Sejak anak berangkat mondok, di rumah tersisa saya dan suami. Saat suami kerja atau ada kegiatan pengajian dan sebagainya, otomatis tinggal saya sendirian sebagai penunggu tempat tinggal.
Senin sampai Selasa, waktu saya sendirian bertambah panjang, mulai pagi sampai jelang magrib karena suami sepulang sekolah langsung mendapatkan pengabdian di pesantren Mazroatul Ulum Citiis.
Jadi sepulang dari sekolah tempat mengajar, suami langsung ke ponpes karena kalau pulang dulu ke rumah malah tambah jauh dan makin kesorean sampai di Madrasah Aliyah nya.
Tuh, jadinya cukup banyak waktu saya sendirian di rumah, bukan? Nah, banyak yang nanya dan atau mengira-ngira ngapain aja nih saya waktu sendirian saja di rumah?
Saya bukan tipe orang yang suka main ke tetangga. Haha… padahal ketika masih lajang, saya tipe yang suka keluyuran. Tidak bisa sebentar saja diam di rumah karena bawaannya bosan.
Tapi setelah berumah tangga apalagi sesudah memiliki anak, saya drastis berubah jadi ibu rumahan saja. Rasanya malas keluyuran lagi. Malas keluar rumah kalau tidak berkepentingan.
Pun jangan salah, ketika di rumah saja, saya juga tidak hanya rebahan atau puas-puasin main gadget aja lah ya… Alhamdulillah, ada saja kegiatan produktif lainnya, selain me time yang sesekali saya lakukan sebagai mood booster atau penghargaan atas pencapaian diri selama ini.
Jika sendirian di rumah, saya mengisi waktu sendirian itu dengan kegiatan yang sekiranya bisa membuat saya terkoneksi dengan diri sendiri sebagai upaya merasa diri ini jadi lebih hidup.
Ada banyak cara untuk menjadikan waktu sendirian di rumah sebagai momen untuk benar-benar “terhubung” dengan diri sendiri. Kuncinya adalah memilih kegiatan yang bukan sekadar mengisi waktu, tapi juga bisa memberi ruang kepada kita untuk refleksi, ekspresi, dan memiliki kehadiran yang penuh.
Kegiatan saya di rumah yang membantu terkoneksi dengan diri:
Menulis
Mau di blog, mau di sosial media, bahkan di kertas bekas ulangan anak didik suami yang selalu dibawa pulang –karena bisa digunakan sebagai kertas buat corat-coret– mau dimanapun tempat nya saya berusaha meluangkan waktu untuk menulis.
Mencatat apa yang ada di pikiran, perasaan, atau hal-hal kecil yang disyukuri hari itu. Apa saja saya tulis untuk menyalurkan emosi. Gak berharap banyak jadi Mindful Lifestyle Blogger yang sukses sih, hanya setidaknya dengan menulis setelah saya meninggalkan dunia, kelak ada sedikit jejak yang bisa dikenang orang lain.
Membaca
Duduk tenang, fokus pada bahan bacaan, kadang sambil mendengarkan musik instrumental lembut. Semua yang membantu menenangkan pikiran dan menyadari keberadaan diri bisa saya jadikan teman saat membaca.
Memilih buku yang memberi inspirasi atau menenangkan. Membaca perlahan, merenungkan kalimat yang terasa bisa “menghentikan waktu” saya. Begitulah, kalau sudah asyik membaca, kadang sampai lupa waktu dan lainnya.
Memasak dengan penuh kesadaran
Alih-alih satset sekadar menyiapkan makanan, saya sesekali mencoba memperlakukan proses memasak sebagai ritual. Seperti mulai dari memilih bahan yang segar, merasakan tekstur ketika mengolahnya, hingga menikmati aromanya.
Mendekorasi atau merapikan ruang atau halaman
Menata ulang sudut rumah, menambahkan elemen alami seperti kayu, tanaman, batu, atau membuat DIY kecil.
Aktivitas seperti itu sedikit banyak memberi rasa kontrol dan kreativitas bagi saya.
Mendengarkan musik dengan penuh perhatian
Memilih lagu yang benar-benar menyentuh hati, lalu mendengarkan tanpa distraksi. Menyimak lirik, nada, dan merasakan bagaimana tubuh ini bereaksi.
Belajar membuat kue
Tidak perlu berekspektasi untuk dapat hasil sempurna—biarkan tangan dan pikiran bergerak bebas aja. Saya percaya aktivitas kreatif sering membuka pintu ke sisi diri yang jarang muncul. Begitu pula kue yang dibuat, kadang tercipta karena ketidaksengajaan.
Olahraga
Bisa berupa olahraga ala-ala berinstrukturkan tutorial dari internet. Kebanyakan berupa peregangan, atau bahkan menari bebas mengikuti musik.
Tubuh yang bergerak selaras dengan perasaan membuat energi lebih hidup. Seperti itu yang saya rasakan.
Begitulah kegiatan saya di rumah sebagai salah satu cara supaya bisa terkoneksi dengan diri sendiri sebagai upaya untuk lebih merasa lebih hidup dalam menjalani hari. Apapun kegiatannya pastikan lakukan hal berikut supaya hasilnya terasa lebih bermakna:
Tips agar kegiatan sehari-hari terasa lebih hidup
🩸 Lakukan satu kegiatan dengan penuh perhatian, bukan multitasking.
🩸 Matikan distraksi digital (TV, notifikasi ponsel, dan sebagainya) untuk memberi ruang hening.
🩸 Tutup dengan ritual penghargaan kecil: misalnya menyalakan lilin, membuat teh hangat, atau menulis satu kalimat tentang apa yang dirasakan.
🩸 Jangan lakukan semua sekaligus; pilih 2–3 kegiatan tiap hari agar terasa ringan.
🩸 Anggap ini sebagai “ritual pribadi” bukan rutinitas kaku—biarkan fleksibel sesuai mood.
🩸 Jika ada kegiatan yang terasa paling menyentuh, jadikan itu inti dari kegiatan yang dilakukan.
Begitulah, meksipun saya dilihat orang kerap menyendiri, namun sebenarnya di usia saya yang sudah tidak muda ini saya mengerjakan banyak hal yang bikin saya sendiri merasa ketagihan.
Mulai bangun pagi saat meniatkan diri membuka hari, dimulai dengan bangun dengan hening. Maksudnya tidak langsung pegang ponsel, melainkan duduk sebentar, tarik napas dalam, minum air putih.
Setelah sholat subuh, membiasakan diri menuliskan 3 hal syukur di jurnal, termasuk perencanaan family & personal journey apa saja, sekecil apa pun kesyukuran itu tetap saya catat.
Lanjut ke dapur, anggap saja sebagai pergerakan tubuh ringan. Bekerja sekaligus melakukan peregangan. Biar tidak monoton sesekali temani dengan murotal, atau kajian, atau sambil mendengarkan musik lembut.
Saat siang menjelang, ketika suami sudah bekerja, mulailah bersiap untuk menyatu dengan aktivitas. Seperti memasak dengan penuh kesadaran untuk mempersiapkan makan siang sendiri dan makan malam bersama dengan suami.
Tetap santai, menikmati prosesnya, dan ketika harus makan siang sendiri, makan dengan perlahan disertai syukur.
Jika cuaca bersahabat, berkegiatan di halaman selalu jadi pilihan. Menyapu dan merapikan sudut rumah, menyiangi tanaman, dan kegiatan lain.
Waktu sendiri menurut saya adalah waktunya untuk berkreativitas bebas. Apa saja hobinya, puaskan diri dengan melakukannya tanpa menuntut hasil sempurna.
Jika malam menjelang saatnya untuk menutup hari, sempatkan untuk mengisi jurnal malam. Saya biasa menulis satu kalimat tentang apa yang membuat saya merasa “hidup” hari itu. Simple tapi membuat hidup saya yang mungkin tidak berapa lama lagi ini insyaallah lebih bermakna.
Bagaimana dengan kegiatan keseharian mu manteman? Gambaran kegiatan saya saat sendiri tersebut semoga bermanfaat ya …