Pertama Merantau Adu Pintar Dengan Majikan

Pertama Merantau Adu Pintar Dengan Majikan

 

Saya baru tahu kalau majikan sering menggeledah lemari pakaian saat saya tidur, sekitar tiga bulan pertama bekerja dengannya. Itupun tanpa sengaja. Orangtuanya majikan, yang biasa disebut Ama, keceplosan bercerita.

“Kamu pacaran ya sama itu anak punya depan rumah?” Tanya Ama dengan dialek Melayu yang agak sulit saya mengerti, mengingat Ama sebenarnya kan etnis Tionghoa. Tapi memang banyak orang tua di Singapura, entah itu etnis Tionghoa, maupun India atau etnis lain pandai-pandai bicara Melayu.

Para orang tua lanjut usia di Singapura sudah seperti keluarga kalau ngobrol di kopishop. Perbedaan suku bangsa tak menjadikan mereka terkotak-kotak. Ama pernah cerita jaman penjajahan dulu, mereka saat muda dan kuat bekerja sama demi kemerdekaan Singapura. Kebersamaan itu terus terjalin.

Saya menggeleng bingung menjawab pertanyaan Ama. Sambil terus berpikir kok Ama bisa bilang begitu? Jonathan, anak majikan yang kami jemput keburu datang, obrolan saya dan Ama pun menguap begitu saja.

Anak depan rumah? Pacaran?

Oalah! Saya ingat, dua hari lalu saya menerima surat dari Mbak Dewi. Teman di satu kondominium beda blok. Kami sering ketemu kalau berada di kolam renang.

Dalam suratnya, Mba Dewi yang usianya jauh di atas saya (saat itu saya masih 19 tahun) cerita kalau ia naksir cowok yang rumahnya lantai 9. Satu blok dengan rumah majikan saya. Hanya tidak bisa memastikan nomor rumahnya, dua, tiga atau empat. Nomor satu sih Mbak Dewi tahu, itu nomor rumah majikan saya yang ia tulis di alamat surat.

Tahu cowok itu berada di lantai 9, kata Mba Dewi melihat tombol lift yang dipijit si cowok itu ketika mereka berpapasan di lobi.

Saya yang masih bau kencur, balas surat Mba Dewi, mengatakan kalau nomor tiga dan empat flat nya masih kosong. Jadi kemungkinan cowok itu penghuni flat nomor dua. Rumah yang pintunya tepat depan pintu rumah majikan saya.

Saya curiga, jangan-jangan Ama membaca surat itu. Karena sebelum dikirim pos keesokan harinya, surat saya simpan di lemari pakaian. Pasti majikan dan Ama membacanya lebih dulu. Ih saya jadi geram…

Jadi teman, saya di rumah majikan tidur dengan anak majikan, Jonathan dan Gloria. Ranjang tiga susun kami isi bersama. Saya tidur di ranjang paling bawah. Kedua Jonathan, cowok lima tahun yang saya asuh. Dan kakaknya Gloria di ranjang paling atas.

Sementara lemari pakaian saya, berada di kamar yang digunakan sebagai gudang dekat dapur. Mungkin, ketika saya tidur, majikan leluasa memeriksa isi lemari pakaian saya yang memang tidak ada kuncinya. Hem…

Pantas sejak pertama kerja di keluarga bermarga Wu ini saya merasakan banyak ketidaksukaan. Entah itu makanan, pekerjaan, sampai tingkah laku. Majikan laki dan perempuan kurang paham bahasa Melayu apalagi bahasa Indonesia, karena itu mungkin surat dalam lemari baju saya diperlihatkan ke ibunya yang memahami bahasa Melayu. Surat dalam bahasa Indonesia pasti banyak dimengerti Ama lah. Melayu dan Indonesia kan beda tipis saja.

Memang sejak bekerja hari pertama, mereka bicara dengan saya menggunakan bahasa Inggris dan atau Melayu. Sementara kalau ngomongin saya, mereka menggunakan bahasa Mandarin.

Mereka pikir saya tidak mengerti. Padahal meski tidak memahami semua, kalau bahasa dasarnya saya sudah mengerti secara sebelum berangkat saya juga kan ada belajar bahasa Mandarin di penampungan.

Sejak itu saya semakin berhati-hati dalam menyimpan barang pribadi. Soalnya saya yakin apa yang jadi rahasia saya, mereka akan mencoba mencari tahu. Buktinya, surat yang bukan untuk mereka bisa mereka baca dan mengetahui isinya. Untung suratnya bukan surat tindakan makar atau sabotase ke keluarga majikan, hehehe …

Tidak kalah pintar dengan majikan, sejak itu setiap bikin surat (saya banyak kirim surat menyurat entah dengan kawan, keluarga di tanah air, dan kawan di penampungan yang sama-sama bekerja di Singapura, bahkan surat ke radio di Pulau Batam) surat aslinya saya taruh di tempat yang tidak mungkin mereka temukan. Kadang di meja telepon, di rak sepatu majikan, bahkan di tumpukan koran depan tv. Sementara amplop yang saya simpan di lemari pakaian, saya isi dengan kertas kosong. Kadang sekalian ngerjain, saya simpan surat berbahasa Sunda dari keluarga. Yakin Ama pun gak bakalan mengerti. Hahaha!

Pengalaman menghadapi keluarga majikan di negara Singapura sekitar awal tahun 2000 sampai akhir tahun 2002 ini sangat saya jadikan pelajaran hidup. Orang boleh manis saat di depan kita, ternyata di belakang sangat tidak sopan.

Ada banyak pengalaman tidak terlupakan saat pertama kali merantau bekerja di Singapura ini. Lain kali saya tulis lagi…

32 thoughts on “Pertama Merantau Adu Pintar Dengan Majikan”

  1. Hi Mbak, bacanya geli-geli gemesh dan gimana gitu wkwkwkwkk. Benar-benar adu pintar dnegan majikan ya, kadang yang di depan mata mereka tidak lihat karena fokus mencari yang jauh *eh 😀

    Reply
  2. HIhiii, ngemalesin ya Teh kalo majikan suka kakaratak gituh, diem2 pulaaa.
    Lagian ga mengormati privasi kita, padahal kan meski dia majikan harusnya bisa memberikan contoh untuk sopan dan menghargai satu sama lain.

    Jadi aja, pa pinter2 sama majikan, emang sesekali kudu di gituin, biar kapok juga tuh.

    Reply
    • Betul. Mereka takutnya saya pacaran sama orang Pakistan atau Bangladesh. Banyak kasus TKW Indonesia dengan cowok Pakistan atau Bangladesh memang saat itu.

      Reply
  3. Memang kadang orang yang memperkejakan orang lain tanpa ada rasa kasih di dalamnya selalu akan berbuat kurang baik. Apalagi jika tidak ada pemahaman tentang kepercayaan yang kuat di dalamnya. Saya senang baca pengalamannnya teh semoga selalu jadi kenangan indah dalam perjalanan hidup.

    Reply
  4. iiddiihh, sebel bange ya pasti saat Teteh tahu mereka gak sopan gitu membongkar barang pribadi, ikut gemess deh ih.
    ayoo Teh, nanti tulis lagi pengalamannya ya 🙂

    Reply
  5. Wah, menurut saya walau majikan tapi itu termasuk pelanggaran privasi ya 🙁 kecuali ada hal2 mencurigakan atau ada barang hilang, mungkin berbeda kasusnya

    Reply
  6. awal baca lemari digeledah aja aku udah mulai gregetan, segitunya ya. Apa mungkin niatnya waspada, tapi ya segitu juga kali. Jadi penasaran sama cerita yang lain mbak, pengalaman yang bisa diambil hikmahnya

    Reply
  7. Wah, Teh Okti pernah kerja di Singapura awal tahun 2000? Kita tetanggaan, dong. Tahun segitu, kawasan industri di Batam sedang jaya-jayanya dan saya kerja di sana 🙂
    Di perusahaan saya banyak juga Singaporeans dari etnis Chinese. Ada yang baik banget, ada juga yang yaaa… begitulah.
    Iyes, kalo ada yg ga beres dgn para karyawan, mereka ngomong bahasa Mandarin gitu, biar kita-kita ga ngerti, haha… Nice story dari Teteh yg mengingatkan saya dengan masa lalu 🙂

    Reply
  8. yampun dicurigai sampai segitunya ya mba? tapi mba masih betah di sana? Sehat-sehat. ya mba. semoga suatu saat majikan bisa lebih menjaga privasi. enggak enak juga kan pasti kalo setiap saat digeledah gitu.

    Reply
  9. Subhanallah… pejuang devisa, semoga pengorbanannya jadi amal shalih. Teteh yang bantu saya di rumah juga pernahbkerja di singapur, beliau cerita enggak boleh sholat dan puasa sama majikannya. Subhanallah… akhirnya pulang ke Indonesia karena enggak kuat dengan kondisi kerjanya.:(

    Reply
  10. Semangat ya mbak jauh di rantau orang, semoga lancar dan dilindungi. Sisi positifnya mungkin beliau menghawatirkan kalau mbak kenapa kenapa di sana ya. Jadi care banget dengan meriksa ini itu.

    Reply

Leave a Comment

%d bloggers like this: