Pertemanan Adalah Kekayaan Permusuhan Adalah Beban

Setuju tidak dengan pendapat tersebut?

Guru saya pernah mengatakan lebih baik memiliki seribu sahabat daripada satu musuh. Satu musuh terasa lebih berat daripada seribu teman karena dampak negatif dari permusuhan sering kali lebih kuat, lebih mengganggu, dan lebih membebani pikiran dibandingkan dukungan dari banyak teman.

Pepatah ini menekankan bahwa persahabatan selalu terasa kurang, sementara satu permusuhan saja sudah terlalu banyak untuk ditanggung.

Mengapa satu musuh terasa lebih berat? Sungguh punya musuh seekor itu sangat menguras energi emosional.

Memiliki musuh pasti bakalan menguras energi mental. Muncul rasa kebencian, dendam, atau rasa tidak nyaman yang terus menghantui.

Sementara ketika kita memiliki teman yang ada justru memberi energi positif. Tapi efeknya sering tersebar dan tidak sekuat satu konflik yang menekan.

Memiliki satu musuh saja bisa merusak reputasi atau hubungan sosial yang lebih luas. Permusuhan sering menimbulkan ketidakpercayaan, gosip, atau konflik yang menyebar ke lingkaran lain.

Sebaliknya, seribu teman tidak selalu bisa menutup dampak buruk dari satu musuh yang vokal.

Circle Pertemanan

Sahabat Menguatkan Musuh Melemahkan

Secara psikologis, manusia lebih sensitif terhadap ancaman daripada dukungan. Secara psikologi, otak kita lebih fokus pada hal negatif (negativity bias).

Wajar kalau kerasa satu musuh bisa membuat rasa aman terganggu, meski ada banyak teman yang mendukung.

Memiliki seribu teman belum tentu semuanya berkualitas; banyak di antaranya mungkin hanya kenalan.

Tapi ketika memiliki musuh, meski jumlahnya kecil, bisa memberikan beban yang nyata dan langsung terasa.

Karena itu tidak heran banyak sesepuh, para guru yang menekankan pentingnya perdamaian dan kerukunan dalam hubungan antar warga maupun antarindividu.

Dalam budaya Indonesia yang menjunjung tinggi gotong royong dan kebersamaan, memiliki musuh dianggap mengganggu harmoni sosial.

Jadi, satu musuh lebih berat karena efek negatifnya langsung terasa, lebih intens, dan bisa merusak keseimbangan hidup, sementara seribu teman sering kali tidak cukup untuk menutupi luka yang ditimbulkan oleh satu permusuhan.

Banyak teman banyak rezeki

Pepatah ini sering kita dengar dalam kehidupan sehari-hari, dan sebenarnya mengandung makna yang cukup dalam.

Rezeki tidak selalu berarti uang, tapi bisa berupa peluang, ilmu, dukungan moral, atau bahkan kesehatan. Dengan banyak teman, kita membuka lebih banyak pintu untuk berbagai bentuk rezeki.

Manusia adalah makhluk sosial. Semakin luas jaringan pertemanan, semakin besar kemungkinan kita mendapatkan informasi, peluang kerja, atau bantuan saat membutuhkan.

Dalam hal berkolaborasi, teman bisa menjadi partner bisnis, rekan kerja, atau kolaborator dalam proyek kreatif. Dari sinilah rezeki bisa mengalir.

Dengan berteman memunculkan rekomendasi dan peluang. Banyak orang mendapat pekerjaan atau peluang usaha dari rekomendasi teman.

Teman adalah support system. Saat menghadapi kesulitan, teman bisa memberi dukungan emosional yang menjaga semangat kita tetap hidup—ini juga bentuk rezeki.

Circle Pertemanan

Seribu Teman Tak Cukup, Satu Musuh Terlalu Banyak

Tapi ingat, kualitas lebih penting daripada kuantitas. Banyak teman tidak otomatis berarti banyak rezeki. Jika hubungan hanya sebatas kenalan tanpa kedekatan, manfaatnya bisa terbatas.

Harus dipahami juga akan risiko pergaulan. Tidak semua teman membawa kebaikan. Ada juga yang bisa menjerumuskan. Jadi, penting memilih lingkungan yang sehat.

Jangan lupa, rezeki itu tetap bergantung pada usaha dan keberkahan. Teman hanyalah salah satu jalan, bukan satu-satunya sumber.

Relevansi Pertemanan Modern

Di era digital, “banyak teman” bisa berarti banyak koneksi di media sosial. Namun, yang benar-benar membawa rezeki adalah hubungan yang tulus dan saling mendukung, bukan sekadar angka followers.

Networking profesional (seperti di LinkedIn, komunitas kreatif, forum dan sebagainya) adalah contoh nyata bagaimana pepatah banyak teman banyak rezeki ini masih relevan.

Pepatah banyak teman banyak rezeki mengajarkan kita untuk membangun hubungan sosial yang sehat dan luas, karena dari sanalah peluang dan keberkahan sering datang.

Namun, jangan lupa bahwa kualitas pertemanan dan usaha pribadi tetap menjadi kunci utama.

Suka Duka Berteman dari Pedesaan

Memiliki teman di pedesaan memang punya warna khas yang sulit ditemukan di tempat lain. Ada kehangatan, kebersamaan, tapi juga tantangan. Beda dengan pertemanan atau pergaulan di kota, ya.

Walau sekarang tinggal di pedesaan, tapi saya pernah juga bergaul, berteman dan interaksi dengan orang-orang kota. Bahkan orang dari luar negeri. Nah dari semua pengalaman itu maka bisa saya katakan pertemanan antara orang di desa dan di kota itu berbeda.

Circle pertemanan saya selain tetangga atau ibu-ibu pengajian di kampung, ada juga circle teman sekolah dan circle teman dunia maya.

Circle Pertemanan

Circle Tetangga

Berinteraksi seperlunya mengingat saya jarang keluar rumah. Bertemu dan ngobrol kalau ada acara pengajian, memasak bersama untuk peringatan hari besar keagamaan atau hari besar nasional.

Selebihnya sering ada tetangga yang datang ke rumah karena urusan anak-anak mereka yang mengaji di tempat kami.

Circle Teman Sekolah

Karena saya sekolah di tiga kota kabupaten yang berbeda maka circle nya juga bisa dihimpun berdasarkan lokasi. Circle teman SD di Bandung, circle teman SMP di Tasikmalaya dan circle teman SMU di Cianjur.

Meski berjauhan kami terhubung dalam konektivitas sosial media dan group perpesanan.

Walaupun ada teman sekolah di sekitar tempat tinggal sekarang, kami jarang bertemu atau interaksi karena kesibukan masing-masing.

Circle Teman Dunia Maya

Paling dulu adalah teman dari Facebook. Lalu merambah ke teman Kompasiana (biasanya disebut Kompasianer) lalu teman dari dunia blogger lainnya.

Mereka ini ada yang loyal, amanah, tidak sedikit juga yang manis di depan kecut di belakang.

Ada yang baik banget sampai sekarang udah seperti keluarga saja. Padahal ada yang belum pernah jumpa sama sekali. Ada juga yang biasa aja, hare-hare. Ada perlu ya ngontak, ga ada mah cicing we.

Circle Wali Santri

Seiring berkembangnya teknologi dan perkembangan jaman termasuk pertumbuhan anak, maka semakin kesini nambah nih circle saya dengan adanya sesama wali santri. Mirip dengan circle dunia maya, circle wali santri juga ada yang udah jumpa, ada yang belum sama sekali.

Bedanya jika circle dunia maya yang dibahas saat interaksi itu seputar dunia menulis di blog, konten sosial media, dan seputar job terkait kepenulisan atau review. Kalau circle wali santri interaksi ya fokus ke soal kondisi anak di pondok.

Kebetulan pondok anak tempat mengenyam ilmu ada di luar pulau. Tepatnya di Solok Sumatera Barat. Nah, siapa yang tidak khawatir kan anak merantau sendiri di sana? Untuk mengurangi rasa khawatir itu adanya circle wali santri ini sedikit banyak memperingan kekhawatiran itu.

Ada wali santri yang mudif ke pondok, mereka share foto dan video di group. Menginformasikan berita santri-santri terbaru. Saya yang sepertinya tidak mungkin mudif ke Solok tentu saja senang bisa ikut mengintip kondisi anak semata wayang di sana.

Kalau anak ada masalah, semua wali santri ikut turun tangan. Terutama yang bisa mewakili wali santri lain yang berhalangan hadir.

Saat anak sakit di pondok, wali santri asal Bengkulu, Batam dan Sumatera Barat “menggantikan” kami yang di Jawa mengurus dan merawat mereka semua.

Circle Pertemanan

Sebaliknya, ketika anak-anak ikut jambore Pramuka Muslim Sedunia di Cibubur, kami yang di sekitar Banten, DKI dan Jabar ini yang jadi orang tua mereka, yang dekat ini yang menggantikan ayah bunda di luar pulau yang berhalangan hadir menjenguk ke perkemahan di Cibubur.

Intinya circle wali santri ini sangat terasa sekali manfaat dan keberadaannya. Mungkin minimal hingga 7 tahun kedepan, selama anak mondok di PMDG kebersamaan circle wali santri ini akan terus ada.

Dan saya yakin walaupun anak sudah lulus dari pondok silaturahmi circle wali santri ini akan tetap terjalin.

Banyak teman banyak rezeki. Saya sangat mempercayai itu. Rezeki di sini bukan berarti uang atau harta saja. Tapi bisa juga kesehatan, pertolongan yang tidak disangka, dan sebagainya.

Terbukti bersama teman hidup semakin berwarna dan beban terasa lebih ringan.

Suka (Kebahagiaan) bersama teman yang saya rasakan:

🕳️ Kebersamaan tanpa batas:

Teman-teman di kampung biasanya tumbuh bersama sejak kecil, jadi ikatan emosinya kuat. Main layangan, sepak bola di lapangan, atau nongkrong di warung jadi rutinitas penuh tawa.

Bahkan karena saya lahir di jaman sebelum ada listrik masuk desa maka berangkat ngaji pakai obor pun jadi kenangan berharga bersama teman-teman.

Nonton layar tancap, berangkat sekolah naik mobil truk tangki Pertamina, dan masih banyak kenangan bersama teman yang rasanya mustahil bisa dialami lagi oleh anak jaman now.

Semua pengalaman kebersamaan itu sampai berkeluarga dan punya anak cucu semua terkenang begitu jelas.

🕳️ Gotong royong:

Saat ada hajatan, panen, atau acara desa, teman-teman kompak saling bantu. Rasa solidaritas ini bikin hubungan makin erat.

Gak peduli dengan mantan pacar, kalau pas ada acara RT atau desa, jika kebetulan dipertemukan dalam kepengurusan kepanitiaan, tuntutan profesionalisme harus dijunjung.

Jadinya walau bete ketemu wajah mantan, dibuat enjoy aja demi kesuksesan acara sampai selesai. Hahaha…

🕳️ Kesederhanaan yang hangat:

Walau fasilitas terbatas, kebahagiaan terasa lebih tulus. Obrolan ringan saat jalan kaki ketika berangkat dan pulang sekolah atau mengaji bisa jadi momen berharga.

Dulu belum ada internet, komunikasi masih pakai surat-menyurat. Walau harus ngirit uang jajan demi bisa beli perangko, tak apa yang penting bisa tahu kabar teman nun jauh di sana.

🕳️ Rasa aman dan dekat:

Karena semua orang saling kenal, berteman di kampung terasa seperti punya keluarga besar.

Apalagi saya anak atau cucu perempuan pertama dari pihak bapak. Sementara sepupu dan saudara bapak kebanyakan laki-laki. Saat masa puber, beneran merasa terjaga sekali karena dikelilingi wali dan mahram yang perhatian.

Bukan tidak boleh pacaran, tapi saudara yang kebanyakan laki-laki itu menjaga saya supaya tidak mudah didekati orang yang hanya iseng.

Duka (Tantangan) bersama teman yang sampai sekarang suka kepikiran buat saya:

Konflik kecil:

Kadang muncul perselisihan karena hal sepele, misalnya rebutan lapangan atau beda pendapat saat kerja bakti.

Saya orangnya blak-blakan. Suka bilang suka, sebel bilang sebel. Mungkin banyak teman yang sakit hati karena ucapan saya yang tanpa filter. Tapi namanya anak-anak, tak lama kemudian kami akur lagi.

Kalau sekarang, setelah dewasa jika ada konflik dengan teman, saya memilih diam saja. Kalau salah saya segera minta maaf. Kalau konflik masih tidak reda, saya ikhlaskan saja. Tentu saja tanpa diminta pun saya sudah memaafkan mereka.

Keterbatasan peluang:

Ada teman yang harus merantau ke kota untuk sekolah atau kerja, sehingga circle pertemanan jadi renggang.

Awalnya merasa tidak rela berpisah, tapi gak bisa menolak karena masing-masing memiliki pilihan dan masa depan. Sedihnya hanya sesaat saja. Berganti kebahagiaan jika sudah dapat kabar keberhasilannya.

Gosip dan iri hati:

Di pedesaan, lingkungan nya kecil, kabar cepat menyebar. Kadang ada rasa iri atau salah paham yang bikin hubungan renggang. Saya cuek saja. Yang penting saya berusaha tidak gibahin orang. Kalau saya yang digibah anggap saja sedang proses pembersihan dosa.

Perbedaan jalan hidup:

Seiring waktu, teman-teman ada yang tetap di kampung, ada yang pergi. Perbedaan ini bisa bikin jarak emosional. Pengennya tetap bersama kumpul ngariung. Tapi mana ada orang saudara sendiri saja jodohnya dari luar daerah.

Intinya, berteman di kampung itu seperti menanam padi: ada musim hujan penuh tantangan, ada musim panen penuh kebahagiaan.

Suka dukanya justru membuat ikatan itu lebih bermakna, karena setiap cerita—baik tawa maupun air mata—menjadi bagian dari kenangan bersama.

Circle Pertemanan

Manfaat Berteman

Memiliki banyak circle teman bisa membawa banyak manfaat, baik secara pribadi maupun profesional. Manfaat yang saya rasa:

Manfaat Pribadi

🩸 Dukungan emosional beragam:

Setiap circle punya dinamika berbeda, sehingga saya bisa mendapat perspektif dan dukungan yang lebih luas saat menghadapi masalah.

Contohnya saya berteman dengan ahli terapis. Saat saya sakit kaki, saya lihat bagaimana dia memberi terapi kepada pasien. Saya ikuti gerakannya. Alhamdulillah sakit kaki saya ikut mereda.

🩸 Pengalaman hidup lebih kaya:

Teman dari latar belakang berbeda memberi cerita, kebiasaan, dan budaya baru yang memperkaya cara pandang.

Waktu bekerja di luar negeri teman berlibur selain orang Indonesia ada juga dari warga negara China, Philipina, Vietnam, Thailand dan sebagainya. Mereka cara berpikir dan gaya hidupnya beda dengan kebiasaan saya.

Dalam hal itu, yang baiknya saya adopsi, yang kurang cocok saya tinggalkan.

🩸 Mengurangi ketergantungan:

Tidak hanya bergantung pada satu kelompok, sehingga lebih fleksibel dan tidak merasa kehilangan jika satu circle sedang sibuk.

Banyak teman banyak relasi. Mau bepergian ke mana kebetulan ada sesama anggota backpacker di sana. Insyaallah jika membutuhkan bantuan mereka akan dengan senang hati menolong. Begitu juga sebaliknya.

Manfaat Sosial

🩸 Jaringan lebih luas:

saat berteman saya bisa terhubung dengan lebih banyak orang, itu bisa membuka peluang kolaborasi, kerja sama, atau sekadar memperluas relasi.

🩸 Fleksibilitas sosial:

Ada circle untuk berbagai kebutuhan—misalnya circle hobi, circle kerja, circle keluarga—yang membuat saya bisa menyesuaikan diri dengan situasi.

🩸 Mengasah keterampilan sosial:

Berinteraksi dengan banyak circle melatih kemampuan komunikasi, empati, dan adaptasi. Lain lubuk lain ikannya. Setiap pertemanan akan memiliki jalan ceritanya masing-masing.

Manfaat Profesional

🩸 Kesempatan karier:

Banyak circle berarti banyak pintu informasi, rekomendasi, atau peluang kerja.

🩸 Kolaborasi kreatif:

Circle berbeda bisa jadi sumber inspirasi untuk ide-ide baru. Sebagai manusia setengah abad, jika berteman dengan remaja kinyis-kinyis, siapa tahu style saya juga bakalan kebawa berjiwa muda. Cie…

🩸 Reputasi lebih kuat:

Semakin banyak circle yang mengenal kita, semakin besar peluang membangun citra positif. Sepulang jadi TKW, saya aktif di dunia perburuhan, saya sering menjadi paralegal dan memberikan advokasi ke teman-teman buruh yang berasal dari daerah kantong TKI.

Siapa kira, ada beberapa peneliti yang sering interaksi dengan saya terkait permasalahan tenaga kerja ini merekomendasikan saya kepada camat dan kades di kampung, ketika pemerintah saat itu gencar menggagas Desa Migratif.

Tapi dari semua itu, tentu ada tantangan nya juga: bagaimana kita bisa menjaga keseimbangan waktu, energi, dan kualitas hubungan agar tidak sekadar “kenal banyak orang” tanpa kedekatan yang berarti.

Jika itu semua adalah ulasan tentang Circle Pertemanan menurut saya sekarang bagaimana kalau menurutmu manteman? Circle mana yang paling memberi energi positif buatmu—circle kreatif, circle kuliner, atau circle sosial? Atau ada circle lain?

Leave a Comment

Verified by ExactMetrics