Pengalaman Sahur Terbatas di Negara Non Muslim

Hampir dua belas tahun saya hidup di negara orang dengan majikan non Muslim. Mulai bekerja dari Singapura lalu Hongkong dan berakhir di Taiwan, semuanya menyisakan kenangan bagaimana suka dukanya saya mencuri-curi waktu demi bisa melakukan sahur dengan modal seadanya.

Yang paling tidak bisa terlupakan waktu kerja di Keelung Taiwan. Ketika memasuki bulan puasa saya tidak bisa leluasa masak dan menghidupkan lampu dapur sehingga terang benderang karena ada orang tua majikan yang masih kolot tidak mengizinkan saya melakukan puasa.

Padahal sehari-hari dapur adalah ruangan yang saya kuasai. Tapi sejak kedapatan oleh Ama (Nenek) saat dini hari saya nguprek di dapur untuk mempersiapkan sahur, dan mengetahui kalau saya akan menjalankan puasa, sontak dia marah dan melarang saya masak.

Saya pikir dia marah karena saya mengganggu waktu istirahatnya. Mungkin suara alat masak bikin berisik sehingga bikin Ama terbangun. Ternyata Ama melarang saya sahur, karena ia tidak ingin saya mati sia-sia gara-gara berpuasa! Wadidaw…

“Kamu kerja di sini. Kalau kamu siang hari tidak makan, bisa mati tau gak? Bikin repot saja. Besok saja makannya bareng-bareng. Ayo masuk kamar dan tidur.” Begitu ultimatum Ama.

Cari Ide Bisa Sahur yang Terlarang di Rumah Majikan

Begitulah, di sana kalau orang tua sudah berkuasa, anak cucunya tidak bisa bagaimana. Majikan sebenarnya sudah modern dan berpikiran terbuka. Mereka membebaskan saya untuk melakukan puasa asalkan tidak mengganggu pekerjaan. Hanya orang tuanya yang masih berpikiran sempit seperti itu.

Majikan menyarankan supaya saya pintar-pintar saja mengambil hati nenek, sehingga tidak tahu kalau saya tetap menjalankan puasa.

Awalnya saya sahur dengan makan roti dan air minum yang saya bawa ke kamar. Tapi gak nyaman juga secara saya terbiasa makan nasi dan lauk pauk layaknya di Indonesia.

Di rumah majikan tidak pernah ada nasi sisa semalam karena setiap makan malam semuanya harus dihabiskan. Lagian masaknya juga sedikit karena setiap orang cukup satu mangkuk kecil nasi saja. Beda dengan kebiasaan saya di kampung, makan satu piring penuh nasi itu masih harus nambah. Haha…!

Akhirnya saya bilang ke majikan, izin bawa rice cooker ke kamar. Dengan alat masak praktis ini saya bisa masak nasi sekaligus lauknya.

Tidak disangka proposal saya itu di-approve majikan. Malah dia sengaja beli alat penanak nasi yang baru, khusus untuk disimpan di kamar saya. Tentu saja tanpa sepengetahuan ibunya. Ditambah syarat lain saya harus menjaga kebersihan dan keamanannya.

Alhamdulillah. Sejak itu saya bisa menjalankan sahur dengan tenang walaupun masih secara sembunyi-sembunyi di dalam kamar.

Menu makan sahur apa saja yang bisa saya buat dengan alat terbatas berupa pengukus nasi saja ini?

Saya lebih sering bikin one pot sahur ala-ala. Maksudnya, saya masak nasi dan lauknya sekaligus dalam satu kali masak. Praktis banget pokoknya.

Lauk yang biasa saya masak bersama nasi sekaligus dalam penanak nasi modern ini seperti telur, sosis, ikan, atau sayuran dalam satu wadah.

Telur tidak hanya direbus atau dikukus bersama cangkangnya, melainkan bisa disteam dengan cara telur dikocok dulu, diberi bumbu sesuai selera dan tanak bersama nasi secara bersamaan.

Sebelum punya mangkuk anti panas, saya bungkus telur yang sudah diberi bumbu dalam plastik. Lalu taruh di atas pengukus nasi. Hasilnya setelah matang bentuknya malah seperti sosis. Not bad kan?

Begitu juga dengan ikan atau sayuran. Cukup cuci bersih, simpan dalam wadah stainless steel yang muat dalam panci penanak nasinya, kasih bumbu sesuai selera dan kukus bersama nasi. Jadi nasi matang, lauknya juga siap santap. Intinya jadi hemat waktu dan tenaga.

Beberapa kali Ramadan saya lewati dengan berpuasa secara maksimal cukup berbekal satu alat pengolah nasi ini di dalam kamar. Hingga saya pulang ke tanah air, hanya majikan yang tahu “kecurangan” saya terhadap Ama selama ini.

Tips Membuat Menu Sahur dengan Rice Cooker

Tidak mudah memasak menu untuk sahur dengan tuntutan kelengkapan gizi serta tampilan yang menarik supaya menggugah selera makan di waktu pagi buta.

Apalagi jika memasaknya hanya mengandalkan alat masak dengan segala keterbatasannya pula. Karena itu diperlukan beberapa tips dan trik supaya acara masak-memasak berjalan lancar tanpa diburu waktu imsak dengan hasil yang enak dan matang sempurna.

Beberapa hal dari pengalaman saya selama ini yang perlu diperhatikan:

🩸 Pilih penanak nasi multifungsi. Seperti Rice Cooker Miyako yang bisa digunakan untuk memasak nasi, mengukus, dan lainnya tanpa merusak lapisan anti lengket.

Saat ini banyak direkomendasikan alat pemasak nasi kesayangan Nikita Willy tersebut. Hal itu karena Miyako Nanoal sejak lama sudah terbukti awet dan irit secara harganya sangat ramah di kantong. Selain anti lengket, mudah dibersihkan, juga memiliki garansi panjang dan aman karena sudah SNI.

Masih banyak keunggulan lainnya dari brand Miyako ini yang paling saya sukai sih model fungsi 3-in 1 nya itu. Jadi cukup dengan satu alat penanak nasi, sudah bisa memasak nasi, menghangatkan, mengukus lauknya hingga membuat kue.

Pengalaman Sahur Terbatas di Negara Non Muslim: Satset Hanya Menggunakan Rice Cooker

🩸 Rencanakan dengan matang saat setelah tarawih untuk sahur nanti mau masak menu apa.

🩸 Gunakan bahan masakan yang cepat matang (seperti tahu, sosis, telur, sayuran potong kecil, dlsb)

🩸 Siapkan bumbu dan lauk atau sayur yang akan dimasak serta peralatan lainnya seperti air, alat makan dan sebagainya sejak sebelum tidur agar saat sahur tinggal klik tombol cook.

🩸 Kombinasikan bahan yang akan dimasak supaya memenuhi nilai gizi yang dibutuhkan tubuh selama berpuasa. Jadi selain memasak nasi sumber karbohidrat, tambah juga ikan atau telur untuk sumber protein, dan sayuran serta buah-buahan supaya kenyang lebih lama.

Tidak lupa konsumsi juga vitamin dan minum air putih lebih banyak dari hari biasa.

Pengalaman Sahur Terbatas di Negara Non Muslim: Satset Hanya Menggunakan Rice Cooker

Begitulah pengalaman saya melakukan ritual sahur yang sembunyi-sembunyi di rumah majikan karena ada orang tua boss yang tidak mengizinkan saya selaku orang yang bekerja di rumahnya melakukan puasa.

Semoga pengalaman saya ini bermanfaat bagi manteman yang ngekos, atau memiliki keterbatasan lainnya seperti pengalaman saya tapi tetap bersemangat untuk menjalankan kewajiban puasa Ramadan.

Related posts:

91 thoughts on “Pengalaman Sahur Terbatas di Negara Non Muslim”

    • Setuju kak, memang perlu juga punya rice cooker yang berkualitas seperti Miyako, karena bantu nasi yang dimasak tetap dalam keadaan baik dan gak cepat basi.

      Reply
    • Bener banget mbak. Aku pun sangat setuju. Rice cooker Miyako beneran bisa diandalkan sekali, bikin nasi lebih awet dan bebas benyek. Rekomen buat di pakai di luar negeri saat Ramadan begini.

      Reply
  1. Salut banget dengan perjuangan Teteh demi tetap menjalankan kewajiban meski dalam kondisi terbatas dan sembunyi-sembunyi dari Ama.
    Strategi “satset” pakai rice cooker di kamar benar-benar solusi cerdas buat pejuang devisa. Saya jadi terbayang betapa nikmatnya aroma nasi dan telur kukus di tengah malam itu. Terima kasih sudah berbagi tips menu one-pot yang praktis ini; sangat bermanfaat buat anak kos atau siapa pun yang nggak mau ribet pas sahur. Sehat selalu ya, Teh!

    Reply
    • Iya nih jadi keinget sama zaman ngekos. Biasanya anak kos itu asal punya satu “senjata” yaitu rice cooker aja, biasanya udah aman. Dengan rice cooker bisa masak nasi, ngukus lauk yang emang cara masaknya dikukus kek dimsum2an atau kalau mau effort bikin pepes2. Bahkan masak sup dan indomi juga.
      Emang menantang yaa, tapi ketimbang nggak ada makanan karena tidak diizinkan memakai dapur, maka rice cooker udah alternatif paling OK deh.

      Reply
  2. Rice cooker memang bisa diandalkan ya Teh untuk menanak nasi dan membuat aneka masakan. Apalagi pas di momen Ramadan ini, lebih sat set pas sahur dan buka puasa, nasinya dalam keadaan hangat.

    Reply
  3. Kreatif Teh, jadi ada ide masak di saat kondisi terbatas. Salut dengan perjuangan teteh tetap menunaikan rukun Islam walaupun mendapatkan halangan.
    Btw jadi bisa nemu banyak menu alternatif yang bisa sat set untuk sahur ya Teh.

    Reply
    • Hooh. Meski sebenarnya, ama cuma nggak ingin ada hal buruk yang terjadi karena berpuasa.

      Soalnya, beliau kan nggak tahu kalau sebenarnya berpuasa malah bikin kita makin sehat kalau benar-benar teratur selama berpuasa ya, Kak.

      Yang penting Teh Okti sudah punya jalan keluar yang didukung sama bosnya yang lain. Meski harus menyiapkan sahur dengan Rice Cooker Miyako secara sembunyi-sembunyi.

      Reply
  4. Masya Allah, perjuangan Teh Okti untuk bisa sahur berat, Alhamdulillah dengan trik masak pakai rice cooker di kamar bisa terpecahkan.
    Rice cooker memang sahabat dapur sejati apalagi rice cooker Miyako yang punya banyak kelebihan ini

    Reply
    • Dan punya majikan yang mengerti adalah sebuah rezeki. Meski dengan sembunyi-sembunyi akhirnya bisa menjalankan salah satu sunnah di bulan Ramadhan. Dimana kita disarankan untuk tidak melewatkan sahur agar mendapatkan berkah dan tubuh tidak lemas selama berpuasa

      Reply
  5. MasyaAllah, salut banget dengan semangat ibadahnya.
    Tapi bersyukur ya bun dengan adanya rice cooker bisa jadi penyelamat untuk masak kreatif dan satset. Jadi bukti kalau niat ibadah itu selalu ada jalannya.
    Saya juga tim rice cooker Miyako, masak jadi cepat dan praktis karena gak perlu rendam lama inner potnya.

    Reply
  6. Hihihi dilarang puasa karena takut mati 😀

    jadi inget, dulu ada wali murid ada yang bilang takut anaknya kurang gizi kalo ikut puasa seperti anak-anak saya. Padahal kan puasanya cuma setengah hari.

    Pakai Miyako emang nyaman Teh Okti, selama ini saya selalu pakai rice cooker ukuran kecil karena hanya untuk saya sendiri

    Reply
    • anaknya umur berapa itu sampai khawatir kurang gizi. Kalau masih TK SD wajar sih tapi kalau sudah baligh insya Allah puasa itu membawa kebaikan.

      btw masak pakai rice cooker itu life hack! di saat enggak leluasa masak di dapur atau misal anak kosan bermodal rice cooker pun bisa buat beragam kreasi masakan seperti yang dilakukan Teh Okti!

      Reply
  7. Jadi inget ketika anak masih ngekos. Rice cooker multifungsi memang berguna banget. Sebetulnya di kosan ada dapur. Tapi, kamarnya di lantai 3, sedangkan dapur di lantai bawah. Capek juga kalau turun naik. Andalan deh rice cooker multifungsi ini.

    Reply
      • Senengnya lagi bisa sambil menyelesaikan kegiatan lainnya ya, Mbak. Masukin dulus emua bahan di rice cooker. Setelah dicetrek, bisa ditinggal deh sampai matang. Paktis banget.

        Reply
    • Bener banget, punya rice cooker buat anak kost tuh bener² ngebantu. Sering kali rice cooker bisa jadi penghangat dadakan kalau pas ngekost dulu. Bahkan bisa pakai buat merebus mie instan pas tanggal tua.. hehehe..

      Reply
  8. Masya Allah… pengalaman yang luar biasa, Teh. Terharuuu dengan majikan yang support banget. Omong2, aku juga pakai rice cooker Miyako di rumah. Pernah mau ganti merek lain, tapi akhirnya balik lagi ke Moyako.

    Reply
  9. Baik banget teh majikan teteh di Taiwan itu sampai beliin rice coocker baru buat teteh. Rezeki yaa punya majikan bageur teh. Tapi da sebenernya nenek Ama itu melarang karena sayang sama teteh, biar teteh gak meninggal karena puasa katanya ya,,,neneknya baik sebenernya. Masya Allah ya teh,,,kenangan banget itu mah pengalamannya.

    Reply
  10. Waah baru tahu ada yang bodynya warna merah jambu favorit saya ni rice cooker Miyako.
    Balik ke Ama, disayangkan banget sikap kolotnya, mengira berpuasa bikin meninggal. Padahal kalau memang tak ada halangan medis atau takdir Allah, puasanya penganut agama lain ada yang lebih panjang tanpa mengakibatkan kematian juga tuh.

    Reply
  11. MasyaAllah, Teh. Luar biasa perjalanan saum yang gado-gado di tiga negara luar Indonesia. Yang paling gong dilarang puasa karena takut mati.. hehe, ada-ada aja ama ini. Tapi bener memang pepatah yang bilang there is a will, there ia a way, kalau kita istiqomah di jalan Allah, ada aja ya jalan yang mempermudahnya sehingga saum tetap bisa dijalankan walau sahurnya pake ngumpet-ngumpet di kamar segala, ya..

    Reply
  12. Kebayang nggak gampangnya sembunyi-sembunyi cuma buat sahur teh. Hehehe.

    Suka banget sama kreativitasnya Teh Okti. One pot sahur itu jenius sih, soalnya praktis, hemat waktu, tapi tetap makan makanan bergizi.

    Reply
  13. Tehh, pengalamannya seru bangeet
    Geli juga pas ama bilang ga mau lihat karyawannya mati sia2, wkkwkw
    BTW bikin cerita seru tentang kerja di negara yang pernah didatangin dong Teh,, seru bacanya

    Reply
  14. MashaAllah perjuangan betul ya teh. Semoga dengan kondisi begitu, puasanya teh Okti di saat itu berlimpah lebih banyak pahala. Yang pasti kalau orang jago masak sih ada aja ya akalnya. Bisa mengatur masak nasi sembari membuat lauk di tempat yang sama. Efektif dan efisien banget ya. Jadi gak musti nyalakan kompor dan dimarahi Ama hahaha.

    Reply
  15. Jadi ingat nasihat ayah yang pernah ke Swedia, kalau kita pergi mending bawa rice cooker biar bisa masak sendiri sesuai selera, ternyata bener ya mba kita jadi punya kebebasan buat masak makanan dan praktis pula. Beruntungnya majikannya juga baik memfasilitasi keinginan punya rice cooker di kamar, jadi aman ya hehe. Sekarang aku juga membekali anakku yang ngekost punya rice cooker biar gak perlu keluar nyari makanan karena lapar, masak sendiri aja

    Reply
  16. Teh…ini tuh persis rice cooker yang saya pakai di rumah. Dari semua rice cooker yang pernah dibeli, ini yang paling awet. Direkomendasikan sama Mbak Lidya Fitrian di tahun 2023 dulu. Alhamdulillah suka banget sama nasi yang dihasilkan kalau masak pakai ini.

    Reply
    • Salut banget teh Okti semangat untuk terus berpuasa dan dilancarkan jalannya oleh Allah dengan dikasih majikan yang pengertian dan support!

      terharu dengan banyaknya TKI di luar sana, baru tahu ternyata puasa yang bagi sebagian orang kita suka diabaikan, menjadi kesempatan precious dan berharga …

      met menjalankan ibadah shaum Ramadhan ya teh Okti

      Reply
    • Sering baca juga, mereka yang ngekos, wisata, atau bekerja di luar daerah, untuk berhemat tuh wajib banget bawa rice cooker biar survive. Tentunya dengan memperhatikan ketentuan akomodasi ya

      Reply
  17. Keren banget teh pengalamannya. Aku dulu ngekost di Lhokseumawe, aceh Utara, Kalau bulan puasa malah rame banget pilihan untuk sahur. Bahkan rumah makan juga buka, hehehe
    Kemageran anak kost difasilitasi. Aman banget di sana gak ada begal kayak di Medan. Hihihi

    Btw aku juga pake miyako loh teh.

    Reply
  18. Awalnya saya kesal sekali pas membaca Ama melarang Mbak Okti berpuasa. tidak menghargai perintah agama orang lain saja. tapi ternyata karena dia sayang. takut Mbak Okti kenapa-kenapa karena tak makan dan minum di siang hari hehe. Alhamdulillah ada Rice cooker yang sangat membantu ya, Mbak. Jadi praktis menyiapkan sahur. semua pun berjwlwn lancar dan aman.

    Reply
  19. Salut sekali dengan kreativitasnya memanfaatkan rice cooker untuk menu sahur one pot yang tetap bergizi. Itu bukan cuma soal masak praktis, tapi tentang ikhtiar menjaga ibadah di tengah situasi yang tidak ideal. Cerita ini mengingatkan bahwa Ramadhan bukan hanya tentang kenyamanan, tapi tentang keteguhan hati.

    Reply
  20. Masyaallah, salut sama perjuangan Teh Okti berpuasa di negara yg mayoritas non Islam. Rice cooker memang serbaguna ya Teh. Selain masak nasi, bisa ngukus juga. Jadi kenangan manis ya Teh zaman jadi PMI…

    Reply
  21. wah untung majikannya mengerti dan menyetujui permintaan rice cooker-nya ya,Teh sehingga bisa tetap sahur di negeri orang. Bicara tentang rice cooker aku juga pernah lihat di tiktok ada yang setiap harinya masak semua menu itu di rice cooker kecil karena dia tinggal sendiri. asli kreatif dan menggoda banget menunya mana masaknya jadi nggak ribet ya cuma di satu wadah

    Reply
  22. Ya ampuuun untung majikannya baik ya Teh, tapi memang kakau sama orang tua kita harus banyak maklumnya dan pinter pinternya kita mengambil hati beliau.
    Btw, Rice cooker Miyako di rumah juga awet banget Teh

    Reply
  23. Saya baca ceritanya berasa sedang melihat kejadian itu, Teh Okti. Storytelling-nya simpel tapi bagus banget. Ga kebayang ya makan sahur sembunyi-sembunyi malah jadi kayak anak kosan ini teh, dulu saya waktu ngekos juga begitu soalnya kalau malas masak di dapur yaudah masak nasi di kamar masukin telur atau steam ikan dibarengin. Btw saya suka sekali dengan warna rice cookernya rose gold, cantik, jarang-jrang rice cooker punya warna ini

    Reply
  24. Adaaa aja idenya teteh ngakalin supaya si nenek majikan enggak tahu. Ternyata begitu ya ada orang yang berpikir kalau puasa bisa meninggal karena tidak makan saat siang. Ini sebenarnya perhatian namun kebablasan. Alhamdulillah majikan baik, pengertian sampai dibelikan rice cooker khusus untuk taruh di kamar.

    Reply
    • Iya, Mbak. Aku agak tergelitik nih setelah membaca gimana amahnya mikir kalau Teh Okti bakalan meninggal karena nggak makan siang. Tapi alhamdulillah ya akhirnya ketemu solusi biar bisa tetap berpuasa di bulan ramadan

      Reply
  25. Huaa, saya bacanya meleleh Teh. Untung anak Ama pengertian jadi dibolehin bawa rice cooker ke kamar.

    Saya jadi ingat salah satu kawan saya juga sedang ada di Hongkong. Dan beliau tuh cerita, kalau dapat majikan yang murah hati, sahur pun nggak jadi masalah selama tidak mengganggu jam tidur majikan, malah ada juga yang sampai dibelikan lauk untuk makan sahur.

    Tapi kalau udh kena majikan yang ‘batu’, kawan saya pun berusaha antisipasi dengan beli roti atau makanan yang tinggal di panaskan di microwave. Jadi nggak harus masak.

    Emang tantangan sekali jika kita hidup di tempat sebagai minoritas. Keimanan bener² diuji.

    Reply
  26. Dulu waktu belum ada magicom, ricecooker hanya digunakan untuk masak nasi aja, mungkin saya aja yang gak update ya, atau gimana? ternyata ricecooker itu bisa untuk masak segala macem ya…

    Reply
  27. Wah teh dikirain dilarang karena anti :p ternyata khawatir saja ya, untungnya yg lain ada yg berbaik hati jadi bisa pake rice cooker di kamar. Sekarang mah leluasa ya teh, menarik pengalamannya alhamdulilah bisa terlewati juga ya teh.

    Reply
  28. wuihhh ampe segitunya yaa si nenek khawatirnya ini perpaduan antara khawatir kesehatan terganggu dan khawatir keluarganya repot kalo sampe ada apa2 hehehe…tapi ya udah lah ya mba orang tua dimaklumi karena kadang mereka memang kolot dan ngototan wwkwkwk tapi untungnya majikan perempuannya baik mbaa bahkan menyiapkan rice cooker buat memasakah sahur…jadi salah satu pengalaman seru ya mbaa 🙂

    Reply
    • Kadang memang rasa sayang orang tua yang sudah sepuh itu tak kita pahami, terlebih mereka belum paham juga dengan hakikat puasa, jadinya dilarang deh buat puasa.. hehe. Kayanya kalau ama tau benar tentang puasa, bakalan diizinin deh puasanya Teh Okti. Tapi karena cerita ini puasanya jadi lebih berwarna ceritanya.. hehe

      Reply
  29. woow, jadi sampai pulang, sang nenek tidak tahu kalau diem2 Okti sahur dengan masak di rice cooker dalam kamar? Seharian gak makan dan minum, gak dicurigain kah? Untung saja majikan yang lainnya sudah paham ya, malah sampai dibelikan rice cooker. Jadi ibadah tetap bisa berjalan tanpa ada drama akibat kesalahpahaman.

    Reply
  30. Maksudnya sih baik ya Teh tapi jadi susah mau sahurnya.. untung ada rice cooker penyelamat bisa makan nasi dan lauk pauknya dengan masak di satu tempat..

    Reply
  31. Untung ada rice cooker yaa.. Terbantu banget itu disaat mendapat majikan modelan Ama. Beneran bisa masak segalanya dalam 1 wadah.

    Saya juva kadang kalau lagi malas andelannya masak semua di rice cooker

    Reply
  32. Sebagai anak kosan, rice cooker emang udah jadi alat masak serba guna. Nggak cuma untuk masak nasi, tapi juga rebus telur, bikin mie, hingga bikin bolu pisang. Dan Miyako mini adalah andalan saya…

    Reply
  33. Waah mba, lama juga yaaaa sampai 12 tahunan kerja di 3 negara .. saluuut sih. Memang PR banget utk bab puasa, secara Orang2 non muslim biasanya ga paham kewajiban puasa yg kita lakukan.

    Akh JD inget zaman kuliah di Malaysia. Walaupun di sana mayoritas muslim, tp aku kan ngekos di rumah Chinese family yg non muslim. Cuma untungnya mereka paham, jadi aku boleh masak nasi kalau pas sahur. Cuma kenyataan nya, tiap puasa zaman kuliah, aku ga pernah sahur. Malam sebelum tidur udh minum, niat puasa, trus LBH milih tidur sampe subuh. Krn udh kurang tidur , so, sahur skip.

    Baguuuus kalau pilih rice cooker yg bisa multifungsi. JD memang lebih cepet dan praktis. Bisa masak nasi dan lauk sekaligus

    Reply
  34. Membaca kisah Okti Li, jadi ingat cerita Yasmin, putriku saat pertukaran pelajar di Hiroshima, Jepang.

    Percis banget tanggapan teman-teman SMA Yasmin.

    “Haa, jadi kau ga makan dan minum mulai dini hari sampai sore gitu? Ga mati kah nanti?”

    Yasmin lalu menjelaskan bahwa sejak usia sekitar 7 tahun pun sudah puasa.

    Tambah kaget lah mereka.

    Masih menurut Yasmin, memang berpuasa di negara non muslim, atau sekarang singkatan gaulnya nonis, non islam, sungguh tantangan banget!

    Tidak ada vibe muslim sama sekali. Terutama lantunan azan sholat 5 waktu. Mencari mesjid kudu mengandalkan google map, dan itu pun terbatas.

    Biasanya ruang di konbini disulap jadi musholla ala kadarnya.

    Saat ini pun Yasmin. ramadan 2026, berpuasa untuk kedua kalinya di negara sakura. Naun kali ini Yasmin agak beruntung karena masih musim dingin jelang musim semi. Cuaca lumayan bersahabat.

    Btw.
    Jujur aku pengen banget coba resep nasi liwet, pakai rice cooker.
    Hmmm, saatnya berburu resep!

    Reply
  35. Bacanya bikin hati hangat sekaligus kagum. Ada perjuangan yang mungkin tidak semua orang lihat. Sahur dengan keterbatasan tapi tetap dijalani dengan niat yang kuat itu bukan hal kecil. Tulisan ini sederhana, tapi maknanya dalam.

    Reply
  36. Memang berada di negara yang minoritas Islam tuh sesuatu
    Jangankan negara, di kota saja yang mostly nonis tuh bikin mikir mau makan
    Belum lagi kalau ada hewan yang menebar najis di mana mana
    Makanya sangat penting kalau punya rice cooker bisa masak di rumah

    Reply
  37. Ahahahaha, jadi keingetan mbak cerita di threads. Ada yang kerja di tiongkok, terus dikata-katain, “kalian itu pake magic kan ya?”. bingung kan, maksudnya apa coba.
    Nah ternyata disangkanya kalo kita puasa sebulan tuh maksudnya kita nggak makan sebulan. Jiaaaahhhh

    Trus ada yang kocak lagi. Bilangnya gini, “Udah kamu makan ajaa, gausah puasa. Tuhan kamu di Indonesia kan?”
    Lhaa disangkanya pindah ke Tiongkok tuhannya langsung ilang, hahahaha

    Reply
  38. Wuaah kebayang si pemikiran si Ama yang menurutku sederhana buat dia, hanya sebatas mikir kalau ga makan yang mati wkwkw. Sedangkan sebenarnya kalau kita melihatnya ga sesederhana itu. Lagipula ini soal ibadah. Tentu saja pencipta akan kasi kekuatan berbeda pada umatnya.

    Bersyukur sekali ya anaknya setuju untuk masak di kamar dan sampai di belikan juga.
    Oh ya soal rice cooker, Miyako memang satu brand yang bisa banget diandalkan. Cukup awel productnya.

    Reply
  39. Baca pengalaman Teh Okti jadi ingat anak sendiri yang sedang kuliah di luar negeri. Dia tiap sahur juga begini. Masak nasi di rice cooker terus, kadang sekalian masak daging/ayam dan sayuran di situ, jadi macam hot pot gitu fungsi rice cookernya

    Reply
  40. Aku juga pake nih Rice Cooker Miyako di rumah. Emg satset banget bs bantu pekerjaan rumah, terutama kukus hingga masak nasi. Alat ini emg bs diandalkan krn bs nyambi masak lainnya.

    Udh tahu kalo bulan puasa tuh rempoong bgt. Ngalahin masaknya hari normal. Kyk semua masakan mau dimasak semua. Berasa mau diabisin pas buka nanti. Padahal kan bs berabe kl dimasukin smua ye.

    Reply
  41. membaca ceritanya saya jadi ikut terharu sekaligus senyum-senyum sendiri, Teh. Perjuangan sahur sembunyi-sembunyi karena dikhawatirkan “mati sia-sia” oleh Ama itu benar-benar pengalaman yang memorable. Salut buat majikannya yang pengertian sampai membelikan rice cooker khusus!
    Tips one-pot meal pakai penanak nasi memang penyelamat banget buat yang serba terbatas. Ternyata keterbatasan justru bikin kita makin kreatif ya, Teh.

    Reply
  42. Mungkin si nenek ngeposisikan mbak kayaknya cucu yang harus makan banyak takut sakit. karena posisi anak beliau aman banget ya ngesuport jadinya memang murni karena sifat polosnya hihi

    Reply
  43. masya Allah teh cerita tentang puasanya. Kadang puasa di negara orng itu perlu perjuangan apalagi lingkungan yang berbedaa
    aku yakin ketika puasa teteh sangat apik memanaj waktu berpuasa di negeri orang
    sehat2 yaa teh

    Reply
  44. Kelihatan banget bagaimana menjalankan ibadah di tempat yang lingkungannya berbeda memang butuh usaha ekstra. Saya sempat ikut tegang juga waktu Ama sampai melarang teteh sahur karena takut mbak “mati gara-gara puasa.” Semangat teteh mempertahankan ibadah di tengah keterbatasan kereeeen. Barakallah teh.

    Reply
  45. Pengalaman sahur tak terlupakan banget ya. Beruntung Okti sekarang sudah kembali ke kampung halaman, jadi nikmat sahurnya.
    Di rumah daku, rice cookernya juga dari Miyako.

    Reply
  46. Perjuangan ya sahur dengan majikan yang nggak paham puasa. Untung ini hanya ibunya majikan, sedangkan majikannya masih baik dan mengizinkan puasa, bahkan membelikan rice cooker baru agar bisa memasak sahur. Alhamdulillah Teh Okti juga tetap semangat puasa dengan semua tantangannya.

    Kalau saya baru mencoba memasak lauk pakai rice cooker itu setelah menikah. Saat gas habis di tengah-tengah memasak, sementara belum punya cadangan, mau nggak mau dilanjutkan di rice cooker. Penting sih punya rice cooker berkualitas kaya Miyako. Biar awet.

    Reply
  47. Heuheu perjuangannya puasa, bahkan sahur aja nggak muda. Gemes sama si ama-nya 🙁
    Mana keknya tipe2 yang nggak bisa menerima penjelasan yaa…
    Untung atasan langsungnya baik yaa, bahkan memfasilitasi dengan membelikan rice cooker baru.
    Galfok sama kebiasaan keluarga yang tinggal rame2 masih sama kakek nenek, mirip2 di Indonesia ya.

    BTW sejak puasaan ini aku pakai RC Miyako Nanoal juga, setelah sebelumnya panci teflon RC yang dulu mengelupas, sehingga ganti RC Miyako ini. Suka sama antilengketnya yang berbeda dengan panci teflon RC sebelumnya. Kalau yang pakai nanoal ini bener2 nggak lengket, sehingga kalau mau nyuci RC nggak perlu rendem2 lagi cukup bilas air dikit bisa langsung cuci.

    Reply
  48. Pernah dengar juga terkait TKW di Taiwan dilarang puasa oleh majikannya. Ya Allah alasannya ngadi-ngadi, takut mati kebayang berat banget situasi seperti itu mbak. Masha Allah, syukurlah ada solusi jitu setelah dipikirkan baik-baik.

    Aku takjub sama Miyako Nanoal, spek nya juara, pantes sekelas Nikita Willy aja pake dan jatuh cinta ya. Rice cooker yang the best emang bisa bikin nasi lebih awet dan bebas lembek, benyek, serta drama lainnya. Nasi enak, kunci banget.

    Reply
  49. Membayangkan harus menjalankan sahur secara sembunyi-sembunyi di negeri orang tentu bukan hal yang mudah, apalagi ketika lingkungan sekitar tidak sepenuhnya memahami ibadah yang sedang dijalankan.

    Salut sama cara Teh Okti mencari solusi. Ide membawa rice cooker ke kamar supaya tetap bisa sahur dengan nasi dan lauk sederhana menurutku kreatif sekali. Biar terbatas, yang penting praktis ya teh

    Reply
  50. Triknya masaknya Teteh pakai rice cooker langsung mengingatkan aku ke jaman aku masih jadi anak kosan deh. Tapi Teteh lebih kreatif. Sampai lauknya juga dimasak barengan sama nasinya. Lah aku dulu nasinya doang yang dimasak. Lauknya tinggal beli malamnya, trus diangetin doang.

    Memang deh, menu sahur sama berbuka tuh perlu variatif dan menggugah selera biar lahap dan cukup makannya. Demi lancar sepanjang menjalannya puasa.

    Reply
  51. keren mba. haha.
    sekarang masih berpuasa di negeri orang kah?
    Semoga lancar ya puasanya. semoga Allah mudahkan. aamiin

    Reply
  52. Kabayang ngarumas na teh bulan puasa pas sahur di negara batur kudu susulumputan. Untung pinter minta disediakeun rice cooker khusus di kamar jadi bisa ngaliwet nya hehehe

    Reply
  53. Aku kebayang banget rasanya sahur dengan alat seadanya. Rice cooker memang penyelamat sih kalau lagi jauh dari rumah Justru momen seperti itu biasanya bikin lebih menghargai makanan sederhana dan suasana Ramadan yang biasanya ramai di Indonesia

    Reply
  54. Jadi pengalaman berharga ya teh. Untunglah ada ricecooker penyelamat yang bisa all in one begini. Btw, pas balik ke Indonesia pasti rasanya jadi lebih bersyukur saat bisa puasa dengan terbuka tanpa harus disembunyikan lagi

    Reply
  55. Inspiratif sekali ceritanya, Teh! Perjuangan sahur sembunyi-sembunyi di negeri orang demi menjalankan kewajiban puasa sungguh luar biasa dan patut dijadikan contoh kesabaran bagi kita semua.

    Reply
  56. aku terharu baca ceritanya, saking terbiasanya kita yaa mba saur makan nasi jadi ketika makan roti jadi agak aneh, untungnya anak majikan paham kassih ricecooer yaa, jadi tetap bisa makan nasi dengan menu yang enak enak hihi.

    Reply
  57. Alhamdulillah banget ya mbak, dapat majikan yang pengertian. Memperbolehkan mbak Okti membawa penanak nasi di kamar. Jadi selama bulan puasa tidak bingung ketika sahur harus makan apa

    Reply

Leave a Comment

Verified by ExactMetrics