Semarak Bulan Musim Kawin

Semarak bulan musim kawin benarkah jika disebut juga sebagai bulan musim kebobolan?

Pagi-pagi udah ada yang ketuk pintu. Ternyata tetangga belakang rumah, mengantar hidangan serta kue yang katanya kiriman dari besan. Minggu lalu kami memang baru saja mengantarkan anak bungsunya menikah ke tetangga kecamatan. Mungkin hantaran munjungan itu yang kini dibagikan lagi kepada kami.

“Sengaja pagi-pagi langsung dibagikan, biar bisa dinikmati saat sarapan. Iya, jadi jangan dulu ngabubur. Ini aja buat sarapan ya…” Ucap tetangga yang sudah seperti saudara itu sambil tergelak.

Saya hanya nyengir. Tahu aja dia, kalau hari Jumat ini kan hari pasar di kecamatan tempat tinggal kami ini. Biasanya, saya, suami dan anak kalau hari pasar memang suka sarapan bubur di pasar sekaligus belanja untuk kebutuhan sehari-hari.

Gerak cepat juga tetangga saya itu. Memang benar kalau saja ia agak siang sedikit mengantarkan makanan dan kue-kue itu, bisa-bisa kami keburu berangkat ke pasar. Beruntung banget kan kami akhirnya bisa menikmati hidangan gratis. Hihi, jadinya hemat pengeluaran…

Hemat?

Btw, sebenarnya gak hemat juga. Kalau boleh jujur bulan ini, justru kami ini bisa dibilang kebobolan. Bagaimana tidak, bulan ini di tempat saya bisa dibilang sebagai bulan musim kawin. Banyak banget undangan pernikahan yang kesemuanya tentu saja butuh dana untuk memenuhinya.

Jika biasanya musim kawin jatuh pada bulan Syawal dan Dzulhijjah di Tahun Hijriah, atau bulan Desember di tahun Masehi, maka entah kenapa sekarang di bulan Rabiul Awwal dan jelang Rabiul Akhir yang bertepatan dengan bulan Oktober ini justru dipilih sebagai waktu yang baik untuk melangsungkan pernikahan.

Memang setiap waktu juga baik ya, hanya mungkin di saat bertepatan dengan Rabiul Awwal bulan kelahiran orang terpilih sebagai teladan semua umat yaitu Rasulullah Saw maka dipercaya akan membawa keberkahan dan kebaikan. Dan masyarakat yang masih mempercayai perhitungan Jawa Kuno memilih saat itulah untuk melangsungkan niat baik seperti acara lamaran atau pernikahan.

Momen yang dianggap sebagai waktu yang tepat untuk menyambung silaturahmi dengan orang-orang yang sebelumnya sangat jarang ditemui. Termasuk memilih menyelenggarakan acara hajatan atau lamaran.

Begitu banyaknya hajatan pernikahan di bulan-bulan ini hingga membuat bulan ini dikenal oleh masyarakat sebagai musim kawin. Warga banyak yang memplesetkannya sebagai bulan musim kebobolan. Haha …

Semarak Bulan Musim Kawin

Di kampung saya aja, bulan ini ada lima orang pemuda yang menikah, otomatis tabungan keluar banyak untuk bisa memenuhi undangan mereka. Mau menghindar mana bisa, secara kelimanya itu mereka dulu mengaji di tempat kami. Jadi tidak hanya kenal karena rumah kami bertetangga, tapi juga ada ikatan lebih yang tidak akan lekang, yaitu hubungan antara guru dengan muridnya, termasuk guru dengan wali muridnya.

Mau bagaimana lagi, meski harus kebobolan, tetap harus kami syukuri. Mereka menikah untuk menyempurnakan agama dan kebahagiaan kita sebagai orang tua (guru) bukankah ada pada kebahagiaan mereka juga?

Selama bulan ini sudah tiga kali diajak rewang (membantu keluarga yang hajatan) dan selama itu pula kebahagiaan terpancar dari setiap orang.

Kami para ibu-ibu cukup membantu saat memasak untuk acara syukuran saja. Secara untuk acara resmi lain macam seserahan, resepsi, dan sebagainya sudah dipercayakan kepada wedding organizer. Jadi tidak terlalu repot dan kelelahan seperti dulu. Kini segala urusan sudah jauh lebih praktis.

Tiga pemuda yang sudah kami antar menikah dengan istri pilihannya itu lulusan SMK dan bekerja di perusahaan kontraktor di Kalimantan. Dari segi materi untuk biaya pernikahan mereka semua menduga sudah lebih dari mampu. Tidak heran untuk persiapan pernikahan mereka banyak melihat referensi dan rekomendasi dari internet agar lebih kekinian.

Dua orang pemuda yang baru akan melangsungkan pernikahan tanggal 14 Oktober dan 23 Oktober besok, juga menggunakan jasa wedding organizer untuk kelancaran acaranya. Salah satu teman suami yang berkecimpung di dunia dokumentasi fotografi dan videografi acara pernikahan bilang, mereka itu sudah mencari konsep yang cocok sejak beberapa bulan sebelumnya.

Berbagai artikel terkait pelaksanaan pernikahan terus dibidik. Termasuk artikel dari para travel blogger yang merekomendasikan banyak lokasi bagus untuk gelar acara pernikahan atau lamaran seperti hotel, resort dan sebagainya.

Kami para orang tua di kampung ini, tentu saja hanya tinggal menyetujui pilihan mereka dan atau memberikan masukan jika ada hal yang kurang cocok dengan kebiasaan maupun tradisi setempat. Sungguh keberadaan lokasi yang mampu melengkapi acara seperti yang diinginkan para calon mempelai seperti hotel, resto reviewer ini sangat membantu sekali.

Kecanggihan teknologi mau tidak mau harus kita imbangi supaya kita tidak diam di tempat, atau bahkan jauh tertinggal.

Masih ingat saat saya pertama kali diboyong suami ke kampung ini, mereka pemuda-pemuda yang sekarang menikah itu masih berseragam SD dan getol-getolnya ngaji jadi santri kalong (santri yang tidak menetap). Kini, mereka telah dewasa dan beranjak berumah tangga, adik adik mereka, bahkan anak-anak mereka lah yang bergantian datang untuk mengaji. Seperti itulah kehidupan, datang dan pergi silih berganti.

Semarak Bulan Musim Kawin

Begitu juga dengan keuangan. Seharusnya saya tidak perlu resah menghadapi bulan kawin ini. Saat ada rejeki dan diperuntukkan untuk memenuhi undangan mereka, berarti itu memang rezeki mereka melalui tangan kita. Jadi kenapa harus resah ya?

Toh buktinya selalu ada kebaikan yang mengikuti jika kita pada awalnya berbuat dengan disertai niat baik pula. Seperti hantaran makanan dan kue dari tetangga pagi ini. Bukankah sudah membantu meringankan pengeluaran yang seharusnya dikeluarkan untuk sarapan?

Jadi gak begitu kebobolan juga kali ya, hehe…

33 thoughts on “Semarak Bulan Musim Kawin”

  1. Oalaaa…baca sampai akhir baru ngeuh. “Kebobolan” di sini dari POV kita sebagai yang diundang toh. Jadi kebobolan amplop angpaw. Kirain “kebobolan” dari sisi penganten, setelah menikah lalu hamil…Duh…hehe…
    Guyub ya Teh kalau di tempat Teh Okti, kalau ada gawe, gotong-royong saling bantu.

    Reply
  2. Di tempat daku pernah begitu Teh, lupa tahun berapa.
    Alhamdulillahnya masing-masing si punya hajat membedakan jam nya.
    Sehingga meski dianggap kebobolan dana, tapi bisa diatur jadinya, Waktu brunch di A, lalu jelang sore di B, terus dinner di C, wkwkwk

    Reply
  3. Iya lho Teh, kok belakangan ini kayaknya undangan pernikahan tuh lagi banyaaaakk banget. Jadi emang perlu juga nyiapin dana lebih untuk isi angpaonya dn gimana caranya diatur-atur biar pendanaan kita juga nggak seret.

    Reply
  4. Hahaha kok sama mba, dulunya kalo dpt undangan nikahan berturut2 dalam seminggu udah ketar ketir kwkwk karena sebagian gaji untuk cicilan rumah. Jadi budget nipiss laah kalo buat sedekah (istilahku untuk kawinan haha) gini. Tapi makin kesini makin dibawa slow aja laah, rezeki adaaa ajaaa datangnya dari side job lah, dari remun-nya suami lah hihi, alhamdulillaah dulu

    Reply
  5. musim kawin tuh alamat undangan datang silih berganti, yg artinya kita mesti hadir tuh ke setiap undangan tersebut dan tentunya jg mesti nyisihin uang buat amplopnya juga hihii, jd agak lumayan expensenya ya wkwkwkkw

    Reply
  6. Waktu mudik tahun lalu itu (pas habis syawal) dan sambang ke rumah ibu, dalam satu kampung itu ada 5 kali hajatan coba. Wah kampung itu berasa meriah banget dalam semingguan. Apalagi ada musik jedak jeduk, hehe…

    Reply
  7. Untungnya musim kawin di tempatku lagi reda. Kadang sebulan bs 4-5x tuh. Jebol deh tabungan. Apalagi kalo itu teman kita atau teman ortu kita. Plus yg lbh parah kl ada saudara.

    Agustus tuh kmrn yg plg bnyk. Ampe aku bosen hrs dtg ke kondangan krn menggantikan bapak atau dtg dgn undangan pribadi.

    Reply
  8. Kamu bener banget! Momen-momen kaya gini emang bikin saku agak tipis, tapi kan balikannya dapet berkah dan kebahagiaan. Lagian, ngeliat generasi muda di kampung udah move on dan sukses ngurusin pernikahan sendiri tuh pasti bangga banget ya. Semua punya musimnya, ada waktunya berbagi, ada waktunya menerima. Yang penting hati selalu bersyukur! Semangat buat bulan kawinnya ya!

    Reply
    • Kalau dulu, selain momen kawinan ada yang namanya momen patungan kado ultah teman. Mau enggak mau kuncinya di bajeting. Memang berat juga kalau ada beban cicilan dan ini itu. Tergantung prioritas juga sih. Menjaga tali silaturahmi juga penting.

      Reply
  9. Wah iya nih..saya jg sdh terima bbrpa undangan nikahan pada bulan ini. Tak apa, setuju dg yg mba tulis, bahwa rezeki yg kita sisihkan utk mereka adalah memang rezeki mereka melalui kita.. Selamat makan2 Teh.. hehe

    Reply
  10. Suatu kabar yang membahagiakan ya, teh..
    Bagi shohibul hajat yang kini sudah bisa undang-undang lagi untuk bersama merayakan dan mendoakan kebahagiaan.

    Alhamdulillah,
    oom-ku juga weekend besok menikahkan 2 anak beliau sekaligus. MashaAllaa~

    Reply
  11. Lagi musim karena sebentar lagi Ramadhan, pengennya kan puasa udah ada yang nemenin sahur dan berbuka. Haha. Siap-siap tamu undangan pos keuangan buat amplopnya dialokasikan ya biar nggak jebol.

    Reply
  12. Iya nih harus diakui ada bulan-bulan tertentu dapat undangan nikahan lebih banyak dari biasanya, ngak harus memaksakan diri kalau aku, yah di bagi-bagi aja yang penting hadir dan mendoakan. Tapi memang sih adakalanya kebobolan juga dari segi keuangan kalau yang hajat adalah saudara dekat, ngak mungkin ngasih ala kadarnya…hahaha.

    Reply
  13. Alhamdulillah rezeki ya Teh, walaupun kebobolan, nanti akan diganti rezeki yang lain yang lebih baik
    Sekarang memang lebih praktis kan ya, karena sudah ada WO yang membantu, tidak dihandle sendiri semuanya

    Reply
  14. Wah, baru tahu istilah ini Teh. Memang biasanya ada saja ya waktu-waktu tertentu yang tiba-tiba banyak sekali yang mengundang acara nikahan. Tapi bagaimana pun acara pernikahan memang selalu seru ya. Siapa pun rasanya jadi ikut repot tapi bahagia. Baik yang melangsungkan acara, yang membantu sang calon pengantin, sampai para tamu undangan.

    Reply
  15. Wah banyak juga ya undangan kawinannya, mbak. Kalau saya malah belum ada ke kondangan nih bulan ini. Tapi soal pengeluaran memang kadang ada saja ya yang di luar rencana tapi yakin deh pasti nanti bakal diganti sama Allah

    Reply
  16. Bulan ini emang agak lumayan undangan nikah dan emang jd musim kebobolan mana masih tengah bulan pula . Tapi InsyaAllah rezeki ada aja pintunya yang bisa kita ketok biar kebutuhan utama tetap terpenuhi

    Reply
  17. Samaan mbak, tempat aaya juga lagi. Musim orang nikah. Banyak undangan dan rewangan. Seneng tapi juga bingung bagi dananya… Hehe apalagi belum lama bapak. Saya juga habis nikahkan adik jadi ya ti ggal balikin lagi kan

    Reply
  18. Musim kawin pastinya akan selalu rame dan penuh aktivitas yang tidak biasa.
    Seru dan berkumpul dengan saudara, banyak yang dipersiapkan bersama, senang bagi yang punya hajat, baik yang membantu maupun tamunya, ma shaa Allah.

    Reply
  19. Kalau saya berpegang pada prinsip, ketika diundang maka rezeki orang itu diantarkan lewat kita
    Jadi ketika banyak undangan, tinggal melihat yang mana yang paling bisa dikunjungi tanpa harus melawan bahaya, sebab jika harus uji nyali pun rasanya harus berpikir kalau harus datang, lebih baik ditransfer

    Reply
  20. Kebahagiaan dari rasa kebersamaan itu tuh masuk dalam rezeki ya Teh. Enaknya bisa hidup bertetangga saling membantu, saling peduli, meski kadang ada yang musti kita korbankan. Tapi inshaAllah selalu membawa manfaat ya Teh. Ke depannya mungkin kita yang butuh bantuan orang lain. Kita gak tahu.

    Reply

Leave a Comment

Verified by ExactMetrics