Baru juga mau istirahat sebentar setelah solat ashar yang udah sedikit mendekati akhir waktu, kamis sore hari pertama di tahun baru itu tetangga sebelah rumah ketuk pintu, menyampaikan undangan dari Pondok Pesantren Mazroatul Ulum Citiis.
Kamis pagi sampai ashar, kami memang tidak ada di rumah, udah tiga minggu setiap Kamis saya berangkat ke rumah almarhum mama di Sukanagara, untuk membantu adik dan saudara lain menyiapkan tahlil ibu saya malam jumatnya.
Ternyata undangan itu untuk acara resepsi dari murid suami di ponpes tempat mengajar di tingkat Madrasah Aliah. Hari nya Sabtu 3 Januari. Lokasinya di kampung Sidamukti Desa Girimukti, Pasirkuda.
“Wah, jauh itu Girimukti mah, udah mau ke perbatasan Bandung. Sekitar satu jam dari sini. Itu baru ke desanya aja. Dari desa ke kampungnya ini sekitar satu jam lagi. Mana belum tahu juga akses jalannya bagaimana…” Kata suami mengeluhkan.
“Tapi kalau gak hadir, malu sama sesepuh pondok, secara pengantin perempuan adalah murid di MA, dan pengantin laki-lakinya adalah pengurus pondok. Kita lihat guru-guru di Aliah aja, Bu. Kalau mereka berangkat kita ikut. Kalau mereka tidak, kita juga batal saja.” Pertimbangan suami demikian karena memikirkan akses jalan ke Sidamukti yang masih rusak terutama dari persimpangan Rawa Getok nya (dekat Curug Citambur).

Apalagi akhir-akhir ini hujan terus menerus turun, bikin jalan pasti becek, licin dan kemungkinan ada longsoran di perjalanan mengingat ke Sidamukti itu melewati beberapa puncak bukit.
Tidak disangka guru-guru MA di group justru mengabarkan untuk janjian berangkat bareng. Terutama guru-guru wanita, mereka malah menyarankan pulangnya sekalian main ke air terjun Citambur.
“Gak bosan apa main ke Citambur melulu?” suami membalas pesan di wag MA.
“Ih enggak atuh Bapak. Apalagi suamiku kan kemarin gak ikut. Jadi ini momen kami bertiga. Seperti Bapak, Ibu dan Fahmi kemarin, gitu loh.” Balas Bu Soni diiringi emoticon tertawa.

Memang waktu awal September 2025, pas Fahmi pulang liburan dari pondok (libur semester pertama berdasarkan penanggalan tahun Hijriah) teman-teman ngajar suami di MA Mazroatul Ulum Citiis ini mengadakan piknik ala-ala ke Citambur. Ya bukan piknik sebenarnya karena banyak yang udah tahu dan lokasi juga sangat dekat. Bisa dibilang silaturahmi mempererat persaudaraan sesama guru MA aja gitu.
Dan saat itu, yang datang tidak semuanya. Personil lengkap hanya kami (saya suami dan Fahmi) lalu Bu Rini beserta suami yang juga guru MA dan dua anaknya, Bu Mala beserta suami dan putrinya. Bu Syifa dan Pak Opik (keduanya ngajar di MA) beserta putranya. Sementara Bu Soni hanya beserta putrinya karena suami sedang kerja.
Yang tidak hadir saat itu Bu Ruruh, Pak Asep 1, Pak Asep 2 (ada dua nama Asep guru di MA) dan Pak Kamil.
Karena itu kesempatan main ke daerah Desa Girimukti yang bertetangga dengan Desa Pusakajaya dimana Curug Citambur berada ini dijadikan kesempatan untuk sekaligus mampir lagi ke Curug Citambur.

Ternyata hari Jumat sore hingga malam hujan turun hampir tidak berhenti.
“Bisa jadi ke Sidamukti nya batal nih” ucap suami sambil menerawang ke luar rumah dari balik jendela.
Saya pun tidak mempersiapkan pakaian dan lainnya seperti biasa kalau mau ke acara pernikahan. Dipikir buat apa dipersiapkan kalau besar kemungkinan bakalan batal.
Sabtu pagi ternyata hujan masih turun. Kami malah lesehan sambil nonton dan mendengarkan pengajian lewat streaming. Suami sesekali cek wag MA, takut ketinggalan info.
“Jam berapa kita berangkat? Cuaca agak cerah nih.” Salah satu teman suami bertanya di group.
Memang jam tujuh lewat di tempat kami juga hujan tidak turun lagi. Sinar matahari muncul dengan terangnya dibalik awan.
“Jam 10 ya, saya mau isi bensin dulu di SPBU Pagelaran” jawab Bu Soni.
“Bu, mereka jadi berangkat, gimana kita ikut saja?” suami meminta jawaban.
“Ya ayo ikut saja. Semoga cuaca bagus sampai kita pulang nanti.” Jawab saya sambil segera mencari pakaian yang cocok.
Saya pikir karena kondisi jalan banyak yang rusak, mana becek dan siapa tahu di tengah perjalanan turun lagi hujan, akhirnya saya memilih mengenakan setelan touring saja, rok celana dengan tunik dan jilbab warna senada. Sendal juga sendal karet biasa, supaya saat kena kotoran air hujan bisa dengan mudah dibersihkan. Kaos kaki tentu bawa cadangan.
“Kami tunggu di pertigaan Pasir Haur” kata Pak Opik menginformasikan.
“Kami udah selesai isi bensin.” Kata Bu Soni.
Dan tiba-tiba beliau japri nomor suami, jadi berangkat gak katanya?
“Siap Bu. Kami meluncur ke Pasir Haur ketemu Pak Opik di sana,” balas suami. Padahal dia belum mandi. Hihi, tapi bilangnya udah otw.
Lima belas menit kemudian saya dan suami pun berangkat. Tidak lupa membawa jas hujan.

Sampai di Pasir Haur bertepatan dengan keluarnya sepeda motor Pak Opik beserta Bu Syifa. Kami turun bersamaan dan bersalaman. Buat saya ini pertemuan terbaru setelah liburan bersama Fahmi September lalu itu.
Senang waktu menyapa Zulfikar, putranya Pak Opik dan Bu Syifa yang berusia 4 tahun masih mengenali saya.
Lebih senang lagi melihat pakaian yang saya pakai warnanya senada dengan seragam yang dipakai Bu Syifa, dan juga pastinya buibu guru lainnya. Padahal saya dan mereka tidak janjian.

Tidak lama Bu Soni dan putrinya beserta suami juga muncul. Beriringan dengan Pak Asep 1. Jadilah empat motor kami berangkat menuju pertigaan Rancagoong menunggu Bu Ruruh.
Di minimarket dekat Desa Kubang, kami berhenti karena ada yang mau belanja. Saat itu kami diskusi dan mengumpulkan donasi eh uang untuk disatukan. Jadi nanti diatasnamakan dari guru-guru MA. Yang pegang tentu saja Ketua Squad, siapa lagi kalau bukan Bu Soni. Hihi…
Dari obrolan depan minimarket sambil nunggu yang belanja saya tahu kalau Bu Rini dan Suami gak bisa ikut karena takut cuaca tidak bersahabat. Dengan anak dua laki-laki yang masih kecil mungkin memang diperlukan perjuangan banget ya kalau mau bepergian. Bu Mala juga tidak ikut bersama kami.
Selesai diskusi dan belanja kami lanjutkan perjalanan menjemput Bu Ruruh. Cuaca di Kubang saat itu panas. Kami sampai kegerahan saat berhenti depan minimarket tadi.
Di depan brilink pertigaan Rancagoong sesuai yang dijanjikan, ternyata Bu Ruruh belum ada. Dihubungi oleh Bu Soni, katanya masih ini, masih itu, dll. Akhirnya kami turun lagi menunggu sambil bersenda gurau. Saat itu cuaca sudah berubah mendung lagi. Bahkan ketika Bu Ruruh sampai dan saya sempatkan bersalaman dulu karena ini pertama kalinya saya dan beliau bertemu bertatap muka langsung, rintik hujan sudah mulai turun.
“Di Pertigaan Simpang, ada Pak Asep 2 ya,” kata Bu Soni menginformasikan sebelum kami melanjutkan perjalanan. Walaupun laki-laki tapi namanya tidak tahu lokasi, memang lebih baik berangkat bareng kan ya. Apalagi ini membawa nama satu instansi, Guru MA. Jadi bagusnya emang bareng-bareng berangkatnya.
Ketika lewat pertigaan Simpang, Pak Asep 2 sudah standby. Kami tidak berhenti karena hujan sudah mulai turun.
Enam motor akhirnya beriringan menerjang hujan. Padahal itu menurut suami belum setengah jalan. Waduh, masih lama ini perjalanan? Untung saya pakai setelan balap. Bukan gamis kaya Buibu guru MA itu. Jadi saya lebih leluasa membonceng suami walau kondisi hujan.
Lama-lama kepikiran juga, kalau menembus hujan yang semakin deras, pakaian bisa basah, bisa malu datang ke resepsi dalam kondisi jibrug alias basah kuyup. Mana jalan juga berbahaya. Dingin juga kalau naik sepeda motor dalam cuaca hujan bisa menyebabkan sakit.
Akhirnya kami semua berteduh di daerah Cimaja. Depan sebuah bangunan ruko yang baru setengah jadi.

Gak disangka ada penjual jajanan sudah mangkal di sana. Si mamang jualan Sosis bakar, bakso bakar, jagung susu keju, dan cireng semua dalam satu motor.
Awalnya Zulfikar putra Bu Syifa yang jajan jasuke. Diikuti putrinya Bu Soni. Lalu putrinya Bu Ruruh. Kami bersenda gurau jadinya dengan celotehan yang absurd,. Sebelum makan di resepsi yang entah kapan sampainya karena hujan justru malah semakin besar, mari kita jajan dulu sepuasnya. Yang diuntungkan si mamang yang jualan dong.
Tergoda dengan jagung yang panas dengan keju yang lumer saya akhirnya jajan juga. Berdua dengan suami karena porsinya cukup banyak.
“Borong Bu, mumpung si Ade Fahmi ga ada. Nanti kalau Ade Fahmi pulang, ibunya kan yang puasa.” Seloroh Bu Syifa. Kami semua tertawa.
Sambil jajan dan bercanda ditemani hujan yang tidak mereda saya lihat jauh ke perbukitan di sana masih tertutup awan dan kabut hujan. Entah kapan bisa berakhir.
“Bisa-bisa kita solat duhur disini nih,” kata bapak-bapak sambil bercanda.
“Asal jangan nginep disini, kadung udah pergi dan ngasih tahu kita guru MA mau datang nih,” timpal Bu Soni. Dan sampai adzan duhur terdengar, bener saja kami masih terjebak di depan ruko setengah jadi itu.
Setelah berdiskusi akhirnya sepakat untuk tetap berangkat melanjutkan perjalanan meksipun hujan dan harus pakai jas hujan. Bu Soni dan Bu Ruruh sampai membeli jas hujan sekali pakai di pinggir jalan demi kenyamanan putri-putrinya.

Enam motor kembali beriringan menerjang hujan. Sampai pertigaan menuju rawa getok (danau getok) jalan masih mulus. Tapi lewat pertigaan itu, asli jalan terjal berbatu ibarat sungai yang kekeringan (dan kali ini jadi sungai kering yang kehujanan) sampai berkali-kali mesin sepeda motor suami terbentur bebatuan jalan saking menonjolnya.
Tidak lama melewati rawa getok, jalanan mulai berkelok menurun curam. Saya sampai berpegangan dengan erat saking khawatir jatuh. Walaupun sebagian jalan sudah dicor tapi karena terhalang rimbunnya pohon bambu sehingga tumbuh banyak lumut dan menyebabkan jalanan licin.

Habis turunan yang curam itu (tandanya baru melewati satu bukit) kami melewati jembatan rawa getok. Jembatan cukup kuat dan bagus. Hanya jalan setelahnya masih banyak yang hancur.
Habis turun terbitlah nanjak. Ya setelah melalui jembatan rawa getok jalan kembali menanjak dan berbelok dengan tajam. Sampai kaget ketika di belokan yang sempit dari arah berlawanan ada kendaraan bak terbuka yang sedang melaju juga. Mobil itu segera menepi karena kami yang menanjak membutuhkan ruang lebih banyak.
Baru tahu kalau tanjakan itu ternyata tanjakan Sukalaksana yang viral karena banyak netizen yang bikin konten di tanjakan curam seperti cacing tersebut.
Baru tahu saat sudah di tempat resepsi kemudian, kalau paginya, saat mengantar calon pengantin laki-laki kendaraan dari Ponpes Mazroatul Ulum Citiis, hampir semuanya tidak bisa menyelesaikan tanjakan curam yang berkelok itu. Para santri pun sigap standby di pinggir jalan lalu mendorong kendaraan yang tidak melaju sehingga akhirnya bisa melewati tanjakan viral tersebut.

Ketika sampai di depan Kantor Desa Girimukti (yang ada di maps) ada persimpangan jalan. Takut salah, kami bertanya ke penduduk setempat dan ditunjukan jalan kalau mau ke kampung Sidamukti ambil arah yang ke kiri.
Berkali-kalai melewati jalan naik turun lagi hingga kami sampai di puncak bukit yang entah keberapa dan disini selain banyak pohon pinus banyak pula di bawahnya ditanam pohon kopi.

Dari sini saya baru berani melihat pemandangan sekitar karena hujan mulai mereda. Masyaalloh… ternyata posisi saat itu beneran berada di puncak bukit. Melihat ke bawah sana, terlihat begitu kecil jalan tadi yang sempat dilewati. Rasanya takjub banget.
Melihat awan putih bergerak berarak di bawah sana seolah kami ini berada di atas awan. Sungguh pemandangan yang luar biasa. Berasa beneran bepergian ke ujung dunia saja. Haha…
Ternyata dari situ menuju ke lokasi resepsi masih harus mengendarai sepeda motor sekitar setengah jam. Jalan lumayan bagus karena sudah diaspal sebagian. Sebagian lagi ya rusak gitu deh. Apalagi kalau ada yang longsor, biasanya kan tidak segera diperbaiki jadinya ya rusaknya merembet.

Hingga jam 13.00 wib akhirnya kami tiba di masjid Jami kampung Sidamukti. Di sana sudah banyak santri yang menunggu kami. Karena sebelumnya mereka selalu berkomunikasi dengan Bu Soni.
Kami memarkirkan sepeda motor, menanggalkan jas hujan dan tanpa benerin make up langsung menuju kampung di bawah sana menuju lokasi resepsi. Iya, masih harus jalan kaki lagi… wasai… beneran perjalanan menuju resepsi di ujung dunia banget ini mah…
Jalan kaki dengan kondisi menurun yang licin bikin kami merayap sambil berpegangan. Terlihat gamis para guru wanita udah kotor dan basah, ah cuek saja. Boro-boro memperhatikan penampilan, selamat di perjalanan aja udah bersyukur banget.
Dan hal yang tidak diinginkan beneran terjadi. Bu Soni yang berjalan depan saya tidak mampu menahan berat badan hingga saat menginjak jalan tanah yang basah licin berlumut akhirnya terjatuh. Blug!
Astagfirullah… saya langsung menjerit dan berusaha membangunkannya. Walau ga bisa karena postur tubuh Bu Soni jelas lebih tinggi besar daripada saya. Setelah datang suaminya yang berjalan di belakang akhirnya bisa bangun dan mencoba melanjutkan perjalanan.
Pakaian kotor tidak begitu terlihat karena ditutup kardigan dengan warna senada. Padahal menuju tempat resepsi sekitar 50 meteran lagi. Namanya musibah ga ada yang tahu ya. Yang dikhawatirkan jatuh di perjalanan tadi saat mengendarai motor, eh ternyata malah jatuhnya di halaman rumah.
Sesampainya di depan rumah pengantin dan panggung resepsi lantunan sholawat serentak dibawakan para santri menyambut kedatangan kami. Ada rasa haru, ada rasa sedih semua menyatu mengingat perjuangan perjalanan menuju resepsi di ujung dunia ini.

Saat berfoto bersama saya lihat di ponsel, ternyata lokasi kampung itu tidak terdeteksi alias belum muncul di gugel. Pantesan lihat di maps hanya sampai Desa Girimukti saja. Kampung Sidamukti nya ini tidak terlacak radar rupanya. Beneran berada di ujung dunia. Di Kabupaten Cianjur ternyata masih banyak pelosok yang belum dikenal Gugel nih… Padahal katanya dari sini itu ke wilayah Kabupaten Bandung udah lebih dekat.
Selesai foto bersama (saya sengaja tidak ikut dan seperti biasa memilih jadi tukang foto saja) kami dipersilahkan untuk menyantap hidangan yang sudah tersedia. Tentu saja kami segera menyerbunya. Udah perjalanan jauh dengan kondisi tubuh kadinginan akibat hujan pastinya lapar tidak tertahan. Alhamdulillah selesai makan hujan mereda.
“Bu, kita pulang duluan saja. Mumpung tidak hujan. Kalau keburu kita sholat di rumah saja. Sholat di jalan juga ini pada basah dan kotor kan?” Suami berbisik disela obrolan bersama keluarga besar ponpes. Saya menyetujuinya. Langsung berkemas.

Sesampainya di atas dekat masjid Jami Sidamukti tempat kendaraan diparkir, cuaca benar terlihat cerah. Awan putih bergeser menjadi langit yang biru. Karena itu jas hujan semua dilipat saja. Kami berpamitan pulang tanpa mengenakan jas hujan lagi.
Kami pulang duluan karena tidak ikut rekan-rekan guru lainnya yang mau main dulu ke Curug Citambur. Saat berangkat, waktu menunjukkan pukul 13.33 wib. Target suami setengah tiga sore itu kami harus sudah sampai di rumah, supaya bisa menjalankan sholat duhur walau hampir akhir waktu.
Saya kira saya dan suami saja yang pulang lebih dahulu. Ternyata duo Pak Asep juga mengikuti kami di belakang. Bedanya duo Pak Asep itu setelah lewat Rawa Getok mampir dulu di masjid untuk solat duhur.

Saya dan suami tiba di rumah pukul 14.25 wib. Kalau pulang berasa cepat banget ya? Hehe… Cuaca juga cerah. Dasar… tapi ya alhamdulillah, kami kembali ke rumah dengan sehat dan selamat setelah menghadiri acara resepsi murid santri di ujung dunia…
Ya ampun seru banget. Aku bacanya deg-degan. Memang kalau musim hujan itu males kemana-mana. Jadi harus ada yang ngajak. Sering heran kok ada orang yang tinggal jauh di gunung. Ditunggu part 2 sewaktu nengok bayi beberapa bulan lagi hehee.
Sama mbak. Bacanya kek berasa ikut basah-basahan nerobos hujan.
Paling demen sama part yang berteduh. Ngelarisin dagangan orang itu hal yang menyenangkan. Apaagi jajanannya enak. Hehehe
Perjalanan kondangan yang menantang banget ya, Mbak
Aku belum pernah, tepatnya enggak dapat undangan. Padahal temanku banyak juga yang tinggal di daerah dataran tinggi. Mungkin karena enggak tahu rumahku juga sih. Pun kalau diundang, pasti mikir-mikir juga. Medannya ada yang 11-12 kaya cerita Mbak. Meski ada insiden jatuh, yang masih bisa dibilang untung bukan pas naik motor ya
bener – bener di ujung duniaaa ya mba hehe. Sampai kehujanan dan jajan jasuke sama cireng dulu hehehe. Aaah aku jadi pengeen nih. Tapi perjalanan seperti ini yang tidak akan pernah terlupa ya mba…Semoga sang pengantin samawa yaaa
Bener-bener jauh haha sampe belum terdeteksi di google, tapi bisa jadi kesempatan untuk menambahkan lokasinya di google jadinya. Kondangan emang butuh effort. Aku sendiri pernah kondangan sampe ke provinsi sebelah tapi untungnya aksesnya tergolong lebih lancar. Tapi, perjalanan yang teh okti lakukan ini beneran seru dan jadinya memorable. Kebayang betapa senangnya pasangan pengantin tamu berkenan hadir ke acara pernikahan mereka 🙂
Sesuatu banget memang kalau gak ke detect di G-Maps. Jadinya perlu pinter² mencarinya, dan kalau bisa memang banyak barengannya, iar banyak idenya harus lewat mana huhu
Masya Allah, berkahnya dapet banget ini. Dateng ke resepsi santri itu vibes-nya emang beda, adem. Apalagi perjuangan ke sananya udah kayak musafir. Semoga lelahnya jadi lillah ya, Teh, aamiin
Perjalanan kondangan yang deg-degan di temani rintik hujan ya, Teh.
Alhamdulillah sampai ke acara nikahan santri, semua drama diperjalanan tergantikan, pengantin senang.
Pas pulang cuaca bersahabat, mata jadi bisa melihat hijaunya salah satu desa di Cianjur.
MasyaAllah. Salut juga saya denga solidaritasnya. Bagi yang punya hajat juga kemungkinan akan senang deh karena tamu yang diundang bener-bener datang. Padahal secara lokasi lumayan juga perjuangan menuju ke sana. Sampai belum terlacak rada Google hehehe.
MasyaAllah, untuk datang ke resepsi siswi, guru-gurunya harus menempuh perjalanan cukup panjang. Pasti ia dan suaminya senang dan terharu sekali.
Saya baru cari-cari teh Okti di foto bersama kedua mempelai, eh ternyata malah pilih jadi juru fotonya saja.
Hehe, OTW ke kamar mandi maksudnya mbak, bukan ke ke Pasir Haur.
Luar biasa ini perjuangannya menghadiri resepsi pernikahan, mesti awalnya sempat ragu karena cuaca, lalu cuaca membaik dan berangkat, eh belum setengah perjalanan udah hujan lagi, jadi mesti berteduh dulu (dan jajan). Alhamdulillah sampai juga di lokasi acara
Perjalanan menghadiri resepsi santri yang benar-benar berasa touring ya Mba.
Lengkap dengan medan dan cuaca yang kurang bersahabat.
Semoga perjalanan yang membawa keberkahan untuk semua.
MashaAllah seru banget ceritanya Teh Okti. Kalau lihat foto-foto jalur yang dilewati tentu butuh perjuangan yang tidak sedikit. Plus mental yang gigih melihat jalur yang super menantang. Kalau saya mah sudah menyerah duluan itu Teh. Secara ya, selain ukuran jalan pas-pasan, udaranya juga serba galau. Rintik sebentar, panas kejengkang, tah tau-tau hujan lagi. Perjuangan yang luar biasa pastinya.
Tapi alhamdulillah dapat sambutan yang meriah ya Teh. Kedua pengantin tentunya berharap banyak yang datang memberikan doa. Semoga jadi memori yang mengentalkan hubungan baik di MA.
Teh Okti, turut berduka cita ya
saya baru tahu mamah udah dipanggil Allah SWT, semoga almarhum husnul khotimah
Seru touringnya Teh, udah jalanan jelek, di ujung dunia pula 😀
Saya pernah bareng teman ke pantai dekat Cianjur (dulu pisan, sewaktu masih gadis)
Pantainya bagus sih tapi kondisi jalannya itu lho, bikin jantungan
Terimakasih Ibu.
Semoga ibu sehat selalu dan dalam keberkahan
Aamiin…
Seru sih kalau touring rame-rame begitu. Meski menerjang hujan pada akhirnya. Jadi, kangen touring-touring bareng teman-teman lagi deh aku tuh.
Sejauh itukah Girimukti teh? Sebetulnya di Jawa Barat ada berapa tempat namanya Pasir Kuda ya teh? Aku suka ketuker-tuker. Wkwkwkwk. Sebetulnya bisa sekalian wisata ya teh, ngelewatin banyak curug cantik kayaknya.
Jalannya ekstrem banget teeeeeh. Serem ih lihat foto di salah satu tanjakan tanpa aspal hitam begitu. Itu kan licin banget. Mana belokannya tajam. Butuh skill driving yang mumpuni ini.
Nah itu samaan kita yang daku pantau, soalnya medannya ini kalo gak apik jalannya bisa sesuatu dah.
Mungkin bisa saja mampir, bila kondisi bersahabat ya, karena curugnya memang menarik buat dikunjungi.
Teteeeeh…
Selamat tahun baruuu..
Btw, seru pisan sih ceritanya, seolah aku ikut Turing juga yang motor ke 7 tapi virtual hahahaa.
Gilaa, emang jalannya seindah ituh, treknya , apalagi yang tanjakan curam itu, ahh indah, sukaaa…
Kbayang tuh hebohnya kalo naik motor, Alhamdulillah ya kembali dengan cepat dan sehat , selamat ke rumah..
Jadi kapan kita Turing bareng, tungguin di Citambur yaaa…
Kalau ada kondangan atau keperluan lain di luar kota yang posisinya jauh emang biasanya sekalian rekreasi, Teh….
Mumpung kesana, ceunah kan hahaa
Sebagai orang yang suka motoran (touring) aku tertantang nih
sayang aku di Medan belum nemu jalur menantang begini nih
Viewnya Masyaallaah, kebayang kabut dan ademnya
Saya sampai kayak nahan napas loh Teh baca kisah perjalanannya. Jauhnyaaa… Alhamdulillah sampai di tempat dan sudah ditunggu2 oleh para santri. Serasa terbayar perjalanan yang super jauh menuju ujung dunia ini.
Masyaallah ini beneran lumayan jaraknya jauh berasa touring mau ke undangan, tapi dibawa seru aja pastinya ya. Itu jalur ekstim tanjakan dan turunan, ngeri beneran kalo hujan. Semoga yang lewat sana aman dan selamat. Karna jarak jauh bisa sambil Wisata sekalian ya, Teh.
Baca ceritanya dan lihat foto-fotonya, perjalanannya seru banget, Mba. Vibesnya berasa kayak petualangan, jalan yang terjal dan berlubang, mana becek pula, terbayang deh ajrut-ajutran di dalam mobil. Alhamdullilah, terbayar ya dengan pemandangan indah, dan pasti santapan di lokasi hajatan ya
Masyaa Allah perjuangan untuk memenuhi undangan ya mbak terutama karena hujan dan medan yang harus dilalui juga cukup menantang. Yang jalan berkelok itu bagus pemandangannya tapi kalau harus lewat situ, deg2an juga.
Kalau rame-rame memang seru ya Teh, terlebih menghadapi tipe jalanan yang berkelok², lagi cari alamatnya pula di mana, istilahnya ada drama tapi ya di bawa happy, khususnya pas ketemu sama si empunya hajat, smile ☺
Sampai judul artikelnya pun ada kata ‘ujung dunia’. Cukup menggambarkan seperti a[a lokasinya hehehe. Saya mungkin juga akan seperti suami Teh Okti. Bukan karena jauhnya, tapi karena musim hujannya. Meskipun kalau udah dijalanin ya seru juga.
Perjalanan yang sangat melelahkan sih ini. Apalagi hanya untuk kondangan, pasti ada resiko di tengah perjalanan …
Perjalanan dan tujuan sosialnya dapet banget. Touring bukan cuma soal jalan jauh, tapi cerita yang dibawa pulang
Wah, seru sekaligus mengharukan baca ceritanya, Teh! Perjuangan menuju “Ujung Dunia” benar-benar definisi silaturahmi yang totalitas. Salut sama Teteh yang sudah sedia “setelan balap”, pilihan yang sangat tepat mengingat medannya ekstrem begitu. Pemandangan di atas awannya pasti jadi obat lelah yang luar biasa, ya. Meski sempat ada insiden jatuh, yang penting kebersamaan dan rasa kekeluargaannya dapet banget. Pengalaman yang tak terlupakan!
Ini bukan cuma soal touring, tapi juga tentang makna perjalanan itu sendiri. Perjalanan ke resepsi santri di “ujung dunia” terasa hidup.
Ada rasa lelah, haru, dan kebersamaan yang nyampe ke saya nih.
Touring di sini bukan sekadar gas motor, tapi juga perjalanan batin, apalagi dibingkai dengan nilai silaturahmi dan keberkahan.
Salut, tulisannya bikin senyum sendiri dan ikut merasakan hangatnya perjalanan.
Ngeliat jalannya bikin ketar ketir kalau ngendarai mobil, tergelincir dikit alamat tapa di jurang.
Waah banget perjuangan menuju tempat kondangan yah mba. Tempatnya jauh, jalanan kecil, banyak yang nggak mulus, tanjakan, tikungan dan disambut gerimis/hujan. Ini udah kayak touring anak mapala. Aku aja yang baca kisahnya, udah kebayang capeknya…
Masyaallah banget ini teh. Semoga berkah berlimpah karena memenuhi sebuah undangan ya. Kita tak tahu Allah ganti dengan keberkahan apa atas usaha memenuhi undangan saudara kita. Semangat sehat selalu.
Seru bak sedang touring ya teh. Memang kalo lagi berduaan sama suami enaknya aktivitas begini. Eh ini saya ding yang suka.
Pergi ke resepsi nikahan dengan baju yang basah dan sebagian sudah kotor pasti dimaklumi sama orang-orang desa dan tuan rumah. Heheh mereka sadar juga desanya jauh di ujung dunia.
Tapi masyaAllah keren banget pemandangannya.
Touring dengan perjalanan penuh lika-liku dan tantangan, seperti kehidupan saja rasanya. Hahaha.. Tempat resepsinya pasti adem ya, di atas bukit yang sulit untuk dicapai.
Saya juga pernah touring ke Curug Citambur. Memang menyengsarakan sekali Tapi pas sampai curugnya, ya ampuuun kayak di Jurassic Park!
Medannya ngeri – ngeri sedap yang butuh keahlian dan pengalaman berkendaraan motor. Hebatnya adalah alamnya masih sangat indah.
Daerah jabar selatan memang kondisinya ngeri ngeri sedaap ya teh, baik jalannya, maupun akses menuju ke lokasi-lokasi daerahnya. Itu saya pas lihat foto jalanan yang melingkar lingkar itu waduuh kalau orang yang gak biasa melewati jalan kek gitu meskipun mobilnya bagus kayaknya belum tentu bisa naik juga yaa mobilnya. Di daerah saya juga gitu teh jalanannya masih banyak hutan dan jalan nanjak mudun mana semppit sempit jalannya. Seru juga yaa sekalian off road jadinya
aku yang baca sampe ngeri mbak lihat mobil di tanjakan yang udah setengah nyawa. 🙁
Dann, aku kaget lho tempatnya securam dan baru tahu kalau di JaBar tempatnya sangat curammmm.. 🙁
Bersyukur sekali teteh pulang dan pergi dalam keadaan selamat. huhuhu… aku merinding Teh. Kalau aku sudah melambaikan tanggan nggak sanggup.
OMG, baca cerita teh Okti sambil ikutan deg deg an
Luar biasa perhatian para guru pada santrinya ya
Definisi silaturahmi tanpa batas. Salut banget sama Teteh yang tetep semangat meski harus nerjang hujan!
Teh, itu jalan tanjakan dan turunannya luar biasa kalau nggak hati-hati kayaknya bisa jatuh euy. Pas pulang lewat jalan situ lagikah jadinya? Memang pasti ada saja cerita dalam sebuah perjalanan yaa. Barakallah buat pasangan yang menikah semoga menjadi keluarga samara
Seru banget ya kondangan sekalian ngebolang, sekalian touring motor. Kesan dari ceritanya yang kubayangkan hawanya dingin, kehujanan juga tambah aja kedinginan. Ini pengalaman yang tak terlupakan tentunya.
Perjalanan kondangan seperti ini memang sering jadi ujian niat dan mental, apalagi kalau medan dan cuaca tidak bersahabat. Salut tetap berangkat meski ada insiden, karena pengalaman seperti ini biasanya justru paling susah dilupakan.
Waw, iya ya jauh juga nih kondangannya. Kalo di kota sih, bisa gak kerasa segitu teh, da jalannya lurus. Apalagi kalo lewat tol. Di sana mah, waduh, dengan jalan begitu, terasa lebih lama. Iya jadi kayak touring. Tapi seru pastinya ya Teh. Bisa cuci mata jalan-jalan.
Btw, ihiks… aku jadi kepengen main ke Citambur :))))