Pertemanan Adalah Kekayaan Permusuhan Adalah Beban

Setuju tidak dengan pendapat tersebut?

Guru saya pernah mengatakan lebih baik memiliki seribu sahabat daripada satu musuh. Satu musuh terasa lebih berat daripada seribu teman karena dampak negatif dari permusuhan sering kali lebih kuat, lebih mengganggu, dan lebih membebani pikiran dibandingkan dukungan dari banyak teman.

Pepatah ini menekankan bahwa persahabatan selalu terasa kurang, sementara satu permusuhan saja sudah terlalu banyak untuk ditanggung.

Mengapa satu musuh terasa lebih berat? Sungguh punya musuh seekor itu sangat menguras energi emosional.

Memiliki musuh pasti bakalan menguras energi mental. Muncul rasa kebencian, dendam, atau rasa tidak nyaman yang terus menghantui.

Sementara ketika kita memiliki teman yang ada justru memberi energi positif. Tapi efeknya sering tersebar dan tidak sekuat satu konflik yang menekan.

Memiliki satu musuh saja bisa merusak reputasi atau hubungan sosial yang lebih luas. Permusuhan sering menimbulkan ketidakpercayaan, gosip, atau konflik yang menyebar ke lingkaran lain.

Sebaliknya, seribu teman tidak selalu bisa menutup dampak buruk dari satu musuh yang vokal.

Circle Pertemanan

Sahabat Menguatkan Musuh Melemahkan

Secara psikologis, manusia lebih sensitif terhadap ancaman daripada dukungan. Secara psikologi, otak kita lebih fokus pada hal negatif (negativity bias).

Wajar kalau kerasa satu musuh bisa membuat rasa aman terganggu, meski ada banyak teman yang mendukung.

Memiliki seribu teman belum tentu semuanya berkualitas; banyak di antaranya mungkin hanya kenalan.

Tapi ketika memiliki musuh, meski jumlahnya kecil, bisa memberikan beban yang nyata dan langsung terasa.

Karena itu tidak heran banyak sesepuh, para guru yang menekankan pentingnya perdamaian dan kerukunan dalam hubungan antar warga maupun antarindividu.

Dalam budaya Indonesia yang menjunjung tinggi gotong royong dan kebersamaan, memiliki musuh dianggap mengganggu harmoni sosial.

Jadi, satu musuh lebih berat karena efek negatifnya langsung terasa, lebih intens, dan bisa merusak keseimbangan hidup, sementara seribu teman sering kali tidak cukup untuk menutupi luka yang ditimbulkan oleh satu permusuhan.

Banyak teman banyak rezeki

Pepatah ini sering kita dengar dalam kehidupan sehari-hari, dan sebenarnya mengandung makna yang cukup dalam.

Rezeki tidak selalu berarti uang, tapi bisa berupa peluang, ilmu, dukungan moral, atau bahkan kesehatan. Dengan banyak teman, kita membuka lebih banyak pintu untuk berbagai bentuk rezeki.

Manusia adalah makhluk sosial. Semakin luas jaringan pertemanan, semakin besar kemungkinan kita mendapatkan informasi, peluang kerja, atau bantuan saat membutuhkan.

Dalam hal berkolaborasi, teman bisa menjadi partner bisnis, rekan kerja, atau kolaborator dalam proyek kreatif. Dari sinilah rezeki bisa mengalir.

Dengan berteman memunculkan rekomendasi dan peluang. Banyak orang mendapat pekerjaan atau peluang usaha dari rekomendasi teman.

Teman adalah support system. Saat menghadapi kesulitan, teman bisa memberi dukungan emosional yang menjaga semangat kita tetap hidup—ini juga bentuk rezeki.

Circle Pertemanan

Seribu Teman Tak Cukup, Satu Musuh Terlalu Banyak

Tapi ingat, kualitas lebih penting daripada kuantitas. Banyak teman tidak otomatis berarti banyak rezeki. Jika hubungan hanya sebatas kenalan tanpa kedekatan, manfaatnya bisa terbatas.

Harus dipahami juga akan risiko pergaulan. Tidak semua teman membawa kebaikan. Ada juga yang bisa menjerumuskan. Jadi, penting memilih lingkungan yang sehat.

Jangan lupa, rezeki itu tetap bergantung pada usaha dan keberkahan. Teman hanyalah salah satu jalan, bukan satu-satunya sumber.

Relevansi Pertemanan Modern

Di era digital, “banyak teman” bisa berarti banyak koneksi di media sosial. Namun, yang benar-benar membawa rezeki adalah hubungan yang tulus dan saling mendukung, bukan sekadar angka followers.

Networking profesional (seperti di LinkedIn, komunitas kreatif, forum dan sebagainya) adalah contoh nyata bagaimana pepatah banyak teman banyak rezeki ini masih relevan.

Pepatah banyak teman banyak rezeki mengajarkan kita untuk membangun hubungan sosial yang sehat dan luas, karena dari sanalah peluang dan keberkahan sering datang.

Namun, jangan lupa bahwa kualitas pertemanan dan usaha pribadi tetap menjadi kunci utama.

Suka Duka Berteman dari Pedesaan

Memiliki teman di pedesaan memang punya warna khas yang sulit ditemukan di tempat lain. Ada kehangatan, kebersamaan, tapi juga tantangan. Beda dengan pertemanan atau pergaulan di kota, ya.

Walau sekarang tinggal di pedesaan, tapi saya pernah juga bergaul, berteman dan interaksi dengan orang-orang kota. Bahkan orang dari luar negeri. Nah dari semua pengalaman itu maka bisa saya katakan pertemanan antara orang di desa dan di kota itu berbeda.

Circle pertemanan saya selain tetangga atau ibu-ibu pengajian di kampung, ada juga circle teman sekolah dan circle teman dunia maya.

Circle Pertemanan

Circle Tetangga

Berinteraksi seperlunya mengingat saya jarang keluar rumah. Bertemu dan ngobrol kalau ada acara pengajian, memasak bersama untuk peringatan hari besar keagamaan atau hari besar nasional.

Selebihnya sering ada tetangga yang datang ke rumah karena urusan anak-anak mereka yang mengaji di tempat kami.

Circle Teman Sekolah

Karena saya sekolah di tiga kota kabupaten yang berbeda maka circle nya juga bisa dihimpun berdasarkan lokasi. Circle teman SD di Bandung, circle teman SMP di Tasikmalaya dan circle teman SMU di Cianjur.

Meski berjauhan kami terhubung dalam konektivitas sosial media dan group perpesanan.

Walaupun ada teman sekolah di sekitar tempat tinggal sekarang, kami jarang bertemu atau interaksi karena kesibukan masing-masing.

Circle Teman Dunia Maya

Paling dulu adalah teman dari Facebook. Lalu merambah ke teman Kompasiana (biasanya disebut Kompasianer) lalu teman dari dunia blogger lainnya.

Mereka ini ada yang loyal, amanah, tidak sedikit juga yang manis di depan kecut di belakang.

Ada yang baik banget sampai sekarang udah seperti keluarga saja. Padahal ada yang belum pernah jumpa sama sekali. Ada juga yang biasa aja, hare-hare. Ada perlu ya ngontak, ga ada mah cicing we.

Circle Wali Santri

Seiring berkembangnya teknologi dan perkembangan jaman termasuk pertumbuhan anak, maka semakin kesini nambah nih circle saya dengan adanya sesama wali santri. Mirip dengan circle dunia maya, circle wali santri juga ada yang udah jumpa, ada yang belum sama sekali.

Bedanya jika circle dunia maya yang dibahas saat interaksi itu seputar dunia menulis di blog, konten sosial media, dan seputar job terkait kepenulisan atau review. Kalau circle wali santri interaksi ya fokus ke soal kondisi anak di pondok.

Kebetulan pondok anak tempat mengenyam ilmu ada di luar pulau. Tepatnya di Solok Sumatera Barat. Nah, siapa yang tidak khawatir kan anak merantau sendiri di sana? Untuk mengurangi rasa khawatir itu adanya circle wali santri ini sedikit banyak memperingan kekhawatiran itu.

Ada wali santri yang mudif ke pondok, mereka share foto dan video di group. Menginformasikan berita santri-santri terbaru. Saya yang sepertinya tidak mungkin mudif ke Solok tentu saja senang bisa ikut mengintip kondisi anak semata wayang di sana.

Kalau anak ada masalah, semua wali santri ikut turun tangan. Terutama yang bisa mewakili wali santri lain yang berhalangan hadir.

Saat anak sakit di pondok, wali santri asal Bengkulu, Batam dan Sumatera Barat “menggantikan” kami yang di Jawa mengurus dan merawat mereka semua.

Circle Pertemanan

Sebaliknya, ketika anak-anak ikut jambore Pramuka Muslim Sedunia di Cibubur, kami yang di sekitar Banten, DKI dan Jabar ini yang jadi orang tua mereka, yang dekat ini yang menggantikan ayah bunda di luar pulau yang berhalangan hadir menjenguk ke perkemahan di Cibubur.

Intinya circle wali santri ini sangat terasa sekali manfaat dan keberadaannya. Mungkin minimal hingga 7 tahun kedepan, selama anak mondok di PMDG kebersamaan circle wali santri ini akan terus ada.

Dan saya yakin walaupun anak sudah lulus dari pondok silaturahmi circle wali santri ini akan tetap terjalin.

Banyak teman banyak rezeki. Saya sangat mempercayai itu. Rezeki di sini bukan berarti uang atau harta saja. Tapi bisa juga kesehatan, pertolongan yang tidak disangka, dan sebagainya.

Terbukti bersama teman hidup semakin berwarna dan beban terasa lebih ringan.

Suka (Kebahagiaan) bersama teman yang saya rasakan:

🕳️ Kebersamaan tanpa batas:

Teman-teman di kampung biasanya tumbuh bersama sejak kecil, jadi ikatan emosinya kuat. Main layangan, sepak bola di lapangan, atau nongkrong di warung jadi rutinitas penuh tawa.

Bahkan karena saya lahir di jaman sebelum ada listrik masuk desa maka berangkat ngaji pakai obor pun jadi kenangan berharga bersama teman-teman.

Nonton layar tancap, berangkat sekolah naik mobil truk tangki Pertamina, dan masih banyak kenangan bersama teman yang rasanya mustahil bisa dialami lagi oleh anak jaman now.

Semua pengalaman kebersamaan itu sampai berkeluarga dan punya anak cucu semua terkenang begitu jelas.

🕳️ Gotong royong:

Saat ada hajatan, panen, atau acara desa, teman-teman kompak saling bantu. Rasa solidaritas ini bikin hubungan makin erat.

Gak peduli dengan mantan pacar, kalau pas ada acara RT atau desa, jika kebetulan dipertemukan dalam kepengurusan kepanitiaan, tuntutan profesionalisme harus dijunjung.

Jadinya walau bete ketemu wajah mantan, dibuat enjoy aja demi kesuksesan acara sampai selesai. Hahaha…

🕳️ Kesederhanaan yang hangat:

Walau fasilitas terbatas, kebahagiaan terasa lebih tulus. Obrolan ringan saat jalan kaki ketika berangkat dan pulang sekolah atau mengaji bisa jadi momen berharga.

Dulu belum ada internet, komunikasi masih pakai surat-menyurat. Walau harus ngirit uang jajan demi bisa beli perangko, tak apa yang penting bisa tahu kabar teman nun jauh di sana.

🕳️ Rasa aman dan dekat:

Karena semua orang saling kenal, berteman di kampung terasa seperti punya keluarga besar.

Apalagi saya anak atau cucu perempuan pertama dari pihak bapak. Sementara sepupu dan saudara bapak kebanyakan laki-laki. Saat masa puber, beneran merasa terjaga sekali karena dikelilingi wali dan mahram yang perhatian.

Bukan tidak boleh pacaran, tapi saudara yang kebanyakan laki-laki itu menjaga saya supaya tidak mudah didekati orang yang hanya iseng.

Duka (Tantangan) bersama teman yang sampai sekarang suka kepikiran buat saya:

Konflik kecil:

Kadang muncul perselisihan karena hal sepele, misalnya rebutan lapangan atau beda pendapat saat kerja bakti.

Saya orangnya blak-blakan. Suka bilang suka, sebel bilang sebel. Mungkin banyak teman yang sakit hati karena ucapan saya yang tanpa filter. Tapi namanya anak-anak, tak lama kemudian kami akur lagi.

Kalau sekarang, setelah dewasa jika ada konflik dengan teman, saya memilih diam saja. Kalau salah saya segera minta maaf. Kalau konflik masih tidak reda, saya ikhlaskan saja. Tentu saja tanpa diminta pun saya sudah memaafkan mereka.

Keterbatasan peluang:

Ada teman yang harus merantau ke kota untuk sekolah atau kerja, sehingga circle pertemanan jadi renggang.

Awalnya merasa tidak rela berpisah, tapi gak bisa menolak karena masing-masing memiliki pilihan dan masa depan. Sedihnya hanya sesaat saja. Berganti kebahagiaan jika sudah dapat kabar keberhasilannya.

Gosip dan iri hati:

Di pedesaan, lingkungan nya kecil, kabar cepat menyebar. Kadang ada rasa iri atau salah paham yang bikin hubungan renggang. Saya cuek saja. Yang penting saya berusaha tidak gibahin orang. Kalau saya yang digibah anggap saja sedang proses pembersihan dosa.

Perbedaan jalan hidup:

Seiring waktu, teman-teman ada yang tetap di kampung, ada yang pergi. Perbedaan ini bisa bikin jarak emosional. Pengennya tetap bersama kumpul ngariung. Tapi mana ada orang saudara sendiri saja jodohnya dari luar daerah.

Intinya, berteman di kampung itu seperti menanam padi: ada musim hujan penuh tantangan, ada musim panen penuh kebahagiaan.

Suka dukanya justru membuat ikatan itu lebih bermakna, karena setiap cerita—baik tawa maupun air mata—menjadi bagian dari kenangan bersama.

Circle Pertemanan

Manfaat Berteman

Memiliki banyak circle teman bisa membawa banyak manfaat, baik secara pribadi maupun profesional. Manfaat yang saya rasa:

Manfaat Pribadi

🩸 Dukungan emosional beragam:

Setiap circle punya dinamika berbeda, sehingga saya bisa mendapat perspektif dan dukungan yang lebih luas saat menghadapi masalah.

Contohnya saya berteman dengan ahli terapis. Saat saya sakit kaki, saya lihat bagaimana dia memberi terapi kepada pasien. Saya ikuti gerakannya. Alhamdulillah sakit kaki saya ikut mereda.

🩸 Pengalaman hidup lebih kaya:

Teman dari latar belakang berbeda memberi cerita, kebiasaan, dan budaya baru yang memperkaya cara pandang.

Waktu bekerja di luar negeri teman berlibur selain orang Indonesia ada juga dari warga negara China, Philipina, Vietnam, Thailand dan sebagainya. Mereka cara berpikir dan gaya hidupnya beda dengan kebiasaan saya.

Dalam hal itu, yang baiknya saya adopsi, yang kurang cocok saya tinggalkan.

🩸 Mengurangi ketergantungan:

Tidak hanya bergantung pada satu kelompok, sehingga lebih fleksibel dan tidak merasa kehilangan jika satu circle sedang sibuk.

Banyak teman banyak relasi. Mau bepergian ke mana kebetulan ada sesama anggota backpacker di sana. Insyaallah jika membutuhkan bantuan mereka akan dengan senang hati menolong. Begitu juga sebaliknya.

Manfaat Sosial

🩸 Jaringan lebih luas:

saat berteman saya bisa terhubung dengan lebih banyak orang, itu bisa membuka peluang kolaborasi, kerja sama, atau sekadar memperluas relasi.

🩸 Fleksibilitas sosial:

Ada circle untuk berbagai kebutuhan—misalnya circle hobi, circle kerja, circle keluarga—yang membuat saya bisa menyesuaikan diri dengan situasi.

🩸 Mengasah keterampilan sosial:

Berinteraksi dengan banyak circle melatih kemampuan komunikasi, empati, dan adaptasi. Lain lubuk lain ikannya. Setiap pertemanan akan memiliki jalan ceritanya masing-masing.

Manfaat Profesional

🩸 Kesempatan karier:

Banyak circle berarti banyak pintu informasi, rekomendasi, atau peluang kerja.

🩸 Kolaborasi kreatif:

Circle berbeda bisa jadi sumber inspirasi untuk ide-ide baru. Sebagai manusia setengah abad, jika berteman dengan remaja kinyis-kinyis, siapa tahu style saya juga bakalan kebawa berjiwa muda. Cie…

🩸 Reputasi lebih kuat:

Semakin banyak circle yang mengenal kita, semakin besar peluang membangun citra positif. Sepulang jadi TKW, saya aktif di dunia perburuhan, saya sering menjadi paralegal dan memberikan advokasi ke teman-teman buruh yang berasal dari daerah kantong TKI.

Siapa kira, ada beberapa peneliti yang sering interaksi dengan saya terkait permasalahan tenaga kerja ini merekomendasikan saya kepada camat dan kades di kampung, ketika pemerintah saat itu gencar menggagas Desa Migratif.

Tapi dari semua itu, tentu ada tantangan nya juga: bagaimana kita bisa menjaga keseimbangan waktu, energi, dan kualitas hubungan agar tidak sekadar “kenal banyak orang” tanpa kedekatan yang berarti.

Jika itu semua adalah ulasan tentang Circle Pertemanan menurut saya sekarang bagaimana kalau menurutmu manteman? Circle mana yang paling memberi energi positif buatmu—circle kreatif, circle kuliner, atau circle sosial? Atau ada circle lain?

Related posts:

60 thoughts on “Pertemanan Adalah Kekayaan Permusuhan Adalah Beban”

  1. Berteman memang susah² gampang, tapi setuju kalau punya 1 musuh serasa rumit hidup. Jadi ya memang berteman yang oke itu ya ga terlalu dekat banget tapi juga jangan terlalu jauh. Sedang-sedang saja dalam berteman adalah pilihan terbaik.

    Reply
  2. Beh, kalau di ceritain mah bisa nangis lagi aku. gimana perjuangan kuliah dulu yang mana semua berkat teman (Sahabat) yang mau nampung aku beberapa hari di kos kosannya. tiap hari dan tiap minggu ganti2 kosan teman. kalau teman ku cuma satu tentu akan sangat sulit sekali. untungnya dulu waktu kuliah punya banyak teman, jadi sampai wisuda aman.. kepengen balikan waktu ke masa itu

    Reply
  3. Kalau berkaca waktu kecil, marahan sama satu orang, akhirnya malah dimusuhi semua teman karena tuh anak ngajak-ngajak yang lain buat marah. Saat dewasa, sepertinya enggak jauh beda. Jadi ya betul juga kalau punya musuh satu itu bakal cape banget

    Sekarang ini, temanku gak banyak. Mereka punya kehidupan masing-masing. Jadi ya nikmati aja. Ada yang datang dan juga pergi

    Reply
    • Setuju Kak Jiah. Malah kalau boleh daku tambahkan, bahwa makin bertambah usia kita makin sempit pertemanan, sehingga di sinilah akan diketahui siapa yang benar² teman sejati kita.

      Reply
  4. Bener bangettt Tehhh.. punya satu musuh aja udah bikin puyeng. Mana kelakuannya juga haluuu.. ‍

    Lebih suka kalau punya temen meski nggak banyak tapi saling isi dan menghargai satu sama lain. Inget kata alm. Ibuk, “kalau nggak suka ya wes g perlu digubris daripada cari musuh.”

    Dan ternyata ya bener adanya

    Reply
  5. Kalau saat ini tuh circle pertemanan ku dikit banget hehe karena mungkin udah pada sibuk kali ya. Bit kadang-kadang ya say hay sih lewat sosmed aja, cuma yang memang sering ngumpul sih cuma beberapa aja paling 5 orang hehe.

    Reply
  6. Sekarang saya merasa circle pertemanan semakin mengecil. Udah bukan masanya lagi cari banyak-banyakan teman. Tapi, disortir ke teman-teman yang memang beneran mau sama-sama peduli. Kalau yang toxic, saya menjauh aja. Buukan memusuhi.

    Reply
    • Betul, mesti lebih selektif dan kasih ruang ke diri sendiri. Misal banyak teman tapi nggak berkualitas, malah nyapein diri juga.

      Better punya circle sedikit tetapi berkualitas dan saling care. Tetapi buat yang lain, yaudah say hello aja, tetap saling kenal dan nggak musuhin siapapun.

      Reply
  7. Banyak teman, jejaring luas itu bermanfaat. Alhamdulillah dari pengalaman hidup merantau sana sini jadi kenal beragam orang dan sampai sekarang pun masih menjalin pertemanan meski udah engga ketemu bertahun-tahun.
    Nah kalau pilih-pilih teman gitu menurut teteh bagaimana? atau ada teman/tetangga yang toxic tapi kita sering bertemu, kudu gimana?

    Reply
    • Pilih-pilih beda dengan memilih ya. Pilih2 cenderung ke mana yang menguntungkan, itu yg jadi teman. Lebih condong ke penjilat, karena kalau sudah tidak mendapatkan keuntungan, cari lagi teman lain yang memberikan keuntungan lebih.

      Beda dengan memilih. Kita berhak mencari yg terbaik. Bergaul dengan penjual parfum insyaallah akan kebagian wanginya. Begitu juga dengan pencarian kita. Carilah teman yang baik akhlak dan budi pekerti minimal kita berada nyaman bersamanya

      Kalau ketemu terus sama yang toxic, batasi diri saja. Interaksi secukupnya. Kembali ke akhlak dan budi pekerti kita, coba terapkan. Jadi tetap ramah dan sopan menghadapi nya saat memang harus berjumpa.

      Wallahualam…
      Cmiiw

      Reply
  8. Seiring bertambahnya usia, semakin sedikit circle pertemanan kita. Di usia lansia ini lebih ke selektif berteman. Bukan masalah sombong atau apapun itu, namun demi menjaga kesehatan mental juga. Sementara ada teman yg toxic, ya jauhi saja daripada mengganggu kesehatan mental kita. Lebih fokus ke teman yg bisa memberi tambahn wawasan, ilmu dan manfaat. Contohnya adalah komunitas blogger, komunitas baca, pengajian dan yg bermanfaat lainnya.

    Reply
  9. Kita bisa memilih untuk berteman dengan siapa saja, tapi kita tidak bisa mengatur siapa yang memusuhi kita. Sebab rasa benci dan permusuhan bisa datang bahkan tanpa alasan jelas. Yang bisa kita lakukan sekarang cuma bersikap hormat, saling menghargai, dan berusaha menjadi diri kita yang terbaik.

    Reply
  10. Kalau bagi anak perantauan, pertemanan yang solid hingga tahunan adalah teman masa sekolah kemudian sama2 merantau ke kota dan pulau yg sama.
    Setelah menikah, maka pasangan adalah teman terbaik.
    Setelahnya, kudu memposisikan diri dengan tetangga, menjaga jiwa tetap sehat dalam batasan, sebab tetangga adalah saudara terdekat di perantauan.

    Reply
  11. Aku adalah salah seorang yang sangat mengandalkan teman dibandingkan keluarga, tetapi tahu dikhianati dan diremehkan membuatku jadi berpikir kembali apakah teman seberharga itu?

    Reply
  12. Pertemanan itu sebenarnya bisa mudah terbentuk, tetapi untuk bisa mempertahankannya yang susah. Entah karena jarak, waktu, bahkan kondisi. Padahal kalau sekalinya udah klop, bisa awet sih

    Reply
  13. Menarik, idealnya memang banyak teman = banyak rezeki dan gak perlu sampai punya musuh. Tapi…. semakin ke sini aku berpandangan sebaliknya. Atau, katakanlah lebih fleksibel nggak berpatok ke satu pendapat saja. Sebab, memang ada sebagian orang yang gak cocok dijadikan teman, bahkan kalaupun disebut musuh, gakpapa juga sebab secara gak langsung kehilangan satu temen toxic faktanya malah mengurangi beban dalam hidup hahahaha

    Reply
  14. Setuju banget, pertemanan itu memang banyak manfaatnya. Jadi banyak rezeki juga. Tapi sekarang, seiring nambah umur, nambah aktivitas, circle pertemanan semakin sempit. Teman yang deket semakin sedikit. Pengen sih bisa banyak kayak dulu, tapi kok ya susah? ☹️

    Reply
  15. Wah sirkelnya banyak 😀

    Apapun sirkelnya emang sebaiknya join ke yang kegiatannya positif2 aja sih ya, terutama yang membawa kita kepada kebaikan, misal kek ngingetin buat ibadah, berbuat baik dll, pokoknya yang bikin nyaman dan happy.

    Syukur2 kalau dari sirkelnya bisa mendatangkan ilmu baru atau peluang2 baru buat meningkatkan skill.

    Reply
  16. Pertemanan disebut sebagai kekayaan sejati karena memberikan nilai tak ternilai bagi kesehatan mental, emosional, dan sosial yang tidak bisa dibeli dengan uang..

    Saat ini circle pertemanan saya hanya bisa dihitung dengan jari. Makin tambah usia makin mengurangi pertemanan yang tak banyak manfaatnya. Interaksi secukupnya saja. Lebih selektif, memprioritaskan kenyamanan emosional, dan menjauhi drama atau hubungan toxic.

    Reply
    • Bener mbakk Di.. Ada kalanya banyak teman itu berkah. Tapi juga di sisi lain makin banyak pula energi yang harus keluar untuk sortir².

      Semakin usia bertambah, entah kenapa jadi lebih nyaman sama temen² yang itu² aja. Bisa diitung jari pula.

      Barangkali akan berbeda jika orang tersebut memang suka berkawan. Mirip salah satu teman karib saya yang temannya di tiap kota ada aja.

      Reply
      • Ahahaha aku malah keknya temen dan bestieku cuma suami aja buat saat ini wkwk. Sesekali aja catch up kabar sama beberapa teman tapi yaaa jarang.
        Yang penting silaturahmi terjalin baik, apalagi zaman sekarang ada sosmed atau aplikasi chat, sesekali aja menyapa.
        Itu pun keknya seperlunya aja supaya nggak terjadi friksi2 di usia sekarang ya mbak 😀

        Reply
      • Ahahaha aku malah keknya temen dan bestieku cuma suami aja buat saat ini wkwk. Sesekali aja catch up kabar sama beberapa teman tapi yaaa jarang.
        Yang penting silaturahmi terjalin baik, apalagi zaman sekarang ada sosmed atau aplikasi chat, sesekali aja menyapa.
        Itu pun keknya seperlunya aja supaya nggak terjadi friksi2 di usia sekarang ya mbak 😀 .

        Reply
  17. Setuju mbaa..punya musuh itu memang gak enak banget malah jadi kepikiran trs kan…
    Tapi masa skrg itu memang kota harus pinter2 milih teman dan bersikap juga sie..kalo aku merasa gak sefrekuensi ato gak klik sama seseorang biasanya aku akan menjaga jarak buat menghindari hal2 yg tdk diinginkan..soalnya kan aku orangnya gak enakan yaa takutnya klo dilanjut malah aku nya yg terbebani nanti jadi pilib teman nya jga harus yg sehat

    Reply
  18. Saya punya grup WA teman-teman SMA yang isinya cuma ber-5 doang. Ya walaupun sedikitan, tapi memang kerasa banget support system kalau berteman dengan orang-orang yang tepat sampai berbelas dan bahkan berpuluh tahun. Mudah-mudahan teman-teman kita adalah teman sedunia dan sesurga, ya. Aamiin

    Reply
  19. Memang benar, punya satu musuh saja sudah cukup membuat tidur tidak tenang, sementara seribu teman selalu terasa kurang. Saya sangat setuju bahwa pertemanan adalah bentuk rezeki yang paling nyata—terutama cerita Teteh tentang circle wali santri yang saling menjaga meski berjauhan. Itu bukti bahwa ketulusan bisa melampaui jarak.
    Bagi saya, circle kreatif adalah yang paling memberikan energi positif karena selalu memicu semangat untuk terus belajar. Sehat dan sukses selalu untuk Teteh di sana!

    Reply
  20. Setuju banget mbak. Punya banyak teman itu menyenangkan, tapi punya satu musuh aja melelahkan. Sama sekali nggak pengen punya musuh. Konflik kecil sama teman aja udah bikin nggak enak hati, apalagi sampai jadi musuh. Semoga nggak pernah terjadi lha…

    Semoga kita akur selalu dengan teman-teman kita dan selalu didekatkan dengan circle yang positif.

    Reply
    • Seusia kita gini emang capek kali punya drama dengan orang ya mbak. Kalau misalnya kita nggak suka sama orang karena kelakuannya, yawda alon2 menjauh aja sih ya. Tidak perlu terlibat terlalu jauh lagi.
      Aku juga heran kalau ada orang2 seusia kita masih aja mencari musuh, kyk nggak mau apa hidup tenang. Fokes nyari pahala aja buat bekel kematian deh 😀

      Reply
  21. Setuju seribu persen mbak. memang sebaik-baiknya kita itu menjaga lingkar pertemanan, dan menghindari titik perselisihan. Walaupun yaa, pada kenyataannya konflik itu pasti tak bisa dihindari, tapi setidaknya jangan sampai putus silaturahmi.
    Saya pribadi si ngerasa memang seiring bertambah usia, circle kian mengecil. Tapi tak apa, karena circle kecil itu justru makin bertambah kualitasnya dari waktu ke waktu.

    Reply
  22. Sepakat dengan judulnya nih pertemanan adalah kekayaan dan permusuhan adalah beban. Capek di hati dan pikiran. Sedangkan semakin banyak teman menambah umur menambah rejeki
    ADa juga teman maya jadi teman di dunia nyata, menyenangkan. Walaupun pertemanan datang dan pergi begitu saja, ada juga yang membekas di hati, karena tak ada yang abadi di dunia ini

    Reply
  23. Aku sangat setuju sama guru mbak. Kalimatnya tuh emang related banget. Kalau bisa kita mah cari teman sebanyak-banyaknya aja. Hindari permusuhan karena itu sangat menguras energi. Bahkan bikin hidup nggak tenang.

    Aku paham, tinggal di desa emang berbeda. Soalnya semasa kecil pernah tinggal di kampung halaman mama yang emang desa banget. Care dan gotong royong beneran ada, tetapi kepo dan iri hatinya tuh kuat juga. Hmmmp aku sampai merasa waktu kecil tinggal di sana nggak nyaman apalagi kalau sudah dewasa. Tetapi kalau hanya melihat sisi begitu ya nggak bakalan nyaman ya Mbak. Untungnya mbak ini sangat aktif dan supel.

    Jadi, bisa tetap banyak teman dari berbagai circle. Meski memang beberapa orang hanya perlu kita sapa seperlunya saja sih. Ada yang bisa beneran jadi BESTie, selama positif dan bikin bertumbuh why not? Semangat terus. Banyak temen banyak rezeki

    Reply
  24. Setuju banget dengan tulisan ini. Terutama soal banyak teman banyak rejeki. Sepanjang hidup aku sudah membuktikan semuanya. Jadi ingat masa-masa awal 10 tahun di Jakarta, temanlah yang membuat langkahku ringan ditengah perjuangan hidup.

    Kalau aku semua circle memiliki kekuatan, soal kelemahan apapun pasti ada. Karena itulah pertemanan aku luaskan, jadi banyak circle. Itu salah satu kunci hidup tetap sukacita. Semakin banyak circle semakin berwarna.

    Reply
  25. Papa dulu menekankan bangetttt ttg ini.jangan cari musuh. 1000 teman msh kurang banyak, tp 1 musuh terlalu banyak.

    Skr baru paham. Walaupun di usia segini circle pertemanan ku juga makin menipiiiis mba. Tp setidaknya, aku ga pengen punya musuh. Semisal ada orang yg ga sesuai dari segi prinsip, ya udahlah, jauhin aja, tp bukan memusuhi. Kalau ketemu ga sengaja msh menyapa. Tp bukan orang yg bakal aku dekati utk akrab.

    Saat ini circle yg terdekat kebanyakan circle blogger. Mungkin Krn kesamaan passion. JD walau belum ketemu sebelumnya, saat meet up kami bisa bener2 akrab. Seolah udh lama kenal.

    Justru teman2 yg dulu BESTie zaman smu, pas ketemuan reuni, agak merenggang

    Reply
    • Circle kita beragam ya dari mulai teman sekolah, tetangga, komunitas dan lainnya, memang harus dijaga hubungannya jangan sampai bermusuhan.. tapi kalau ada yang toxic memang sebaiknya segera jaga jarak yaa..

      Reply
  26. Berteman ini menurut saya salah satu keahlian sosial yang nggak semua orang bisa. Kayak adik saya anaknya supel banget jadi saat dia keterima pns itu dia cepat banget dapat teman di berbagai instansi. Sementara saya di perusahaan sekarang temannya cuma 3 heu

    Reply
  27. Setuju bgt Mba, punya banyak teman itu rejeki dan membuka banyak peluang dan rejeki. Tapi kalau punya musuh, 1 aja deh udh bikin aku ngerasa ga tenang, emosian, pokoknya bikin rutinitas kerasa kacau, sesek d dada. Jadi carilah teman sebanyak-banyaknya, tapi pintar-pintar membawa diri di circle manapun.

    Reply
  28. Saya setuju, banyak teman banyak rezeki. Contohnya saya dapat info job blogger dan mneulis cerita juga dari teman. Banyak teman membuat saya belajar menempatkan dan menyesuaikan diri. Karena dari teman, bisa jadi musuh. Oh, kalau sama si A tidak boleh terlalu bercanda, sama si B tidak boleh terlalu dikasih hati. Mana teman yang terus bisa diajak sejalan, mana teman yang hanya sekadar menyapa.

    Reply
  29. Ketika aku berteman aku mah open sih teh siapapun bisa berteman dengan saya stelahnya natural aja keseleksi , yg stay ya yg bisa nerima ekeu apa adanya , sefrekuensi dan ll yg engga stay yah aku ga tau tuh kenapa2 nya
    Namun ketika menjalin pertemanan aku sangat menghotmati dan menghargai serta menjaga karena ketika berteman ya aku anggap mwreka sodara gitu

    Reply
  30. Sahabat saya suatu hari pernah berkata. Dia ini bisa disebut social butterfly. Soalnya sangat mudah berbaur dan temennya super banyak. Ia bilang, ia bersyukur berteman denganku, karena baginya,teman atau kenalan itu aset. Setiap orang pasti punya nilai positif. Tanpa mengecilkan posisi seseorang. Misalnya si A berprofesi sebagai penulis, dengan genre fiksi, sukanya yang romantis, nah dia nanti akan mencari si A untuk urusan pekerjaan terkait buku. Itu akan masuk dalam kamus hidupnya. Bayangkan kalau punya 1000 teman, kita akan punya 1000 kategori spesifik dalam kamus hidup kita.

    Reply
  31. Saya sekarang lebih memilih sedikit circle , teman juga gak banyak. Tapi sebisa mungkin kualitas pertemanan yang dalam. Ini teman di dunia nyata yaaa. Kalau teman di dunia maya sih banyaak teh, salah satunya yaa teman sesama blogger. Meskipun tidak pernah bertemu tapi seruu yaa.

    Reply
  32. Membaca tulisan Teteh jadi pengingat kalau investasi terbaik memang bukan cuma materi, tapi hubungan baik. Benar kata pepatah, satu musuh itu sudah terlalu menyesakkan dada karena “negativity bias” kita. Menarik sekali melihat cara Teteh membagi circle pertemanan, terutama kekompakan sesama wali santri yang saling jaga meski jauh. Semoga persahabatan kita selalu membawa rezeki dan energi positif ya, Teh

    Reply
  33. di era digital ini aku memilih banyak di rumah aja ambil jaga bayi, mana hidup makin berat dengan beban biaya pendidikan dan lainnya. Jadi, mending pilih pertemanan yang nggak banyak beban. Nggak banyak beban pikiran. Udah baguslah nggak saling cekcok. Udah pusing dengan banyak hal, haha…. aku pernah banget mengalami “teman” yang merasa dibebani kegiatan komunitas, jadi skip dulu punya teman begini.

    Reply
  34. Tulisan ini jadi pengingat buat lebih menjaga hubungan baik dan gak mudah larut dalam konflik. Terima kasih sudah berbagi refleksi yang jujur dan kaya pengalaman

    Reply
  35. Baca tulisan ini aku jadi ikutan mikir, bener banget kalau pertemanan itu kekayaan yang nggak ada tandingannya. Kadang kita lupa kalau jaga hubungan baik itu lebih bikin tenang daripada pelihara gengsi buat musuhan.

    Reply
  36. Saya setuju sekali bahwa memiliki banyak teman tulus adalah kekayaan yang tidak ternilai harganya dibandingkan materi. Menjaga silaturahmi memang kunci hidup tenang, karena menyimpan dendam atau permusuhan hanya akan menjadi beban pikiran yang melelahkan dalam keseharian kita.

    Reply
  37. Pertemanan bisa rasa sodara kalau terjalin dengan baik. Begitu pun sebaliknya. Dengan sodara bisa berselisih kalau memang kurang baik. Saya pribadi, lebih suka agak menjauh daripada mencari musuh.

    Reply
  38. Jujur kalo bermusuhan itu nggak enak loh, hati itu berat..beneran jadi beban, ya pasti jadi cepat tua karena hormon stress pasti tinngi banget, degdegan, takut, kesal , marah….

    Reply
  39. Wah iya teh, angkatan kita tuh sekolah menengahnya atasnya disebut SMU (Umum). Entah kenapa diganti kembali jadi SMA.
    Circle yang jauh pun bisa terasa dekat berkat teknologi zaman sekarang ya

    Reply
  40. Bisa punya teman yang setia dalam jangka panjang itu menurutku berkah yang luar biasa, Teh. Ibarat kita lagi dalam kondisi terpuruk tapi masih ada teman setidaknya ada yang bisa menemani kita.

    Reply
    • Saya tim yang sudah tidak peduli apa itu sahabat atau musuh. Selalu berusaha jadi diri sendiri versi sebaik mungkin aja dimana pun kapanpun. Kalau kita baik, pasti lingkungan juga baik, ketemu orang baik juga.

      Reply
  41. Teringat masa saat belum banyak media sosial seperri sekarang, diriku punya teman di dunia maya melalui forum-forum internet. Rasanya kangen dengan masa2 itu.

    Reply

Leave a Reply to Alienda Sophia Cancel reply

Verified by ExactMetrics