Labirin Delapan dalam MIMDAN #8

Senang bisa menyimak acara IG Live Bincang Mimdan #8 Selasa malam 28 Juni kemarin. Selain bisa ketemu si kembar Eva dan Evi mojang geulis ti Bandung yang membocorkan informasi terkait  novela Labirin Delapan karya Eva Sri Rahayu, saya juga bisa mendapatkan banyak informasi mengenai Pandi lewat Program Merajut Indonesia Melalui Digitalisasi Aksara Nusantara (MIMDAN).

Hayoo… kalau para blogger pasti udah tahu dong ya apa itu PANDI? Ialah Pengelola Nama Domain Internet Indonesia yang disingkat PANDI. Yaitu organisasi nirlaba yang melakukan pengelolaan nama domain di negara kita Indonesia (.id) dan domain-domain tingkat di bawahnya seperti domain yang diperuntukkan untuk website personal, my.id. PANDI ini dibentuk oleh komunitas Internet Indonesia bersama pemerintah pada 29 Desember 2006.

Acara MIMDAN yang disiarkan live dari Instagram Merajut Indonesia @merajut_indonesia ini sendiri ternyata sudah rutin dilaksanakan. Saya baru tahu dan baru bisa menyimak ketika sudah sampai di #8 saja. Satu sampai tujuhnya saya kemana aja yaaa? Tutup muka...

Padahal acara MIMDAN ini asli keren dan nambah banyak wawasan. Seperti kemarin itu, Bincang MIMDAN #8 temanya “Sejarah dan Budaya dalam Novela Platform Digital”. Yang jadi topik pembicaraan novel Labirin Delapan karya Eva Sri Rahayu, yang mana ternyata novela itu berlatar kuat sejarah Indonesia-nya. Cerita yang diangkat saja tindak tanggung -tanggung, seputar wisata sejarah Candi Borobudur yang sekarang lagi trending itu karena sempat naik harga tiket masuknya.

Jadi Labirin Delapan karya Eva Sri Rahayu ini diterbitkan di Platform Digital setelah melalui rangkaian riset yang cukup lama, sekitar tiga tahunan. So, bukan aji mumpung mentang-mentang Candi Borobudur lagi ramai jadi bahan pembicaraan lalu Eva bikin novel ini, tidak demikian. Jauh sebelum pandemi, Eva memang sudah membuat persiapan matang novel berlatar sejarah ini.

Evi Sri Rezeki, pembawa acara IG Live Bincang Mimdan #8

Fiksi sejarah terkait wisata Candi Borobudur memang unik dan terbilang langka disaat remaja jaman now banyak tertarik pada dunia korea -koreaan. Namun seperti sejarah yang tidak lekang dimakan waktu, fiksi karya Eva ini pun dipercaya akan memiliki nilai dan penggemar pada tempatnya.

Apalagi Eva sudah bergabung dengan beberapa komunitas kebudayaan dan sejarah sejak lama, sehingga ia makin fokus dalam melakukan riset baik dalam hal literatur seni budaya wisata Candi Borobudur tentang relief (ada lima seri buku yang kesemuanya tebbbal) maupun riset lapangan ke wisata candi lainnya seperti Candi Gedong Songo. Tidak sedikit pula riset literatur platform digital yang diaksesnya baik gratisan maupun berbayar.

Jika risetnya memerlukan waktu sampai bertahun-tahun, bertolakbelakang dengan proses penulisannya, Eva justru bisa menyelesaikan novela yang berceritakan tentang delapan orang tokoh dari berbagai kalangan dan usia ini terjebak dalam labirin di dalam Candi Borobudur, hanya sekitar dua-tiga bulan saja. Mulai menulis dari akhir 2021 dan selesai di awal tahun 2022.

Sungguh penasaran dengan cerita lengkapnya deh ah… Sayang saat Selasa malam ketika acara IG Live Bincang Mimdan #8 berlangsung saya tanya bagaimana cara akses atau mendapatkan novela itu, pertanyaan saya itu belum terjawab. Mungkin karena terbatasnya waktu. Sementara yang bertanya itu banyak sekali.

Eva Sri Rahayu penulis Labirin Delapan

Tidak hanya membahas tentang karyanya itu saja, Eva juga tidak pelit memberikan informasi seputar tips dan trik membuat fiksi sejarah budaya yang memang terbilang susah.

Indikator keberhasilan menulis novel sejarah budaya memang tidak mudah. Karena butuh riset yang sangat panjang dan detail. Tapi jika dilihat dari sisi si penulis sendiri, maka bisa dikatakan berhasil jika:

  1. Penulis bisa menyampaikan kalimat atau kata bermakna budaya. Sekaligus memiliki misi yang kuat untuk mengangkat budaya itu sendiri.
  2. Latar atau tempat yang diangkat memiliki unsur nilai kebudayaan yang tinggi. Bukan hanya tempelan kisah sang tokoh hidup di sekitar lokasi budaya sejarah, melainkan mampu menceritakan secara detail apa yang selama ini tidak diketahui masyarakat umum mengenai lokasi sejarah budaya tersebut. Jadi lokasi budaya tersebut mampu jadi unsur penggerak cerita.
  3. Konten yang tentu saja mengandung nilai budaya itu sendiri baik dari segi sejarah, mitologi dan sebagainya.

Supaya sang tokoh dalam fiksi budaya terkesan nyata, Eva memberikan banyak bocoran. Kelengkapan sebuah novel ditandai dengan adanya tiga hal yaitu ide utama cerita, plot, dan karakter.

Karakter ini jadi kunci. Supaya tokoh terkesan nyata penulis harus bisa membuat si tokoh:

  1.  mendapatkan banyak masalah. Masalah dari berbagai sisi secara kompleks.
  2. Beri si tokoh banyak kekurangan sehingga pembaca kelak merasa greget, simpati dan khawatir.
  3. Beri sang tokoh kebutuhan sehingga ia memaknai perjalanan dalam ceritanya. Mulai pertumbuhan, perubahan, sampai karakter akhir.

Saat ini platform online sedang marak bermunculan. Lalu bagaimana nasib percetakan selanjutnya? Menurut Eva maraknya platform online itu sebenarnya ada sisi baiknya juga. Karena penerbit justru bisa membuat platform online sendiri. Penerbit bisa mencari bibit penulis dari platform online miliknya itu. Saat ada karya yang bagus dan digemari pembaca bisa saja karya itu ditarik untuk dicetak.

Mudah tidaknya bikin novela baik secara cetak maupun platform online itu tergantung dari maping novela nya itu sendiri.

Eva sendiri menjabarkan maping novela nya dengan didahului oleh Premis (kalimat yang menggambarkan tentang novela), lalu sinopsis (termasuk di dalam ada kerangka karangan dll) lalu struktur plot.

Yang terakhir nih ada tips menulis fiksi budaya dari Eva:

  1. Tentukan visi dan misi. Khususnya ada niat dan kepedulian terhadap budaya dan sejarah. Jadi tidak hanya menjual cerita budaya saja tapi juga peduli dengan kondisinya. Ada masyarakat yang masih belum tahu tentang sejarah budaya lokasi tertentu, saat membaca cerita kita diharapkan tidak menimbulkan salah kaprah di masyarakat
  2. Sejarah harus diceritakan dengan terlebih dahulu melalui riset, membaca banyak literasi, terjun langsung ke lapangan dan sebagainya
  3. Menulis cerita baik online maupun cetak harus menyertakan tiga tulang punggungnya yaitu -> Premis -> Sinopsis -> Struktur Plot (Logika Cerita)

Tidak terasa IG Live Bincang Mimdan #8 dari Pandi lewat Program Merajut Indonesia Melalui Digitalisasi Aksara Nusantara (MIMDAN) ini pun selesai sudah. Kita berharap lewat karya fiksi ini diharapkan sejarah dan budaya bisa diterima dengan mudah oleh generasi jaman sekarang, ya.

Sampai jumpa di acara MIMDAN selanjutnya!

48 thoughts on “Labirin Delapan dalam MIMDAN #8”

  1. Pertama²…daku suka sama template nya Teh Okti, karena gak muncul iklan lagi saat klik kolom komen.
    Lanjut ke bahasan soal penulisan novela, ternyata banyak hal yang harus disiapkan ya, apalagi kalau cerita yang mengandung unsur budaya. Noted nih.

    Reply
  2. Kagum dengan kembar Evi dan Eva ini , mereka bersungguh2 dalam menghasilkan karya, meriset dalam waktu lama untuk menghasilkan karya yang ciamik pun dilakoni. Semoga makin banyak yang suka dengan karya2 mereka

    Reply
  3. Wah Evi mewawancarai Eva, semula saya bingung

    ternyata ada perbedaan di rambutnya

    Teh Eva emang keren, tulisan2nya sering saya baca berungkali

    karena maknanya dalem banget

    Reply
  4. Wah aku ga ikut acaranya tapi malasih lho teh informasi nya emang si kembar produktif banget bikin karya termasuk novel yang bergizi karena ada aroma budaya dengan riset mendalam ya

    Reply
  5. Makin keren aja nih Eva Evi ini saya belum baca karyanya yg berbentuk novel tapi kalau bagaimana prosesnya beberapa kali dengar langsung dari Eva Evi memang luar biasa nih…risetnya ga main2….

    Reply
  6. Eh, ada ya asosiasi namanya PANDI? Saya baru tahu setelah membaca postingan Teh Okti ini.

    Menarikkkk sekali premis ceritanya. Delapan orang terjebak dalam labirin Candi Borobudur. Ini kayak psychology novel gitu sih gak teh?

    Reply
  7. Wah sarat ilmu yah bincang MIMDAN #8 ini. Rasanya waktunya wajib ditambah nih. Seru bac cuplikan Labirin 8, cuma belum tahu cara akses di Hipwee nya.
    Makasih info PANDI ya, baru tahu nih akuh tuh

    Reply
  8. Gak gampang memang membuat karya tulis (baca: novel) yang berlatar belakang sejarah dan budaya. Risetnya itu loh. Makan waktu. Mulai dari riset dokumentasi, literasi, hingga banyak tulisan-tulisan ilmiah yang mendukung dan memberikan informasi yang sahih. Hebat banget Mbak Eva, bisa melahirkan novel dengan latar belakang Borobudur yang fenomenal dan dikenal oleh publik dunia.

    BTW, blognya berganti wajah ya Teh Okti. Saya lebih senang lihatnya nih. Huruf-huruf nya lebih jelas dengan akses yang lebih cepat.

    Reply
  9. Seru banget belajar melalui pemaparan teh Eva mengenai tema sebuah novel terutama yang mengangkat tema sejarah. Karena pasti gak mudah membuatnya. Dan bagi pembaca, tentu bisa menjadi pengetahuan tersendiri.

    Reply
  10. Kolaborasi kembar Eva Evi yang inspiratif dan produktif. Salut buat penulis yang mampu membuat novel yang greget dan bikin penasaran pembaca, ternyata banyak dibuka rahasianya, jadi makin belajar deh nih

    Reply
  11. menulisa memang tak semudah itu ya, apalagi kalau tulisannya mengandung unsur sejarah. harus benar-benar dipikirkan baik-baik supaya lebih mudah dipahami juga nantinya setelah jadi tulisan.

    Reply
  12. Wah seru sekali ya, ada meeting-meeting seperti ini. Btw, keren sangat bisa selesai menulis 2 bulan, apalagi tentang history alias sejarah

    Reply
  13. Acara pasti seru nih. Nulis fiksi sejarah ini sulit menurut saya, karena base on sejarah yaa lalu ditambahkan tokoh rekaan. Nah, jika versi yang hadir berbeda itu bagaimana kita menyikapi sejarah yg hadir dalam bentuk olahan baru Mbak?

    Reply
    • Jadi belajar sejarah dengan cara yang jauh lebih menyenangkan.
      Kalau melalui penokohan dan setting tempat dalam novel, pastinya para anak muda gak alergi sama sejarah.

      Reply
  14. Lama juga ya riset sampai 3 tahun. tapi karena mengenai sejarah budaya saya rasa wajar juga mendalami selama itu. Makasih ya PANDI sudah menciptakan domain my.id

    Reply
  15. Waw sungguh duo kembar yang menginspirasi ya, Teh. Meski nggak ikut acaranya, tapi ulasan dari teh Oki sudah cukup mewakili. Btw, congratz template barunya, Teh. Jadi salah fokus juga nih aku

    Reply
  16. Tipsnya mantap, Kak. Emang ide utama cerita, plot, dan karakter dalam suatu cerita ini punya peranan penting. Makasih Kak. Jadi pengen gabung live IG nya. Seru pastinya

    Reply
  17. Fiksi sejarah budaya gak bisa asal nulisnya ya teh. Keren banget eva mah.. Jadi kepengen banyak belajar dengan mojang satu ini.
    Acara keren ini pengennya bisa diulang terus misalnya ada tayang ulang di yutup teh..

    Reply
  18. mantap nih penyuka cerita fiksi dan sejarah mesti tertarik banget ya Teh. Aku pun berharap melalui karya fiksi semoga sejarah dan budaya bisa lebih diterima oleh generasi muda zaman sekarang.

    Reply
  19. Penulis idola ini, pengen bisa nulis novel layaknya mbak kembar ini. Say sampai bacanya pelan2 biar paham isinya, terimakasih mbak okti, pengen ngobrol nyata deh tentang ulasannya ini

    Reply
  20. riset itu memang memakan waktu banget ya dalam menulis sebuah cerita agar lebih dapat maknanya, tapi setelah riset selesai kita menulis jadi mengalir begitu saja

    Reply
  21. Merajut Indonesia Melalui Digitalisasi Aksara Nusantara (MIMDAN) ini bagus banget programnya ya Teh,, btw baca artikel ini saya jadi tahu tentang novel Labirin Delapan karya Eva Sri Rahayu, ternyata gitu ya cara nulis novel berlatar sejarah Indonesia,, kereeen.

    Reply
  22. Acara yang seru dan daging banget ya mbak materinya. Apalagi dimentori oleh dua narasumber yang berkompeten di bidangnya. Ah, saya ingi jadinya belajar nulis novel

    Reply
  23. Galfok sama pewawancara dan yang diwawancarai. Kok sama.. eh ternyata kak Eva dan kak Evi yaa…

    Wah, keren banget novelnya. Selalu suka sama cerita-cerita berlatar sejarah. Mau cari juga aah.

    Reply

Leave a Comment

Verified by ExactMetrics