Anak dan Makanan: Jangan Gengsi dengan Takeaway!

Fahmi bersungut. Ngedumel sendiri. “Ih, boros. Jorok lagi, ya Bu? Itu kan nasinya nangis kalau gak habis.” Suaranya ditujukan kepada satu keluarga yang baru saja selesai makan di meja sebelah tempat kami duduk. Keluarga itu terlihat memang seperti orang berada. Tiga anaknya bicara berbahasa Indonesia meski dialeknya campur Basa Sunda. Dua anak di antaranya main ponsel pintar. Yang paling kecil masih gelayutan sama ibunya, rempong dengan berapa mainan anak yang kekinian. Ayahnya sibuk bolak-balik, merokok. Entah kenapa mereka makan sedikit {Read More}