Nasib Toko Buku

Nasib Toko Buku Jaman Now Sebatas Persinggahan

Sebuah toko buku berdiri di dekat Masjid Agung Cianjur. Sayang nasib toko buku itu hanya sebagai persinggahan sesaat saja. Dituju hanya oleh orang yang punya kepentingan pribadi, bukan karena ingin mengetahui informasi buku terbaru atau mendapatkan kesempatan membeli buku dengan harga lebih murah, tetapi karena kepentingan pribadi itu tadi…

Kepentingan pribadi yang saya maksud adalah seperti mampir ke beranda toko buku karena hendak ikut meneduh saat hujan saja, masuk sebentar ke dalam ruangan toko buku yang tertutup rapat karena menggunakan AC, sekadar merasakan suasana sejuk, lalu keluar begitu saja setelah keringat di dahi mengering… Dan tujuan serta kepentingan pribadi lainnya.

Begitulah nasib toko buku yang masih bertahan sampai sekarang. Setidaknya itulah yang bisa saya tangkap ketika diam-diam memperhatikan. Toko buku tidak lebih dari sekadar persinggahan. Bukan sebagai tujuan untuk mencari buku untuk dibeli, atau melihat buku kemudian membaca jika tersedia buku yang telah dibuka segelnya.

Saat minat baca masyarakat berkurang, berimbas terhadap kegiatan mengunjungi toko buku pun mulai menipis, bersyukur di lain pihak masih ada yang selalu peduli untuk menyediakan buku bacaan, secara gratis pula.

Toko buku di samping Masjid Agung Cianjur bisa dibilang sepi, namun kotak literasi cerdas masyarakat alias kolécér yang tersedia di alun-alun masjid cukup banyak diminati. Anak-anak, remaja dan orang tua terlihat hampir berebut mengambil buku. Padahal buku yang tersedia tentu saja sangat terbatas. Meski memang ketika saya lihat stok buku yang disediakan cukup lengkap.

Harus diakui minat masyarakat di Cianjur khsususnya mengunjungi toko buku (yang identik dengan membeli buku alias mengeluarkan biaya) masih rendah. Saya yakin tidak banyak orang Cianjur yang memiliki pengeluaran rutin menyisihkan anggaran biaya bulanan untuk biaya membeli buku (baik bekas maupun baru).

Jangankan membeli alias mengeluarkan biaya, membaca dengan gratis saja, seperti di perpustakaan daerah yang berada di bekas lokasi SMAN 2 Cianjur setiap hari sangat sepi. Padahal fasilitas cukup lengkap. Lalu apalagi mengunjungi toko buku yang rata-rata di Cianjur ini tidak difasilitasi ruang baca, air conditioner, dan atau kelengkapan lainnya?

Andai suami mengizinkan, saya sendiri ingin berlama-lama tinggal di Cianjur bagian kota ini. Ingin mengunjungi sepuasnya toko buku di samping Masjid Agung, ingin datang ke Perpustakaan Daerah Pemda Cianjur, ingin eksplor setiap kios atau bangunan yang menamakan dirinya toko buku, menjual buku, atau apalah tempatnya tapi mempersilahkan kita untuk yuk membaca.

Saya sediri selalu merasa damai dan tenang jika tengah berada di toko buku. Lupa akan urusan kerja, rumah tangga, anak dan bahkan lupa hutang, jika punya. Pokoknya saya ya fokus ke buku dan buku saja, begitu.

Toko buku jaman saya SD, tidak sebebas jaman sekarang. Mengeluarkan uang untuk membelinya, baru bisa membaca buku yang dipilih. Toko buku saat ini memiliki banyak kelonggaran. Meski tidak membeli, kita bisa mengunjungi, melihat buku pajangan, mengetahui informasi buku terbaru yang keluar, novel mana yang lagi best seller, dan membaca buku yang sudah lepas segel.

Mungkin karena banyak kelonggaran itu, toko buku saat ini seolah tidak berharga. Orang seperti jadi enggan membeli buku. Toh bisa download ebook atau baca resensi melalui internet, gitu pikirnya.

Tidak salah, memang demikian pemikiran saya juga. Saat ini saya pun jarang membeli buku dewasa. Lebih banyak membeli buku bacaan anak-anak, yang memang saya khususkan buat mereka, anak didik di sekitar rumah yang tidak pernah ke toko buku sama sekali.

Jadi jika saya tanya balik, “Apa yang dirasakan ketika berada di toko buku?” dan pertanyaan lanjutannya “Apa pendapatmu terkait toko buku sekarang?” Apa jawabanmu, teman?

Comments

  1. Aku sampai sekarang masih memilih bacaan cetak Teh, masih lumayan sering sih beli buku, selama memang utuh dan ingn baca. Memang toko buku sudah enggak seramai dulu sih, tapi masih memiliki peminat

  2. Duh iya..saya sudah lama tidak ke toko buku. Samar2 masih ingat rasa bahagia bila ada di sana, dikelilingi aneka buku dengan aneka informasi…meski ujung2nya sibuk di rak novel! Haha…

  3. dulu di gerlong ada MAA toko buku paporit mahasiswa, ga tau sekarang nasibnya gimana, soalnya dulu pun toko kecil gtu, banyaknya aku beli buku kajian islam. orang skrg kynya lebih suka ke tokbuk gede sambil ngemall

  4. Ho’oh Mba.
    Tobuk sepiii banget.
    Kalo mall di food court dan game zone sih rame paraaah
    Tobuknya sepi

  5. Saya tetap lebih suka baca buku daripada ebook. Kayaknya mencium bau buku aja udah senang. Lagipula, kepala cepat pusing dan mata juga cepat lelah kalau baca ebook. Jadi saya tetap beli buku samapai sekarang

  6. Iya, emang bikin sedih sih kalau lihat nasib toko buku sekarang. Saya yang sejak dulu suka datang ke salah satu pusat jual buku, juga merasakan kalau sekarang makin sedikit yang mau datang ke toko buku (kecuali kalau momen ajaran baru).

    Ohya meski ada ebook, tapi jujur saya masih tetap senang baca buku yang ada fisiknya, karena lebih enak aja gitu rasanya.

  7. Di Gramedia deket rumah juga udah sepi kak tapi saya sendiri sama anak2 masih suka kesana dan lebih enak aja gt kalau baca buku langsung di bandingkan ebook.

  8. Masyarakat di Jakarta saja masih banyak yang malas membaca buku, bagaimana yang di daerah ya? Tapi jujur saja saya masih suka baca buku fisik daripada e-book, soalnya bikin sakit mata 🙁

  9. aku alhamdulillah masih cinta buku mbaa..dan berhasil menularkannya ke anak-anak. Kami punya perpustakaan di rumah yang lumayan banyak, apalagi waktu di AS kami banyak beli garage sale baik di sekolah anak-anak maupun di tempat lain. Buku sudah seperti harta berharga hehe. Walaupun memang repot saat kami harus berpindah tugas ke sana – sini

  10. Alhamdulillah,
    Alternatif membaca buku saat ini sudah banyak.
    Kalau toko buku di Bandung, alhamdulillah nyaman.
    Tapi sekarang juga banyak Cafe yang menawarkan baca buku di tempat.

  11. Saya udah ngga pernah beli buku dewasa macam novel atau buku pengembangan diri. Tapi setiap bulan tetap beli buku buat anak-anak seperti ensiklopedia, dongeng, komik, novel, terus dibaca bareng anak-anak 🙂

  12. Engak deh mba kalo sebagai persinggahan aja. Karena sekarang banyak toko buku yg memberi experience tertentu. Misalnya ada cafe, diskon, wah banyak deh. Aku juga masih suka ke toko buku siy hehe

  13. bebrapa bahan bacaan masih asik dibaca secara fisik, tapi memang sih jagnankan di Cianjur, di kota besar pun toko buku sudah mulai sepi,kecuali kebutuhan untuk sekolah dan kuliah.

  14. Iya sih, sekarang banyak toko buku milil masyarakat (*bukan milik penerbit) yang gulung tikar. Di daerahku juga nih

  15. Tapi yang bikin ngenes itu, kenapa pas ada big bad wolf antriannya selalu mengular panjang banget ya? Jadi kasihan ama toko buku

  16. Toko buku masih jadi tempat favoritku Teh heheheh
    Aku belum pernah coba kafe yang ada bukunya, penasaran juga menikmati seru pastinya.
    Walaupun sekarang digampangkan ngakses via ebook, tetep aja buku fisik jadi idolaku

  17. Dulu saya sering berlama-lama di toko buku sama anak sulung saya. Kalau ke mall, tujuan pertamanya pasti ke toko buku. Baru setelah itu keliling ke tempat lain.
    Sekarang? Saya jarang ke toko buku karena lebih sering beli secara online.

    Insya Allah, semoga benar ya, masih banyak orang-orang yang menyukai buku. Karena untuk saya pribadi, membaca buku fisik itu lebih nyaman di mata daripada membaca e-book.

  18. Beda orang memang beda kepentingan ya mba. Kalau aku ya, masuk ke toko buku itu seperti ketemu kekasih, nyandu dan penginnya berlama-lama. Hanya saja memang perlu diwaspadai soal kesehatan kantong. Satu-satunya tempat yang sukses merampok dompetku adalah toko buku soalnya hehehee… kalau kayak toko baju atau fashion gitu aku masih bisa kendalikan. Kalau toko buku, waahhh.. cobaan banget deh :))

  19. Di Lombok peminat toko buku semakin sepi saja.

Speak Your Mind

*