Pengalaman Sahur Terbatas di Negara Non Muslim

Hampir dua belas tahun saya hidup di negara orang dengan majikan non Muslim. Mulai bekerja dari Singapura lalu Hongkong dan berakhir di Taiwan, semuanya menyisakan kenangan bagaimana suka dukanya saya mencuri-curi waktu demi bisa melakukan sahur dengan modal seadanya.

Yang paling tidak bisa terlupakan waktu kerja di Keelung Taiwan. Ketika memasuki bulan puasa saya tidak bisa leluasa masak dan menghidupkan lampu dapur sehingga terang benderang karena ada orang tua majikan yang masih kolot tidak mengizinkan saya melakukan puasa.

Padahal sehari-hari dapur adalah ruangan yang saya kuasai. Tapi sejak kedapatan oleh Ama (Nenek) saat dini hari saya nguprek di dapur untuk mempersiapkan sahur, dan mengetahui kalau saya akan menjalankan puasa, sontak dia marah dan melarang saya masak.

Saya pikir dia marah karena saya mengganggu waktu istirahatnya. Mungkin suara alat masak bikin berisik sehingga bikin Ama terbangun. Ternyata Ama melarang saya sahur, karena ia tidak ingin saya mati sia-sia gara-gara berpuasa! Wadidaw…

“Kamu kerja di sini. Kalau kamu siang hari tidak makan, bisa mati tau gak? Bikin repot saja. Besok saja makannya bareng-bareng. Ayo masuk kamar dan tidur.” Begitu ultimatum Ama.

Cari Ide Bisa Sahur yang Terlarang di Rumah Majikan

Begitulah, di sana kalau orang tua sudah berkuasa, anak cucunya tidak bisa bagaimana. Majikan sebenarnya sudah modern dan berpikiran terbuka. Mereka membebaskan saya untuk melakukan puasa asalkan tidak mengganggu pekerjaan. Hanya orang tuanya yang masih berpikiran sempit seperti itu.

Majikan menyarankan supaya saya pintar-pintar saja mengambil hati nenek, sehingga tidak tahu kalau saya tetap menjalankan puasa.

Awalnya saya sahur dengan makan roti dan air minum yang saya bawa ke kamar. Tapi gak nyaman juga secara saya terbiasa makan nasi dan lauk pauk layaknya di Indonesia.

Di rumah majikan tidak pernah ada nasi sisa semalam karena setiap makan malam semuanya harus dihabiskan. Lagian masaknya juga sedikit karena setiap orang cukup satu mangkuk kecil nasi saja. Beda dengan kebiasaan saya di kampung, makan satu piring penuh nasi itu masih harus nambah. Haha…!

Akhirnya saya bilang ke majikan, izin bawa rice cooker ke kamar. Dengan alat masak praktis ini saya bisa masak nasi sekaligus lauknya.

Tidak disangka proposal saya itu di-approve majikan. Malah dia sengaja beli alat penanak nasi yang baru, khusus untuk disimpan di kamar saya. Tentu saja tanpa sepengetahuan ibunya. Ditambah syarat lain saya harus menjaga kebersihan dan keamanannya.

Alhamdulillah. Sejak itu saya bisa menjalankan sahur dengan tenang walaupun masih secara sembunyi-sembunyi di dalam kamar.

Menu makan sahur apa saja yang bisa saya buat dengan alat terbatas berupa pengukus nasi saja ini?

Saya lebih sering bikin one pot sahur ala-ala. Maksudnya, saya masak nasi dan lauknya sekaligus dalam satu kali masak. Praktis banget pokoknya.

Lauk yang biasa saya masak bersama nasi sekaligus dalam penanak nasi modern ini seperti telur, sosis, ikan, atau sayuran dalam satu wadah.

Telur tidak hanya direbus atau dikukus bersama cangkangnya, melainkan bisa disteam dengan cara telur dikocok dulu, diberi bumbu sesuai selera dan tanak bersama nasi secara bersamaan.

Sebelum punya mangkuk anti panas, saya bungkus telur yang sudah diberi bumbu dalam plastik. Lalu taruh di atas pengukus nasi. Hasilnya setelah matang bentuknya malah seperti sosis. Not bad kan?

Begitu juga dengan ikan atau sayuran. Cukup cuci bersih, simpan dalam wadah stainless steel yang muat dalam panci penanak nasinya, kasih bumbu sesuai selera dan kukus bersama nasi. Jadi nasi matang, lauknya juga siap santap. Intinya jadi hemat waktu dan tenaga.

Beberapa kali Ramadan saya lewati dengan berpuasa secara maksimal cukup berbekal satu alat pengolah nasi ini di dalam kamar. Hingga saya pulang ke tanah air, hanya majikan yang tahu “kecurangan” saya terhadap Ama selama ini.

Tips Membuat Menu Sahur dengan Rice Cooker

Tidak mudah memasak menu untuk sahur dengan tuntutan kelengkapan gizi serta tampilan yang menarik supaya menggugah selera makan di waktu pagi buta.

Apalagi jika memasaknya hanya mengandalkan alat masak dengan segala keterbatasannya pula. Karena itu diperlukan beberapa tips dan trik supaya acara masak-memasak berjalan lancar tanpa diburu waktu imsak dengan hasil yang enak dan matang sempurna.

Beberapa hal dari pengalaman saya selama ini yang perlu diperhatikan:

🩸 Pilih penanak nasi multifungsi. Seperti Rice Cooker Miyako yang bisa digunakan untuk memasak nasi, mengukus, dan lainnya tanpa merusak lapisan anti lengket.

Saat ini banyak direkomendasikan alat pemasak nasi kesayangan Nikita Willy tersebut. Hal itu karena Miyako Nanoal sejak lama sudah terbukti awet dan irit secara harganya sangat ramah di kantong. Selain anti lengket, mudah dibersihkan, juga memiliki garansi panjang dan aman karena sudah SNI.

Masih banyak keunggulan lainnya dari brand Miyako ini yang paling saya sukai sih model fungsi 3-in 1 nya itu. Jadi cukup dengan satu alat penanak nasi, sudah bisa memasak nasi, menghangatkan, mengukus lauknya hingga membuat kue.

Pengalaman Sahur Terbatas di Negara Non Muslim: Satset Hanya Menggunakan Rice Cooker

🩸 Rencanakan dengan matang saat setelah tarawih untuk sahur nanti mau masak menu apa.

🩸 Gunakan bahan masakan yang cepat matang (seperti tahu, sosis, telur, sayuran potong kecil, dlsb)

🩸 Siapkan bumbu dan lauk atau sayur yang akan dimasak serta peralatan lainnya seperti air, alat makan dan sebagainya sejak sebelum tidur agar saat sahur tinggal klik tombol cook.

🩸 Kombinasikan bahan yang akan dimasak supaya memenuhi nilai gizi yang dibutuhkan tubuh selama berpuasa. Jadi selain memasak nasi sumber karbohidrat, tambah juga ikan atau telur untuk sumber protein, dan sayuran serta buah-buahan supaya kenyang lebih lama.

Tidak lupa konsumsi juga vitamin dan minum air putih lebih banyak dari hari biasa.

Pengalaman Sahur Terbatas di Negara Non Muslim: Satset Hanya Menggunakan Rice Cooker

Begitulah pengalaman saya melakukan ritual sahur yang sembunyi-sembunyi di rumah majikan karena ada orang tua boss yang tidak mengizinkan saya selaku orang yang bekerja di rumahnya melakukan puasa.

Semoga pengalaman saya ini bermanfaat bagi manteman yang ngekos, atau memiliki keterbatasan lainnya seperti pengalaman saya tapi tetap bersemangat untuk menjalankan kewajiban puasa Ramadan.

14 thoughts on “Pengalaman Sahur Terbatas di Negara Non Muslim”

    • Setuju kak, memang perlu juga punya rice cooker yang berkualitas seperti Miyako, karena bantu nasi yang dimasak tetap dalam keadaan baik dan gak cepat basi.

      Reply
  1. Salut banget dengan perjuangan Teteh demi tetap menjalankan kewajiban meski dalam kondisi terbatas dan sembunyi-sembunyi dari Ama.
    Strategi “satset” pakai rice cooker di kamar benar-benar solusi cerdas buat pejuang devisa. Saya jadi terbayang betapa nikmatnya aroma nasi dan telur kukus di tengah malam itu. Terima kasih sudah berbagi tips menu one-pot yang praktis ini; sangat bermanfaat buat anak kos atau siapa pun yang nggak mau ribet pas sahur. Sehat selalu ya, Teh!

    Reply
  2. Rice cooker memang bisa diandalkan ya Teh untuk menanak nasi dan membuat aneka masakan. Apalagi pas di momen Ramadan ini, lebih sat set pas sahur dan buka puasa, nasinya dalam keadaan hangat.

    Reply
  3. Kreatif Teh, jadi ada ide masak di saat kondisi terbatas. Salut dengan perjuangan teteh tetap menunaikan rukun Islam walaupun mendapatkan halangan.
    Btw jadi bisa nemu banyak menu alternatif yang bisa sat set untuk sahur ya Teh.

    Reply
  4. Masya Allah, perjuangan Teh Okti untuk bisa sahur berat, Alhamdulillah dengan trik masak pakai rice cooker di kamar bisa terpecahkan.
    Rice cooker memang sahabat dapur sejati apalagi rice cooker Miyako yang punya banyak kelebihan ini

    Reply
  5. MasyaAllah, salut banget dengan semangat ibadahnya.
    Tapi bersyukur ya bun dengan adanya rice cooker bisa jadi penyelamat untuk masak kreatif dan satset. Jadi bukti kalau niat ibadah itu selalu ada jalannya.
    Saya juga tim rice cooker Miyako, masak jadi cepat dan praktis karena gak perlu rendam lama inner potnya.

    Reply
  6. Hihihi dilarang puasa karena takut mati 😀

    jadi inget, dulu ada wali murid ada yang bilang takut anaknya kurang gizi kalo ikut puasa seperti anak-anak saya. Padahal kan puasanya cuma setengah hari.

    Pakai Miyako emang nyaman Teh Okti, selama ini saya selalu pakai rice cooker ukuran kecil karena hanya untuk saya sendiri

    Reply
  7. Jadi inget ketika anak masih ngekos. Rice cooker multifungsi memang berguna banget. Sebetulnya di kosan ada dapur. Tapi, kamarnya di lantai 3, sedangkan dapur di lantai bawah. Capek juga kalau turun naik. Andalan deh rice cooker multifungsi ini.

    Reply
  8. Masya Allah… pengalaman yang luar biasa, Teh. Terharuuu dengan majikan yang support banget. Omong2, aku juga pakai rice cooker Miyako di rumah. Pernah mau ganti merek lain, tapi akhirnya balik lagi ke Moyako.

    Reply
  9. Waah baru tahu ada yang bodynya warna merah jambu favorit saya ni rice cooker Miyako.
    Balik ke Ama, disayangkan banget sikap kolotnya, mengira berpuasa bikin meninggal. Padahal kalau memang tak ada halangan medis atau takdir Allah, puasanya penganut agama lain ada yang lebih panjang tanpa mengakibatkan kematian juga tuh.

    Reply
  10. MasyaAllah, Teh. Luar biasa perjalanan saum yang gado-gado di tiga negara luar Indonesia. Yang paling gong dilarang puasa karena takut mati.. hehe, ada-ada aja ama ini. Tapi bener memang pepatah yang bilang there is a will, there ia a way, kalau kita istiqomah di jalan Allah, ada aja ya jalan yang mempermudahnya sehingga saum tetap bisa dijalankan walau sahurnya pake ngumpet-ngumpet di kamar segala, ya..

    Reply

Leave a Reply to Dian Restu Agustina Cancel reply

Verified by ExactMetrics