Anakku Milih Mertuanya

Anakku Milih Mertuanya

Saat hampir sebagian besar menantu (perempuan) takut kepada (ibu) mertuanya dan cenderung lebih dekat kepada ibu kandungnya, ternyata ada loh anak perempuan yang (terlihat) lebih senang bersama ibu mertua dan keluarga besar suaminya, dari pada bersama ibu sendiri dan keluarga besar dari saudara sekandungnya.

Bagiku tidak mengapa. Bukankah mertua juga adalah orang tua kita juga?

Aku memang sudah tua dan sakit-sakitan pula. Struk membuatku berjalan tidak normal, sehingga segala aktivitas tidak bisa aku lakukan sendiri. Sejak ditinggal suami anak perempuan yang terbesar berkeluarga dan pindah ke kota. Maka aku tinggal bersama anak laki-laki, si bungsu yang selalu menggendong, memandikan, dan melakukan apa saja permintaanku.

Seharusnya (banyak yang bilang) anak perempuan yang lebih pantas mengurus ibu kandung dengan kondisiku seperti ini. Anak perempuan memandikan ibunya tentu terlihat lebih pantas dibanding anak laki-laki. Tapi mungkin anak perempuanku sudah punya keluarga sendiri, sudah ada kewajiban nya, tinggal di kota pula. Sehingga aku mengerti dia bukan tidak ingin merawatku sepenuhnya.

Pernah aku diajak tinggal di rumah anak perempuanku di kota. Namun aku yang merasa malu, menyadari sepenuhnya kondisiku yang sakit-sakitan dan tidak bisa berjalan normal. Aku hanya bisa diam. Menahan lapar kalau tidak disuguhkan makanan, menahan pipis kalau tidak ada yang memapah ke kamar mandi. Aku tahu dia anak perempuanku tapi aku juga tahu mungkin anakku malu dengan keberadaanku. Aku memilih pulang kampung saja. Tinggal di gubuk reyot dilayani oleh anak laki-laki yang lebih ngayomi.

Saat aku pulang terlihat anak perempuanku jadi lebih periang. Mungkin ia merasa lebih bebas dan tidak terbebani lagi oleh keberadaanku. Syukurlah. Sebagai orang tua, bukankah hanya kebahagiaan anak yang selalu dipanjatkan saat berdoa?

Aku mengikhlaskan ketika setiap lebaran anak perempuanku tidak bisa mengunjungiku, berlebaran denganku. Selain jarak yang jauh, di kota juga bukankah ada ibu mertuanya? Bukankah mertua juga adalah orang tua nya sendiri?

Saat aku sakit parah, panggilan dari adiknya yang memohon untuk menyempatkan lebih dulu menengokku tidak juga dipenuhi nya, aku tidak bisa berbuat apa. Anakku sudah menikah dan punya kewajiban. Aku tidak mungkin memaksa kalau tidak ada izin dari suaminya. Apalagi mertuanya di sana juga sudah tua dan banyak merasa gejala.

Ketika aku tidak berdaya, suruhannya kepada adiknya supaya aku yang sebaiknya datang ke rumahnya biar bisa berobat di kota, aku syukuri teramat dalam. Ternyata anak perempuanku masih mau merawatku. Tapi kondisiku tidak memungkinkan melakukan perjalanan jauh.

Aku memilih diam dalam dekapan si bungsu, anak laki-lakiku. Menghitung setiap nikmat dan kasih sayang Nya yang selama puluhan tahun aku terima hingga bisa membesarkan anak-anakku yang kini sudah sukses dengan kehidupannya masing-masing.

Aku bahagia melihat si sulung lebih periang dan usahanya lebih lancar. Mengantarkan cucuku sekolah di tempat ternama dan nomor satu di kotanya. Bersyukur tidak terkira melihat anakku bisa menemani jalan-jalan ibu mertuanya, adik dan kakak iparnya juga keponakan-keponakannya. Bukan hanya di kota besar yang jalannya mulus, tapi juga ke luar kota yang jalannya parah seperti jalan ke kampungnya tempat aku berada bersama adik bungsunya.

Aku hanya mengira mungkin anak perempuanku tidak lagi enak pikiran saja ketika bersikap dingin dan tidak ramah kepada adik iparnya, menantuku. Istri dari anak bungsuku yang merawat dan ikhlas mengurusku sebagaimana mengurus anaknya yang baru lahir.

Aku pikir anak sulungku belum akrab saja dengan mantuku, istri si bungsu ketika sikapnya tidak seramah kepada ipar-ipar lainnya dari pihak suaminya.

Tahun baru, anak perempuanku mengajak jalan-jalan ibu mertuanya ke luar provinsi. Macet dan cuaca buruk bukan lagi sebuah halangan. Sesuatu yang mustahil ia dikabulkan jika perjalanan itu aku yang memintanya.

Sementara itu tahun baru aku hanya sendiri dalam sepi. Tidak ada anak yang menamani. Eh! Hampir saja lupa, tahun baru sebenarnya ada paketan khusus yang dikirim anak bungsuku bersama anak istinya. Kiriman doa, bacaan ayat-ayat Al Quran bahkan hingga beberapa surat, serta salawat yang semuanya dikhususkan mereka untuk menemaniku dan meramaikan masa-masa penantianku di dalam kubur ini.

Alhamdulillah. Masih ada anak soleh yang tidak melupakan ibunya.

 

 

Comments

  1. Aku sih klo dihadapkan pd pilihan hrs merawat ortu sendiri atau mertua, ya akan nanya suami dulu. Krn perintah suami yg hrs kulakukan sbg istri. Alhamdulillah suamiku sangat pengertian dan memahami.kondisiku shg aku tak pernah dihadapkan pd situasi hrs memilih.

    • tetehokti says:

      Alhamdulillah ya Mbak…
      Masalah ada kalau suami mempersilahkan istri memilih dan si istri justru enggan ke kampung enggan ribet dan enggan akur sama ipar dari saudara sekandungnya. Beda kalau sama ipar dari suaminya ramah dan baik2

  2. Endingnya nggak terduga banget nih :’) Keren fiksinya Teh Oktiiiii <3

  3. Kisah yang sarat akan pembelajaran…Saya salah satu menantu yang lebih berat ke ibu kandung..sudah berusaha menyeimbangkan tapi kadang terasa masih sulit..hehe..salam dari Lombok..:)

  4. Ini fiksikah? Ya ampun aku terhanyut

  5. aku pribadi dekat banget sama mertua. mungkin karna beliau gak punya anak perempuan jadinya deket

Speak Your Mind

*