Keberhasilan karena Kesungguhan 

Keberhasilan karena Kesungguhan 

Keberhasilan selain sudah jadi ketentuan Nya, juga salah satunya ditentukan oleh sugesti dari dalam diri. Bukankah sudah dijelaskan jika Tuhan tidak akan merubah nasib suatu kaum jika kaum tersebut tidak merubah nasibnya?

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka ” QS 13:11

 

Manusia yang diberi akal, adakalanya timbul dalam benaknya sebuah ide atau buah pikir. Jika manusia pandai mengolah idenya tidak heran kemudian hari ia akan memetik sebuah tindakan.

Tindakan yang ditanam dan dipupuk terus menerus akan berbuah kebiasaan. Dan kebiasaan yang terus dijaga ini lambat laun akan menguat sehingga menjelma menjadi watak.

Melanggengkan kebiasaan akan menimbulkan watak. Jauh di ujung watak ini ada ketentuan yang bernama nasib.

Kalau diputar lagi maka tingkatannya dimulai dari ide atau gagasan yang diwujudkan dalam tindakan. Tindakan yang dilakukan berulang menjelma jadi sebuah kebiasaan. Kebiasaan kita yang dilakukan secara terus menerus konon cikal bakal yang menjadi watak. Si watak inilah yang akhirnya membawa manusia kepada nasib.

Karena itulah ada istilah nasib kita ada di tangan masing-masing  karena secara tidak langsung kita sendiri sejak awal sudah menentukan nasib kita itu sendiri.

Tidak heran kalau sesepuh di daerah termasuk para guru ngaji dan aki nini sering memberikan wejangan berupa sesuatu yang harus ditanam dalam pikiran. Sesuatu yang harus diyakini dalam hati karena mereka percaya jika diri telah percaya, maka akan timbul tindakan yang dibiasakan dan jika dilakukan secara terus menerus akan menjadi doa dan mantra.

Sejak belajar mengaji (meski sebentar dan itu pun nyambil sebagai santri kalong) di Al Istiqomah Sukaratu (yang beberapa minggu lalu baru saja dikunjungi Gubernur Jawa Barat) pak guru mengaji sudah memberikan kunci keberhasilan untuk semua anak didiknya dari awal.

Beliau menuliskannya dengan jelas di papan tulis dengan huruf latin yang sangat cantik dan rapi:

Man Jadda Wa Jada

(Siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil)

kalimat itu bukan hanya sekadar kata mutiara, atau motivasi bagi para santri, tapi memang mengandung “kekuatan” yang mensugesti sikap serta perilaku sehingga santri semakin semangat mencapai keberhasilan.

Belakangan sekitar tahun 2009 saya baru tahu lebih detail dengan kalimat sakti itu dari Novel Ahmad Fuadi yang berjudul Negeri 5 Menara, kemudian Ranah 3 Warna dan disusul Rantau 1 Muara.

Bahwa dalam perjalanan hidup dan karirnya ternyata juga disokong dengan kalimat sakti yang dibawa dari pesantren moderen sekelas Gontor. Man Jadda Wa Jada.

Sehingga saya pun menjadi semakin tahu jika masih ada kalimat sakti selanjutnya yaitu:

Man Shobaro Zafiro (Siapa yang bersabar akan beruntung) dan Man Saaro ‘Alaa Darbi Washola (Siapa yang berjalan di jalur-Nya akan sampai). 

Tidak ada ucapan sepuh atau guru kecuali punya kekuatan dan mengandung doa. Meski saat itu meski belum yakin (belum mengerti) sepenuhnya tapi saya sudah mencoba menanamkan dalam diri terkait kalimat sakti man jadda wa jada.

Saya menyadari bagaimana kondisi saya dan keluarga. Setinggi apapun cita-cita saya tapi ibarat punguk merindukan bulan, realita lebih dulu bicara dan itu jadi fakta.

Tapi dengan Man Jadda Wa Jada itu saya seolah dituntun untuk bisa fokus dan belajar konsisten. Tak apa tidak ada biaya untuk sekolah tapi sejak ada kesempatan untuk bisa menulis maka saya terus menulis. Tidak jadi soal apa yang saya kerjakan sedang tidak trend atau jauh dari sesuatu yang bisa menghasilkan uang (segera) tapi kalau terkait puisi dan prosa saya tetap berusaha rutin menjalaninya. Karena saya sudah memiliki semacam ada “kepercayaan” barangsiapa yang bersungguh-sungguh maka ia akan berhasil.

Hasilnya? Mungkin saya masih jauh dari kata sukses. Tapi setidaknya kini saya sudah punya ruang dan kemampuan sendiri. Allah SWT meberikan apa yang jadi ide pikir saya menjadi sebuah kebiasaan dan ketika saya terus menerus mengasahnya kebiasaan ini menjadi watak hingga menimbulkan nasib saya saat ini.

Saya bukan siapa-siapa. Saya hanya seorang perempuan desa yang merasakan benar kekuatan magic dari kalimat Man Jadda Wa Jada. Saya merasakan benar atas keberhasilan yang telah saya capai dimulai dari kesungguhan. Itu saja.

 

Comments

  1. terima kasih untuk tulisannya teh okti, benar hanya yg tekun dan bersungguh2 yg akan berhasil di bidangnya

  2. insyaaAllah, setiap usaha keras pasti ada hasilnya
    mencerahkan

Speak Your Mind

*