti lomba cerdas cermat tingkat Cece Hongkong. Foto: Diah Vidiawati

Bukan keinginan kami kerja jadi TKW, tapi karena tidak ada pilihan lain. Tidak semua beruntung mendapatkan majikan cukup baik seperti Mbak Diah, karena itu saat mengetahui ada sesama pekerja dari Indonesia yang menderita, minimal selama masa potongan gaji, kami sepakat untuk saling membantu semampunya.

Minggu tanggal 21 Agustus, saya baru berkesempatan libur. Di Victoria Park ramai digelar berbagai pertandingan dan permainan khas agustusan. Mulai lomba lari pakai karung/sarung, lomba makan kerupuk, lomba memasukkan pensil ke dalam botol sampai tarik tambang dan fashion show ala TKW.

Meski di negara orang tapi saat libur semua bisa mengekspresikan apapun yang diinginkannya. Kami gelar tikar dan tertawa bersama. Sambil diselingi makan dan kehebohan teman-teman dalam memeriahkan acara kemerdekaan yang sedikit tertunda.

Di ujung lapangan, di atas tenda megah dengan sokongan berbagai sponsor provider, musik menghentak diiringi lagu yang dibawakan artis dan band kenamaan ibu kota yang sengaja didatangkan panitia dari tanah air untuk menghibur masyarakat Indonesia yang sedang bekerja di Hongkong ini.

Kemerdekaan Pekerja Migran
Suasana fashion show BMI Hong Kong di Tenda Putih Victoria Park. Foto: Ida Yuna
Tak ada rotan akar pun jadi. Tak ada lapangan untuk lokasi acara perlombaan, BMI Hong Kong menggelar acara di lorong bawah tanah sebuah stasiun MRT. Kalau ketahuan pakde alias polisi HK, jelas bisa dibubarkan. Foto: Ninik Colection

Dalam satu kesempatan saya mendapatkan dua kondisi nasib TKW yang berseberangan. Satu sisi bahagia menikmati kemerdekaan (kebebasan saat liburan) sisi lain ada yang terpenjara dijajah oleh majikan yang tidak berperikemanusiaan seperti yang dialami Reni, dan masih banyak TKW -TKW lainnya dengan nasib yang sama bahkan lebih parah.

Kondisi yang teramat jomplang saat perayaan HUT RI ini sungguh tak bisa terlupakan. Saat itu memang belum ada BNP2TKI atau sekarang yang diubah jadi BP2TKI. Sehingga kondisi para pekerja migran semenderita apapun banyak tidak bisa full terpantau.

Kemerdekaan Pekerja Migran

Dan sekarang, harapan saya di usia ke 78 tahun kemerdekaan Indonesia ini semoga perlindungan pemerintah untuk para pekerja migran lebih nyata adanya.

Berantas calo dan agency yang hanya memeras para pekerja dengan sistem apapun. Setidaknya meski tidak ada lapangan pekerjaan buat kami di dalam negeri, beri kami kemudahan dalam mengurus segala persyaratan dan birokrasi saat memilih mengadu nasib merantau ke luar negeri.

46 thoughts on “Kemerdekaan Pekerja Migran”

  1. Salut. uat para Pahlawan Devisa. Keluarga yang ditinggalkannya bisa menikmati uang luar negeri, sementara mereka banting tulang, kerja bagai kuda. Semoga diberkahi Allah.

    Reply
  2. Sedih rasanya membaca kisah Mbak Asih ataupun Mbak Reni yang masih tertindas. Terlebih lagi oleh orang di negara lain. Kesal rasanya dengan para agen tenaga kerja yang hanya memikirkan untung tanpa melihat sisi kemanusiaan. Bukankah seharusnya bagian dari mereka juga untuk memantau kondisi pekerja yang direkrutnya. Saya berharap pemerintah bisa membuatkan aturan yang lebih tegas lagi untuk memberantas atau menghukum agen atau calo-calo seperti ini. Terima kasih dan salute untuk Teteh dan teman-teman pejuang nafkah di luar sana yang bisa terus semangat saling membantu sesama.

    Reply
  3. Wah resikonya besar juga ya. Memang bener-bener perjuangan sih. Dari rumah berharap mendapatkan pekerjaan yang layak. Pas di sana mendapat kendala. Beruntung antar satu sama lain saling suport.

    Reply
  4. Saya brebes mili baca Mbak. Kebayang gimana kuatnya rasa persaudaraannya. Semoga pemerintah lebih berhatian lagi samanpara TKW. Supaya tidak ada lagi hang seperti Mbak Asih dan Mbak Reni.

    Reply
  5. Membayangkan bagaimana perjuangan para buruh migran Indonesia diluar negeri yang mencari uang bagi keluarga di Indonesia. Terkadang, bertemu sesama pekerja adalah obat rindu termasuk keseruan 17an ini ya.

    Reply
  6. Wah emang deh bener kalo dibilang temen2 TKW di sana pada kompak. Alhamdulillah banget klo dapet majikan baik yang memanusiakan. Kalau udah dapet yang nenek lampir kaya mba Asih sama mb Reni ya jelas aja bikin ikutan sesak. Sesame TKW dari jauh merantau untuk kehidupan yang lebih baik tapi malah dapat perlakuan kurang mengenakkan. Miris banget.

    Reply
  7. Miris ya, mba. Tidak semua pekerja mendapatkan majikan yang baik, jadi mereka tidak merdeka dari kekerasan dan gaji di bawah umr. Semoga para pekerja imigran mendapatkan hak yang lebih baik.

    Reply
  8. Semoga majikan yang seperti ditemui mbak Asih dan Reni dibukakan hatinya bahwa pekerja dan majikan sama-sama manusia.
    Semoga di ulang tahun ke 78 ini para pahlawan devisa semakin terpenuhi hak-haknya.

    Reply
  9. Kalau ada kesempatan kerja yang baik di negeri sendiri, tentu tak perlu jauh-jauh “membabu” (mengutip istilah Teh Okti) ke negeri orang ya, Teh. Btw, Teh Okti tau nasib Reni sekarang?

    Reply
  10. Menjadi pahlawan devisa negara ini gak gampang ya, Mbak. Kalau nemu majikan yang baik, Alhamdulillah banget. Kalau nemu yang jahat, Ya Allah, perih rasanya ya, Mbak.

    Sebutan untuk nenek yang dirawat ‘Nenek Lampir’, kayaknya ini hampir TKW menyebutnya. Bude saya yang kerja di Taiwan juga, nyebut nenek yang dirawat ‘Nenek Lampir’.

    Reply
  11. Pekerja migran tuh pahlawan di era sekarang. Sebab mereka berperan membawa devisa bagi negara. Semoga para pekerja migran bisa sejahtera dan dukung banget buat berantas calo dan agen abal2 yang cuma memeras pekerja migran

    Reply
  12. Semangat selalu ya Pahlawan Devisa, kalian hebat…
    Dari blog Teh Okti, aku jadi tahu kalau enggak semua majikan itu baik, bahkan masih ada majikan yang semena-mena kayak majikannya Reni.

    Reply
  13. Seru sekali momen perayaan di Negara Tirai Bambu. Sumpah ngerayain HUT negara kyk gini tuh bikin kita seneng bgt bs kumpul kyk keluarga sendiri.

    Apalagi di Victoria Park, tempat yg udh kyk rumah bagi TKI/TKW kita di China.

    Aku jd ingat pernah transit di Bandara Hong Kong, ya ampun bolak balik sering denger bahasa Jawa dstu. Aku pikir ini org China eh ternyata wong Jowo. Wkwk.

    Reply
  14. kalau kerja di LN emang paling berasa ya perayaan HUT RI dan rasa nasionalis tetiba tinggi, karena pasti kangen indonesia. terkait nasib TKW di LN, miris sih dan sudah banyak kejadian malang yang menimpa TKW. selain agensi dan calo yang gak bertanggung jawab, aku lihat sih peran pemerintah juga kurang perihal pengawasan. semoga kedepannya hal yang menimpa asih dan asih-asih yang lain tidak terjadi lagi ya.

    Reply
  15. MasyaAllah, perjuangan para pahlawan devisa Indonesia yang bekerja di luar negeri ini sungguh luar biasa, onak dan duri selama di negeri orang dilalui dengan ketabahan ekstraordinary.
    Harapan saya sama seperti teh Okti. Semoga pemerintah lebih concern untuk memberikan perhatian kepada para TKW, agar keselamatan mereka dapat terjamin selama bekerja di luar negeri

    Reply
  16. Aku ikutan sebal sama tingkahnya Nenek Lampir yang semena-mena banget memperlakukan Asih dan juga Reni yang padahal selama ini mengurusi segala kebutuhannya ya khan. Sungguh nggak berperi kemanusiaan. Semoga makin ke sini, para tenaga kerja kita di luar negeri mendapat perlakuan yang lebih baik. Berharap perayaan hari kemerdekaan tanah air pun membawa “merdeka” juga bagi seluruh WNI yang keluar negeri demi berjuang mencari penghidupan.

    Reply
  17. Speechless juga dan memang cukup besar risiko para pejuang devisa di negeri orang ya. Bersyukur banget kalo bisa dapat majikan yang baik. Tapi kalo nggak, ya susah juga. Mana kan setahu aku memang gak bisa milih majikan juga. Sedih euy.

    Reply
  18. suka dukanya pekerja migran tuh salah satunya pas momen perayaan kemerdekaan gini ya teh, jadi lebih syahdu dan benar2 merasakan cinta tanah air tuh benar2 dari dalam hati pastinya

    Reply
  19. Terlepas dari cukup kelamnya dunia TKW karena ada oknum yg nggak bertanggujawab. Aku berharap sih semoga para pejuang devisa di luaran sana mendapatkan kenyamanan saat bekerja. Walo belum pernah ke luar negeri, tapi ikut seneng loh karena perayaan HUT RI yang nggak kalah meriahnya, jadi terharu. Semangat terus Mbak-mbak semuanya.

    Reply
  20. Membaca kisah yang diceritakan teh Okti, aku kembali tersadar dengan curhatan dari beberapa buku yang aku baca mengenai lika-liku penjadi TKW.
    Rasanya banyak sekali ujian yang mereka hadapi, sebelum berangkat, ketika sudah bekerja dan bahkan untuk bertahan hidup.

    Semoga Allah senantiasa melindungi sahabat TKW yang sedang berjuang untuk keluarga.

    Reply
  21. Ya Allah nangis banget baca kisah Asih, bisa bisanya orang-orang ini tega banget. Pernah kerja kayak gini di Indonesia aja sedihnya minta amoun, apalagi di luar negri. Semoga ada dukungan pemerintah secara nyata ya mbak.. nggak dicari pas musim coblosan doang.

    Reply
  22. Ramai ya teh Okti kalau kemerdekaan di Victoria Parkcause Bay. Alhamdulilah dulu baik dapat majikannya ya. Serem juga ya sampai ada yang disiksa gitu. Aamiin semoga keselamatan pekerja di manapun bisa menapatkan perlindungan

    Reply
  23. Alhamdulillaah tetap dipanjatkan puji syukur kepada Allah, meskipun bekerja sebagai TKW di luar negeri, masih sempat mengikuti perayaan 17 Agustus-an merayakan hari kemerdekaan NKRI tercinta. Miris mengetahui masih banyak perlakuakn tidak berperikemanusiaan majikan terhadap ART. Semoga sehat2 dan sukses yaaaa.

    Reply
  24. Alhamdulillah kalau bisa dapat bos yang baik dan pengertian ya Teh. Penting banget juga untuk ketemu sm komunitas sesama pekerja migran. selain saling support, kalau ada masalah bisa dicarikan jalan keluar. kebayang klo merasa sendiri huhu. Semangat temen2 pekerja migran di manapun

    Reply
  25. Ya Allah mbak, gak kuat aku baca cerita asih. Langsung ikutan emosional. Kasian banget..heu heu.. saya aja kemarin yang mengkhayal menjaga ortu atau mertua tanpa ART n nulis di blog langsung bikin kesimpulan ‘gak sanggup’ kecuali ada bantuan ART. Apalagi orang tua ini kalo udah sepuh kelakuannya back to masa kecil lagi.

    Reply
  26. Selalu bersyukur dengan TKW yang mendapat majikan baik. Minimal, memberikan hak-nya sebagai manusia karena akan sulit kalau menuntut lebih ya..
    Sedih sekali.
    Di hari kemerdekaan, ada beberapa sahabat yang juga bekerja sebagai TKW tidak diijinkan bertemu dan ikut merayakan hari kemerdekaan. Ini potret nyata beratnya kehidupan sosok pejuang devisa negara.

    Barakallahu fiik~

    Reply
  27. Mbak aku terharu banget bacanya dimana semangat perjuangan yg nyata utk tidak dijajah memang nyata adanya disitu. Semoga sekian tahun berlalu keadaan semakin membaik ya mbak

    Reply
  28. Duh aku tuh sedih kalau denger cerita ada TKI yang disiksa sama majikannya atau diberlakukan tidak baik. Semoga apa yang diharapakan oleh teh Okti tentang Kemerdekaan pekerja migran dapat dikabulkan oleh pemerintah Indonesia ya.

    Reply
  29. Saya sedih denger kabar Asih dan Reni penggantinya. Memang sepertinya susah ya pengen pilih agency atau majikan sendiri. Nggak semuanya baik soalnya. Ada yang nggak berprikemanusiaan kaya majikannya Asih ama Reni. Sedihnya jadi mereka. Buat yang punya majikan baik Alhamdulillah ya Teh. Bisa liburan sekalian merayakan hari kemerdekaan Indonesia.

    Reply
  30. Selalu ada kisah TKI yang menggelitik. Bikin haru ketika ada majikan yg semena-mena.

    Padahal mereka penyumbang devisa tertinggi ya. Semoga pemerintah memperhatikan para TKI di luaran sana. Hak-haknya terpenuhi, fisik dan psikisnya tetep terjaga kesehatannya.

    Reply
  31. Sedih banget baca cerita Teh Okti tentang Asih dan pengganti nya si Reni. Pasti ada banyak pekerja migran seperti mereka yang tidak bernasib baik, mendapatkan majikan buruk. Sekarang masih ada ya calo nakal gitu, enak juga si majikan main interminit pekerja nya, nasib apes yang dapat majikan kayak gitu. Kerja tanpa gaji dan bener juga ya model penjajahan padahal udah merdeka negeri kita

    Reply
  32. Aku pernah pas 17 Agustus masih kerja. Bersyukurnya kerjaan terbilang manusiawi dan santai. Sedih lho kalau dengar berita tentang TKW yang dapat perlakuan kurang baik. Pantes ada Tetangga yang pulang gak bawa apa-apa setelah kerja. Ada potongan agensi dan lain ternyata

    Reply
  33. Gak tau ya udah 78 tahun ini negeri ini merdeka tapi kok perlakuan terhadap TKI/ TKW masih sama saja, kyk kurang ada perubahan signifikan 🙁
    Suka kasian kalau ada pekerja yang gak dapat majikan baik. Untungnya di sana masih ada teman2 yang punya rasa solidaritas membantu tanpa diminta ya mbak.
    Beruntung kalau ketemu yang seperti itu.
    Ya harapannya moga nanti pemerintah kita bisa membuat peraturan yang menguntungkan dan memberikan perlindungan kepada teman2 kita khususnya yang kerja di LN.

    Reply
  34. Sedih banget mba baca kisah para TKW yang diperlakukan semena2 gitu. Duuh itu apa ya ga punya perasaan deh, sama2 manusia kok tega ya memperlakukan orang seperti itu. Semoga segera ada perlindungan yang baik untuk para naker yg kerja di rantau begini.

    Reply
  35. Semoga nggak ada lagi kisah Asih dan Reni yang lain ya.
    Semoga para pekerja migran Indonesia di Hongkong, apapun bidang pekerjaannya mendapatkan perlakuan yang layak dan kesejahteraannya terjamin

    Reply
  36. Ya ampun mbak, nangis aku bacanya. Reni dan Asih ga bisa minta pertolongan dan perlindungan agency kah? Hrsnya kan agency melindungi TKW bukan sebaliknya. Malah aku mikir kayak sengaja bkin TKW ga betah supaya bisa bebas ga usah gaji dg layak tapi dipekerjakan. Orang seperti itu ga akan berkah hidupnya masa tua saya jamin sakit2an

    Reply
  37. ya Allah teh, yg tak ada rotan akar pun jadi itu bener banget sih apa aja bisa jadi ya kalau kepepet mah. Semoga perlindungan terhadap tenaga kerja luar negeri ini semakin kuat, miris bgt membaca perlakuan beberapa itu termasuk mba Asih, dan hal itu ngga kejadian lagi ya

    Reply
  38. Semoga sekarang kondisi sudah jauh berubah ya mba dan banyak perbaikan tentunya. BP2MI memang punya banyak PR tapi perlindungan WNI di luar negeri, termasuk BMI kita, adalah prioritas. Terima kasih sudah banyak berbagi ya mbaa

    Reply
  39. Waah ternyata di Hongkong juga ada lomba-lomba ya mbak dalam rangka Agustusan. Mungkin rasa nasionalisme malah lebih-lebih ya saat kita tinggal di luar negeri.

    Salut dengan Mbak Diah dan Teh Okti yang saling membantu BMI yang kurang beruntung. Ternyata tidak semua majikan baik ya mbak. Baru tau juga kalau ada sistem potong gaji di 7 bulan pertama. Semoga tidak ada lagi Asih,Asih dan Reni, Reni lain yang kurang beruntung

    Reply

Leave a Comment