Jadi Pemulung Bermartabat di Jerman

Saya punya akun Youtube, tapi jarang main di sana. Apakah terlalu memaksakan diri kalau bilang hanya saya saja yang tidak punya YouTube Channel yang sering dikunjungi?

Tapi bukan berarti saya tidak pernah melihat video-video yang jadi pendorong untuk menjadikannya rekomendasi channel –karena memang isinya bermanfaat dan bisa jadi inspirasi— Saya banyak saved video yang sekiranya bermanfaat dan menginspirasi supaya saat mencari tayangan favorit itu bisa dilakukan segera dengan mudah. Tapi bukan di YouTube.

Akhir-akhir ini saya mainnya sering di tiktok dan sedang merintis, membesarkan akun baru di Instagram pengganti akun-akun yang sudah hangus. Jadi walau tidak punya channel yang direkomendasikan di YouTube, saya punya akun tiktok yang direkomendasikan yang isinya sangat mempengaruhi jalan kehidupan dan pemikiran saya dan juga lingkungan sekitar lainnya.

Saya akan ceritakan satu video saja dari salah satu akun yang saya anggap memiliki keunggulan itu. Apakah ada manfaat langsung yang didapatkan atau tidak setelah menonton video tersebut, itu kembali ke penilaian masing-masing ya…

Adalah akun tiktok Kang Andri yang saat ini sedang tinggal bekerja di Jerman. Mungkin karena basic awalnya saya juga TKW, jadi cerita hidup tentang perantauan WNI di luar negeri itu banyak saya koleksi karena sangat menarik buat saya.

Yang unik dari video Kang Andri ini adalah ketika dia membagikan kisah inspiratif mengenai memulung kaleng bekas di Jerman jadi peluang cuan!

Intinya kalau gak punya uang ga ada makanan, asal mau mulung itu sudah cukup bisa jadi sumber penghasilan!

Jadi ceritanya saat tidak bekerja, dia sengaja keluar rumah untuk memulung kaleng dan botol bekas minuman yang dibuang orang sembarangan. Siapa kira beberapa jam memulung, pulang membawa uang sebesar sekitar 74 ribu rupiah!

Saking niatnya dan memang kegiatan itu dilakukan seringkali sehingga dia juga mempersiapkan tas belanja cukup besar untuk membawa kaleng dan botol bekas minuman nanti yang ditemuinya.

Jadi di Jerman bisa jadi pemulung? Bisa. Dan pemulung di sana bermartabat keren banget. Cuma mulung beberapa biji kaleng dan botol bekas minum aja, itu udah bisa jadi uang beberapa Euro.

Mata uang resmi Jerman saat ini adalah Euro (€). Digunakan secara resmi di Jerman sejak 1 Januari 2002, menggantikan Deutsche Mark (DEM) dengan kode mata uang EUR.

Satu Euro dibagi menjadi 100 sen euro. Pecahan uang kertas Euro terdiri dari €5, €10, €20, €50, €100, €200, dan €500. Sedangkan uang koinnya terdi dari 1sen, 2sen, 5sen, 10sen, 20sen, 50sen, €1, dan €2. Nilai tukar Euro ke Rupiah berdasarkan data Maret 2026, 1 Euro (EUR) bernilai sekitar Rp19.000 – Rp20.000 (fluktuatif).

Kembali ke laptop video Kang Andri yang sedang mulung, disana digambarkan kalau pertama-tama dia menemukan dua kaleng bekas minuman. Langsung diambil dan masuk tas belanja. Tak lama menemukan lagi beberapa kaleng bekas minuman dan botol air mineral. Keduanya diambil karena sama-sama berharga walaupun nilai besaran harganya tidak sama.

Harga jual kaleng atau botol bekas minuman juga dihitung per buah, bukan per kilogram seperti di negara kita. Jadi walaupun cuma dapat mulung satu dua kaleng atau botol saja itu udah bisa menghasilkan uang.

Tempat penjualan atau penukaran kaleng atau botol bekas minum itu juga sudah canggih karena menggunakan mesin yang tersedia di beberapa minimarket atau swalayan setempat. Bukan semacam tukang pengepul seperti di kampung saya yang sering disebut juragan rongsokan ya… jadi beneran anti korupsi calo dan tidak ada permainan harga.

Tidak ada tawar menawar. Semua harga transparan karena disertai kwitansi dan kwitansi itu bisa jadi uang maksudnya bisa ditukar sebagai alat pembayaran saat berbelanja di minimarket.

Singkat cerita Kang Andri udah mengumpulkan beberapa kaleng dan botol. Lalu ia menuju sebuah minimarket yang menyediakan mesin penampungan kaleng dan botol bekas minuman tadi.

Setiap kaleng dan botol yang ditukar harganya berbeda-beda. Cara menukarkan kaleng atau botolnya kita tekan tombol on pada mesin penukaran. Setelah lampu pendeteksi alias sensor berjalan lalu masukan kaleng atau botol bekas ke tempatnya. Alat sensor akan mencatat dan mengeluarkan berapa harga tukar kaleng atau botol bekas minuman itu.

Satu kaleng ditukar dengan harga sekitar 25 sen. Sementara harga botol air mineral atau semacam ice tea gitu sekitar 15 sen. Sekali mulung pagi itu Kang Andri mengumpulkan sekitar 3 Euro 70 Sen (dalam bentuk kwitansi, bukan uang cash ya). Kalau dirupiahkan sekitar 74 ribu rupiah.

Karena Kang Andri membutuhkan telur untuk lauk makan di tempat tinggalnya, maka ia akan membeli telur di minimarket tersebut. Satu pak telur harganya 2 Euro 40 cen dibayar dengan kwitansi hasil dari penukaran kaleng dan botol bekas minuman tadi. Karena satu pak telur harganya sekitar 2 Euro 40 cen maka ada sisa sekitar 1 Euro 30 cen.

Sisa uang itu diberikan kasir sebagaimana kembalian belanja pada umumnya. Jadi hasil usaha mulung pagi itu Kang Andri pulang membawa satu pak telur dan uang 1 Euro 30 cen.

Sebegitu mudahnya ya mencari uang di Jerman?Saya sudah bilang di atas kalau cuma mulung beberapa biji kaleng dan botol bekas minum aja, itu udah bisa jadi uang beberapa Euro. Jadi bayangkan sekali mulung kalau saja mendapatkan 2 Euro berarti udah dapat sekitar 40 ribu rupiah. Di Indonesia, harga satu karung penuh botol bekas hanya dihargai sekitar delapan ribu! Wadidaw, jomplang banget kan ya?

Yang bikin seru adalah komentar para netizen. Sampai ngakak saya bacanya karena banyak komen yang absurd dan konyol.

Ada yang ngajak kita mulung aja di Jerman, ada yang membayangkan seandainya sampah di Indonesia bisa jadi uang dengan menghasilkan seperti itu.

Ada juga yang bilang kalau sampah di Indonesia dihargai sebesar itu masyarakat gak bakalan buang sampah sembarangan lagi dan kemungkinan Indonesia bisa bebas sampah sebagaimana di Jerman sana. Bagaimana pendapatmu?

Leave a Comment

Verified by ExactMetrics